
Saat Ba'da Magrib, Mukidi yang biasanya akan duduk di belakang Rohim. Ia hampir satu bulan ini sering ikut duduk melantunkan dzikir bersama Rohim saat menanti waktu shalat Isya tiba. Namun malam itu ia haru pulang karena ada tetangga yang menyusul. Dikatakan oleh tetangganya, bahwa ada tamu di rumahnya dan mencari Mukidi.
Mukidi pun pulang menggunakan sepeda Jengki miliknya. Ia cukup merasa penasaran karena ada motor Ayah dari Maya. Gadis yang dua Minggu lalu ia lamar. Bahkan Ibu Mukidi tak tanggung-tanggung. Untuk memberikan emas seberat 15 gram saat melamar Maya. Ia menjual salah satu sapi miliknya yang di pelihara oleh orang lain.
Mukidi masuk ke dalam rumah. Terlihat ada empat orang lelaki yang duduk ruangan itu. Yang menambah bingung Mukidi, kenapa ada kepala dusun yang juga hadir dirumahnya. Namun ia masih menahan rasa penasarannya. Saat Bu Sri keluar membawa minuman. Tampak obrolan itu masih sebatas biasa saja. Namun Mukidi melihat jika calon ayah mertuanya hanya menundukkan kepala dari tadi. Tak banyak bicara.
Yang lebih banyak bicara adalah kepala desa dari desa Maya. Ibu Mukidi pun terlihat cukup gelisah. Saat cukup lama pak Kadus dan kades juga dua belah pihak itu mengobrol. Akhirnya satu kabar pahit datang dari Ayah Maya, hal itu disampaikan kepala desa.
"Jadi Begini Pak Kadus, saya dan Pak Mail kemari, untuk memberitahu dan sekaligus meminta maaf yang sedalam-dalamnya pada Bu Sri dan keluarga. Terutama Nak Anwar."
Mukidi terlihat serius karena tampak sang calon mertua makin membenamkan kepalanya ke dada. Pak kades dari desa Maya itu pun tampak ragu-ragu dan malu untuk melanjutkan berita apa yang akan di sampaikan.
"Jadi begini, Saya selaku pemerintah setempat dimana saat nak Anwar melakukan lamaran ingin menyatakan kabar. Bahwa dengan rasa malu, dan berat hati. Kami menyatakan bahwa kami mengembalikan semua yang nak Anwar berikan ketika proses lamaran kemarin." Jelaa pak kades hati-hati.
Mukidi alias Ahmad Anwar hanya diam. Ia masih mencerna Kalimat yang disampaikan sang kades. Pak Kadus dari desa Sumber Sari pun menjelaskan pada Mukidi karena melihat ekspresi bingung Mukidi.
"Mereka memutuskan hubungan lamaran sampeyan dengan Nak Maya." jelas pak Kadus.
Bu Sri sudah meneteskan air mata. Ia tak sanggup untuk berbicara. Hatinya sakit, dadanya sesak. Ia juga sudah terisak mendengar kabar mengejutkan itu. Bak petir di siang bolong. Berita itu melukai hati Bu Sri.
Mukidi hanya diam. Rahangnya mengeras, kedua bola matanya langsung memerah. Ia menahan rasa panas di dadanya. Namun napas lelaki itu terlihat naik turun. Ia mencoba beristighfar di dalam hati. Ia sadar jika ia marah, itu hanya percuma. Akan marah pada siapa, sedangkan ayah Maya masih menundukkan kepalanya. Lelaki paruh baya yang terlihat sangar dengan kumis di hidungnya itu pun tak Berani mengangkat wajahnya.
Ia bahkan terlihat menangis. Ia mengelap air matanya berkali-kali.
Pak Kades pun kembali menjelaskan jika mereka siap mengembalikan dua kali lipat pemberian dari Mukidi saat melamar Maya. Karena mereka paham, Mukidi dan keluarga pasti merasa malu. Karena saat melamar Mukidi mengajak pemerintah setempat juga beberapa tetangga kanan dan kiri rumahnya.
"Bukan masalah uang atau emas yang mau dikembalikan Pak Kades. Sekarang alasan pemutusan hubungan ini apa? Saya merasa saya tidak bersalah." Mukidi merasa tidak terima di putuskan sebelah pihak.
Ia yang sudah semangat untuk mempersiapkan pernikahan nya satu bulan lagi. Namun malam ini hatinya hancur, lamaran nya dan Maya harus diputuskan. Ia hanya ingin tahu alasan apa yang membuat dirinya tak jadi menikahi Maya.
Dengan wajah sedikit pucat dan terbata-bata pak Kades itu terlihat sangat berat untuk menyatakan bertiga sebenarnya kepada Mukidi.
"Em.... begini.... Em.... Sebenarnya... Nak Maya... sudah beberapa hari ini... em.... Pergi dengan lelaki lain. Dan semalam kami dapat kabar dia sudah menikah dengan lelaki lain."
"Siapa lelaki itu!" Ucap Mukidi dengan napas tersengal-sengal, napas nya naik turun. Dadanya sangat sesak.
Kehormatannya sebagai lelaki terasa di injak-injak. Belum lagi malu yang akan diterima ibunya. Saat Berita Mukidi akan menikah saja mulut tetangga sudah setajam silet. Mengatakan jika tak mungkin ada gadis cantik yang mau dengan Mukidi yang orang tak punya itu. Bu Sri mengusap dada anaknya.
"Sabar Le.... Jangan emosi... Mungkin dia bukan jodoh mu.... Sabar.... Ngucap Le... Ngucap...." Suara tangis Bu Sri dan air mata yang membasahi pipi. Membuat Mukidi tak berani melampiaskan amarahnya.
Pak Kumis tak berani mengangkat wajahnya. Ia malu, malu karena kelakuan anak satu-satunya. Malu pada keluarga juga malu pada masyarakat. Karena Maya menikah dengan lelaki yang telah memiliki istri. Ia tergiur ketampanan dan kemapanan lelaki itu. Sifat Maya yang masih kekanak-kanakan, juga manja. Ia merasa tak nyaman setelah lamaran dengan Mukidi.
Berharap setalah lamaran bisa kesana kemari bersama pujaan hati. Namun Mukidi sekalipun tak pernah mengajak dirinya untuk makan diluar atau untuk jalan-jalan. Mukidi hanya dua kali datang pasca acara lamaran. Itu pun pasti ditemani Rohim dan mereka pasti hanya sebentar. Itu juga Pak Kumis akan ikut dengan dirinya.
Belum lagi bacaan majalah seperti komik yang terdapat percakapan orang dewasa yang sering di baca Maya, membuat gadis itu selalu penasaran dengan rasanya sentuhan sentuhan seperti yang di gambarkan dalam cerita itu. Sehingga mantan pacar yang dulu sudah mapan melihat Maya bertambah seksi pun mendekati tunangan Mukidi.
Maka terjadilah bujuk rayu dan janji manis lelaki itu pada Maya. Bahkan Mukidi dituduh oleh lelaki itu tak normal karena bagaiamana jika sudah lamaran tetapi tak pernah menyentuh bahkan Maya. Akhirnya terjadi kejadian yang membahagiakan lelaki itu namun menyakiti Mukidi dan Ibu nya.
Mukidi hanya diam. Tak sepatah kata pun ia ucapkan, bahkan sampai Pak Kumis dan orang itu pergi dari kediaman Mukidi. Ia masih duduk di ruang tamu itu. Ia menatap kalung yang di belikan Ibu nya untuk perempuan bernama Maya itu.
Pak Kadus memberikan semangat dan nasehat pada Mukidi. Hingga akhirnya Mukidi masuk ke dalam kamar. Tanpa membawa kalung dan juga sejumlah uang yang masih tergeletak diatas meja.
Bahkan hampir dua malam satu hari Mukidi tak keluar dari kamarnya. Bu Sri yang cemas. Karena tak ada suara dari dalam kamar. Mukidi juga tak menjawab panggilan Bu Sri.
"Apa aku tak manggil Rohim saja ya ...."
Karena dilihat dari lubang angin. Mukidi terlihat berada di kasur dengan kondisi yang frustasi. Ia tidak makan, tidak minum dan shalat selama itu. Ia hanya satu kali keluar itu pun untuk buang air kecil.
Bu Sri akhirnya mengayuh sepedanya ke rumah Rohim. Hanya Rohim lah yang bisa membantu Mukidi untuk bangkit lagi. Karena selama ini hanya Rohim yang selalu di dengar omongannya oleh Mukidi.
Bu Sri tiba di depan rumah Rohim. Laila dan Rohim tampak sedang berbincang.
"Him.... Him.... Kidi Him.... Kidi.....Hiks... Hikss...." Suara Bu Sri sambil menahan tangisnya sedari diatas sepeda.