Bertahan Dalam Pernikahan

Bertahan Dalam Pernikahan
BERKELAHI


Berkali-kali Ardan mencoba menghubungi Arsyila, namun nomor Arsyila tidak dapat dihubungi. Sudah seharian Arsyila pergi dari rumah sakit dan seperti yang Hasbi katakan tadi pagi kepada Ardan bahwa kakaknya itu pulang kerumah setelah suaminya menelpon.


“Kenapa nomor kak Arsy gak aktif ya?” Ardan bertanya pada dirinya sendiri dengan perasaan yang mulai gelisah. Karena menurutnya aneh saja jika kakaknya itu tidak memberi kabar ke dirinya, tidak pernah Arsyila seperti ini sebelumnya apalagi disaat keadaan darurat yang menimpa ayah mereka.


Ardan masih terus mencoba menghubungi nomor Arsyila sampai akhirnya Tiba-tiba saja seorang perawat yang jaga di ruang ICU saat itu datang menghampiri Ardan yang tengah duduk didepan ruang ICU.


“Maaf pak. Apakah bapak keluarga dari pasien yang didalam?” Tanya perawat itu.


“Iya, benar. Saya anaknya” Jawab Ardan cepat dan langsung berdiri.


“Kenapa ya?” Tanya Ardan penasaran.


“Alhamdulillah pasien sudah mulai sadar, meskipun belum sadar sepenuhnya tapi akan tetap kami pantau untuk perkembangan pasien selanjutnya ya pak.." Jelas perawat tersebut.


“Alhamdulillah…” Hasbi berteriak histeris karena saking bahagiannya mendengar penjelasan dari perawat tersebut.


“Saya boleh masuk kedalam lihat ayah saya?” Tanya Ardan.


“Ya boleh. silahkan pak.” Jawab Perawat tersebut.


lalu Ardanpun bergegas masuk kedalam ruang ICU. Setelah didalam, Ardan langsung duduk disamping ayahnya. Ia melihat perlahan - lahan kedua mata Ayahnya terbuka dan diikuti dengan tangan keriputnya yang juga bergerak pelan.


Melihat hal itu Ardan lalu memegang tangan ayahnya. Dan seketika itu juga Ayahnya memandang kearah Ardan dengan sudut matanya.


"Arsy.. ma...na..??" Ayahnya mengeluarkan suara pelan dengan terbata-terbata. Ia menanyakan Arsyila.


"Kak Arsy pulang kerumahnya yah, sebentar lagi dia akan datang kok, Yah.." Kata Ardan.


"Panggil.. Arsy..." Perintah Ayahnya yang kali ini dengan pandangan yang mengiba dan Ardan melihat ada buliran air mata disudut mata ayahnya. Ardan yakin Ayahnya akan menangis. Tapi, kenapa? Apa yang bikin ayahnya bersedih sampai mengeluarkan air mata seperti itu? Ardan bertanya didalam hatinya.


"Arsy.. to..long pang..gil..Arsy..." Ucap Ayahnya dengan kalimat yang terputus - putus.


"Se..Ka..Rang, Ardan.." Desak Ayah Ardan terus-terusan yang membuat Ardan lalu mengeluarkan hpnya untuk kembali menghubungi Arsyila. Tapi, sayang sekali nomornya masih juga tidak aktif.


Karena desakan Ayahnya yang begitu ingin sekali bertemu dengan Arsyila, maka Ardan berinisiatif mencari tahu keberadaan Arsyila melalui Hasby. Ardanpun menelpon Hasby.


"Apa? Arsyila belum juga kembali kerumah sakit?" Hasby terdengar kaget setelah mengetahui Arsyila yang belum kembali juga kerumah sakit.


"Iya, bang.. Nomornya sejak tadi gak aktif-aktif, sedangkan ayah tanyain kak Arsyila terus. Aku mintak tolong ya, bang.. Susul kak Arsy kerumahnya." Pinta Ardan. Hasby mengiyakan lalu Hasby yang masih dikampus langsung bergegas menuju kerumah Raihan.


Dalam perjalanan, perasaan Hasby mulai terasa tidak enak. Ia yakin pasti ada sesuatu yang membuat Arsyila tidak kembali ke rumah sakit, belum lagi hpnya yang tidak bisa dihubungi. Hasby tau betul bagaimana Arsyila, wanita itu tidak mungkin menghilang tiba-tiba apalagi saat ini ayahnya sedang kritis dan butuh Arsyila disisinya.


Beberapa menit kemudian, akhirnya Hasby sudah sampai di halaman rumah mewahnya Raihan. Tanpa basa-basi Hasby langsung memencet bel berkali-kali seakan tidak sabaran untuk bertemu dengan Asryila.


Pintu rumah dibuka oleh Bik Ani yang langsung tersenyum ramah melihat kedatangan Hasby.


"Mau cari siapa ya??" Tanya Bik Ani heran karena dia sama sekali belum pernah melihat Hasby sebelumnya.


"Arsyila ada bik?" Tanya Hasby.


"Non Arsyila?" Bik Ani bertanya kembali. Hasbi mengangguk mantap.


"Ha? Tapi, tadi adiknya nelpon saya dan bilang Arsyila gak ada dirumah sakit sejak tadi pagi." Jelas Hasby.


"Lah kok bisa.." Kata Bik Ani merasa heran.


"Ya Bik. Tadi pagi suami Arsyila nelpon dan suruh Arsyila pulang, setelah itu Arsyila pamit pulang dan tidak balik lagi kerumah sakit, nomor hpnya pun tidak bisa dihubungi." Ujar Hasby.


"Gitu ya... Tapi, Bibik gak ada lihat non Arsyila dirumah.." Kata Bik Ani.


"Kalo gitu saya boleh bertemu dengan Raihan? Dia ada dirumah kan?" Tanya Hasby dengan yakin karena melihat mobil Raihan yang terparkir dihalaman rumahnya yang luas.


"Oo.. Ada.. Ada.. Silahkan masuk dulu Tuan, biar bibik panggilkan Tuan Raihan.." Ucap Bik Ani dengan mempersilahkan Hasby untuk masuk. Hasby lalu masuk kedalam.


Beberapa saat kemudian Raihanpun muncul dengan gayanya yang sombong melihat Hasby dari belakang.


"Mau Ngapain kamu???" Tanya Raihan dengan suaranya yang menggelegar. Hasby langsung membalikkan badannya dan mendapati Raihan yang sudah berdiri dihadapannya.


"Mana Arsyila???" Tanpa basa-basi, Hasby langsung bertanya keberadaan Arsyila.


Raihan menyunggingkan senyum sinisnya setelah tahu maksud dan tujuan Hasby datang kerumahnya.


"Kamu tidak punya malu ya nanyain istri aku!!" Kata Raihan setengah membentak.


"Istri kamu bilang? Sejak kapan kamu anggap Arsyila istri kamu ha? Yang ada selama ini tidak pernah sekalipun kamu perlakukan Arsyila sebagai seorang istri." Kata Hasby.


"Terus apa peduli kamu? Ini Rumah tangga aku, Dia istri aku dan aku berhak berbuat apapun yang aku mau ke dia, paham kamu?" Kata Raihan dengan membesarkan matanya.


"Jelas aku peduli. Sebagai sahabat aku tidak akan membiarkan Arsyila disakiti terus-terusan oleh kamu.. Suami yang tidak bertanggung jawab.." Kata Hasbi yang mulai emosi sambil mengarahkan jari telunjuknya kearah wajahnya Raihan.


"Apa kamu bilang??? Kurang ajar kamu!" Raihan tampak marah mendengar perkataan terakhir dari Hasbi tersebut, lalu Raihan berjalan mendekati Hasby dan bersiap mengambil aba-aba untuk memukul Hasbi, namun hal itu urung dilakukannya ketika mendengar suara teriakan Arsyila dari lantai atas.


"Tolong... Buka Pintunya..." Teriak Arsyila dengan memukul-mukul pintu.


Hasbi terperanjat kaget mendengar suara Arsyila yang meminta tolong, kemudian Hasbi langsung berniat untuk keatas menolong Arsyila namun belum sempat kakinya melangkah kesana, Raihan malah menghadangnya.


"Kau.. Jangan ikut campur urusan aku!!" Tegas Raihan.


"Kau tidak dengar Asryila minta tolong ha? Aku mau menolong dia. Apa yang sudah kau perbuat dengan Arsyila, Raihan?" Tanya Hasbi dengan tatapan penuh curiga.


"Aku kurung dia. Dia tidak boleh pergi kemana-mana." Jawab Raihan dengan santai.


"Memang gila kamu, tidak punya hati. Seharusnya kamu mengerti posisi Arsyila, Ayahnya tengah kritis di rumah sakit dan seharusnya Arsyila menemani Ayahnya. Tapi, kau dengan brengseknya malah mengurung dia. Dimana pikiran kau itu, ha?" Bentak Hasbi benar-benar geram atas apa yang sudah diperbuat oleh Raihan.


"Hahahahaha... Jadi Ayah Arsyila kritis? Baguslah... Memang pantas dia merasakan itu." Kata Raihan.


"Dasar psikopat! Awas sana, aku mau bawa Arsyila pergi jauh dari lelaki gila seperti kau ini." Ucap Hasbi lalu menolak Raihan dengan kasar, namun Raihan tetap menghadang Hasbi sehingga membuat Hasbi geram lalu meninju Raihan tepat diwajahnya.


Raihan yang tidak terima mendapat pukulan dari Hasbi, lalu membalas pukulan tersebut sampai akhirnya mereka saling baku hantam dan berkelahi dengan ganasnya...


Bersambung..