Bertahan Dalam Pernikahan

Bertahan Dalam Pernikahan
HAMPIR TERTABRAK


Pagi itu, Arsyila baru saja selesai memasukkan berkas gugatan cerainya terhadap Raihan kekantor pengadilan Agama. Gugatan cerainya sudah resmi terdaftar di pengadilan Agama setempat.


Arsyila pergi seorang diri menggunakan angkutan umum karena mereka hanya memiliki satu buah sepeda motor yang saat ini digunakan oleh Ardan untuk kekampus.


Setelah dari pengadilan Agama, Arsyila lalu bermaksud untuk mengunjungi tempat dimana ia bekerja sebagai guru di salah satu madrasah dulunya. Arsyila bermaksud untuk memasukkan lamaran lagi agar bisa kembali mengajar disana.


Saat Arsyila menyebrangi jalan untuk menunggu angkot diseberang sana, tiba-tiba saja dari arah kiri datang sebuah motor melaju dengan kencang dan seperti sengaja ingin menabrak Arsyila. Arsyila yang kaget langsung saja menghindar, meskipun ia sempat menghindar, akan tetapi Arsyila tetap jatuh tersungkur juga di aspal.


"Ya, Allah..." Desis Arsyila dengan memegang telapak tangannya yang sedikit tergores oleh Aspal.


Bersamaan dengan itu pula, seorang lelaki datang menghampiri Arsyila dan menolong wanita itu untuk bangkit.


"Arsyila, kamu gak apa-apa? Ada yang terluka??" Tanya lelaki tersebut yang ternyata adalah Hasbi.


Arsyila hanya menggelengkan kepalanya lalu mereka berdua pun berjalan beriringan ke pinggir jalan. Disana sudah ada mobil Hasby yang terparkir.


"Kamu kok tiba-tiba ada disini?" Setelah mereka dipinggir jalan, Arsyila bertanya dengan bingung akan kedatangan Hasby yang tiba-tiba itu.


"Kebetulan aku lewat daerah sini, jadi tadi aku lihat kamu di pinggir jalan sana mau menyebrang, terus aku lihat juga tiba-tiba saja ada motor yang mau nyerempet kamu saat nyebrang tadi, Arsy." Jelas Hasby.


"Oh, itu. Bukan salah pengendara motor itu kok, Bi. Aku saja yang menyebrang gak hati-hati, gak lihat kalau ada motor yang melaju dari arah sana." Kata Arsyila yang merasa bahwa dirinya lah yang salah karena tidak berhati-hati.


"Tidak Arsy, orang itu sengaja mau menabrak kamu. Aku lihat sendiri kok gimana dia langsung ngebut ketika kamu sudah ditengah jalan, padahal sebelumnya dia bawa motornya pelan." Ujar Hasby dengan yakin.


"Benarkah begitu??" Tanya Arsyila merasa tidak yakin.


"Iya, benar. Aku saksi matanya. Makanya aku penasaran siapa orang itu dan mengapa ingin menabrak kamu?" Kata Hasby.


"Ya sudah, kita bicara di mobil aja yuk. Disini panas." Ajak Hasby, Arsyila mengiyakan lalu mengikuti Hasby ketempat mobilnya terparkir.


"Kamu sendiri, ngapain ada disini, Arsy?" Tanya Hasby setelah mereka berada didalam mobil.


"Aku.. Aku dari pengadilan Agama, memasukkan berkas gugatan cerai aku, Bi." Jawab Arsyila.


"Bagus, Lebih cepat lebih bagus Arsyila. Kamu memang harus bercerai dengan lelaki itu." Kata Hasby dengan geram.


"Oya, mengenai orang yang hampir nabrak kamu tadi. Aku malah curiga kalau orang itu suruhan Raihan." Kata Hasby tiba-tiba. Arsyila langsung menoleh kesamping melihat Hasby yang sedang mengemudikan mobilnya.


"Kamu jangan sembarangan nuduh begitu, Bi. Jika itu gak benar, akan jatuh fitnah jadinya." Kata Arsyila mengingatkan Hasby.


"Kalau bukan dia siapa lagi Arsyila? Gak ada orang lain yang gak suka sama kamu selain dia, Arsy. Aku yakin itu pasti orang suruhan Raihan, aku akan cari buktinya dan tunjukkan ke kamu" Ucap Hasby dengan yakin.


"Tapi, untuk apa juga dia mau mencelakai aku, Bi? Bukannya semuanya sudah terungkap, jadi gak mungkin kan kalau dia masih dendam sama aku." Kata Arsyila dengan ragu.


"Tapi, dia sudah mintak maaf dan menyesali perbuatannya, Hasby. Jadi, aku rasa mustahil dia merencanakan seperti yang kamu pikirkan itu." Kata Arsyila yang masih tidak setuju dengan tuduhan Hasby terhadap Raihan.


"Kamu jangan terlalu cepat percaya dengan mulut manis lelaki jahat itu, Arsyi. Dia minta maaf itu gak tulus. Dia berpura-pura menyesal agar dia bebas dari hukuman. Sebenarnya aku masih sangat kecewa sama kamu, Arsy. Kamu boleh memaafkan dia dan tidak menyimpan dendam dihati kamu, tapi.. Setidaknya kamu harus memberi dia pelajaran dengan memasukkan dia dipenjara. Walaupun aku yakin dia bakalan gak lama didalam penjara karena dia memiliki kekuasaan untuk membayar semuanya. Tapi, setidaknya dia merasakan juga bagaimana dinginnya didalam penjara itu." Ucap Hasby dengan nada yang kesal.


Arsyila memilih untuk diam dan tidak menanggapi perkataan Hasby tersebut, karena Arsyila merasa malas untuk berdebat lagi dengan Hasby mengenai hal itu. Lagi pula, Arsyila sudah bertekad dan tidak ingin bersikap plin-plan yang mudah merubah sebuah keputusan. Arsyila juga sudah melaksanakan Sholat istikharah sebelumnya, memohon petunjuk dari Allah jalan apa yang akan dia ambil dan saat itu juga Allah memberikan jawaban melalui lisan temannya, yaitu Azizah.


Namun demikian, tidak dipungkiri didalam hati ia pun bertanya-tanya juga tentang orang yang kata Hasby ingin mencelakainya. Jika benar ada orang yang ingin mencelakainya, Tapi.. siapa? Apa memang benar Raihan? Bukankah lelaki itu sudah menyesali perbuatannya dan meminta maaf kepada Arsyila?? Atau Apa mungkin itu hanya sandiwaranya saja agar Arsyila tidak memenjarakan dirinya? Seperti yang telah dikatakan oleh Hasby tadi. Entahlah.. Arsyila tidak tahu jawabannya..


***


Sedangkan ditempat lain, terlihat seorang wanita dan seorang pria tengah berbicara serius di sebuah taman yang ada dikampus. Perempuan bertubuh langsing dan berpakaian agak seksi itu tampak memasang wajah kecewa dengan apa yang disampaikan oleh silelaki.


"Bagaimanaa ceritanya bisa gagal sih??" Tanya wanita berkulit putih dengan rambut berwarna pirang itu.


"Sory, Sin.. Aku sudah berusaha menabrak dia, tapi dianya sudah duluan menghindar." Kata silelaki tersebut.


"Tapi, setidaknya aku sudah buat dia jatuh tersungkur. Nantiklah aku atur waktu lagi untuk mencelakai dia." Lanjut lelaki tersebut.


"Oke, Gak apa-apa. Yang penting untuk selanjutnya aku gak mau melihat kamu gagal lagi mencelakai dia. Kalau bisa dia mati sekalian. Karena gara-gara dia Raihan jadi mutusin aku, aku gak rela diputusin Raihan seperti ini. Kamu tahu kan?? Raihan itu aset bagi aku," Kata Sindy dengan sorot mata penuh kebencian terhadap Arsyila.


"Tapi, bukannya Raihan memutuskan kamu karena dia dapat kiriman video yang direkam oleh Dosen kita dulu?" Tanya lelaki tersebut.


"Ya, itu juga salah satunya. Aku juga akan buat perhitungan dengan dosen belagu itu, sok ikut campur urusan aku. Siapapun yang berani mengusik aku, liihat saja nantik. Tunggu aja balasan dari Aku." Ucap Sindy dengan berapi-api.


"Dan, wanita sok suci itu jadi besar kepala karena Raihan telah salah membalas dendam dengan dirinya, malahan Raihan menjadi berbalik haluan sekarang dengan merasa simpati ke dia. Tidak mau menceraikan dia dan ingin mempertahankan pernikahan mereka. Itu yang membuat aku sakit hati, aku tidak terima Raihan mencampakkan aku seperti ini." Kata Sindy dengan marah.


"Oke Sindy sayang... Kamu tenang saja, aku akan pastikan untuk selanjutnya, aku tidak akan gagal lagi. Yang penting... jangan lupa bayarannya." Katanya dengan tersenyum simpul.


"Kalau kerja kamu beres dan berhasil, berapapun yang kau minta akan aku kasih." Kata Sindy dengan tegas.


"Kalian berdua lagi bicarain apa??" Tiba-tiba sebuah suara dari arah belakang mengagetkan mereka. Mereka menoleh serentak kebelakang dan mendapati seseorang sudah berdiri disana dengan berdecak pinggang...


.


.


.


.


BERSAMBUNG..