Bertahan Dalam Pernikahan

Bertahan Dalam Pernikahan
TERUSIR


Raihan masih sibuk dengan pikiran dan hatinya yang diselimuti rasa sesal yang semakin dalam, sampai ia tidak menyadari ada seseorang yang berjalan kearah pintu keluar. Dan detik kemudian, seseorang itu langsung membuka lebar pintu tersebut. Raihan yang masih berdiri didepan pintu, langsung terkejut saat seraut wajah penuh kemarahan langsung tertangkap oleh matanya. Mata Mereka beradu pandang sekian detik hingga akhirnya.. Sebuah pukulan kuat langsung mendarat ke wajah Raihan. Bukan hanya sekali, namun berkali-kali.


Raihan sama sekali tidak menangkis ataupun membalas pukulan dari seseorang tersebut, sampai ia tersungkur ke lantai pun ia tetap diam tidak berkutik. Sebab ia tahu bahwa dirinya memang pantas untuk mendapatkan pukulan yang bertubi - tubi tersebut. Maka ia pun pasrah menerima itu semua. Menerima pukulan dari sahabat dekat Arsyila, yaitu Hasby.


Hasby yang sudah kepalang emosi karena tiba-tiba melihat Raihan ada didepan pintu kamar rawatan Arsyila, tanpa basa - basi ia langsung saja memukul Raihan. Dan kini saat Raihan sudah terkapar dilantai dengan wajah yang membiru, ia kemudian langsung saja menarik kerah baju Raihan dan hendak melayangkan sebuah pukulan lagi. Namun, dari arah belakangnya sudah ada Aditia yang datang melerainya untuk melakukan itu.


"Sudah, hentikan..!! Mau berapa kali kamu pukul dia ha?" Tanya Aditia yang merasa tidak terima anaknya dipukul seperti itu oleh Hasby.


"Pukulan ini saja saya rasa belum cukup untuk membalas semua yang telah lelaki ini perbuat ke Arsyila." Jawab Hasby dengan geram.


"Aku Tahu, tapi kamu tidak berhak menghukum dia, sedangkan Arsyila saja masih mempertimbangkan semuanya. Kenapa kamu yang malah seenaknya memukul dia" Kata Aditia dengan marah.


Aditia lalu memandang wajah Raihan yang sudah bonyok dan juga mengeluarkan darah segar di bibirnya akibat dari serangan bertubi-tubi dari Hasby barusan.


"Ayo, Raihan.. Kita pulang." Ajak Aditia dengan menarik tangan anaknya itu.


"Tapi, Pa. Aku mau ketemu dengan Arsyila sebentar, aku mau ngomong sama dia." Pinta Raihan ke Papanya. Entah kenapa dorongan untuk bertemu dan meminta maaf ke Arsyila saat itu juga muncul dibenak Raihan. Entah karena perkataan wanita itu yang mau mempertimbangkan dirinya agar tidak dipenjara, ataukah karena yang lain? Yang jelas.. Raihan ingin sekali bertemu dengan Arsyila.


"Iya Raihan, Papa Paham. Tapi.. Tidak sekarang Raihan, Arsyila butuh istirahat." Kata Aditia.


"Bukan hanya untuk sekarang, tapi untuk selamanya kau tidak boleh lagi bertemu Arsyila." Tekan Hasby dengan menunjuk Raihan tepat diwajahnya. Raihan yang merasa tidak terima dirinya ditunjuk-tunjuk seperti itu langsung saja mengeluarkan suara yang menantang.


"Hei, siapa kau yang berani melarang-larang aku untuk bertemu dengan istri aku. Mau bagaimanapun, Aku ini suaminya Arsyila dan aku berhak untuk bertemu dengan dia!!" Tegas Raihan dengan melototkan matanya.


"Apa kau bilang?? Hahaha.. Emang dasar tidak tahu diri kau Raihan, setelah apa yang kau buat ke Arsyila kau masih beranggapan Arsyila itu istri kau? Bukannya kau gak pernah anggap ia sebagai istri ha? Bahkan kau itu tidak pantas untuk jadi suaminya. Suami yang tidak berguna, suami macam apa yang tega menyakiti dan bahkan ingin membunuh istrinya sendiri ha? Kau itu tidak lebih dari seorang pembunuh yang kejam Raihan," Umpat Hasby dengan berapi-api.


Karena tidak tahan dengan perkataan dari Hasby yang selalu menyudutkannya itu, Maka Raihan bermaksud untuk menyerangnya tapi Hasby yang sudah siap siaga langsung saja menangkis serangan dari Hasby.


"Sudah, Hentikan.. Hentikan kalian berdua..!!!" Aditia kembali melerai mereka yang sepertinya akan berduel lagi.


"Raihan, jaga emosi kamu! Saat ini kamu yang salah, seharusnya kamu bisa sedikit saja mengalah dan tidak terpancing emosi. Dan kamu juga.." Kata Aditia lalu melirik Hasby dengan tajam.


"Jangan pancing-pancing emosi anak saya. Jangan hakimi dia." Tutur Aditia. Hasby hanya tersenyum getir dengan sorot mata yang tidak terima atas perkataan Aditia tersebut.


Bersamaan dengan itu pula, Tiba-tiba saja Maida yang ada didalam menemani Arsyila kemudian keluar dengan nafas yang memburu.


"Arsyila.. Arsyila.. Dia tiba-tiba Sesak, tolong panggil Dokter atau perawatnya sekarang juga.." Ucap Maida dengan suara yang terbata-bata.


Hasby dengan gerak cepat langsung saja berlari untuk memanggil Dokter sedangkan yang lain beregegas kembali masuk kedalam ruang rawatan Arsyila, begitu juga dengan Raihan, lelaki itu masuk di paling akhir dengan langkah yang pelan.


"D-dia.. Su..ruh.. Dia.. pergi.. dari sini..." Kata Arsyila dengan nafas yang masih naik turun. Arsyila menunjuk kearah Raihan namun memalingkan wajahnya kearah samping seakan tidak sudi melihat sosok yang sudah menyiksa batinnya itu.


"Tolong Anda keluar sekarang juga dari sini." Usir Maida dengan garang. Tapi, Raihan seakan enggan untuk beranjak dari sana yang malahan ia mulai melangkahkan kakinya untuk menuju ketempat tidur Arsyila. Melihat Raihan yang akan mendekatinya, membuat Arsyila langsung menjerit ketakutan.


"Pergi.. Pergi dari sini!! menjauh dari aku...!!" Jerit Arsyila dengan rasa sesak yang semakin menjadi-jadi. Raihan langsung berhenti lalu mematung ditempatnya berdiri tersebut dengan rasa yang tidak bisa diungkapkan.


"Raihan, lebih baik kita pergi dari sini. Biar Arsyila ditangani oleh dokter dulu." Kata Aditia lalu menarik lengan Raihan, namun lelaki itu seakan tidak ingin bergerak dari sana.


Beberapa saat kemudian, dokter dan seorang perawat datang dengan langkah kaki yang buru-buru. Dibelakang mereka juga ada Hasby yang terlihat risau.


"Tolong jangan terlalu ramai didalam sini, cukup satu orang saja yang menemani pasiennya. Suaminya saja yang didalam, Yang lain silahkan keluar." Kata Dokter tersebut. Maka yang lainnya pun berinisiatif untuk keluar kecuali Ardan dan juga Raihan yang masih ada didalam sana.


Melihat Raihan masih berada didalam, membuat Asryila yang sedang dipasangkan oksigen itu langsung mengarahkan telunjuknya kearah Raihan dengan ekspresi ketakutan.


"Ardan.. Usir dia keluar, kakak gak mau melihat dia ada disini.." Kata Arsyila setengah memohon kepada Adiknya. Ardan langsung cepat tanggap pergi ketempat Raihan berdiri lalu mendorong tubuh lelaki itu untuk keluar dari kamar Arsyila. Namun, lagi-lagi Raihan menahan dirinya agar tidak bergerak sedikitpun dari sana.


"Aku suaminya, aku lebih berhak menemani dia disini." Kata Raihan kepada Ardan yang akan mengusirnya.


"Kak Arsy tidak butuh ditemanin manusia jahat seperti kamu, keluarlah.. Jangan membuat kak Arsy semakin tersiksa melihat keberadaan kamu didalam sini." Kata Ardan dengan suara yang pelan namun tetap terdengar juga oleh Arsyila.


Ardan kembali mendorong Raihan yang kali ini dengan dorongan yang lebih kuat kearah pintu keluar sehingga membuat tubuh tegap Raihan akhirnya bergeser juga namun pandangan Raihan tidak lepas dari Arsyila. Sampai akhirnya didepan pintu, Hasby yang sudah sejak tadi berdiri diluar dengan rasa geram langsung menarik badan Raihan dengan kasar agar lelaki itu segera keluar. Namun, sebelum itu.. Sebuah kalimat permohonan maaf keluar dari lisannya Raihan. Sebuah kata penuh penyesalan yang ia lontarakan untuk Arsyila.


"Arsyila, aku minta maaf... Aku.. Minta.. Maaf..." Rintihnya.


.


.


.


.


BERSAMBUNG..


💓💓💓💓💓


.