
"Apa yang kamu ketahui tentang kehamilan kakak aku?" tanya Ardan dengan rasa penasaran.
"Masuklah dulu kedalam mobil aku." suruh Raina dengan mengarahkan kepalanya kekursi sebelahnya, Ardan yang posisinya masih diluar merasa enggan untuk masuk kedalam mobilnya Raina.
"Maaf Raina, aku diluar saja. Lebih baik kamu jelaskan sekarang apa yang kamu ketahui. Aku gak bisa berlama - lama disini." kata Ardan akhirnya.
"Sombong sekali kamu, aku gak akan mau menjelaskannya jika kamu gak masuk kedalam mobil aku." tegas Raina dengan membesarkan suaranya.
"Ngak salah apa yang kamu bilang ini, aku yang sombong? Bukannya selama ini kamu yang sombong?" kata Ardan setengah meledek.
"Hai, berani kali kamu bilang aku sombong? Kalau aku sombong gak mungkin aku menyuruh kamu untuk masuk kedalam mobil aku." jawab Raina dengan kesal.
"Sudahlah Raina, aku gak mau berdebat sama kamu. Sekarang kamu katakan saja apa yang mau kamu katakan, kalau tidak ada.. aku akan pergi pulang." putus Ardan akhirnya.
Raina mendengus kesal, bukan Raina namanya jika ia mau mengalah begitu saja dengan orang lain. Egonya sangat tinggi, dan dia paling tidak suka penolakan atas apa yang ia suruh. Tapi, kini Ardan malah menolak ajakkannya mentah - mentah.
"Ya sudah, aku gak jadi berbicara sama kamu" kata Raina dan kemudian kembali menghidupkan mobilnya dan detik kemudian berlalu dari sana meninggalkan Ardan yang melihat kepergiannya dengan pandangan bingung.
💦💦💦💦
Beberapa hari kemudian...
Sore itu, Hasbi dan Maida mengunjungi rumah Arsyila. Mereka menghabiskan waktu dengan saling mengobrol dan bercanda. Hasbi dan Maida sengaja datang kerumah Arsyila untuk menghibur kegundahan hati Arsyila.
"Arsyila, Hasbi.. Maaf ya? Aku pulang duluan gak apa - apa ya, aku mau menjemput Mama di pelabuhan. Sebenarnya adik aku yang jemput, tapi dia gak bisa karena mendadak ada jam kuliah sore ini." kata Maida dengan merasa tidak enak hati karena harus pulang duluan.
"Iya, gak apa - apa Maida. Kamu pergi aja jemput Mama kamu, kasihan Mama kamu sudah tunggu lama." kata Arsyila.
"Ya udah, aku pamit ya," kata Maida lalu berlalu dari sana dan meninggalkan Arsyila juga Hasbi berdua saja dirumah.
Sepeninggalan Maida, barulah Arsyila sadar bahwa ia dan Hasbi berada dirumah berdua saja. Sedangkan Ardan sudah sejak tadi berangkat kerja. Arsyila sedikit canggung dan berharap Hasbi merasakan kecanggungannya dan segera pamit pulang juga. Namun, apa yang diharapkan Arsyila tidak terwujud. Hasbi malah mengajaknya untuk mengobrol lagi dan kali ini lebih intim. Hasbi menanyai tentang kehamilan Arsyila dan juga ayah dari bayi tersebut.
"Maaf Arsyila, apa benar bayi yang ada di kandungan mu ini bukan anaknya Raihan?" tanya Hasbi yang membuat Arsyila langsung membelalakkan matanya karena kaget. Karena memang Arsyila belum menceritakan hal ini kepada Hasbi secara langsung, hanya Ardan dan Maidalah yang baru ia ceritakan secara langsung.
"Iya," jawab Arsyila lalu menundukkan wajahnya. Wajah Arsyila langsung berubah murung dan sedih. Hasbi merasa serba salah karena membuat Arsyila menjadi sedih seperti itu.
"Maaf, Arsyila. Aku tidak bermaksud membuat kamu bersedih, aku cuman mau menyakinkannya saja karena Maida juga sudah menceritakan semuanya ke aku" kata Hasbi.
"Ya gak apa - apa, Hasbi" ujar Arsyila berusaha untuk tersenyum.
"Jadi sekarang sudah sampai dimana proses perceraian kamu sama Raihan?" tanya Hasbi lagi.
"Syukurlah, mudah - mudahan proses persidangan kamu dan dia nantinya dilancarkan dan kalian segera berpisah." ujar Hasbi lagi yang langsung diaminkan oleh Arsyila.
Beberapa saat kemudian suasana hening, baik Hasbi maupun Arsyila tidak lagi mengeluarkan suara. Sampai akhirnya, Hasbi kembali mengeluarkan suara dan memecahkan keheningan diantara mereka berdua.
"Arsyila, aku boleh mengasih saran?" tanya Hasbi lagi.
"Saran apa, Hasbi?" tanya Arsyila seraya mengangkat wajahnya yang sejak tadi banyak menunduk.
"Hhmm... Maaf, jika saran aku ini tidak pada tempatnya dan terkesan lancang." kata Hasbi yang membuat Arsyila semakin penasaran.
"Emang kamu mau ngasih saran apa?" Arsyila kembali bertanya.
"Begini Arsyila, mengenai kehamilan kamu itu yang semakin hari akan semakin bertambah besar, dan... Aku merasa gak sepantasnya wanita sebaik kamu menjalani kehamilan ini sendirian apalagi jika bayi itu lahir dan tidak ada sosok ayah atau suami yang mendampingi kamu dan juga calon bayi kamu nantinya." jelas Hasbi dan kemudian berhenti sesaat untuk menarik nafas panjang. Sedangkan Arsyila langsung membelalakkan matanya dengan mulut sedikit terbuka, seakan ia tidak menyangka Hasbi akan berkata demikian.
"Hasbi, jangan bilang kamu menyuruh aku untuk menikah dengan Randi, lelaki yang menghamili aku itu," ucap Arsyila yang merasa curiga arah pembicaraan Hasbi seperti itu.
"Bukan Arsyila, mana mungkin aku akan membiarkan kamu menikah dengan lelaki yang kurang lebih sama bejatnya dengan Raihan itu. Sama saja ibaratnya kamu keluar dari kandang singa dan masuk ke kandang buaya. Gak lah Arsyila, bukan itu maksud aku." Hasbi langsung menyanggahnya dengan cepat.
"Jadi.. Maksud kamu bagaimana?" tanya Arsyila yang merasa sangat penasaran.
"Begini Arsyila, maksud aku... Aku bersedia menjadi.. Suami ataupun ayah dari calon bayi mu nantinya, menikah lah dengan aku, Arsyila.." kata Hasbi dengan sungguh - sungguh. Arsyila yang mendengar itupun sampai mengubah posisi duduknya karena saking kagetnya setelah mendengar kalimat tak terduga itu keluar dari mulutnya Hasbi.
"Kamu jangan bercanda, Hasbi. Sama sekali tidak lucu." ucap Arsyila dengan menggeleng - gelengkan kepalanya.
"Siapa yang bercanda, Arsyila? Aku serius!!!" kata Hasbi. Arsyila lalu menatap Hasbi dalam - dalam, dan jelas saja sedikitpun tidak ada terlihat ketidakseriusan dari wajahnya.
"Kamu tahu kan Arsyila, sejak dulu lagi aku sudah menyimpan perasaan yang lebih ke kamu. Tapi, aku yang memang belum diberi kesempatan untuk memiliki hati kamu." ujar Hasbi.
Arsyila terdiam. Memang sejak dulu Arsyila tahu bahwa Hasbi menyukainya bahkan ingin melamarnya, namun Arsyila selalu menghindar setelah tahu hal itu karena sedikitpun Arsyila tidak memiliki perasaan yang lebih terhadap Hasbi. Ia hanya menganggap Hasbi sebagai seorang sahabat, sama Seperti Maida. Dan dengan berjalannya waktu sampai Raihan datang melamarnya, Arsyila menganggap bahwa Hasbi tidak lagi menyimpan rasa kepadanya. Tapi, ternyata anggapannya itu salah. Hari ini Hasbi malah mengajak Arsyila untuk menikah, padahal Arsyila belum resmi bercerai dari Raihan dan bahkan dirinya kini sudah hamil anak lelaki lain.
"Dan sampai detik ini pun, aku masih sangat mencintaimu dan mengharapkan kamu, Arsyila. Aku tidak peduli bagaimana status kamu dan apa yang sedang kamu alami saat ini. Hal itu sama sekali tidak merubah sedikitpun perasaan aku terhadap kamu. Tetap sama, Arsyila. Aku masih sangat mencintai kamu, dan aku juga bersedia menjadi ayah nantinya untuk janin yang ada didalam kandungan kamu saat ini. Aku serius, Arsyila. Menikah lah dengan aku, terimalah aku menjadi suami kamu.." pinta Hasbi dengan nada memohon.
Arsyila tidak tahu harus memberikan jawaban apa kepada Hasbi. Ia bingung dengan situasi mendadak yang diluar dari perkiraannya ini. Terlintas pun dipikiran Arsyila tidak pernah bahwa Hasbi akan berkata seperti ini, lelaki yang sudah lama bersahabat dengannya itu telah memberikan sebuah tawaran untuk menikah dengannya dan bahkan mau menerima janin yang ada didalam kandungan Arsyila saat ini. Arsyila berpikir, Betapa baiknya Hasbi? Sedangkan Raihan waktu itu malah ingin Arsyila menggugurkan kandungannya. Apakah yang harus Arsyila lakukan? Apakah ia akan menerima tawaran Hasbi??
💦💦💦💦
BERSAMBUNG...
.