
Perkelahian saling pukul memukul yang terjadi antara Raihan dan Hasbi disaksikan oleh Bik Ani namun perempuan separuh baya itu tidak bisa berbuat banyak untuk melerai mereka berdua, hingga akhirnya sebuah pukulan keras dari Hasbi melayang ke wajahnya Raihan hingga membuat lelaki itu tersungkur dengan kepalanya sempat terantuk pada sebuah kursi yang akhirnya membuat Raihan langsung tidak sadarkan diri.
Melihat lawannya sudah terkapar, Hasbi langsung menuju keatas untuk mengeluarkan Arsyila yang dikurung oleh Raihan.
"Arsyi.. Kamu didalam??" Hasbi mengetuk pintu yang ia duga ada Arsyila didalamnya. Mendengar suara Hasbi, Asryila yang agak merasa kelelahan karena berteriak sedari tadi langsung menuju kepintu.
"Hasbi..?? Kamu kenapa ada disini?" Arsyila bertanya dengan bingung mendengar suara Hasbi diluar sana.
"Bentar Arsyi.. Aku akan cari dimana Raihan brengsek itu menyimpan kunci kamarnya" Kata Hasbi tanpa menjawab pertanyaan Arsyila.
Hasbi kembali lagi kebawah dan menemui Bik Ani yang sedang berusaha membangunkan Raihan sambil menangis tersedu-sedu.
"Bik.. Dimana Kunci kamar Arsyila? Pasti ada kunci cadangannya kan??" Tanya Hasbi.
"Bibik gak tahu.." Jawab Bik Ani. Hasbi tidak menyerah begitu saja, Ia langsung memeriksa di seluruh saku baju dan juga celananya Raihan.
"Ini dia.." Kata Hasbi dengan girang karena mendapatkan kunci itu didalam saku celananya Raihan.
"Kamu tolongin Tuan Raihan dululah.. Dia terluka parah nih.." Pinta Bik Ani kepada Hasbi.
"Biar aja dia Bik, itu pelajaran untuk dia karena sudah bersikap semena-mena dengan Arsyila!" Kata Hasbi geram lalu kembali menuju keatas.
Kemudian Hasbi membuka pintu kamar Arsyila. Setelah pintu terbuka..
"Kamu gak apa-apa kan, Arsy??" Tanya Hasbi dengan khawatir.
"Iya.. Aku gak apa-apa. Tapi, kamu kok bisa ada disini ? Kalau Raihan tahu kamu ada disini bagaimana? Dia pasti akan marah besar, Hasbi." Kata Arsyila dengan raut wajah yang risau.
"Dia sudah tau kok. Aku kesini mau nyelamatin kamu dari suamimu yang kejam itu. Ayah kamu sudah sadar dan dia tidak berhenti memanggil kamu sejak tadi. Ardan yang ngasih tahu aku. karena nomor kamu yang tidak bisa dihubungi, makanya Ardan menyuruh aku nyusul kamu kesini. Dan benar ternyata dugaan aku. Si Raihan brengsek itu yang melarang kamu untuk kembali kerumah sakit kan? Sampai - sampai kamu dikurungnya dikamar. Memang gak waras itu cowok." Jelas Hasbi dengan wajah yang kesal.
"Jadi, Ayah sudah sadar?" Arsyila bertanya dengan mata yang berbinar-binar.
"Ardan bilang begitu. Lebih baik kita kerumah sakit saja sekarang untuk memastikannya" Ajak Hasbi. Arsyila mengangguk dan kemudian merekapun turun kebawah.
Saat sampai dibawah, Arsyila melihat Raihan yang terbaring dilantai dengan beberapa luka diwajahnya dan juga darah segar yang mengalir dari keningnya. Sedangkan Bik Ani tampak sedang mengobati luka itu sambil berusaha menyadarkan majikannya tersebut.
"Bang Raihan, Kenapa Bik Ani??" Arsyila lalu berlari mendekati suaminya yang terluka dan setelah itu berjongkok didepannya. Bik Ani tidak menjawab tapi matanya melirik tajam ke Hasbi yang berada dibelakang Arsyila. Arsyila yang paham maksud dari pandangan Bik Ani itu langsung berdiri kembali dan menghampiri Hasbi
"Hasbi, kamu... Kamu.. Yang melakukan ini ke Raihan ya?" Tanya Arsyila sambil menggeleng - gelengkan kepalanya.
"Kamu tahu tidak apa yang sudah kamu perbuat? Kamu telah buat Raihan babak belur begitu, kamu.."
"Iya, aku tahu.. Tapi, setidaknya kamu bisa menahan emosi kamu. Jangan main pukul seperti itu. Ini.. Ini termasuk perbuatan kriminal Hasbi. Kalau Raihan menuntut dan melaporkan kamu lalu kamu dipenjara bagaimana?" Tanya Arsyila. Hasbi hanya terdiam.
"Non Arsyi.. Tolong bibik angkat Tuan Raihan keatas kursi.." Pinta Bik Ani, Arsyila langsung bergegas menolongnya. Lalu Mereka berdua mengangkat tubuh Raihan dan membaringkannya diatas kursi, sedangkan Hasbi masih berdiri disana tanpa berniat membantu mereka.
Bik Ani masih berusaha menyadarkan Raihan dengan memberi minyak angin dihidungnya sedangkan Arsyila berinisiatif membantu Bik Ani mengobati luka pada wajah dan kening Raihan. Hasbi yang merasa tidak senang dengan apa yang Arsyila lakukan itu langsung menarik tangan Arsyila.
"Lebih baik kita kerumah sakit sekarang, Arsyi! Ayah kamu lebih membutuhkan kamu sekarang. Kamu malah mengurus lelaki gila ini pulak, Ngak habis pikir aku." Ucap Hasbi dengan kesal.
"Iya, Tapi.. Sebentar. Aku obatin dulu lukanya Raihan." Jawab Arsyila yang masih melanjutkan memberi Betadine pada luka diwajah Raihan.
"Sudahlah Arsyi, biar saja Bik Ani yang mengobatinya. Lebih baik kita pergi sekarang sebelum lelaki gila ini sadar dan malah semakin gencar melarang kamu untuk pergi kerumah sakit." Kata Hasbi mengingatkan Arsyila.
"Ya betul kata dia Non, Non Arsyi pergi saja, Biar Tuan Raihan bibik yang urus." Kata Bik Ani Akhirnya.
Arsyila terdiam untuk beberapa saat, didalam hati ia seperti menimbang-nimbang. Apakah pantas dia pergi saat ini sedangkan suaminya masih pingsan dengan banyak luka diwajahnya? Tapi.. Apa yang dikatakan Hasbi benar juga kalau menunggu Raihan sadar, Apakah ada yang bisa menjamin suami itu akan mengizinkannya untuk kerumah sakit? Dan.. Tadi Hasbi juga bilang Ayahnya tak hentinya memanggil Arsyila. Pasti Ayahnya sangat ingin Arsyila berada disampingnya saat ini.
"Arsyi.. Ayok Kita pergi kerumah sakit sekarang!" Untuk kesekian kalinya Hasbi mengajak Arsyila. Dan akhirnya Arsyila mengiyakannya.
"Baiklah. Bik.. Aku titip Bang Raihan ya." Tutur Arsyila ke Bik Ani yang ditanggapi dengan Anggukan kepala oleh Bik Ani.
Baru saja Arsyila akan berdiri dan pergi menjauh dari suaminya itu, tiba-tiba saja.. Raihan memegang pergelangan tangan Arsyila dengan kuat dan dalam sekejap saja matanya sudah terbuka. Raihan ternyata sudah sadar. Arsyila dan Hasbi terperanjat kaget melihat Raihan yang sudah sadar dengan tatapan mata yang sangar menatap mereka berdua.
"Mau kemana kamu, ha?" Tanya Raihan dengan suara yang lantang dan semakin memperkuat memegang pergelangan tangan Arsyila sehingga membuat tangan Arsyila tampak memerah.
Hasbi yang melihat itu langsung mendekat dan berusaha melepaskan tangan Arsyila dari cengkeraman Raihan.
"Lepaskan Tangan Arsyila, Raihan. Biarkan dia pergi kerumah sakit menemui ayahnya." Kata Hasbi dengan geram.
"Bang.. Lepas...Sakit.." Kata Arsyila dengan meringis kesakitan pada tangannya.
Namun, sedikitpun tidak pengaruh apa-apa bagi Raihan. Malahan ia dengan beringasnya langsung memilintir tangan Arsyila yang membuat wanita itu langsung berteriak kesakitan.
"Woi.. Gila kamu ya!" Hasbi kehabisan kesabaran lalu kembali memukul Raihan tapi Raihan dengan cepat langsung menghindar. Hasbi mencoba mengulang memukul lagi namun saat itu hp Hasbi berdering. Ada panggilan dari Ardan. Hasbi memutuskan untuk mengangkat telpon dari Ardan.
"Bang Hasbi kenapa lama sekali? Dan Kak Arsyi mana?? Cepat Balik kerumah sakit, bang. Ayah.. Ayah.. kritis lagi.. Ayah sekarat..hiks..hiks.. Ayah ingin bertemu kak Arsyi, cepat datang kak.. Sebelum terlambat.." Terdengar tangis Ardan yang meraung-raung.
Arsyila yang mendengar jelas itu semua langsung menatap Raihan seoalah memohon agar lelaki itu melepaskan tangannya. Air mata sudah tidak terbendung lagi. Rasa sakit ditangannya belum seberapa dengan rasa sakit karena tidak bisa menemani ayahnya disaat-saat terakhirnya..
Bersambung..