LAILA UNTUK KANG ROHIM

LAILA UNTUK KANG ROHIM
Bab 89 Cermin Ajaib


Hari berganti hari, Umi Laila semakin hari semakin banyak kegiatan. Ia juga aktif di salah satu organisasi kewanitaan karena dawuh gurunya langsung agar ia dan Abi Rohim untuk ikut aktif dalam satu wadah atau organisasi. Namun kesibukan beliau tak membuat Umi Laila lalai atau lupa akan tugas dan tanggungjawabnya. Ia memang sibuk dengan aktifitas mengaji, mengajar dan berorganisasi akan tetapi perihal mendidik buah hatinya masih ia utamakan. Tidak hanya kepada keempat anak kandung nya, namun Ayra pun tak luput dari kedisiplinan Umi Laila dalam mendidik anak almarhum Nuaima dan Munir. Kini putri keponakannya itu telah berusia lebih 15 tahun.


Ayra tampak duduk di ayunan kayu yang terdapat di bawah pohon jambu, ia bermain ayunan bersama seorang anak yang bernama Yeni. Yeni duduk di ayunan lainnya. Banyak bunga disekitar tempat itu, tempat dimana biasa dijadikan untuk ibu-ibu pengajian membiarkan anak-anak mereka untuk bermain saat mereka mengikuti kajian di dalam gedung serbaguna yang berada tepat di sisi kanan pondok. Ayra tampak menangis diatas ayunannya. Ia menitikkan air matanya. Dirinya telah tahu jika ia bukan putri kandung Umi Laila, maka akhir-akhir ini sikap Umi Laila yang tegas pada dirinya membuat ia merasa insecure. Ia merasa jika Umi Laila tak sayang padanya.


“Tapi kamu tidak berani protes Ay?” Tanya Yeni.


Seraya mengayunkan ayunannya, ia memegang kedua tali yang terbuat dari tali tambang itu, ia khawatir tali itu putus, bobot tubuhnya yang besar membuat ia khawatir jika tali itu tak mampu menopang bobot tubuhnya. Ia hapus air matanya, ia menoleh ke arah Yeni.


“Tapi umi sekarang berubah Yen, Umi sering memarahi aku, Umi bahkan melarangku makan gula-gula dan coklat.” UCap Ayra.


Yeni menapakkan kakinya di tanah, sehingga laju ayunan terhenti. Ia menatap sahabatnya yang sering dipanggil drum bodol oleh beberapa teman sekolah.


“Ay, kalau itu kamu harusnya tidak menyalahkan Umi. Lah kamu sampai dapat julukan drum bodol, sebentar lagi kamu akan SMA, terus sekarang kamu juga sudah haid. Kira-kira nanti bagaimana lelaki akan menikahi kamu kalau tubuh mu begitu.” Celoteh Yeni yang menggelengkan kepalanya.


Ia bingung dengan Ayra, sahabatnya itu tak pernah protes pada Umi Laila apalagi mengeluh. Namun ternyata ia tak nyaman akhir-akhir ini dengan sikap Umi Laila. Padahal ia putri Umi Laila.


“Kata siapa lelaki  itu menikah dengan memilih tubuh langsing. Haditsnya tidak ada Yen. Kalau cantik, ia. Tapi kan aku cukup cantik. Kulit ku putih, hidung ku mancung, bulu mata ku lentik.” Ucap Ayra yang turun dari ayunan.


“Mboh lah Ay, mungkin kamu akan dinikahi lelaki karena kecerdasan mu, secara kamu pinter. Tapi kalau lihat foto Mama mu, kamu pasti cantik Ay. Kalau langsing…. Hehehe…” Goda Yeni.


Ia memang sering melihat foto Nuaima yang Ayra pajang di lemarinya. Semenjak duduk di kelas 3 SMP, ia tidur di kamar santriwati seperti umumnya para santri. Ia memang tidak mondok ke tempat lain, ketika ditawarkan saat akan SMA nanti pun ia masih tak ingin pergi mondok ke pondok pesantren lain.


Ayra duduk bersandar di cakruk atau sebuah tempat duduk yang di buat dari bambu menyerupai tempat duduk tapi seperti tempat tidur.


“Krek.”


Suara cakruk itu ketika Ayra telah duduk dan naik ke atas tempat itu.


“Awas, kejepit.” Ingat Yeni, karena waktu itu Ayra pernah menjerit histeris. Bagian bambu itu mengapit kulit pahanya ketika ia duduk, maklum tubuhnya yang bongsor membuat lemak cukup banyak pada tubuh Ayra. Ayra tak bergeming, air mata kembali berlinang.


“Umi sekarang sering sekali marah pada ku jika aku mangkir dari jadwal piket. Atau aku yang lebih senang membaca buku dan kitab,daripada mengerjakan pekerjaan di pawon (dapur) kamu tahu sendiri aku sekarang susah sekali setelah mulai menghapal Al-Quran. Tetapi saat baru mau santai Umi akan marah jika baju ku belum di cuci, atau tugas ku rumah ku belum dikerjakan. Aku mudah lelah sekarang Yen, Apa Umi lelah merawat aku ya Yen.?” Tanya Ayra.


“Eh… Eh… putri Abi ngomong apa barusan?” Tanya Abi Rohim yang tiba-tiba muncul di balik pohon mangga.


Yeni yang mendengar suara Kyai Rohim, sebuah panggilan kini yang sering disematkan untuk suami Umi Laila itu. Walau beliau lebih suka dipanggil Abi namun para santri yang memanggilnya begitu ia biarkan.


“Yai…” Ucap Yeni yang langsung menunduk atau ndikluk. Ia pun mundur perlahan. Ia pun mundur pelan-pelan karena anggukan dari kepala pendiri Pondok Pesantren Kali Bening itu.


Setelah Yeni pergi, Kyai Rohim melepas sandalnya. Ia duduk tepat di depan Ayra. Putri Munir itu pun melakukan hal yang sama. Ia Ndikluk, namun sisa tangisnya masih terdengar oleh Kyai Rohim. Bahkan tangan kiri Ayra yang memencet hidungnya bisa Kyai Rohim lihat, keponakan yang ia rawat sedari bayi sedang galau. Hal itu biasa dialami anak-anak usia beranjak remaja. Karena pola pikir anak dan orang tua yang berbeda maka pengertian Ayra akan sikap Umi Laila padanya juga berbeda.


“Ada apa? Kenapa anak Abi menangis? Marah sama Umi?” Tanya Kyai Rohim.


Ayra pun menjawab cepat.


“Mboten Bi.” Jawabnya.


“Terus? Coba bicara sama Abi, angkat wajahnya.” Ucap Kyai Rohim.


Yeni yang dari kejauhan masih mendengar dialog Kyai dan keponakan sekaligus santrinya. Ayra pun memberanikan diri mengangkat kepalanya.


“Abi, bukankah dalam satu hadist Rasulullah bersabda bahwa wanita dinikahi karena 4 hal?” Tanya Ayra.


“Ya betul. Karena agama, nasab, kecantikan dan hartanya, serta pilihlah yang paling baik agamanya.” Jawab Kyai Rohim.


Ia menelisik apa kegundahan putrinya itu. Karena Ayra tidak sama dengan Furqon dalam menyampai isi hati.


“Di hadist itu Rasulullah tak mengatakan untuk menikahi wanita yang pintar beberes rumah, pintar masak dan pandai berorganisasi kan Bi?” Tanya Ayra.


“Lalu masalahnya ada pada apa?” Tanya Kyai Rohim yang menundukkan kepalanya sehingga dahinya berkerut ketika menatap Ayra. Ia pun membuka kopiah, ia letakkan di sisi kanannya.


“Umi selalu marah jika Ayra malas mencuci baju, malas masak, malas beberes. Padahal aku belajar Bi, aku membaca buku. Aku pun kalau bersantai wajar Bi. Tubuh ku tidak seperti teman-teman lain yang bisa beraktifitas dengan mudah tanpa cepat lelah. Umi suka bilang, nanti kalau menikah ndak kaget dengan semua pekerjaan rumah. Bukankah tugas memasak, mencuci, semua kebutuhan untuk makan itu kewajiban suami bukan istri, Ayra pernah baca ini disalah satu buku.” Protes Ayra pada Kyai Rohim.


“Wah, Abi tersindir ini.” Ucap Kyai Rohim dengan senyum khasnya diujung kalimat.


Ayra menatap Kyai Rohim menanti penjelasan apa maksud Kyai Rohim dengan kata ‘tersindir’.


“Baiklah, kita melihat pendapat dari Imam Malik, Imam Syafi’I, Abu Hanifah yang berpendapat kalau menyiapkan makanan untuk suami,bukan kewajiban istri atau perempuan. Namun Imam Ahmad yang berpendapat bahwa menyiapkan makanan untuk suami adalah bentuk kebaikan seorang istri. Lantas bagaimana dengan Abi dulu? Kalau lelaki nya orang kaya, ia bisa sewa pelayan untuk membantu istrinya agar tidak mengerjakan pekerjaan rumah atau menyiapkan makanan. Tetapi kalau lelakinya harus mencari nafkah sehari penuh, lantas apakah sempat mengurus rumah?Seperti Abi dulu, pagi sampai sore Abi sibuk mencari nafkah dan mengajar ngaji. Nyaris waktunya ndak ada buat masak, nyuci, beberes. Tapi Umi dengan senang hati membantu Abi, tapi Abi membantu Umi selalu disaat Abi ada dirumah.” Jelas Kyai Rohim.


Ayra diam. Kyai Rohim melanjutkan penjelasannya.


“Tapi Alhamdulilah, Abi berjodoh dengan Umi. Abi dulu menikah dengan Umi bukan karena cantiknya, hartanya, nasabnya tapi karena agamanya atau akhlaknya. Abi tidak mampu menyewa pelayan, tetapi Umi. Umi, istri yang sholehah karena mau meringankan tugas Abi. Umi paham ilmu bahwa mentaati perintah suami adalah suatu kewajiban.” Jelas Kyai Rohim.


“Tapi kan tidak boleh melanggar syariat, Bi,” Protes Ayra lagi


“Apakah memasak, mencuci, menyapu, beberes melanggar syariat jika nanti suami Ayra meminta Ayra untuk membantunya meringankan kewajibannya tentang ini?” Tanya Kyai Rohim.


Ayra terdiam, Ayra adalah anak yang cerdas. Sehingga penjelasan dan penjabaran yang berdasarkan ilmu yang benar keabsahannya mengalahkan egonya untuk dibenarkan oleh sang Abi.


“Ra, Umi bersikap tegas pada Ayra. Bukan karena Umi tidak sayang. Tapi justru karena Umi sayang sama Ayra. Sekarang coba jawab pertanyaan Abi, apakah Ayra yakin nanti akan menikah dengan lelaki yang mapan ekonominya? Sehingga Ayra tak pandai masak, beberes pun tak akan jadi masalah untuk suami Ayra. Karena suami mampu bayar pelayan?”


Ayra tak bergeming, ia pun menatap ke arah langit. Ia memang tak tahu dengan siapa ia akan menikah. Dengan orang kaya atau orang yang secara ekonomi hidup pas-pasan.


“Hanya Allah yang tahu perkara rezeki, maut dan jodoh, Bi.” Jawab Ayra yang menarik sudut bibirnya. Ia baru paham jika ia sedang di didik atau dibentuk karakternya, mentalnya untuk siap menghadapi masa depan yang ia dan orang tuanya sendiri tak tahu seperti apa.


“Istri adalah tempat pemberi ketenangan bagi suaminya, surga perempuan kalau sudah menikah itu lewat suaminya. Bukanlah Abi dan Umi, walau seharusnya tetap berbakti pada kedua orang tua walau sudah menikah, namun untuk perintah. Dawuh nya suami lebih harus di amini daripada Umi dan Abi kelak. Maka itu, Ayra harus menyiapkan diri, memantaskan diri. Bukan hanya kecerdasan, kecantikan tetapi harus apa bahasanya Dokter Ayu yang artinya berharga?”Tanya Kyai Rohim.


“High Value Bi.” Jawab Ayra.


“ Tapi bagaimana jika Ayra bertubuh seperti ini Bi….” Tanya Ayra khawatir karena sering diledek perihal tubuhnya yang begitu besar untuk usianya.


Tiba-tiba Umi Laila hadir dari sisi kiri Ayra,ia duduk dan merangkul Ayra.


“Maka dari itu mulai dari sekarang pantaskan diri untuk jodoh kita, belajar sungguh-sungguh. Bukan Cuma belajar kitab-kitab dan hapal Al Quran. Tapi adab dan perilaku terhadap orang lain. Jika Ayra menjadi pribadi yang baik karena kecantikan Akhlak, Ayra akan menjadi perempuan yang memiliki pesona. Pesona itu akan memberikan jodoh yang baik untuk Ayra. Walau mungkin secara fisik kita tak memiliki nya. "Ucap Umi Laila.


“Dan Ayra tidak tahu toh besok suaminya orang kaya atau susah. Semua orang siap untuk hidup kaya, tapi tidak semua orang siap hidup susah, maka Umi mendidik Ayra, melatih Ayra dengan bersusah-payah, agar siap dengan masa depan Ayra. Mau susah atau senang. Karena sudah dibekali dari sekarang. Kita tidak tahu takdir kita di masa depan.” Tambah Kyai Rohim.


Kecerdasan Munir dan Nuaima betul-betul diwariskan pada putri tunggal mereka. Ayra kembali menoleh ke arah Umi Laila.


“Lantas kalau orang baik untuk orang baik. Bagaimana jika suami Ayra nanti tidak berakhlak baik, Mi? Padahal Ayra sudah bersungguh-sungguh untuk menjadi baik dan punya pesona.” Tanya Ayra yang mulai mengerti jika sikap sayang Umi Laila ditunjukan dengan cara yang berbeda dari sudut pandangnya sebagai seorang anak yang masih memilih lebih enak rebahan, bersantai dan menunda-nunda pekerjaan.


Umi Laila membuka tasnya, ia keluarkan satu benda bundar yang biasa ia gunakan untuk memoles wajahnya. Ada cermin kecil di bedak itu.


“Wanita itu ibaratkan sebuah cermin, Ra. Laki-laki bisa bercermin untuk melihat bagaimana keberadaan dirinya, baik dan buruknya ia tergambar dalam cermin itu. Namanya saja cermin. Maka bersyukurlah, jika ada laki-laki yang tidak baik tetapi cerminnya memantulkan kebaikan, karena cerminnya yang ajaib, yaitu laki-laki yang tidak baik mendapatkan wanita yang baik.”Jelas Umi Laila.


“Maka dari itu, Anak-anak Abi dan Umi harus bersiap. Kita semua tidak tahu dengan siapa kalian berjodoh. Maka Umi dan Abi berharap jika nanti jodoh kalian tidak baik, jadilah cermin yang ajaib.” Ucap Abi Rohim.


“Maksudnya ajaib Bi?” Tanya Ayra yang masih penasaran.


“Ya ajaib, wong cermin nya memantulkan hal yang berbeda dari bendanya. Coba lihat cermin yang tidak ajaib, ini.” Ucap Umi Laia seraya menunjukkan cermin ke Ayra.


“Membayangkan kalau wajah Ayra sedikit kurus dan tirus pasti mirip Mama ya Umi?” Ujar Ayra menatap wajahnya yang bundar seperti bakpao di pantulan cermin itu.


“Masih marah sama Umi karena selalu Umi marah tentang tugas dan pekerjaan lainnya?” Selidik Umi Laila.


Ayra menunduk malu. Umi Laila pun langsung memeluk Ayra. Ia usap kepala yang berbalut kerudung putih.


“Umi sayang kamu, nduk. Maka dari itu. Umi ingin kamu dan putri-putri umi yang lain menjadi cermin yang ajaib. Karena umi tidak tahu besok seperti apa jodoh kalian. Dan untuk menjadi cermin ajaib itu, butuh perjuangan, butuh belajar, bersusah payah, ibaratkan pedang yang tajam. Maka maafkan Umi karena kamu harus di lelehkan, di panaskan berkali-kali agar betul-betul siap di medan perang.” Suara Umi Laila sudah terdengar lirih. Ayra sudah menangis dalam pelukan Umi Laila.


Semenjak hari itu, putri Nuaima dan Munir betul-betul berjuang. Ia siap lahir dan batin di gembleng oleh Umi Laila. Bahkan lelah karena merasa selalu sulit menghapal al quran. Ia ikuti saran Umi Laila untuk mulai puasa senin kamis. Yeni dari jarak tak jauh dari sana betul-betul mengagumi Umi Laila. Sosok perempuan yang cerdas, sholihah dan tegas juga begitu lembut.