
Kebenaran akan sebuah berita bahwa Umi Laila memfitnah Anak Bu Mimi akhirnya terbuka dengan sendirinya. Suatu siang disaat para petani baru pulang dari ladang. Di sebuah rumah mewah sedang ramai oleh ibu-ibu dan Bapak-bapak. Sesuatu yang sudah lama di endus dan di khawatirkan Umi Laila kini di ketahui banyak warga.
Saat Umi Laila mengajak Ibu Mimi berkomunikasi dengan apa yang ia temui bahwa kondisi anak tersebut sudah terlalu jauh. Namun rasa sayang pada anak lebih besar daripada rasa untuk menelaah setiap saran atau masukan. Maka inilah yang terjadi. Bu Mimi bahkan di larikan ke puskesmas terdekat karena pingsan. Sedangkan Siska Masih di rumah.
Gadis itu di amankan di kediaman saudara ibunya. Ayahnya sudah berkali-kali memukul putrinya karena rasa malu. Tak ada guna lagi memukul atau mengikat anaknya. Nasi telah menjadi bubur. Siska Sudah hamil tiga bulan. Sore hari di Pesantren Kali Bening justru kedatangan beberapa wali santri yang sempat menarik pulang anak-anaknya karena mendengar fitnah yang ditujukan kepada Umi Laila.
Berita tentang hamilnya Siska. Anak SMA itu dinyatakan hamil, sehingga membuat para wali santri datang menemui Umi Laila dan ingin meminta maaf. Mereka dulu sempat percaya dengan Fitnah yang disebarkan Bu Mimi. Umi Laila baru saja pulang mengantarkan Munir, adik Abi Rohim. Kemarin adalah ijab qobul Munir dan Nuaima. Karena tak bisa berlama-lama, mereka pun hanya bisa menginap satu malam.
Umi Laila pun teta ramah menyambut wali santri tersebut dan tetap berusaha menahan rasa lelahnya. Maklum, Umi Laila sedang mengandung bayi ke empat. Ia sedang hamil 5 bulan.
“Ya memang setiap orang tua punya rasa sayang pada anak. Saya maklum, tetapi jangan lupa bu. Anak-anak kadang ada yang pandai bermain peran. Kadang di depan orang tua, teman dan guru dia akan memberikan berita yang berbeda. Maka disitu dibutuhkan kesabaran kita untuk melihat apakah benar kabar yang disampaikan anak. Kalau saya tidak kaget lagi, karena banyak santri disini membuat saya banyak mengenal karakter anak.” Ucap Laila saat beberapa ibu-ibu meminta maaf.
Umi Laila padahal sudah sering mengatakan pada wali santri untuk tetap mendengar keluh kesah anak-anak apalagi yang tidak kerasan di pondok. Karena secara tidak langsung, di pondok pesantren anak-anak bisa belajar bahwa sebuah kebahagiaan harus diperjuangkan. Bahwa tidak semua keinginan terpenuhi dalam hidup ini. Dan untuk menjadi berilmu tidak ada yang tidak bersusah payah untuk mendapatkan nya.
“Tapi kenapa Umi Laila tidak klarifikasi sama kami toh Mi, kalau memang kemarin itu Umi yang di fitnah bukan Bu Mimi.” Ucap Salah satu wali santri yang bingung sikap Umi Laila.
Karena jika dirinya di posisi Umi Laila, sudah entah berapa kali Bu Mimi itu akan di datangi. Namun Umi Laila bukan sibuk menghadapi orang-orang yang memandang rendah dan memfitnah dirinya.
“Abi nya Furqon sering bilang, bukan perjuangan kalau tidak diuji. Dan saya ndak mau menghabiskan energi dan pikiran saya untuk menanggapinya untuk hal-hal semacam itu. Saya lebih memilih Allah saja yang menyelesaikan setiap perkara, saya ngurus yang dititipkan Allah sama saya.” Jawab Umi Laila Ramah.
Beberapa Ibu-ibu melihat bahwa Umi Laila seperti mencoba menahan pinggangnya. Mereka yang baru sadar jika Umi Laila baru tiba dari luar kota. Mereka pun undur diri, pamit. Umi Laila pun masuk ke dalam dan membersihkan diri. Saat malam hari, Umi Laila sibuk mempersiapkan pakaian untuk Furqon besok sekolah. Seperti biasa, hanya di malam hari adalah waktu sepasang suami istri itu bertukar pikiran.
“Bi, Nuaima tadi cantik sekali ya.” Ucap Umi Laila seraya menyetrika seragam putih Furqon.
“Umi kok khawatir ya, Itu kalau dilihat dari penampilan. Apa ndak nanti kecantikan Dik Nuaima itu bisa jadi masalah. Apalagi Dik Munir sepertinya begitu menyayangi Nuaima.” Ucap Umi Laila lagi.
Tampak umi Laila membalik baju seragam yang sedang ia gosok. Kali ini bagian kerah baju itu yang di gosok.
“Wah mulai ini jiwa emak-emaknya.... Wes ndak usah do terusno.” Ucap Abi Rohim tanpa melirik ke arah sang istri.
Umi Laila pun akhirnya tersenyum karena diingatkan terlalu jauh memikirkan hal yang belum terjadi. Dan sudah terlalu jauh ikut campur urusan rumah tangga adiknya.
“Semoga kalian bahagia dunia akhirat.” Ucap Umi Laila dalam hatinya. Ia pun menyelesaikan menyetrika pakaian sekolah anaknya. Karena pinggang dan kaki yang sudah terasa pegal.