Bertahan Dalam Pernikahan

Bertahan Dalam Pernikahan
MEMBERI KESEMPATAN


Setelah mengatakan bahwa dirinya akan bertemu Raihan, Arsyila langsung saja pamit meninggalkan Ardan yang tentu saja merasa heran mengapa tiba-tiba kakaknya itu ingin bertemu dengan Raihan.


"Kak, Ngapain kerumah bang Raihan?" Ardan bertanya seraya mengikuti Arysila yang sudah berjalan keluar rumah.


Arsyila berhenti sejenak. Dengan Masih membelakangi Ardan, lalu ia putuskan untuk mengatakan yang sebenarnya. Yah.. Arsyila sudah memantapkan hatinya untuk mempertahankan rumah tangganya dengan Raihan. Meskipun ia tahu, pasti akan ditentang oleh Ardan. Tapi, Arsyila sudah yakin dengan keputusannya yang akan memberikan kesempatan pertama sekaligus terakhir kepada Raihan.


"Maaf, Ardan. Kakak bertemu bang Raihan untuk mengatakan bahwa kakak akan mencabut gugatan cerai kakak terhadap dia." Ucap Arsyila dengan yakin.


"Apa?? Kak Arsy gak serius kan??" Tanya Ardan dengan ekspresi tidak percaya.


"Kak serius, Ardan. Kak sudah memikirkannya matang-matang. Kak akan memberi kesempatan untuk bang Raihan menjadi suami yang baik seperti yang selama ini kakak harapkan." Kata Arsyila.


"Kak Arsy sadar gak dengan apa yang kak ucapkan itu, kenapa tiba-tiba kak bisa semudah itu menerima dia lagi ha? Aku gak terima kalau kak Arsyi balikkan lagi dengan dia. Aku benar-benar gak terima kak!" Kata Ardan dengan tegas.


"Ardan, keputusan ini bukan tiba-tiba. Kak sudah memikirkannya semalam, bahkan kak sudah sholat istikharah 2 kali dan jawabannya tetap sama. Kak akan memberi kesempatan dirinya untuk berubah, lagi pula dia sudah sungguh - sungguh menyesali semua perbuatannya dan berjanji akan berubah menjadi suami yang baik bagi kakak.." Jelas Arsyila dengan antusias.


"Tapi, kak..."


"Sudahlah Ardan, kak harap kamu bisa menerima keputusan kakak ini. Maafkan kakak jika telah mengecewakan kamu. Kak pergi dulu ya, Assalamualaikum," Kata Arsyila lalu bergeges pergi dari sana dan meninggalkan Ardan yang masih mematung didepan rumahnya.


####


Beberapa menit kemudian, Arsyila sampai dirumah Raihan. Ada terbersit sedikit keraguan dihati Arsyila untuk masuk kedalam sana, namun dengan mengucapkan basmalah akhirnya Arsyila memantapkan langkah kakinya untuk masuk kedalam. Namun, langkah kakinya terhenti saat melihat seorang perempuan baru saja keluar dari rumah Raihan. Perempuan itu adalah Sindy.


Arsyila lalu menelan salivanya, hatinya tiba-tiba menjadi ngilu saat mengingat bahwa Sindy adalah kekasihnya Raihan. Suaminya itu pernah mengatakan bahwa Sindy adalah wanita yang ia cintai sedangkan dirinya hanya lah alat untuk membalas dendam.


Arsyila benar-benar tersentak, bagaimana ia bisa lupa masih ada Sindy diantara dia dan Raihan. Padahal ia ingin mempertahankan rumah tangganya dengan Raihan namun jika mengingat wanita yang ada dihadapannya ini, apakah mungkin dia bisa tetap mempertahankannya.


Arsyila lalu membalikkan badannya dan memutuskan tidak jadi untuk masuk kedalam rumah Raihan. Namun, baru selangkah ia pergi sebuah suara memanggil namanya.


"Arsyila??" Dan suara itu adalah suara Raihan. Arsyila menoleh dan melihat Raihan sudah berdiri di depan pintu sedangkan Sindy berdiri tidak jauh didekat Raihan.


Arsyila melihat Raihan yang langsung bergegas berjalan mendekatinya, dan diikuti juga oleh Sindy.


"Kamu kapan sampai?" Tanya Raihan dengan lembut.


"Barusan." Jawab Arsyila singkat dengan melihat sekilas kearah Sindy yang sudah memasang wajah jutek ketika melihat Arsyila.


"Terus kenapa balik lagi? Yuk masuk dulu Arsyila.." Ajak Raihan.


"Ngak, ngak jadi. Saya mau pulang, permisi." Pamit Arsyila lalu membalikkan badannya. Tapi, Raihan dengan cepat langsung menahan tangan Arsyila agar tidak jadi pergi.


"Tunggu dulu, Arsyila.." Ujar Raihan.


"Kamu datang kesini pasti ada sesuatu hal yang mau disampaikan kan??" Tebak Raihan dengan menatap Arsyila erat.


"Iya, tapi.. gak jadi." Jawab Arsyila.


"Kenapa gak jadi?" Tanya Raihan penuh selidik. Lalu Arsyila kembali melirik Sindy yang ada di belakang Raihan. Raihan mengikuti arah lirikan Arsyila.


"Kamu jangan salah paham dengan kedatangan wanita ini disini ya Arsyila." Ucap Raihan yang sudah memahami situasi saat itu.


"Aku sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi dengan Sindy. Dia kesini cuman mau bertemu dengan Raina, ada tugas kampus yang sedang mereka kerjakan." Jelas Raihan.


"Oohh.." Lirih Arsyila.


"Masuk kedalam yuk.." Ajak Raihan yang kembali memegang lengan Arsyila. Arsyila hanya diam dan pasrah saat Raihan menggandengnya untuk masuk. Saat ia melewati Sindy, wanita bertubuh langsing itu langsung saja memandangnya dengan sinis.


Sesampainya didalam rumah, Raihan lalu mempersilahkan Arsyila untuk duduk diruang tamu, dan kemudian Raihan pun duduk juga tepat didepan Arsyila. Raihan memandang Arsyila yang sejak tadi hanya diam sambil menunduk seakan menyembunyikan wajahnya.


"Kamu kenapa gak ngasih tau aku kalau mau kesini, Arsyila?" Tanya Raihan memecahkan keheningan.


"Hhmm.. Jadi, kamu sudah ada jawabannya kan??" Tanya Raihan dengan masih menatap Arsyila penuh harap.


"Iya, sudah." Sahut Arsyila lalu ia menghela nafas dengan kuat. Dadanya seakan sesak, entah apa sebabnya. Iapun tidak mengerti akan apa yang ia rasakan saat ini.


"Bisa kamu kasih tahu sekarang apa jawabannya, Arsyila??" Pinta Raihan. Masih dengan suara yang lembut dan tatapan mautnya itu. Yang membuat jantung Arsyila tidak berhenti berdebar dengan kencang.


"Aku.. Aku.. Jawabannya, iya.." Ucap Arsyila dengan terbata-bata. Kemudian ia berhenti untuk menarik nafas panjang.


"Iya?? Maksudnya, iya bagaimana Arsyila?" Tanya Raihan dengan penasaran dan seakan tidak sabar dengan kalimat ambigu dari Arsyila tersebut.


"Maksud saya, iyaa.. saya akan memberi kesempatan untuk pertama sekaligus terakhir kalinya kepada bang Raihan.." Kata Arsyila dengan suara yang pelan namun tetap terdengar jelas ditelinga Raihan.


"Benarkah?? Itu berarti kamu tidak jadi menggugat cerai aku kan??" Tanya Raihan lagi untuk lebih menyakinkan dirinya. Arsyila hanya menganggukkan kepalanya dengan mantap.


Mendapat jawab dari anggukan kepala Arsyila tersebut, membuat Raihan langsung berpindah tempat duduk disamping Arsyila. Raut wajahnya tampak ceria dengan mata yang berbinar - binar.


"Terimakasih Arsyila, aku bahagia sekali mendengarnya. Aku benar-benar bersyukur karena kamu masih mau menerima aku yang brengsek ini. Aku janji, aku tidak akan mengecewakan kamu lagi. Aku akan menjadi suami yang baik untuk kamu." Ucap Raihan dengan sungguh-sungguh.


"Iya, semoga saja bang Raihan bisa memegang janji abang itu ya." Ucap Arsyila yang langsung menatap wajah Raihan.


"Iya, Arsyila. Kamu tenang saja, aku akan pegang janji aku ini." Kata Raihan dengan senyuman yang sudah mengembang di bibirnya.


"Papa pasti senang dengar kabar ini Arsyila, Oya.. Kamu sudah bawa pakaian kamu untuk tinggal disini lagi kan?" Tanya Raihan.


"Belum bang.." Sahut Arsyila dengan menggelengkan kepalanya.


"Saya mau minta waktu dulu untuk berbicara sama Ardan. Karena Ardan tidak setuju dengan keputusan saya ini, malahan dia sangat menentangnya. Jadi, untuk sementara biar saya tinggal dirumah saya dulu sambil perlahan - lahan saya jelas kan ke Ardan, semoga saja dengan berjalannya waktu, Ardan bisa menerima keputusan saya ini. Jika dia sudah bisa menerimanya, baru saya akan tinggal disini lagi." Jelas Arsyila.


"Kalau gitu, biar aku saja yang berbicara sama Ardan. Kapan aku bisa bertemu dengan dia? Apa hari ini saja?" Kata Raihan dengan antusias.


"Jangan sekarang, Ardan itu masih labil. Jadi, biar saya saja yang bicara dengan dia nantik bang.." Ucap Arsyila.


"Iya, oke. Tapi, aku berharap kamu secepatnya kembali kerumah ini lagi Arsyila.." Kata Raihan yang lagi-lagi menatap Arsyila dengan tatapan mautnya itu sehingga membuat jantung Arsyila kembali berdegup kencang.


Bersama dengan itu pula, Raina datang. Wanita muda itu langsung terkesima sesaat ketika melihat pemandangan didepannya. Ia melihat Abangnya dan Arsyila sedang duduk berdekatan dikursi ruang tamu.


"Loh, kok.. Kak Arsyila ada disini??" Tanya Raina dengan heran.


"Arsyila akan tinggal disini lagi, Raina." Jawab Raihan dengan tersenyum lebar.


"Apa itu berarti, kalian.. Tidak jadi bercerai?" Raina bertanya lagi dengan wajah tak percaya.


"Ya, benar. Ayo kamu salami kakak ipar kamu." Suruh Raihan kepada Raina.


Raina menuruti perintah Abangnya, meskipun agak canggung ia tetap mengulurkan tangannya ke Arsyila dan Arsyila menerima uluran tangan dari Raina tersebut.


"Sekalian ucapkan kata maaf ke kakak ipar kamu, Raina. Karena kamu banyak salah juga ke dia" Kata Raihan lagi dengan menyuruh adiknya tersebut.


"Iya, Kak.. Raina minta maaf karena selama ini banyak salah dengan kak Arsyila.." Ucap Raina dengan wajah datar.


"Iya, kak sudah maafkan kamu kok, Raina." Jawab Arsyila dengan tersenyum hangat.


#


#


#


BERSAMBUNG..