
Hari berganti hari. Tak terasa usia kandungan Laila telah memasuki sembilan bulan. Bidan desa tempat ia sering memeriksa kondisi janinnya mengatakan jika dalam minggu-minggu ini ia akan melahirkan.
Pagi itu, Laila sedang menanak nasi di dapur. Ia menggunakan kompor minyak. Rohim telah pergi ke ladang. Saat akan mengangkat Periuk nasi nya turun dari kompor. Ia mendengarkan suara sepeda motor. Ia cepat mengambil jilbab yang ia gantung di balik pintu.
Ternyata Abah Ucup yang datang. Ayah dari Laila itu tampak bahagia dan sedikit berlari ke arah rumah Laila. Lelaki itu membawa sebuah koran. Ia mengangkat koran itu dan masuk kedalam rumah Laila sambil mengucapkan salam.
"Kamu Lulus Nduk. Kamu Lulus Nduk!" Teriak Abah Ucup pada Laila yang masih bingung.
Laila membuka koran yang di serahkan Abah Ucup pada dirinya. Ia membaca pada bagian yang Abah Ucup tunjuk. Ya ada nama dirinya di dalam surat kabar itu. Bahkan ia masuk dalam sepuluh besar nilai tertinggi satu kabupaten. Laila mengucapkan hamdalah dan tasbih setelah membaca pengumuman itu.
"Berarti kamu jadi PNS Nduk?" Tanya Abah Ucup penuh semangat.
"Belum Bah. Masih ada beberapa proses. Wawancara dan juga berkas kalau lulus Bah." Jawab Laila.
"Abah mau pulang dulu. Abah mau memberi tahu Ibu mu." Abah Ucup segera keluar dan menuju motornya.
Namun saat ia baru akan menghidupkan motornya. Laila yang cepat menyusul Abah Ucup mengatakan jika ia akan melegalisir ijazah SD, SMP dan SMA miliknya. Ia tak tahu jika ijazah miliknya telah di bakar oleh Waroh.
Abah Ucup terdiam sejenak. Ekspresi wajahnya cukup berubah. Namun ia masih tetap tenang.
"Nanti biar Abah antar. Kamu istirahat saja. Kata Rohim kamu sudah menunggu hari kelahiran." Ucap Abah Ucup cepat.
Laila pun mengangguk pelan. Abah Ucup pulang kerumahnya dengan sangat pelan. Ia mengendarai motornya dengan sangat pelan. Pikirannya tak karuan. Ia bingung harus mengatakan apa pada Laila. Jika jujur sekarang, ia tak ingin memberi kabar buruk di saat kabar bahagia datang. Laila juga masih menunggu waktu kelahiran buah hatinya.
Saat tiba dirumah. Abah Ucup cepat mandi dan segera mengganti pakaian dengan pakaian yang cukup rapi. Ia akan pergi ke sekolah SD yang dulu tempat Laila sekolah. Ia ingin bertanya dan meminta solusi untuk masalah yang sedang ia hadapi. Dirumah tak ada fotokopi ijazah Laila selembar pun.
Bu Salamah bingung karena pagi itu, Abah Ucup sangat rapi.
"Mau kemana Bah?" Tanya Bu Salamah penasaran.
"Mau ke SD." Jawab Abah sambil menyeruput kopinya.
Ia menuangkan kopinya ke dalam piring kecil agar bisa segera ia nikmati karena ia terburu-buru.
"Ngapain Bah?" kembali Bu Salamah bertanya.
"Mau nanya bisa tidak buat ijazah baru buat Laila." Ucap Abah cepat.
"......" Bu Salamah bingung.
"Ini Laila lulus tahap ini. Nah tahap selanjutnya ia butuh ijazah SD-SMA miliknya." Ucap Abah Ucup pelan.
Wajah Abah Ucup terlihat sedih. Bu Salamah duduk di sebelah Abah Ucup. Ia pun melihat koran di meja. Benar saja di dalam koran itu nama Laila berada di urutan ke lima. Dari 300 orang yang lulus.
Bu Salamah menghela napas nya dengan berat.
"Hhhhhh..... Lah kok ada suka ada duka nya ya Bah?" Ucap Bu Salamah pelan.
"Ya sudah, Abah pergi dulu. terlanjur siang. Jangan sampai Laila tahu kalau semua ijazahnya sudah terbakar. Abah akan berusaha mencari solusi." Ucap Abah Ucup tergesa-gesa meninggalkan rumah.
Abah Ucup pun pergi ke sekolah. Ia pun mengatakan hal yang sebenarnya. Maka ia butuh surat keterangan kehilangan dan melapor ke dinas pendidikan kabupaten untuk ijazah yang terbakar.
Namun saat tengah hari, Abah Ucup pun di buat meneteskan air mata karena yang ia tahu. proses membuat ijazah ganti itu tak bisa cepat. Melainkan butuh waktu. Ia melihat di koran bahwa akhir bulan semau berkas yang diminta sudah kembali di kirim ke pihak panitia perekrutan PNS.
"Ya Allah... apa yang akan aku katakan pada Laila?" Air mata menetes di pipi yang tak lagi kencang itu.
Abah Ucup putus asa. Ia sudah merasa sedih karena untuk mengurus ijazah SD saja begitu. apalagi ijazah SMP dan SMA milik bungsunya. Ia juga memikirkan kondisi Laila yang sekarang sedang sibuk mempersiapkan hari kelahiran buah hatinya.
Siang itu Abah Ucup pulang dengan perasaan sedih. Saat duduk di ruangan depan. Bu Salamah telah menyiapkan kopi dan memberikan pada Abah Ucup.
"Diminum dulu Bah." Ucap Bu Salamah pelan.
Istri Abah Ucup itu sudah tahu hasil dari usaha suaminya. Karena wajah murung Abah Ucup terlihat jelas bahkan secangkir kopi pun tak mampu membuat Abah Ucup melirik atau menyeruput minuman favorit Abah Ucup.
"Gagal ya bah?" Tanya Bu Salamah.
Abah Ucup diam membisu. Ia membuka baju kemejanya. Tak lama terdengar suara motor Waroh. Putri sulung Abah Ucup baru pulang dari ujian menjahit. Ia akan mendapatkan sertifikat kursus menjahit dan akan mendapatkan modal untuk membuka usaha menjahit dari BLK.
Abah Ucup yang melihat putri sulungnya pulang. Kembali tersulut emosi ayah dua anak itu
"Semua ini gara-gara kamu! Coba kalau dulu kamu tidak membakar ijazah adikmu. Mungkin adikmu akan menjadi pegawai!" Bentak Abah Ucup.
Waroh yang baru pulang dan baru saja melangkahkan kaki masuk kedalam rumah, langsung menoleh ke arah Abah Ucup. Ia bisa mendengar jelas apa yang Abah Ucup katakan.
"Selalu Laila! Laila! Laila dan Laila!" Ucap Waroh juga penuh emosi.
Waroh pun masuk ke kamarnya. Ia membanting pintu kamarnya.
"Braaakkk!"
"Hiks... Hiks... Abah keterlaluan."
Waroh meletakkan sebuah kantong plastik yang berisi baju batik lelaki. Ia menjahit baju untuk Abah Ucup. Saat ujian, ia sengaja mengambil ukuran kemeja Abah Ucup. Ia ingin menunjukkan pada Abah Ucup bahwa dirinya juga memiliki kepintaran atau keahlian.
Namun belum sempat ia menunjukkan hasil menjahit nya atau karya pertamanya pada Abah Ucup. Lelaki itu sudah memarahinya dan kembali nama Laila yang membuat hati Waroh panas. Selalu Laila yang diperhatikan dan dipikirkan Abah Ucup. Waroh merasa sakit hati. Ia merasa kecewa. Padahal ia sudah mulai merasa sedikit baik dengan Laila karena sang adik terus memperlakukan dirinya dengan baik dan penuh kasih sayang.
Bahkan adiknya sering mengirimkan dia voucher pulsa untuk ponselnya. Sehingga dirinya bisa berkirim pesan dengan kekasihnya yang bernama Firman.
Waroh masih menangis dengan menelungkup wajahnya di kedua lutut. Sedangkan Di kediaman Laila, seorang perempuan yang baru saja pulang dari masjid, harus mencoba menenangkan hatinya. Karena ada banyak cairan yang keluar.
"Astaghfirullah... Mas...." Suara Laila pelan.
Rohim yang baru mau mengganti bajunya dengan kaos. Ia cepat ke arah dapur. Dan ia melihat jika terdapat banyak cairan yang berada di kaki sang istri.
"Kamu mau melahirkan Dik?" Tanya Rohim sedikit panik.