
Setelah mengatakan sebuah pengakuan yang mengejutkan itu, akhirnya Raihan menyerah juga dan pergi meninggalkan rumah Arsyila. Karena Arsyila sama sekali tidak merespon apapun atas perkataan dari Raihan sedangkan Ardan sudah berkali-kali menyuruh Raihan pergi dari rumahnya.
Raihan keluar dari rumah Arsyila dengan perasaan yang tidak menentu. Ada rasa malu, galau, kecewa dan lain sebagainya. Namun, tekadnya sudah kuat. Ia tidak akan menyerah untuk membujuk Arsyila agar tidak bercerai darinya. Raihan akan mencari waktu dan kesempatan lagi untuk berbicara dengan Arsyila dan jika bisa hanya mereka berdua saja tanpa ada yang lain.
Sebenarnya Raihan tidak memiliki rencana untuk membuat sebuah pengakuan yang pasti mengagetkan Arsyila juga Ardan. Pengakuan yang mungkin membuat harga dirinya juga ikut dipertaruhkan. Namun, pernyataan cintanya itu sudah terlanjur dilontarkannya dan tidak mungkin bisa ditariknya lagi.
Raihan tidak tahu apakah ia benar- benar sudah jatuh cinta terhadap Arsyila, atau Apakah ini cuman luapan rasa bersalahnya saja? dan ingin menebus kesalahan yang telah ia buat itu dengan memberikan cinta yang selama ini tidak pernah ia berikan sebagai seorang suami kepada istrinya.
Entahlah, Raihan juga tidak mengerti dengan apa yang ia rasakan saat ini. Yang jelas sejak awal, ia hanya menyimpan sebuah dendam dihatinya terhadap wanita itu. Namun, setelah semuanya terungkap, semua kesalahpahaman yang membuat Raihan sadar bahwa ia sudah begitu jahat karena telah menyia-nyiakan istri sebaik Arsyila.
Raihan tiba dikantornya dengan wajah yang murung, ia langsung saja naik kelantai atas menuju ruangannya. Baru saja ia keluar dari lift, Raihan melihat seorang wanita tengah berdiri dengan gelisah didepan pintu ruangannya. Raihan mengenali siapa wanita itu.
"Mau apa lagi kamu datang kesini?" Tanya Raihan kepada wanita bertubuh langsing itu. Wanita itu langsung menoleh dengan ekspresi yang kaget.
"Raihan?? Aku.. Aku mau minta maaf sama kamu. Aku gak ingin pisah dari kamu Raihan, aku mohon.." Ujar si wanita yang ternyata adalah Sindy.
"Berapa yang kau mau?" Tanya Raihan dengan sinis. Kening Sindy langsung berkerut menanggapi pertanyaan dari Raihan.
"Maksud kamu apa, Rai?" Tanya Sindy.
"Iya, kamu butuh uang berapa?" Raihan mengulangi kalimatnya.
"Apa? Aku, aku gak butuh uang. Aku hanya ingin kembali lagi sama kamu Raihan. Aku cinta sama kamu, aku gak mau kehilangan kamu." Kata Sindy.
"Omong kosong, kau hanya cinta harta aku saja, Sindy. Gak usah munafik. Kamu mungkin bisa mendapatkan uang aku, tapi tidak dengan hati aku lagi." Kata Raihan setelah itu ia masuk kedalam ruangannya dan meninggalkan Sindy yang masih diam mematung dengan wajah kesal didepan ruangan Raihan.
***
Keesokan harinya..
Pagi-pagi sekali, Arsyila sudah terlihat rapi dan siap-siap akan berangkat ketempat kerjanya. Hari ini adalah hari pertama ia mengajar ditempatnya dulu.
Sebelum itu, Arsyila menyempatkan diri untuk sarapan bersama Ardan.
"Kak.. Ardan antar kakak ya?" Tawar Ardan ke kakaknya itu.
"Ngak usah Ardan, arah kita kan beda. Kalau kamu antar kakak entar kamu telat sampai kekampus. Bukannya kamu ada ujian semester hari ini" Kata Arsyila menolak tawaran Adiknya itu.
"Iya sih, tapi.. Ardan ngerasa gak tega aja membiarkan kak Arsy pergi sendirian pakai kendaraan umum." Kata Ardan.
"Ya gak apa-apa, Ardan. Biasanya kan dulu kakak juga pergi sendirian pakai angkot." Jawab Arsyila dengan tersenyum lebar.
"Kamu tenang aja Ardan, kak bisa jaga diri kok. Lagi pula jika Raihan memang datang menemui kakak, kak akan menghindar dari dia. Kak juga gak ingin bertemu dengan dia, Ardan." Kata Arsyila dengan tatapan kosong. Tiba-tiba ia jadi teringat dengan perkataan terakhir Raihan kemarin itu yang mengatakan bahwa dia mencintai Arsyila. Tentu saja Arsyila tidak semudah itu mempercayainya. Arsyila menganggap itu hanya omong kosong belaka.
"Kalau ada apa-apa, kak Arsy cepat hubungi Ardan ya!" Kata Ardan sebelum ia pergi duluan berangkat ke kampus.
Beberapa menit kemudian, Arsyilapun berangkat juga. Ia berjalan kaki menuju keluar dari jalan rumahnya dan akan menunggu angkot di tepi jalan raya yang jaraknya tidak begitu jauh.
Pagi itu jalanan disekitar rumah Arsyila masih terlihat sepi, belum ada terlihat masyarakat disana yang melakukan aktifitas diluar rumah. Karena memang jam masih menunjukkan pukul 6.30 pagi.
Arsyila berjalan pelan dengan lisannya yang tidak berhenti mengucapkan kalimat zikir. Ya, sudah jadi kebiasaan bagi Arsyila yang selalu berdzikir saat diperjalanan, kemanapun itu ia selalu membasahi bibirnya dengan kalimat dzikir dan kalimat indah lainnya.
Saat dipertengahan jalan, Arsyila melihat ada seseorang lelaki mengendarai motor dan berhenti tidak jauh didepannya. Lelaki itu menggunakan helm yang berkaca gelap sehingga Arsyila tidak bisa melihat wajahnya. Yang jelas, Arsyila bisa merasakan bahwa dirinya tengah diperhatikan oleh lelaki itu. Tiba-tiba saja perasaan Arsyila menjadi tidak enak. Ia merasa takut, pikiran buruk pun tiba-tiba singgah dibenaknya.
Namun demikian, Arsyila tetap berjalan yang kali ini sedikit menambah laju langkah kakinya agar cepat sampai ke jalan raya. Arsyila melewati lelaki itu dengan menundukkan wajah, lelaki itu masih memperhatikan Arsyila sampai wanita itu melewati dirinya. Setelah itu, lelaki yang mencurigakan tersebut membelokkan kendaraannya kearah Arsyila. Lantas saja hal itu membuat Arsyila semakin takut, ia berani bertaruh bahwa dirinya tengah diperhatikan dan saat ini malah diikuti oleh lelaki itu dari belakang. Arsyila semakin menambah kecepatannya dan kali ini dengan setengah berlari. Motor yang dikendarai si lelaki mencurigai itu semakin mendekati Arsyila dan sampai akhirnya ia menggas kendaraannya dan sampai didepan Arsyila. Motornya berhenti tepat dihadapan Arsyila.
Arsyila yang kaget langsung berhenti berjalan. Ia menatap bingung pada orang yang sudah menghadang jalannya. Arsyila penasaran, siapa sebenarnya manusia dibalik kaca helm yang gelap itu.
"K-kamu siapa? Mau apa?" Akhirnya Arsyila mengeluarkan suara untuk bertanya kepadanya. Lelaki berpakain serba hitam itu lalu turun dari motornya. Ia berjalan perlahan lahan mendekati Arsyila. Perasaan Arsyila semakin tidak karuan. Dan.. Jantungnya sekaan copot ketika tiba - tiba saja lelaki berpostur tinggi itu mengeluarkan sebuah pisau dari saku celananya.
Arsyila berdelik ngeri menatap benda tajam yang berkilau itu. Arsyila mundur beberapa langkah kebelakang, ia lalu melihat kesekelilingnya yang masih sepi. Rasa takut semakin ia rasakan.
"Mau apa kamu dengan pisau itu?" Tanya Arsyila dengan wajah yang panik. Apalagi ketika ia mendapati lelaki itu berjalan semakin mendekatinya dan kali ini malah mengarahkan mata pisau tersebut kearah Arsyila.
Arsyila yakin jika dirinya saat ini dalam bahaya, maka ia pun berbalik arah dan berlari dengan kencang. Silelaki misterius itu ikut berlari juga mengejar Arsyila. Arsyila berteriak meminta pertolongan tapi naas sekali tidak ada yang mendengar teriakannya karena memang jalanan masih sepi ditambah lagi di daerah jalan itu tidak begitu banyak rumah. Setelah itu, Arsyila yang berlari tiba-tiba tersandung pada sebuah batu yang membuat dirinya jatuh tersungkur ketanah. Si lelaki berhelm gelap itu tertawa kuat melihat Arsyila terjatuh dan kemudian mengarahkan pisau yang ia pegang ke tubuh Arsyila. Arsyila tidak bisa mengelak lagi, dia hanya bisa pasrah dengan memejamkan matanya dan melindungi dirinya dengan kedua tangannya.
Bersamaan dengan itu pula sebuah mobil berhenti dibelakang mereka. Orang yang ada didalam mobil tersebut langsung bergegas keluar dan menolong Arsyila yang akan ditusuk oleh benda tajam itu. Lelaki sipenolong menahan pisau dengan tangannya. Lalu si lelaki misterius yang tidak menyangka ada seseorang yang menggagalkan aksinya, langsung saja balik menyerang si lelaki penolong itu. Mereka berdua saling berbaku hantam. Sampai akhirnya, lelaki jahat itu menggoreskan pisau tersebut ketangannya yang membuat darah segar mengalir dari tangan si lelaki penolong. Melihat lawannya terluka, lalu si lelaki misterius itu berlari dan kabur dari sana.
.
.
.
.
BERSAMBUNG..
MOHON LIKE DAN KOMENNYA YA, TERIMAKSIH.😊😊