
Setelah Chen Yi menunjukan kekuatannya, banyak penduduk Zhan menjadi percaya dengan apa yang dikatakan oleh Chen Yi.
Kekuatan dan kemampuan yang ditunjukan oleh Chen Yi sudah cukup menjadi bukti bahwa dia tidak berbohong.
Chen Yi yang melihat bahwa tidak ada lagi penduduk Desa yang menolak kehadirannya tersenyum puas.
“Karena kalian sudah melihat kekuatan yang aku miliki, dan kalian tidak ada lagi yang meragukannya. Aku atas nama Yuan Tiandi mengundang seluruh umat manusia untuk mengunjungi Desaku. Disana kalian akan diajari metode untuk menjadi seorang yang mampu melawan Dewa”
“Selama kalian bisa menguasai metode yang diajarkan oleh Yuan Tiandi, Umur panjang bukan lagi mimpi, karena Yuan Tiandi mengajarkan Metode Keabadian”
Chen Yi dengan nada berapi api sekali lagi memberitahukan para penduduk desa Zhan.
Penduduk desa Zhan tercengang ketika mendengar ucapan Chen Yi yang mengatakan bahwa manusia bisa mendapatkan umur panjang melalui metode Keabadian.
Karena maksimal usia manusia biasa paling rata - rata 100 tahun paling lama, dan itu sudah sangat tua renta.
Justru karena hal ini, para penduduk Desa Zhan menjadi lebih bersemangat.
Siapa yang tidak ingin umur panjang di dunia ini, hampir semua manusia ingin hidup yang panjang.
“Tapi sebelum itu, aku harus melakukan sesuatu yang penting”
Chen Yi segera pergi menuju arah tertentu.
Para penduduk desa yang masih terdiam, segera melihat arah Chen Yi pergi. Ternyata itu arah ke Kuil Dewa.
Chen Yi yang sudah tiba di kuil tidak tinggal diam, dia segera menggunakan kekuatan penuh untuk menghancurkan Kuil Dewa.
“Tinju Gempa!”
Chen Yi meninju tanah yang berada di dekat Kuil.
Saat tinju Chen Yi menghantam tanah, retakan mulai menjalar secara luas ke arah KUil dewa. Kuil Dewa yang sebelumnya kokoh amblas rata dengan tanah.
Boom!
Suara hancurnya kuil membuat seluruh penduduk desa terkejut, walau masih ada kemarah di hati mereka melihat kuil Dewa dihancurkan, tapi mereka tidak bisa marah sama sekali.
Sekalipun mereka marah, mereka tidak bisa berbuat apa - apa. karena kekuatan Chen Yi yang terlalu luar biasa untuk bisa mereka tangani.
Mereka hanya bisa melihat Kuil yang amblas roboh menjadi satu dengan tanah.
Chen Yi yang berhasil merobohkan Kuil tersenyum sambil menepuk nepuk tangan membersihkan debu yang menempel.
“Selesai” Ucap Chen Yi penuh kemenangan.
“Bagi kalian yang ingin belajar mengelola keabadian dan menjadi seorang kultivator seperti ku, maka aku akan menunggu di luar desa selama 1 batang dupa”
Setelah Chen Yi mengatakan itu, dia segera pergi menuju pintu keluar desa.
….
Di Saat Chen Yi berada di Desa Zhan, kelompok Chen San , Chen Fei, Chen Chu dan Chen Er sudah tiba di desa Ji.
Mereka tidak langsung masuk ke dalam desa, mereka saling menatap satu sama lain dan berdiskusi.
“Kita sudah sampai sekarang. selanjutnya bagaimana cara kita menyakinkan mereka ?” tanya Chen Fei kepada yang lainnya.
“Lebih baik kita langsung saja menunjukan kekuatan kita, sehingga mereka bisa mengetahui kebenaran akan Praktik keabadian” Chen San berbicara memberitahukan ide nya.
“Tidak, itu terlalu beresiko” Chen Chu menolak saran Chen San.
“Apa kau punya ide yang lebih baik ?” Chen San bertanya sekali lagi kepada Chen Chu.
Chen Chu terdiam, dia juga belum menemukan ide yang tepat.
Mereka berempat saling diam memikirkan cara yang paling tepat untuk mengajak penduduk desa Ji untuk bisa mengikuti mereka.
Kebuntuan berlangsung lama. Akhirnya Chen Er yang pertama kali mengambil tindakan.
“Sudahlah, lebih baik ikut saja aku”
Sedangkan Chen San, Chen Chu dan Chen Fei saling melirik satu sama lain. Mereka bingung dengan hal apa yang akan dilakukan oleh Chen Er.
Dengan masih kebingungan, mereka bertiga akhirnya bergerak mengikuti Chen Er sudah berjalan duluan menuju Desa Ji.
…
Di dalam Desa Ji, para penduduk desa beraktifitas seperti biasanya desa pada umumnya.
Ada yang berdagang, ada yang membuat kerajinan, dan macam hal lainnya. Tapi satu hal yang membedakan desa Ji dari desa lainnya.
Di desa Ji ada sebuah bangunan seperti sekolah, di dalam bangunan itu anak - anak kecil berusia dari usia 5 sampai 9 tahun sedang belajar berbagai hal.
Mulai dari kaligrafi, seni sastra, ilmu bela diri dan hal lainnya. ini adalah yang menjadikan Desa Ji disebut sebagai Desa yang dipenuhi banyak talenta luar biasa.
Karena dari kecil, mereka sudah dibiasakan mengasah bakat milik mereka.
Chen Yi yang masuk ke dalam desa berjalan dengan pelan melihat sekeliling, seolah mencari sesuatu yang penting.
“Ketemu!”
Chen Er segera bergerak menuju tempat yang dia cari.
Chen Chu , Chen Fei dan Chen San hanya bisa mengikuti dari belakang tanpa tahu tujuan sebenarnya dari Chen Er.
Kedatangan mereka berempat tidak menimbulkan kecurigaan pada penduduk desa, karena mereka semua tidak membuat kecurigaan pada penduduk desa.
Sehingga mereka dengan mudah masuk tanpa perlu melewati pemeriksaan.
Chen Er akhirnya berhenti pada tempat yang dia tuju. Tempat yang dituju oleh Chen Er tidak lain adalah Kuil Dewa.
Chen Er berdiri di depan pintu masuk kuil dan menatap Kuil Dewa yang cukup megah.
“Saatnya aku menguji kemampuan yang baru saja aku peroleh”
Chen Er segera mengeluarkan kekuatan spiritual miliknya.
Api yang membara muncul di telapak tangan Chen Er, setelah itu Chen Er menatap Kuil Dewa dengan senyuman main - main di wajahnya.
“Flame palm!”
Chen Er mengayunkan telapak tangan ke arah Kuil Dewa. Telapak tangan api langsung menghantam Kuil Dewa.
Boom!
Chen Er berulang kali melancarkan serangan telapak api ke arah kuil, sehingga menyebabkan kuil mulai terbakar dengan marak.
Chen Chu, Chen Fei dan Chen San yang melihat kegilaan yang dilakukan oleh Chen Er. Mereka bertiga tidak menyangka Chen Er akan membuat keributan begitu parah begitu dia tiba di Desa Ji.
Akibat perbuatan Chen Er, seluruh warga desa segera melihat ke arah Kuil Dewa, mereka marah karena ada orang asing yang masuk ke desa mereka dan membuat masalah tanpa sebab yang jelas.
Penduduk desa segera bergegas bergerak menuju Kuil untuk melihat siapa yang membuat kegaduhan di DEsa mereka.
Saat para penduduk desa tiba di Kuil Dewa, mereka melihat ada Kuil Dewa sudah terbakar dan rusak parah. Mereka hanya melihat seorang pemuda yang sedang melayangkan pukulan dengan kekuatan api di tangannya.
Mereka semua menjadi berang dan marah melihat Chen Er yang semenan mena di desa mereka, tapi penduduk Desa Ji tidak langsung terbakar amarah.
Karena mereka memperhatikan bahwa Chen Er mampu mengeluarkan api dari tangannya, hal ini yang membuat mereka menahan diri untuk tidak menyerang secara langsung.
“Hey Anak muda, apa kau tahu yang kau lakukan pada Kuil Dewa itu ?, apa kau tidak takut akan kemarahan Dewa”
Seorang Pria yang cukup tua berbicara kepada Chen Er yang masih terus melayangkan pukulan telapak api.
Chen Er yang mendengar suara memanggilnya, segera membalikan badan menghadap para penduduk desa.
Chen Er menatap ke arah penduduk desa dengan bibir yang melengkung ke atas.
“kalian sudah disini ternyata”
Chen Er berkata pelan kepada seluruh penduduk desa, tapi saat dia berbicara, Chen Er menambahkan kekuatan spiritual miliknya sehingga suaranya bisa terdengar kepada seluruh penduduk Desa.