Fantasy : My System Error At The Beginning

Fantasy : My System Error At The Beginning
109. Lahirnya Pembantai Dewa Part 2


Jiang Yuan menatap semua warga yang sudah berkumpul ramai di kuil. dengan wajah malas, Jiang Yuan berbicara santai kepada semua orang.


“Memangnya kenapa kalau aku menghancurkan patung jelek ini ?”


Jiang Yuan dengan nada suara main - main berbicara sambil melirik lokasi patung yang sudah hancur. dia tidak memperdulikan sama sekali hal apa yang dia lakukan.


Patriark Xi yang melihat ini merasa lebih senang, dengan begini dia bisa mengahusut kemaran para warga lebih jauh lagi.


“Dasar kau pembangkang, berani sekali kau tidak menghormati Dewa!”


Patriark Xi dengan suara sangat marah berteriak memarahi Jiang Yuan.


“Semuanya!, kalian lihat sendiri, Jiang Yuan berani tidak menghormati para dewa. kita harus menangkapnya, agar para dewa tidak melampiaskan kemarahannya kepada kita”


Patriark Xi dengan senyuman menyeringai tersembunyi di wajahnya berbicara pada warga desa. dia sangat puas dengan sikap Jiang Yuan yang semakin tengil.


Jiang Dashu yang mendengar ucapan anaknya, merasa tidak tahu harus berbuat apa lagi, karena hal yang dilakukan Jiang Yuan sudah kelewatan batas. Menghina Dewa saja adalah hal yang dianggap pembabangkangan, apalagi menghancurkan patung Dewa, hal ini sudah termasuk bentuk penghujatan secara terang - terangan.


“Yuan’er sudah hentikan, kau harus segera minta maaf segera kepada para dewa”


Jiang Dashu yang panik menatap Jiang Yuan, dia menyuruh jiang yuan agar meminta maaf.


“Oh!, Brother Jiang, jangan kau pikir dengan meminta maaf bisa meredakan kemarahan Para Dewa, dia tetap harus diadili. kita harus membawanya ke tempat pendeta Kuil berada”


Patriar Xi menanggapi Jiang Dashu, jelas dia menambahkan minyak ke dalam api. walaupun jiang yuan meminta maaf nantinya, dia tetap harus diadili.


Jiang Dashu terkejut dengan ucapan Patriark Xi, karena dia tahu betul arti dari Pendeta Kuil. Pendeta Kuil adalah perwakilan dari dewa itu sendiri, mereka menggantikan Para Dewa dalam urusan manusia.


Berurusan dengan Pendeta sama saja secara tak langsung berhadapan dengan Dewa. jika sudah berhadapan dengan para Dewa, maka sudah dipastikan nasib Jiang Yuan akan benar - benar sengsara.


Di kota Xiaoling sendiri adalah kota kecil dimana hanya ada Sub-kuil berada, sedangkan Kuil besarnya berada di kota yang lebih besar.


“Pendeta ?”


Jiang Yuan mengangkat alisnya, dia tertarik dengan yang dimaksud Pendeta yang di mulut Patriark Xi.


“hahaha, menarik, sangat menarik. kalau begitu aku meminta Patriark Xi untuk mengundang Pendeta hadir”


Jiang Yuan tertawa mengejek Patriark Xi. Jelas terlihat Jiang Yuan ingin melihat apa sebenarnya Pendeta yang merupakan perwakilan dewa.


Patriark Xi tidak menduga Jiang Yuan tidak  takut, dan malah menggoda dirinya.


“Lancang!, Jiang Yuan kau benar - benar sudah gila. kau tidak hanya menghina para Dewa, tapi juga tidak menghormati Pendeta yang merupakan perwakilan Dewa”


Patriark Xi berteriak marah, walau jelas dia mengharapkan Jiang Yuan melawan, tapi dia tidak menyangka Jiang Yuan akan separah ini menghina Dewa.


“Semuanya mari kita tangkap dia, kita harus membawa dia ke Pendeta agar pendeta menjatuhkan hukuman!”


Patriark Xi dengan suara keras berteriak. para warga yang ada di sekitar segera tersulut dengan teriakan Patriark Xi.


“Tangkap!”


“Penghujat dewa harus dihukum!”


“Tangkap penghina Dewa!”


Para warga yang marah mulai mengelilingi jiang yuan.


“Jiang Yuan, ku sarankan kau patuh pada kami, ini semua demi kebaikan seluruh warga kota”


“Jiang Yuan, serahkan dirimu. kami akan membawamu ke tempat pendeta”


Para Warga sekali lagi mengingatkan Jiang Yuan agar tidak melawan. Jiang Yuan yang sudah dikelilingi hanya bisa tersenyum.


“Jika kalian ingin menangkapku, itu semua tergantung kemampuan kalian”


Jiang Yuan mencibir semua orang yang ingin menangkapnya. Para warga yang melihat respon Jiang Yuan menjadi marah.


“Sialan!, dasar tidak tahu diri!”


Para warga langsung menyerang Jiang Yuan. Jiang Dashu yang berada di lokasi tidak tahu harus berbuat apa. jika dia membantu Jiang Yuan, maka dia sama saja di sebagai pembangkan dewa juga. maka mereka  berdua harus diserahkan ke pendeta untuk dihukum.


Jiang Yuan hanya tersenyum sinis melihat dirinya di serang oleh warga kota. berbagai pukulan melayang ke arah dirinya, jiang yuan hanya santai menghindari setiap serangan yang mengarah dirinya.


Jiang Yuan dengan mudah menghindari setiap serangan. bagaimanapun, orang yang menyerang dirinya hanya manusia biasa, setiap gerakan warga desa dapat dilihat dengan jelas oleh Jiang Yuan.


“Apa mereka berbohong akan kondisi Jiang Yuan ?”


Patriark Xi bergumam tidak yakin akan informasi yang diterima dari orang - orang itu. jika dia tidak menerima informasi dari orang - orang itu, dia tidak mungkin terlalu berani menyulut perselisihan dengan keluarga Jiang.


Dia dan Jiang Dashu berada di tingkat yang sama dalam hal kekuatan, jadi tidak mungkin melancarkan permusuhan begitu jelas dengan Keluarga Jiang.


“Ini tidak bisa dibiarkan, aku harus turun tangan juga!”


Patriark Xi melompat ke dalam pertempuran. Jiang Dashu yang melihat ini tidak sempat bertindak menghentikan, wajah Jiang Dashu memucat karena khawatir.


Jiang Yuan yang melihat bahwa Patriark Xi ikut menyerang dirinya, dia hanya tersenyum mengejek.


“Bocah sialan!, rasakan ini!”


Patriark Xi memukul langsung ke arah Jiang Yuan, pukulan Patriark Xi berbeda dengan serangan warga lainnya, pukulan Patriark Xi mengandung kekuatan tenaga dalam.


Jiang Yuan tidak panik sama sekali menghadapi serangan Patriark Xi. saat serangan mendekati Jiang Yuan, dia langsung menghindari pukulan Patriark Xi.


Whuss!


jiang Yuan yang menghindar membuat Patriark Xi terkejut. jelas menurutnya Jiang Yuan belum mengolah kekuatan Internal ke tahap sama sepertinya, ditambah informasi yang dia terima, Jiang Yuan sedang dalam kondisi diracun.


“jadi hanya segini kekuatan patriark Xi ?”


Jiang Yuan tidak lupa mencibir Patriark Xi.


“Bajingan!”


Patriark Xi menjadi marah, wajahnya merah padam. dia kembali menyerang dengan serius kali ini.


“Telapak Pasi hitam!”


Patriark Xi melancarkan salah satu teknik unggulan miliknya. telapak tangan Patriark Xi berubah menjadi Berwarna Hitam.


Jiang Yuan sedikit terkejut dengan teknik Patriark XI.


“Menarik!”


Jiang Yuan menatap dengan sedikit ketertarikan.


“kali ini giliran ku”


Jiang Yuan tidak mau kalah, dia menghadapi pukulan Patriark Xi dengan membalas balik.


“Gelombang kejut Jiwa!”


Kekuatan Jiwa Jiang Yuan menyebar menyerang ke seluruh arah. membuat semua warga yang ada di sekitar merasakan guncangan di dalam jiwa mereka. mereka berjatuhan karena tidak tahan akan serangan jiwa Jiang Yuan.


Patriark Xi yang menyerangan Jiang Yuan dengan Telapak pasir hitam, merasakan jiwa miliknya terkejut seperti terkena sengatan listrik.


“Ahh!”


Patriark Xi berteriak kesakitan karena tidak dapat menahan serangan Jiang Yuan.


Jiang Dashu dan warga lainya yang tidak terkena serangan Jiwa Jiang Yuan terkejut. terutama Jiang Dashu, dia semakin tidak mengenal anak nya sendiri. walau dia tahu Jiang Yuan berbakat akan beladiri, tapi itu belum sampai tahap dimana bisa mengeluarkan serangan seperti barusan saja. Ditambah Jiang Yuan beberapa waktu lalu sekarat, hal ini membuat banyak keraguan dalam benak Jiang Dashu.


“Apa kau masih putra ku ?”


Jiang Dashu tanpa sadar bergumam karena tidak bisa mempercayai apa yang dia lihat.


“Ternyata Patriark Xi hanya sampai segini kemampuannya. Maafkan junior ini karena jauh lebih hebat”


Jiang Yuan berbicara dengan nada datar ke Patriark Xi yang masih meringis kesakitan akibat menahan dampak gelombang kejut pada jiwa nya.


Patriark Xi yang mendengar ucapan Jiang Yuan semakin merasakan sakit yang luar biasa. bukan hanya dikalahkan oleh seorang junior, tapi juga dihina langsung, membuat dirinya semakin tidak tahan.


Saat suasana memasuki keadaan hening, suara tapal kuda dan suara hentak kaki terdengar.


Jiang Yuan melihat ke arah sumber suara, dan dia terkejut karena mengenali sosok yang datang. Jiang Yuan hanya tersenyum misterius melihat sosok yang datang tersebut.


“Sepertinya aku tidak perlu mencari jauh - jauh”


Jiang Yuan dengan wajah nakal menatap ke arah sekelompok orang yang datang.  Jiang Yuan sangat jelas mengenal orang yang datang.