
Umi Lika mengambil sebuah foto dari laci lemarinya, Foto yang sudah usang itu lalu diletakkan diatas dadanya seakan ia memeluk erat sebuah gambar seorang wanita pada foto tersebut.
Setetes air mata turun membasahi pipinya yang mulus. Sambil memejamkan matanya, tiba-tiba saja pikiran dan hatinya membawa dirinya kembali mengenang kejadian 10 tahun yang lalu. Kejadian yang membuat kehidupannya berubah, begitu juga dengan kehidupan seorang anak remaja berumur sekitar 15 tahun, dimana ia telah kehilangan ibunya yang sangat ia sayangi. Ibunya yang merupakan teman baik Lika, lebih dari teman biasa bahkan sudah seperti saudara. Dan.. penyebab dari kepergian wanita bernama Aisyah itu lah yang membuat rasa penyesalan juga rasa bersalah selalu bersarang didalam jiwanya.. hingga saat ini...
💞FLASHBACK..
10 TAHUN YANG LALU...💞
Siang itu, Lika menemui Aisyah dirumahnya. Aisyah adalah sahabat Lika sejak masih SMA. Mereka selalu bersama-sama, tamat sekolah mereka masuk universitas yang sama, sampai selesai kuliah dan menikahpun persahabatan mereka tetap berlanjut.
Mereka berdua sama-sama hidup dilingkungan keluarga yang sederhana, namun nasib baik berpihak kepada Aisyah yang mendapati seorang suami yang tampan, baik, sholeh dan juga kaya raya. Sedangkan Lika hanya pasrah menikah dengan seorang lelaki yang setelah menikah baru ketahuan ia memiliki akhlak yang tidak baik. Suami Lika yang bekerja sebagai karyawan biasa ternyata memiliki sifat temperamental, ia selalu marah tanpa sebab dan tidak sedikit juga melakukan kekerasan fisik terhadap Lika sehingga menyebabkan pernikahan mereka tidak bertahan lama. Akhirnya mereka bercerai, beruntung dari pernikahannya dengan lelaki itu Lika belum dikarunia anak.
Setelah bertemu dengan pembantu Aisyah dibawah, Lika langsung saja menuju ke kamar nya Aisyah. Ia sudah terlalu sering berkunjung kesana sehingga membuat orang-orang didalam rumah itupun memaklumi hubungan persahabatan yang terjalin antara Lika dan Aisyah.
Sesampainya didalam kamar, terlihat Aisyah sedang menangis sesegukan di pinggir ranjang sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Melihat pemandangan tersebut membuat Lika langsung bergegas menghampiri sahabatnya itu.
"Kamu kenapa, Aish?" Tanya Lika yang langsung saja membawa Aisyah dalam pelukannya. Aisyah tidak menjawab pertanyaan Lika. Tangisannya malah semakin kuat terdengar yang membuat Lika menjadi berempeti dengan ikut menangis juga.
"Sudah, Aish. Kamu jangan menangis terus. Cerita sama aku, ada apa? Kenapa kamu menangis sampai sesegukan seperti ini?" Lika bertanya dengan heran.
"Sudah, tarik nafas kamu dulu. Tenangkan diri kamu, Bawa Istighfar." Kata Lika berusaha menenangkan Aisyah yang terlihat kacau.
Aisyah menuruti perintah Lika, setelah agak tenang baru ia mulai bercerita. Lika siap-siap mendengar cerita dari sahabatnya itu.
"Mas Adit, Dia.. menuduh aku yang tidak-tidak, Lika. Tidak pernah sebelumnya ia bersikap seperti ini, dia selalu mencurigai aku berbuat yang melenceng. Kamu tahu kan aku tidak mungkin mengkhianati dia, aku selalu setia dengan dia. Terlintas dipikiran aku aja tidak pernah, Ka. Apalagi benar-benar aku melakukan itu. Nauzubillah Mindzalik.." Jelas Aisyah dengan nafas yang belum stabil.
"Maksud kamu, Mas Adit... Menuduh kamu telah berselingkuh? Benar begitu??" Tanya Lika dengan ekspresi wajah yang terlihat kaget. Aisyah menganggukakn kepalanya.
"Tapi, kenapa Mas Adit tiba-tiba bisa menuduh kamu seperti itu, Aish?" Tanya Lika merasa heran.
"Aku juga tidak tahu, yang jelas.. Beberapa hari belakangan ini dia gencar sekali ingin mencari kesalahan aku, memeriksa handphone aku dan curiga saat aku mau pergi kemanapun, dia selalu mintak dijelaskan secara detil. Aku sudah katakan kepadanya, kalau aku gak akan macam-macam. Aku gak akan berani berselingkuh dari dia, Ka. Lagi pula aku mau selingkuh dengan siapa? Aku tau perbuatan selingkuh itu dosa, Dosa besar malahan." Jelas Aisyah dengan berapi-api.
"Sudah, kamu tenang dulu.. Jangan terbawa emosi. Lagi pula.. Aku yakin, Mas Adit tidak mungkin tiba-tiba menuduh kamu seperti itu jika tidak ada hasutan dari luar, Aish." Kata Lika dengan yakin. Aisyah langsung menatap Lika.
"Maksud kamu?" Tanya Asiyah yang belum paham maksud dari sahabatnya itu.
"Aisyah, Tidak akan ada asap jika tidak ada api." Ucap Lika dengan wajah yang serius.
"Pasti ada seseorang yang sudah menghasut Mas Adit sehingga ia mencurigai kamu berselingkuh, karena.. Kalau dari Mas Adit sendiri melakukan itu, aku gak yakin. Mas Adit lelaki yang baik, dia gak mungkin langsung menuduh kamu jika gak ada yang mempengaruhi dia, Aish." Jelas Lika dengan antusias.
"Memang siapa yang menghasut dia, Ka? Siapa yang sudah memberi pengaruh buruk terhadap Mas Adit?" Tanya Aisyah.
"Aku juga gak tau. Tapi, kita akan cari tahu.."
"Caranya.. Hhhmmm.. Kita lihat keseharian Mas Adit diluar sana, dia.. lebih banyak bergaul dengan siapa. Siapa teman dekatnya, dari situ kita bisa mencurigainya. Karena gak mungkin seseorang itu langsung percaya dengan omongan orang lain tentang keburukan keluarga kecuali..." Lika berhenti sesaat untuk menarik nafas.
"Kecuali apa, Ka?" Tanya Aisyah seakan tidak sabar mendengar kalimat lanjutan dari Lika.
"Kecuali.. Jika orang itu adalah orang yang dekat dengan dia, bisa dibilang orang kepercayaannya lah, Aish. Kamu paham kan maksud aku?"
Aisyah terdiam. Ia seperti sedang berfikir keras. Dan.. Tiba-tiba saja, sebuah nama singgah didalam pikirannya.
"Apa mungkin.. Dedi yang sudah mempengaruhi dia??" Tanya Aisyah dengan menatap tajam ke Lika. Lika hanya mengangkat bahunya dengan tersenyum tipis.
Dan.. Tanpa mereka sadari, sedari tadi ada seorang remaja laki-laki yang telah menguping pembicaraan mereka dari balik pintu. Lelaki berkulit putih itu terlihat menggepal kedua tangannya dengan ekspresi wajah yang sulit dijelaskan...
*************************************************
Lika menghapus butiran air mata yang tidak berhenti menetes dipipinya. Ia tidak tahan lagi dengan semua ini. Beban yang ia tanggung selama 10 tahun yang awalnya dia anggap tidak akan mendatangkan masalah malah saat ini lah puncak masalahnya. Dan.. Yang paling membuat dia tidak bisa memaafkan dirinya adalah puncak masalah ini malah menimpa seseorang yang sedikitpun tidak bersalah. Ia membuat seseorang menjadi merasakan penderitaan atas perbuatan masa lalu yang ia sembunyikan dari semua orang. Atas kesalahan masa lalu itu, orang lain yang terkena imbasnya.
Lika berteriak histeris didalam hatinya. Ia mengutuk dirinya sendiri yang tidak ubahnya seorang penjahat yang telah melakukan kejahatan yang keji.
Dengan tangan yang bergetar, Lika langsung mengambil handphonenya lalu menghubungi nomor seseorang. Beberapa saat kemudian, orang itu mengangkat telpon darinya. Dengan terisak-isak, Lika mengucapkan salam.
"Kenapa Lika? Kamu kenapa menangis??"
Tanya seseorang diujung telpon sana.
Lika menarik nafas panjang sebelum akhirnya ia mengeluarkan suaranya yang bergetar.
"A-aku.. Aku akan menceritakan semuanya ke Mas Adit, Aku gak bisa lagi menyembunyikan ini semua.. Gara-gara perbuatan kita ini, seseorang disana terkena imbasnya.. Aku gak tahan lagi harus merahasiakan ini dari keluarganya Mas Adit.. Aku gak bisa lagi...." Kata Lika dengan terisak-isak.
"Apa yang ingin kamu ceritakan ke Aku, Lika??" Tiba-tiba saja Aditia sudah muncul didepan pintu. Lika kaget, hingga handphonenya pun langsung tetjatuh kelantai.
.
.
.
.
Bersambung...
JANGAN LUPA LIKE DAN BERI KOMENTAR YANG POSITIF YA, TERIMAKASIH SUDAH SETIA MEMBACA🥰🤗