
Ardan yang melihat dari kejauhan bagaimana Raihan menarik tangan Arsyila sedangkan Arsyila berupaya melepaskan tangannya dari Raihan maka terjadilah saling tarik-menarik. Ardan yang baru pulang, langsung saja turun dari motornya dengan buru-buru lalu berlari masuk kedalam rumahnya, dengan sebelumnya ia sempat juga mengeluarkan suaranya.
"Lepaskan kak Arsy, dasar kau laki-laki Jahat!!" Teriak Ardan.
Arsyila dan Raihan menoleh serentak ke sumber suara dan mendapati Ardan berlari menuju mereka. Melihat Ardan datang dengan ekspresi marah pada wajahnya, membuat Raihan langsung saja melepaskan tangan Arsyila.
"Ngapain lagi kesini ha? Belum puas kamu menyakiti kak Arsy dan sekarang mau kamu ulangi lagi perbuatan kotor kamu itu ?" Tanya Ardan dengan gusar.
"Aku kesini mau bertemu dengan istri aku. Aku mau minta maaf sama dia, bukan mau menyakiti dia." Jawab Raihan merasa tidak terima karena telah dituduh Ardan seperti itu.
"Kak Arsy gak akan memaafkan kamu, setelah apa yang kau buat itu, enak saja tinggal mintak maaf. Emangnya dengan minta maaf semuanya selesai ha?" Kata Ardan masih membalas ucapan Raihan.
"Kamu hanya anak kecil jadi jangan sok tahu." Kata Raihan Dengan sikap dinginnya.
Ardan yang mulai panas dibilang anak langsung saja melotot marah dan siap-siap akan melakukan sesuatu.
"Apa kamu bilang, aku anak kecil? Jangan sembarangan mulut kotor kau itu berbicara, selama ini aku memang diam. Tapi, tidak kali ini." Ujar Ardan berapi-api.
"Ardan, sudah." Kata Hana sembari menarik lengan Adiknya agar menjauh dari Raihan. Arsyila tidak ingin Ardan terpancing emosi dan malah nekat berbuat diluar kendali terhadap Raihan.
"Tapi, kak.. Dia ini sudah keterlaluan. Biar aku habisin saja dia." Imbuh Ardan lagi.
"Gak Ardan, Jangan. Sedikitpun jangan ada dendam dihati kamu, Dengan siapapun itu. Jangan kotorin hati kita Dengan sifat dendam, kak pernah bilang sama kamu kan?" Ucap Hana.
"Biar saja lah kak, perbuatan dia ini sudah keterlaluan kak. Dia harus menerima ganjarannya, kenapa kak Arsy gak langsung masukkan dia ke penjara aja, jangan dikasih ampun dia kak." Kata Ardan.
Sedangkan Raihan hanya diam mematung disana, tidak tahi harus berkata apa lagi. Dia bisa memaklumi juga bagaimana Ardan tidak marah dan benci dengan dirinya yang sudah secara terang-terang berbuat hal keji terhadap kakaknya itu. Jadi, wajar saja Raihan mendapat perlakuan tidak baik dari Ardan.
"Lebih baik kamu pergi dari sini" Kata Arsyila dengan menatap Raihan. Mendengar usiran dari Arsyila itu, membuat Raihan tersadar bahwa sejak tadi Arsyila tidak lagi manggil dirinya dengan sebutan Bang Raihan, seperti biasanya yang ia lakukan sehari-hari. Dia hanya menyebut Raihan dengan kamu, apakah sudah separah itu rasa sakit Arsyila sehingga untuk menyebut namanya pun dia tidak mau.
"Pergi dari sini dan jangan pernah lagi kembali" Lanjut Arsyila dengan sorot mata yang tajam.
"Arsyila, aku mohon.. Tentang yang tadi kamu pikirkan dulu matang-matang. Jangan mengambil keputusan mendadak." Kata Raihan.
"Aku sudah memikirkannya matang-matang. Itulah keputusan yang baik." Kata Arsyila.
"Tidak Arsyila, aku gak akan menceraikan kamu. Sampaikan kapanpun tidak akan, Arsyila." Tegas Raihan.
"Banyak bacot kau." Kata Ardan lalu mendorong tubuh Raihan hingga sampai keluar rumah. Setelah itu, Ardan menutup pintu lalu menguncinya.
Raihan berdiri mematung didepan pintu rumah Arsyila. Ia tidak tahu harus berbuat apa? Tetap disini dan Kembali memohon kepada Arsyila, atau kah dia pergi dan melupakan wanita itu?? Padahal Raihan sudah menurunkan harga dirinya untuk memohon maaf kepada wanita itu. Raihan belum pernah sebelumnya memohon seperti ini kepada siapapun itu, dia yang sebenarnya memiliki ego yang tinggi dan tidak mudah meminta maaf dnegan orang lain. Tapi, kali ini kekerasan hatinya ia singkirkan dulu demi mendapatkan hati wanita yang telah ia sia-siakan itu. Karena..Jauh sebelum ia memutuskan untuk membalas dendam dengan menikahinya, sebuah rasa itu memang sudah ada. Sejak dia masih remaja.
***
Raihan mengemudikan mobilnya dijalanan dengan kencang. Pikirannya tengah kalut saat ini. Kata cerai yang akan diajukan Oleh Arsyila membuat Raihan tidak bisa menerimanya begitu saja, dan melihat kenyataan bagaimana wanita itu masih sangat takut saat dia sentuh tadi, membuat Raihan yakin Arsyila benar-benar trauma dengan dirinya. Padahal Raihan tidak ingin menyakitinya, Raihan ingin mengajak berdamai dan melupakan semua yang terjadi. Ia ingin memulai semuanya dari nol lagi dengan Arsyila. Akan tetapi, Arsyila malah menolak mentah-mentah keinginannya itu dan malah akan menggugat cerai dirinya.
"AAHHHHKKKK..." Raihan berteriak sejadi-jadinya didalam mobil, tangannya memukul berkali-berkali setir mobil yang ada dihadapannya.
Raihan membawa mobilnya menuju kekantornya, sesampainya dikantor ia langsung saja naik kelantai atas, dimana tempat ruangan kerjanya berada.
"Kamu kemana aja sih?? Aku rindu banget, aku telpon dan chat kamu gak pernah dibalas." Ucap wanita cantik itu yang ternyata adalah Sindy.
Raihan lalu melepaskan Sindy yang dari badannya, ia sama sekali tidak membalas pelukan dari wanita itu sehingga membuat Sindy heran.
"Kenapa Raihan? Apa ada masalah??" Tanya Sindy dengan sorot mata penasaran.
Raihan tidak langsung menjawabnya, ia berlalu dari sana dan duduk diatas kursi kerjanya.
"Ada perlu apa kamu kesini?" Tanya Raihan dengan sikap yang dingin.
"Raihan, aku ini kan pacar kamu. Aku rindu sama kamu, sudah berhari-hari kita gak ketemu. Jadi, wajar donk aku menyusul kamu kesini. Kok kamu malah tanya aku ngapain kesini?" Kata Sindy dengan heran. Ia melihat sikap Raihan agak dingin dengannya tanpa dirinya tahu apa salahnya.
"Mulai detik ini, kamu bukan lagi pacar aku. Kita putus." Tegas Raihan yang membuat Sindy langsung membelalakkan matanya seakan tidak percaya.
"A-apa?? Putus?? Tapi, kenapa Raihan??" Sindy bertanya gusar.
"Karena aku ingin memperbaiki hubungan aku dengan Arsyila, Aku akan mempertahankan pernikahan aku." Jawab Raihan tanpa memandang wanita itu. Mendengar jawaban dari Raihana barusan membuat Sindy langsung berjalan mendekatinya.
"Apa aku gak salah dengar? Kamu mau memperbaiki hubungan dengan Arsyila, maksudnya bagaimana?? Kamu kan gak cinta sama wanita itu? Seharusnya kamu menceraikan dia setelah semuanya terungkap" Kata Sindy dengan nada suara yang meninggi juga bergetar.
"Sudahlah, kau jangan banyak tanya lagi Sindy. Yang jelas mulai hari ini kita putus, Dan satu hal yang harys kamu aku tidak akan pernah melepaskan Arsyila. Tidak ada kata pisah antara aku dan Arsyila." Kata Raihan yang membuat Sindy langsung terbelalak aget.
"Ngak Raihan, Aku gak mau. Seenaknya saja kamu putuskan aku seperti ini, padahal aku sudah setia sama kamu. Aku.."
"Setia kamu bilang?? Lalu ini apa.." Raihan melihatkan sesuatu dari handphonenya. Video percakapannya tempo hari dengan selingkuhannya itu dan video itu..
"K-kamu.. Dapat Dari mana video itu?" Tanya Sindy dengan wajah yang takut.
"Tidak penting aku dapat dari mana, Yang penting sekarang... Kamu pergi dari sini dan jangan pernah lagi muncul dihadapan aku!!" Tegas Raihan.
"Raihan.. Gak Raihan, aku mohon.. Maafkan aku, aku gak mau pisah sama kamu, aku cinta sama kamu.. Aku mohon, aku minta maaf.." Mohon Sindy dengan memegang lengan Raihan. Raihan langsung menepis tangan Sindy dengan kasar.
"Pergi dari sini, Sindy. Jangan membuat aku muak" Kata Raihan dengan marah namun Sindy sama sekali tidak beranjak dari sana sehingga membuat Raihan geram dan menarik tangannya untuk keluar dari sana. Setelah itu, Raihan menutup dan mengunci pintunya.
Saat diluar, Sindy yang sudah merasa sakit hati karena tiba-tiba diputusin oleh Raihan, kemudian ia langsung menelpon seseorang.
"Halo, Aku butuh bantuan kamu.." Kata Sindy dengan sorot penuh kebencian.
.
.
.
BERSAMBUNG..