LAILA UNTUK KANG ROHIM

LAILA UNTUK KANG ROHIM
EPISODE 13 SMS Laila dan Rohim


Rohim dari tadi hanya memandangi ponsel Nokia 3310 miliknya. Tertera sebuah nama di ponsel itu. Satu kontak yang ia simpan setelah lamarannya di terima oleh Laila. Dilayar itu tertera nama.


..." ليلى"...


Kemarin sore ia telah berpamitan pada Abah Ucup dan Keluarga bahwa hari ini ia akan berangkat ke kampung halamannya untuk menjemput kedua orang tuanya. Karena satu Minggu lagi proses pernikahan akan segera berlangsung. Sejumlah uang telah ia tinggalkan pada Pak Toha dan Istrinya untuk bisa membelikan beberapa seserahan yang umum di lakukan di desa itu.


Untuk mas kawin, Laila memang tidak meminta sesuatu yang memberatkan Rohim. Ia ingin hanya satu gram emas. Dimana pada saat itu harga emas masih berkisar seharga Rp. 200.000 an. Bagi Rohim calon istrinya adalah wanita spesial. Ia alumni pondok pesantren. Adab dan akhlak sang calon istri yang begitu menjaga dirinya. Termasuk pandangan, belum lagi Abah Ucup sering membanggakan Laila memilki suara yang indah saat membaca Al Qur'an.


Maka hal itu membuat Rohim berniat memberikan Mas Kawin terbaik untuk perempuan berilmu untuk calon ibu dari anak-anaknya kelak. Rohim pun berniat membeli mas kawin berupa kalung seberat 10 gram. Sedangkan proses lamaran kemarin ia telah memberikan Laila emas berbentuk cincin seberat lima gram.


Maka uang Rohim yang tersisa 7 juta pun ia bagi untuk seserahan dan biaya nikah pada Oak Toha sebanyak tiga juta. Ia pun ke kampung halamannya membawa uang satu juta rupiah. Ia biasa melakukan itu. Ketika pulang ia akan menyenangkan hati ibunya dan adiknya. Sehingga uang Rohim tersisa dua juta. Dimana ia akan gunakan untuk membeli kasur dan peralatan lainnya untuk kenyamanan istrinya kelak ketika ia ajak pindah ke gubuknya.


Ia sudah mengetik sebuah kalimat namun kembali ia hapus. Tak ada keberanian untuk memencet tombol hp Nokia 3310 miliknya. Ia tak kuasa jika harus mendengarkan suara perempuan yang belum halal ia bayangkan. Baru satu kali memandang saja Rohim kadang sering tersenyum sendiri ketika terbayang wajah Laila.


"Begini apa ya namanya jatuh cinta.... Astaghfirullah....." Rohim mengusap wajahnya.


Tiba-tiba seseorang menepuk pundaknya dari arah belakang.


"Sampeyan ini aneh. Masak Laila Ndak mengantar sampeyan. Lah kan mau pulang. Minimal ya diantar di terminal." Keluh Mukidi.


Siang itu Rohim yang minta diantar oleh Mukidi ke terminal di ibukota kabupaten menggunakan sepeda motornya. Mukidi merasa aneh karena sudah mau menikah tapi pasca acara lamaran itu satu kali pun belum terlihat Rohim dan Laila berdua-duaan. Dan anehnya pagi itu justru Abah Ucup yang datang ke rumah Rohim mengantar oleh-oleh untuk orang tua Rohim.


"Belum halal kang."


"Aneh. Tapi kan wes di DP." Protes Mukidi karena biasanya ada yang kalau sudah lamaran itu sampai menginap di rumah perempuan nya. Tapi Rohim dan Laila jangan kan berduaan. Satu kali pun Rohim dan Laila belum pernah berkomunikasi lewat ponsel. Padahal mereka berdua memiliki ponsel.


"Yo ga nelpon juga kang?" Tanya Mukidi penasaran.


[Ya ga nelpon juga kang?]


"Yo ora. Kan wes diomongin. Belum Halal." Jawab Rohim sambil tersenyum sehingga membuat lesung pipinya muncul.


[Ya tidak kan sudah diomongin Belum Hala]


Saat Kernek bis sudah memanggil para penumpang untuk naik ke dalam bis. Rohim pun bergegas masuk ke dalam bis. Rohim pun berpesan pada Mukidi.


"Jangan lupa adzan nya kang. Nanti keasyikan main Onet.


Mukidi di serahkan tugas adzan selama Rohim tidak di masjid. Mengingat Pak Toha adalah PNS di kantor kecamatan yang membuat Dzuhur dan Ashar akan bingung siapa yang adzan. Desa Sumber Sari pada tahun itu belum ada yang berani sekedar untuk adzan maka dari itu di datangkan Rohim dari pulau Jawa. Diharapkan dapat mengabdikan diri dan ilmunya untuk masyarakat di desa itu. Rencana hanya beberapa tahun.


Namun warga terlanjur merasa nyaman memiliki guru ngaji yang jujur, ramah dan pintar tetapi rendah hati itu. Sehingga Rohim diberikan tempat tinggal dan kebun yang juga dimasukan dalam tanah masjid karena ada yang mewakafkan nya. Di serahkan pada Rohim untuk ia mencari nafkah. Dan tentu hasil dari kebun itu di bagi dua, setengahnya untuk saldo masjid Nurul Iman.


Saat Bis mulai berjalan. Sebuah nada dari ponsel Rohim berbunyi dan bergetar dari saku bajunya. Ia membuka pesan yang masuk. Terlihat nama ليلى. Belum dibuka pesan itu. Hati Rohim terasa dag Dig dug.


"Assalamu'alaikum. Semoga selamat sampai tujuan Kang. Sampaikan salam buat Ibu dan. Bapak Kang Rohim. Di dalam kardus yang diantar bapak tadi ada Jilbab untuk Ibu nya kang Rohim. Semoga Ibu suka. Semoga urusan kita dipermudah sampai proses ijab nanti. Aamiin. Wa'alaikumussallam."


Rohim berkali-kali membaca SMS dari Laila. Hatinya berseri-seri. Ia begitu bahagia, calon istrinya perhatian pada ibunya. Namun Rohim tidak tahu jika SMS itu akan masuk kedalam ponselnya bukanlah semudah Rohim membaca.


Laila berkali-kali mengetik SMS di ponselnya yang ia tujukan. Abah Ucup yang pulang dari mengantarkan oleh-oleh untuk orang tua Rohim menyuruh putri bungsunya menelpon Rohim atau mengirimkan pesan.


Laila berkali-kali menghapus, lalu di ketik lagi. Setelah selesai ia kembali menghapus SMS itu. Hatinya berdebar-debar. Hingga SMS yang telah belasan kali dihapus baru bisa Laila kirimkan ke nomor Rohim saat ia benar-benar yakin tidak ada kata-kata yang menjurus ke seperti orang pacaran.


Bahkan satu pesan yang juga masuk ke ponsel Laila dan berasal dari Rohim. Mampu membuat hati bungsu Abah Ucup itu berbunga-bunga. Entah kenapa ia begitu suka dengan cara Rohim berkomunikasi dengan dirinya.


"BIP.Bip." Suara ponsel Laila tanda pesan masuk.


Laila membuka SMS yang ternyata dari Rohim.


"Wa'alaikumussallam."


"Bib.Bip." Suara ponsel kembali terdengar. Dan masih pesan dari Rohim.


..."آمين. انتظرني حتى يأتي ذلك الوقت."...


[Aamiin. Tunggu Aku sampai waktu itu tiba.]


Laila memeluk ponselnya dan wajahnya telah bersemu merona. Tanpa rayuan pun ia mampu di buat salah tingkah. Ia tak menyangka jika sang calon suami akan membalas pesannya.


"Semoga aku bisa menjadi istri yang Sholehah seperti Sayyidah Khadijah yang menyerahkan hartanya untuk sang suami. Seperti Sayyidah Aisyah yang kepintarannya untuk sang suami dan umatnya nabi setelah Rasulullah telah tiada. Seperti Sayyidah Fatimah yang selalu bersyukur dengan seberapapun yang diberikan suami. Karena dunia ini hanya makhluk. Hanya akan melahirkan makhluk. Dan semoga aku bisa menjadi perempuan sholehah agar dapat melahirkan dan mendidik anak-anak yang Sholeh. Aamiin"


Sungguh Laila yang dari dulu belajar dengan giat sedang memantaskan dirinya untuk seorang lelaki yang berhati bersih dan mengabdikan diri untuk umat yaitu Rohim.