Bertahan Dalam Pernikahan

Bertahan Dalam Pernikahan
HAL YANG MENGEJUTKAN


"Kak Arsy, Hamil?" Ardan bertanya kepada Dokter Aldi dengan ekspresi tidak percaya.


"Iya, dia hamil sekitar 5-6 minggu. Dan sekarang ia mengalami perdarahan karena keguguran. Tapi, sebentar lagi Arsyila akan dibawa ke ruang poli kebidanan untuk dilakukan USG oleh dokter Obgyn. Mudah - mudahan saja perdarahannya bisa dihentikan sehingga janin nya bisa tetap dipertahankan." ucap Dokter Aldi lagi.


"Saya boleh masuk kedalam menemani kakak saya?" pinta Ardan dengan meminta izin.


"Iya, silahkan ditemani. Menjelang Arsyila dibawa ke poli obgyn." imbuh Dokter Aldi.


Lalu Ardanpun menuju ketempat Arsyila yang tertutup dengan tirai putih. Sedangkan Raihan terduduk lemas di kursi tidak jauh dari sana. Dokter Aldi kemudian menghampiri Raihan.


"Ada apa Raihan? Kenapa kamu gak ikut menemani istri kamu?" Tanya Aldi heran.


Raihan tidak langsung menjawab pertanyaan dari temannya itu. Pikirannya saat ini tengah kacau balau setelah mendengar kabar bahwa Arsyila hamil. Hal itu lah yang membuat ia tidak berhenti berpikir. Kok Bisa, Arsyila Hamil? Padahal dirinya sama sekali belum pernah menyentuh istrinya sekalipun selama mereka menikah. Hal ini benar - benar membuat Raihan tersentak. Janin siapa yang ada dirahimnya Arsyila?


"Kamu emang belum tahu Arsyila hamil kan Raihan?" Dokter Aldi kembali bertanya kepada Raihan yang masih saja bungkam dengan ekspresi wajah yang sulit digambarkan. Dan sesaat kemudian, Raihan menggelengkan kepalanya.


"Mudah - mudahan saja kehamilan Arsyila masih bisa dipertahankan ya Raihan. Kita tunggu saja hasil dari pemeriksaan dokter Obgyn nantiknya." kata Dokter Aldi seakan menenangkan Raihan. Raihan tidak menjawab apa - apa, entah harus mengaminkan perkataan Dari dokter Aldi atau malah sebaliknya, iapun tidak tahu. Yang jelas saat ini Raihan masih berpikir keras tentang janin siapa yang ada dirahimnya Arsyila saat ini.


Beberapa saat kemudian, Arsyilapun dibawa kepoli kandungan untuk dilakukan USG. Ardan dan Hasbi mengikuti perawat yang membawa Arsyila. Sedangkan Raihan masih diam ditempat duduknya tadi, ia seakan bingung harus berbuat apa. Melihat Raihan yang tetap disana membuat Dokter Aldi kembali menghampirinya.


"Hai Raihan.. Istri kamu lagi dibawa ke poli, kenapa kamu gak ikut menemani?" tanya Dokter Aldi yang merasa sangat heran dengan sikap Raihan.


"Gak Aldi, aku... Aku gak bisa kesana." jawab Raihan dengan lirih yang membuat Aldi semakin bingung dengan jawaban dari Raihan tersebut.


"Kenapa emangnya? Ada apa Raihan?" tanya Aldi penasaran. Dokter Aldi pun yakin pasti ada sesuatu hal yang membuat Raihan bersikap aneh seperti ini. Padahal tadi pertama datang dia begitu risau dan panik dengan keadaan istrinya yang kembali pingsan. Namun, setelah tahu bahwa istrinya hamil. Wajah Raihan langsung berubah. Seharusnya ia senang dengan kehamilan istrinya. Namun, sedikitpun Dokter Aldi tidak menangkap tanda kesenangan diwajahnya Raihan.


"Kamu tenang kan diri mu dulu ya Raihan. Jika sudah agak tenang, kamu ceritakan ke aku." Kata Dokter Aldi dan kemudian dokter muda itu pamit sebentar untuk kembali ketempat praktiknya.


Raihan masih duduk disana dengan pikiran yang buntu dan tidak tahu harus berbuat apa. Sampai akhirnya, handphone yang ada di dalam sakunya pun berdering yang membuat Raihan sedikit tersentak kaget dan sejurus kemudian langsung mengangkat telepon dari nomor yang tidak dikenal.


"Halo, Siapa ini?" ucap Raihan langsung bertanya kepada si penelpon.


"Hahahahahahahaha... Apa kabar kau Raihan??" Tanya seseorang yang diawali dengan gelak tawanya yang menggelegar. Darah Raihan seakan mendidih mendengar suara orang yang menelponnya barusan.


"Randi?" kata Raihan dengan melototkan matanya.


"Bagaimana Raihan dengan kejutan yang aku berikan?" Tanyanya dengan nada sinis.


"Kejutan apa maksud kau, ha?" Raihan balik bertanya dengan garang.


"Slow Raihan, jangan ngotot gitu bertanyanya" sahut Randi lalu tertawa terkekeh - kekeh.


"Jangan banyak cerita kau Randi. Katakan saja, mau apa kau tiba - tiba menelpon aku? Dan kejutan apa yang kau maksud itu?" serbu Raihan lagi.


"Apakah tidak terpikir dengan kau Raihan? siapa dalang dari semua yang terjadi kepada kau dan juga Arsyila." kata Randi dengan diselingi tawa kecilnya.


"Apa.. Jangan - jangan Kau pelakunya Randi?" Tuduh Raihan yang langsung bisa mengambil kesimpulan atas ucapan Randi tersebut.


"Yup. Benar Raihan. Akulah pelakunya. Akulah yang menyebarkan video aku dan istrimu, Arsyila. Hahahahah... Bagaimana? Kau sangat terkejut kan Raihan??" kata Randi lagi.


"Brengsek kau Randi. Benar - benar BRENGSEK!!' Umpat Raihan dengan merasa geramnya.


"Hahahah... Ada satu lagi Raihan, Yang pasti akan membuat kau lebih kaget lagi." ujarnya Dengan nada serius. Raihan terdiam, hati dan perasaannya mulai tidak enak. Apakah.. Kejutan kedua dari Randi ini ada kaitannya dengan kehamilannya Arsyila...???


####


Ardan dan Hasbi duduk disamping Arsyila yang masih belum sadar. Dokter sudah memeriksakan kandungan Arsyila yang hasilnya bahwa kandungan Arsyila dalam keadaan baik. Ia hanya mengalami perdarahan ringan saja. Dokter menyarankan Arsyila untuk bedrest total dengan sebelumnya juga sudah memberikan obat penguat kandungan melalui selang infus yang terpasang ditangan Arsyila.


Suasana didalam ruangan rawatan Arsyila terasa hening. Baik Ardan maupun Hasbi hanya diam, tidak saling bicara. Mereka seakan sibuk dengan pikiran masing - masing. Apalagi Hasbi, yang seakan lemah saat mengetahui bahwa Arsyila sudah hamil dan sudah dapat dipastikan bahwa Arsyila hamil anaknya Raihan.


Hasbi menarik nafas panjang berkali - kali. Ia seolah - olah sedang mengatur rasa sesak di dadanya yang seakan tidak tertahankan lagi. Didalam hati ia berteriak, merasa tidak terima atas kenyataan pahit yang barusan saja ia terima ini. Padahal dia sangat berharap Arsyila segera berpisah dari Raihan, tapi sekarang Hasbi menjadi tidak yakin apakah Arsyila akan mau berpisah dari Raihan sedangkan dirinya tengah mengandung anaknya lelaki itu. Apalagi Raihan yang sudah dapat dipastikan bahwa ia akan semakin tidak mau melepas Arsyila dari hidupnya setelah tahu Arsyila mengandung anaknya.


"Bang Hasbi..." Panggilan dari Ardan yang tiba - tiba itu membuyarkan lamunan Hasbi tentang Arsyila juga Raihan.


"Ya, Ardan." Sahut Hasbi dengan rasa malas.


"Apa pendapat Bang Hasbi mengenai kehamilan kak Arsy ini?" tanya Ardan dengan menatap erat Hasbi.


"Entahlah, Ardan. Abang seakan tidak bisa berkata - kata apa lagi." kata Hasbi dengan nada kesal.


"Bang, aku rasa ada aneh saja bang. Kehamilan kak Arsy sudah 5-6 minggu berarti itu sudah sebulan kan bang? Sedangkan bulan kemarin Bang Raihan masih menaruh dendam terhadap kak Arsy, Aku gak habis pikir saja... Dalam dia membenci kak Arsy.. Dia.. Entahlah," Ardan tidak melanjutkan perkataannya. Ia terlihat sangat geram.


"Itulah brengseknya Raihan." Umpat Hasbi yang tidak kalah geramnya dengan perlakuan Raihan.


"Dalam dia membenci Arsyila, Dia juga mempunyai Nafsu ke Arsyila. Pasti dia memaksa Arsyila untuk melakukan itu. Dasar.. Lelaki bejat dia itu, Ardan." Kata Hasbi dengan menggepalkan kedua tangannya.


"Iya, dia memang bejat." Hujat Ardan dengan sorot mata yang tajam dan penuh rasa benci.


#


#


#


#


BERSAMBUNG...