Bertahan Dalam Pernikahan

Bertahan Dalam Pernikahan
SURAT PERJANJIAN


Arsyila benar-benar tidak menyangka bahwa rencananya untuk meminta cerai dari Raihan malah menjadikan sebuah Syarat mutlak untuk mengeluarkan Hasbi dari penjara. Dimana, Arsyila tidak boleh menggugat cerai dari Raihan jika ingin Hasbi keluar dari penjara. Syarat macam apa ini? Yang sama sekali tidak menguntungkan baginya.


Lagi pula, untuk apa lagi dia hidup bersama laki-laki seperti Raihan sedangkan Ayahnya yang sudah tiada itu memberi wasiat terakhir untuk meninggalkan Raihan tanpa Arsyila tahu apa alasan Ayahnya sebenarnya. Andai saja waktu itu Arsyila bisa menemani saat terakhir Ayahnya dan pasti.. Ayah Arsyila akan memberitahu apa yang sebenarnya terjadi, sampai sekarang hati Arsyila masih diselimuti pertanyaan yang besar akan semua ini.


Namun, lelaki licik itu seakan ingin Arsyila selalu berada dibawah kekuasaannya. Dengan dalih sebuah dendam yang belum sepenuhnya terbalaskan. Jika mengingat kata dendam yang kesekian kalinya keluar dari mulut Raihan, membuat Arsyila kembali berpikir dan merenung. Sebenarnya, dendam apakah Raihan terhadap keluarganya? Mengapa sampai detik ini dia tidak mau berterus terang kepada Arsyila.


"Bagaimana? Sepakat?" Tanya Raihan dengan menaikkan satu alisnya.


"Ngak!" Jawab Arsyila singkat.


"Ya sudah, kalau begitu teman lelakimu itu akan membusuk dipenjara!" Katanya lalu diselingi dengan tawa yang keras.


Arsyila berdengus kesal. Ancaman Raihan kali ini benar-benar membuat dia jadi serba salah. Tidak mungkin dia membiarkan Hasbi di penjara. Seharusnya dia tidak boleh egois dan memikirkan diri sendiri. Arsyila tidak ingin melihat masa depan Hasbi hancur gara-gara dirinya.


"Baiklah. Oke, saya terima syaratnya!" Putus Arsyila akhirnya. Meskipun berat namun tetap dilakukan demi masa depan Hasbi.


"Bagus.. Kalo begitu, tanda tangan disini.." Kata Raihan yang kemudian melempar sebuah kertas kehadapan Arsyila.


"Apa ini?" Tanya Arsyila.


"Kamu baca saja! Pandai baca kan??" Bentak Raihan.


Arsyila memunguti kertas yang dilempar Raihan tadi dan langsung membacanya.


"Saya bertanda tangan dibawah ini dengan sadar dan tanpa paksaan dari siapapun bahwasannya apapun yang terjadi saya tidak akan meminta cerai dari suami saya dan saya bersedia diperlakukan seperti apapun oleh suami saya tanpa menuntut ataupun melaporkan ke pihak lain. Saya ikhlas dan ridho menjadi tumbal atas perbuatan yang telah dilakukan oleh Ayah saya dulunya terhadap keluarga suami saya..." Arsyila berhenti sejenak dikalimat terakhir itu dan sejurus kemudian langsung melihat kearah Raihan yang sejak tadi tersenyum dengan penuh kemenangan.


"Gak.. Gak Bisa seperti ini Bang Raihan.. Ini aneh sekali.. Ini licik namanya.." Protes Arsyila.


Arsyila benar-benar tidak terima dengan isi surat perjanjian dari Raihan yang menyudutkan dirinya.


Mana bisa seperti itu? Dan.. Dia akan dijadikan tumbal atas perbuatan Ayahnya. Kegilaan apa lagi itu?


"Saya gak mau menandatanganinya, sebelum bang Raihan jelaskan dulu apa maksud kalimat yang mengatakan bahwa saya akan dijadikan tumbal atas perbuatan Ayah saya. Perbuatan Ayah saya yang mana emangnya?" Tanya Arsyila.


"Arsyila... Arsyila... Sudah pandai protes kamu ya, semakin hari aku lihat kamu semakin berani ya Arsyila.. Kamu lebih banyak bicara sekarang.. Hebat..!! Siapa yang mengajari kamu ha? Laki-laki yang sok kuat itu, IYA??" Tanya Raihan dengan matanya yang melotot itu.


"Saya cuman ingin tahu.. Apa sebenarnya yang terjadi? Mengapa bang Raihan susah sekali untuk memberitahu saya yang sebenarnya? Ada apa dibalik ini semua? Mengapa bang Raihan begitu membenci kami yang padahal.. Ayah.. Ayah begitu mempercayai bang Raihan, memuji Bang Raihan dan sampai-sampai Ayah mau menyerahkan saya untuk dinikahi oleh Bang Raihan.." Kata Arsyila dengan wajah yang sedih.


Arsyila berusaha menahan air matanya yang akan tumpah. Karena ia tidak ingin terlihat lemah dihadapan Raihan saat ini, meskipun ia merasa lelah dengan semuanya, lelah bertahan dengan lelaki yang menyimpan dendam terhadap keluarganya, Namun.. tanpa Arsyila tahu sebenarnya dendam apa yang bersarang dihatinya itu?


"Aku tidak punya waktu untuk menjelaskan semuanya sama kamu, Arsyila. Lagi pula.. Dengan menceritakan itu semua hanya akan membuat luka dihati aku kembali menganga. Seharusnya kamu bertanya kepada Ayah kamu itu.. Tapi, sayang... Pria tua bangka itu sudah di neraka sekarang... Hahahahah..." Ucap Raihan berapi-api.


Darah Arsyila langsung berdesir hebat mendengar ucapan kasar dari Raihan tentang Ayahnya yang sudah meninggal dunia. Begitu sakit Hatinya. Begitu perih.. Tidak mampu lagi ia menahannya. Sampai akhirnya..


"Kamuu... Kamu.. Boleh menghina aku dengan apapun itu. Tapi, jangan sekali-sekali kamu berkata seperti itu kepada Ayah aku.." Kata Arsyila dengan marah. Ia tidak lagi memanggil Raihan dengan sebutan Bang, hal itu sudah cukup sebagai pertanda bahwa dirinya benar-benar tidak terima atas perkataan kasar Raihan terhadap Ayahnya.


"Sekarang.. Bagaimana dengan kesepakatan kita? Tetap lanjut atau tidak? Aku tidak punya waktu untuk melayani wanita bodoh seperti kamu. Cepat kasih keputusan sekarang juga!!" Desak Raihan.


Arsyila terdiam dengan segala macam pikiran bercabang-cabang didalam kepalanya. Arsyila memejamkan matanya sejenak. Ia memohon kepada Rabbnya langkah apa yang harus ia ambil sebaiknya. Setidaknya dia masih punya Allah tempat mengadu akan segala kegundahan yang dirasakannya saat ini.


"Atau, kalau kamu gak mau dijadikan tumbal, bagaimana... Jika adik kamu yang manja itu saja yang dijadikan tumbal??" Tanya Raihan dengan tersenyum lebar. Senyuman maut itu... yang sama sekali tidak Arsyila sukai. Senyuman yang menyakitkan hatinya. Dan, sekarang ia malah membawa-bawa Ardan. Arsyila benar-benar geram dibuatnya.


"Jangan bawa-bawa Ardan, Dia gak tahu apa-apa dengan masalah kita ini. Jadi, jangan sekali-sekali bang Raihan melibatkan adik saya" Kata Arsyila berusaha melindungi Ardan. Karena bagi Arsyila saat ini Ardanlah satu-satunya keluarga terdekatnya. Dia sudah kehilangan ibu dan juga Ayahnya dan dia tidak ingin kehilangan Ardan juga.


"Maka dari itu, Beri kepastian sekarang Arsyila, Kamu tinggal tanda tangani saja surat perjanjian ini. Sudah.. Selesai.. Jangan bertele-tele lagi." Kata Raihan seraya menyodorkan kertas tersebut kearahnya.


Arsyila menatap kertas itu dengan erat, sebenarnya tidak ingin.. Tapi, ia harus menandatanganinya.


"Baiklah.." Kata Arsyila, kemudian mengambil kertas itu dan Raihan lalu menyodorkan pena ke Arsyila untuk ia tanda tangan.


'Ngak apa-apa Arsyila. Ini cuman perjanjian murahan yang tidak berpengaruh apapun. Yang penting Hasbi dan Ardan bisa aman dari cengkeraman Raihan yang kejam itu' Batin Arsyila yang berusaha menenangkan dirinya sendiri.


Saat Arsyila menandatangani surat perjanjian itu, sebenarnya sudah terbayang dibenaknya akan sebuah rencana. Rencana yang ia harapkan bisa membuat dirinya lepas dari jeratan manusia seperti Raihan...


Bersambung..


SEKILAS INFO :


💙 Untuk Update cerita Novel ini 2 hari sekali ya.


💙 Sembari menunggu kelanjutan ceritanya,


Silahkan Mampir ke Novel Saya yang satu


lagi dengan judul :


"REMINISCENT"



Terimakasih dan Selamat Membaca🙏🏻


.


.


.