LAILA UNTUK KANG ROHIM

LAILA UNTUK KANG ROHIM
EPISODE 55 Ummu Shibyan


Pak Toha, Rohim dan Imam menjawab bersama-sama salam Mukidi. Dan Rohim pun menanyakan darimana sahabatnya itu. Karena biasanya ia akan ada di pondok saat setelah shalat isya.


Namun malam itu sang sahabat justru datang saat mulai larut malam.


"Tumben kang baru kemari. Darimana?" Tanya Rohim.


Mukidi tampak tersenyum simpul.


"Ada kang. Rahasia. Tidak untuk konsumsi umum." Ucap Mukidi sambil senyum-senyum.


Rohim yang melihat kehadiran sahabatnya itu cepat berdiri dan bermaksud membuatkan kopi.


"Ndak usah kang. Saya baru saja ngopi." Ucap Mukidi yang paham jika sahabatnya ingin membuatkan dirinya kopi.


Rohim terbiasa melakukan sendiri. Bahkan berkali-kali saat tengah malam kopi yang telah habis di nikmati, kembali Rohim buat sendiri karena sang istri telah tertidur.


Rohim kembali duduk di tempatnya. Ia mengulurkan rokok pada sahabatnya. Mukidi pun cepat mengambil sebungkus rokok itu dan menyulutnya. Setelah menikmati rokoknya Mukidi penasaran karena Pak Toha jarang kuat begadang.


"Lah Pak Toha juga tumben jam segini masih disini." Tanya Mukidi.


"Saya ada perlu. Rendra itu loh katanya ketempelan. Lah saya bingung masa harus ke dukun. Lah wong saya shalat kok. Belajar ngaji. Malu la Kid." Ucap Pak Toha.


Rohim pun menikmati rokok lintingannya.


"Jadi kembali ke permasalahan tadi Pak Toha. Jam-jam dimana sore dan pagi. Menjelang terbit matahari dan tenggelam matahari. Dimana saat itu waktu-waktu dimana barang-barang halus memang bekerja. Bahasanya kita setan atau Jin. bahkan ada hadist yang mengatakan Ummu shibyan jin yg khusus menggoda anak-anak kecil. Anak kecil itu rentan sampai dia berumur 5 tahun."


Terlihat Pak Toha manggut-manggut. Rohim pun melanjutkan penjelasannya.


"Banyak faktor lain, disamping ada jin yg mengganggu anak kecil.Namun ya tetap kembali ke keteledoran kita sebagai orang tua tadi. Kita kadang sering, ketika anak sedang tidur,kita tinggal dalam waktu lama dan ketika bangun lebih-lebih dia sendirian. Maka ini Momen bagi Ummu shibyan tadi menganggu anak kita. Maka usahakan ketika anak kita tertidur jangan sering terlalu lama meninggalkan nya ketika tidur. Sering-seringlah di lihat. Dan usahakan ketika anak bangun, kita ada disampingnya. Kita kan paham jam-jam biasanya bangun anak kita tadi. Jangan ditinggal plek, dari baru tidur sampai dia bangun baru kita melihat anak kita. Maka ini momen bagi setan tadi menganggu anak kita."


"Oala... pantas anak saya itu sering kadang memang tidur sore. Ditinggal. Lah pagi juga sebelum Shubuh istri saya itu masak. Ya pasti kalau melihat anak pas anak sudah bangun dan nangis Kang." Ucap Pak Toha sedikit menahan kantuknya.


"Secara alamiah nya. Jangan kan jin. Kita saja yang manusia, sama anak kecil saja kita senang, kita gemes. Apalagi jin yang memang di tugasi untuk mengganggu anak kecil. jadi di Islam tidak ada namanya ketempelan." Ucap Rohim sambil kembali melinting tembakau kedalam kertas khusus.


"Saya memang tidak srek. Kadang kalau berobat ke tempat begitu-begitu kok jadi orang tua kita yang sudah meninggal di bilang mau lihat cucunya. Kan saya ga masuk akal dan sreg ketempat begitu." keluh Pak Toha.


"Ya sebenarnya saya pun tidak heran Pak. Jika dirunut orang yang memang bisa seperti itu. Memang mereka mempelajari itu. Karena mereka tidak mempelajari seperti di Islam tentang jin, setan dan malaikat asalnya dari ini dan begini. Karena yang di pelajari dan diyakini ya sesuai yang mereka pelajari tadi." Ucap Rohim menenangkan Pak Toha.


"Tapi Kenapa kang orang-orang yang berobat ke dukun itu nyatanya sembuh." Tanya Mukidi penasaran.


Rohim menahan tawanya. Selesai ia menghembuskan asap rokoknya. Ia menjawab pertanyaan Mukidi.


"Satu lagi kang, Allah itu Rahman dan Rahim. Allah juga menjanjikan doa itu akan dikabulkan. Kebetulan jalur para dukun itu sistemnya kan ibarat apa jadi permintaan jin dan setan itu pasti dikasih. Yang membuat sembuh itu ya disana. Contoh ketika ada katanya orang ketempelan, lalu dia minta minyak duyung. Lantas dituruti, jin tadi merasa kok orang ini enak akhirnya jadi langganan dia pergi terus dan kembali lagi. Atau mau pergi ketika si A yang menangani. Walau memang pada saat itu dia pergi sehingga orang tadi sembuh." Pak Toha pun melihat Mukidi dengan tersenyum.


Rohim juga menjelaskan seperti anggapan orang tua zaman dulu. Orang tua akan sibuk setiap mau Maghrib seluruh pintu dan jendela ditutup dan tidak boleh ada diluar. Bahkan sebelum Shubuh, jendela dan pintu nya belum dibuka. Lebih baik membuka jendela setelah shalat Shubuh. Dan Rohim juga menjelaskan doa paling ampuh yang ia sendiri amalkan selama ia telah menjadi seorang ayah. Dimana doa setelah adzan.


"Saya sendiri selama punya anak dua, ya ini mau tiga Saya mengamalkan doa setelah adzan. Jadi pas adzan selesai kita membaca doa setelah adzan dalam hati ya ga masalah. Selesai kita doa lalu tiupkan ke ubun-ubun anak-anak kita, ketika anak kita ada di sisi kita. Niatnya mengharapkan pada Allah untuk menjaga keselamatan anak kita." Ucap Rohim.


"Lah kalau anaknya tidak di dekat kita pas adzan selesai, kita selesai berdoa apa harus cari anaknya kang?" Tanya Pak Toha.


"Jika tak ada anaknya disisi kita. Kita bayangkan saja anak kita ada di dekat kita. bayangkan wajah-wajah anak kita lalu di tiupkan seolah anak ada disisi kita. Disamping doa setelah adzan itu sunnah, salah satu fadilah nya untuk menjaga njobo dan Jero anak. (luar dan dalam anak).Itu kembali kenapa anak ketika lahir di suruh mengadzani karena sangking ampuhnya adzan tadi." Jelas Rohim yang sebenarnya menahan rasa lelah setelah seharian sibuk bekerja mencari nafkah di kebun. Belum lagi aktifitas nya mengajar santri sampai malam.


Rohim pun menjelaskan bahwa orientasi nya di agama ini sudah luar biasa.


"Kita saja yang mikir kok susah sekali menjalankan agama. Pada dasarnya tidak susah, apa-apa yang sudah di ajarkan agama tidak hanya satu hasil dan manfaatnya. contoh ketika adzan kita diminta mendengarkan adzan dan menjawab adzan. Itu pahalanya sudah luar biasa ketika kita menjalani itu. karena telinga kita ada hak untuk mendengarkan kalam-kalam Allah. Dan Sunnah itu ga harus shalat, ga harus puasa. Ada satu ulama besar yang jarang shalat Sunnah. Karena beliau paham bab Sunnah. Karena beliau justru sudah melakukan Sunnah yang jarang orang tahu atau orang menyepelekannya. Contoh mendengar adzan, menjawabnya dan berdoa setelah adzan." Jelas Rohim panjang lebar.


Saat-saat seperti inilah yang Mukidi tunggu. Ia memang jarang ikut majelis yang diadakan Rohim. Ia hanya mengikuti majelis shalawat. Namun bagi dirinya saat duduk sambil ngopi dan merokok bersama sahabatnya disaat malam kian larut. Justru ilmu-ilmu sahabatnya itu keluar serta mengalir dengan deras dan tanpa ia sadari dirinya menikmati hal itu. Padahal proses itu menjadi proses transfer ilmu dari Rohim kepada Mukidi atau mereka yang duduk bersama saat itu tanpa mereka sadari dan Rohim juga senang karena ia merasa nyaman.


Ia kadang merasa semakin hari ia semakin bingung untuk berkomunikasi pada masyarakat. Orang tua bahkan yang telah sepuh kadang sungkan untu berbicara atau bercanda dengannya. Maka hanya Mukidi yang sementara ini bisa diajak bercanda dan mengobrol seperti biasa tak berubah dari dulu hingga sekarang.


"Orientasi agama apapun yang pada inti sebenarnya agar kita itu banyak ingatnya sama Allah. disamping banyak manfaatnya." Ucap Rohim sambil membuka kopiahnya dan ia letakkan di sebelahnya. Imam yang dari tadi menyimak mengangguk-angguk kepalanya. Ia sangat suka pada Rohim. Ia tak memberikan seolah-olah ia bisa mengobati tapi ia memberikan ilmu dan orang yang memiliki masalah tadi bisa menerapkan dalam hidupnya langsung.


Sebelum pulang pak Toha bertanya kembali tentang doa setelah adzan yang dimaksud Rohim. Guru ngaji itu pun menjelaskan doa yang ia amalkan sendiri kepada anak-anaknya.


Doa Setelah adzan.


اَللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةْ وَالصَّلاةِ القَائِمَةْ آتِ سَيِّدَنَا مُحَمَّدَنِ اْلوَسِيْلَةَ وَاْلفَضِيْلَةْ وَابْعَثْهُ مَقَاماً مَحْمُوْدًا اَّلذِيْ وَعَدْتَهْ


Allâhumma rabba hâdzihid da'watit tâmmah, washshalâtil qâ-imah, âti sayyidana muhammadanil washîlata wal fadhîlah, wab'atshu maqâmam mahmûdanil ladzî wa'adtah.


Artinya, “Wahai Tuhanku, yang memiliki seruan sempurna ini serta shalat yang segera akan dilaksanakan, berilah kepada Junjungan kami Nabi Muhammad kedudukan sebagai wasilah serta kemuliaan dan bangkitkanlah ia dalam kedudukan yang terpuji sebagaimana telah Engkau janjikan.”