
Beberapa saat kemudian, terdengar langkah kaki buru - buru menuju kearah pintu rumah Arsyila yang masih terbuka lebar. Dan sejurus kemudian Arsyila dan Hasbi langsung saja menoleh berbarengan kearah pintu tersebut yang ternyata sudah ada sosok lelaki yang berdiri diambang pintu dengan penampilan yang sangat berantakan. Lelaki itu adalah Raihan. Melihat kedatangan Raihan yang tiba - tiba itu tentu saja membuat Arsyila dan Hasbi kaget seketika. Hasbi pun langsung berdiri dari tempat duduknya.
Sedangkan Raihan masih berdiri didepan pintu dengan wajah yang kusut. Bukan saja wajahnya yang kusut, penampilannya juga amburadul. Padahal lelaki itu selalu terlihat rapi, namun tidak kali ini. Dan suasana dirumah Arsyila mendadak hening seketika, tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut mereka. Mereka hanya saling pandang saja sampai akhirnya, Hasbi mengeluarakan suara.
"Arsyila, aku permisi dulu. Lebih baik kamu selesaikan permasalahan kamu dengan Raihan, suami kamu." kata Hasbi dengan memandang Arsyila dan Raihan secara bergantian.
"T-tapi, Hasbi.." belum sempat Arsyila mencegah Hasbi untuk pergi, lelaki itu sudah berjalan kearah luar dengan sebelumnya ia melewati Raihan dan pandangan mereka sempat saling beradu untuk persekian detik.
Setelah Hasbi pergi, Arsyila mulai gelisah. Ia bingung dalam bersikap. Ia yang tidak tahu harus ngapain berada didalam rumahnya hanya berdua saja dengan Raihan. Dan Raihan pun sudah berjalan semakin mendekatinya dan detik kemudian telah duduk didepan Arsyila.
"Arsyila, aku mintak maaf karena kemarin tidak balik lagi kerumah sakit menemani kamu. Aku yang juga tidak memberi kabar ke kamu setelah itu." tutur Raihan yang membuka obrolan dengan Arsyila. Tapi, Arsyila sama sekali tidak menanggapi permintaan maaf dari Raihan tersebut. Ia lebih memilih untuk menunduk ataupun menoleh kearah lain.
"Arsyila, masih begitu bencinya kah kamu ke aku hingga sedikitpun kamu tidak mau memandang aku?" tanya Raihan dengan suara sedihnya itu.
"Tapi, aku bisa memakluminya Arsyila. Aku memang pantas untuk dibencii." kata Raihan lagi.
Arsyila masih diam dan sedikitpun tidak juga memandang Raihan. Arsyila bersikap seolah - olah tidak ada Raihan disana.
"Meskipun kamu sudah tahu semua tentang kejadian yang sebenarnya, tapi aku merasa kamu akan tetap dengan pendirian kamu sejak awal. Kamu pasti tidak akan merubah keputusan kamu untuk berpisah dari aku kan Arsyila?" tanya Raihan dengan nada memelas.
"Tidak perlu dijawab, karena aku sudah tau jawabannya. Yah.. Aku memang pantas untuk menerima semua kenyataan pahit ini. Aku.. memang pantas untuk ditinggalin." kata Raihan yang kali ini mulai terisak - isak. Ujung mata Arsyila langsung melirik kearah Raihan yang kini sedang menunduk dengan kedua tangannya memegang kepalanya.
"Kemarin itu, Aku mengejar Raina yang malah mengikuti Randi sampai ke parkiran. Dan kamu tahu tidak Raina bilang apa?" tanya Raihan dan ia pun sudah mengangkat kembali wajahnya. Arsyila dapat melihat betapa kacaunya Raihan saat itu, mata dan wajahnya terlihat sangat sembab.
"Arsyila, jangan kan kamu.. Adik aku sendiri saja, tega meninggalkan aku Arsyila. Dia lebih memilih pergi dengan Randi dan hidup dengan laki - laki itu. Ternyata mereka sudah membuat suatu kesepakatan, Randi mau mengakui semuanya dengan syarat Raina harus ikut dengan dia. Raina dengan tegas mengatakan kalau dia lebih memilih ikut Randi dari pada melihat aku dan kamu berpisah." kata Raihan lalu berhenti sejenak untuk menarik nafas panjang.
Tentu saja hal itu membuat Arsyila sedikit syok. Ia yang tidak menyangka sama sekali Raina yang sampai segitunya, mau mengorbankan dirinya untuk laki - laki yang sama - sama mereka tahu bagaimana kelakuan dia sebenarnya.
"Jadi dimana Raina sekarang?" tanya Arsyila. Akhirnya wanita itu mengeluarkan suaranya juga. Arsyila bertanya karena ia peduli dengan Raina. Sebagai sesama wanita, Arsyila tidak mau nasib Raina berakhir buruk jika bersama Randi.
"Aku turut prihatin, Raihan. Semoga Raina baik - baik saja." kata Arsyila dengan penuh harapan.
"Ya. Semoga saja." jawab Raihan.
"Mungkin.. Ini hukuman bagi Aku Arsyila, Aku yang dulunya sudah jahat sama kamu. Aku yang menjadi penyebab Ayah kamu meninggal, aku yang sudah menjebak kamu bersama Randi, dan membuatkannya video hingga akhirnya video itu tersebar. Dan.. aku sadar, ini lah ganjaran dari Allah untuk manusia bejat seperti aku ini, Arsyila." kata Raihan yang terus terusan menyalahkan dirinya. Arsyila bisa melihat gurat penyesalan dari wajahnya Raihan. Rasa bersalah yang membuat wajahnya terlihat semakin menderita. Entah mengapa timbul rasa kasihan dan tidak tega dihati Arsyila ketika melihat keadaan Raihan yang seperti itu.
"Oya, Arsyila.. Aku lupa menanyai keadaan kamu dan juga calon bayi kita? Kalian baik - baik saja kan? Kamu jaga kandungan kamu ya Asyila, dengan sebaik mungkin. Meskipun kita tidak bersama, aku akan tetap bertanggung jawab terhadap kamu dan juga bayi kita tentunya. Aku akan penuhi segala kebutuhan kamu, aku akan pastikan kamu dan calon bayi kita aman dan jauh dari hal - hal buruk. Kamu jangan khawatir, masa depan kamu dan bayi kita akan tetap cerah. Aku yang akan menjaminnya. Tapi, satu pintaku Arsyila.. Aku mohon, jika anak kita sudah besar nantik, jangan pernah menceritakan tentang kebejatan yang pernah Ayahnya perbuat terhadap ibunya, jangan pernah Arsyila. Aku tidak ingin kelak anak aku juga membenci aku. Rasa benci dari kamu saja sudah membuat perasaan aku hancur berkeping - keping, apalagi jika anak aku juga membenci aku. Mending aku mati dari pada menanggung rasa benci dari dua orang yang sangat aku cintai." jelas Raihan yang akhirnya menumpahkan air mata yang sejak tadi sudah mengenang dipelupuk matanya.
Lagi - lagi mendengar kalimat panjang dan juga menyaksikan Raihan sampai menangis seperti itu, mampu membuat hati Arsyila seakan teriris - iris. Tapi, apalah dayanya yang sama sekali tidak tahu harus berbuat dan berkata apa. Ia hanya bisa menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bagaimana suaminya itu semakin tertekan karena rasa penyesalan dan rasa bersalahnya itu.
"Arsyila," panggil Raihan dengan suara yang parau. Arsyila langsung mengangkat wajahnya dan melihat mata Raihan yang merah itu.
"Aku pergi dulu ya. Dan.. Jaga diri kamu baik - baik, meskipun aku ingin selalu berada disamping kamu dan menemani masa - masa kehamilan kamu. Tapi, semua itu hanyalah angan - angan aku semata. Aku hanya bisa berdoa semoga kamu dan calon bayi kita sehat - sehat. Dengan memastikan itu saja, sudah cukup membuat aku bahagia. Meskipun tanpa bisa menyentuhnya." kata Raihan lalu setelah itu ia berdiri. Dan dengan melemparkan senyuman manisnya itu, Raihan pun beranjak dari sana menuju keluar rumah Arsyila.
Melihat Raihan pergi meninggalkannya, membuat hati Arsyila tiba - tiba menjadi gelisah tak karuan. Ia langsung berdiri dan memanggil suaminya itu.
"Raihan...!!" panggil Arsyila. Langkah kaki Raihanpun terhenti, ia menoleh ke Arsyila yang saat itu sudah berdiri dengan kaki dan badan yang bergetar semua.
"Kamu mau pergi kemana?? Kamu mau meninggalkan aku dan bayi kita ini? Aku gak bisa menjalani kehamilan ini sendiri..!!" ucap Arsyila dengan air mata yang sudah mengalir deras di pipinya..
💙💙💙💙
BERSAMBUNG...
.