
Raihan menatap erat dua wajah di foto tersebut. Anak lelaki difoto itu adalah dirinya, dan yang satunya lagi adalah seorang anak perempuan kecil yang begitu sangat ia senangi saat itu, atas tingkah lakunya yang membuat Raihan kecil tidak pernah bosan untuk selalu bermain bersamanya..
Tanpa dipinta, pikiran Raihan malah membawanya untuk mengingat kejadian masa kecilnya, sekitar 12 tahun yang lalu.
FLASHBACK
Ketika itu Raihan berumur 12 tahun, Dia merupakan siswa di sebuah SMP favorit dimasa itu. Raihan remaja memiliki sifat yang menyenangkan, dia aktif dalam segala hal, sopan, dan disukai oleh teman-temannya. Meskipun dia berada dilingkungan yang berkecukupan dengan mempunyai orang tua yang kaya raya, namun sedikitpun dia tidak pernah sombong dan mau berteman dengan siapapun.
Raihan sangat dekat dengan Ayahnya. Sebagai anak laki-laki pertama, Ayah Raihan selalu membawa Raihan pergi bersamanya. Untuk sekedar jalan-jalan ataupun bertemu dengan teman-temannya. Seperti hari itu, Raihan diajak oleh Ayahnya kesebuah rumah sederhana yang Raihan kenali itu adalah rumah sahabat dekat Ayahnya. Raihan sering dibawa kesana, jika libur sekolah pasti Ayahnya tidak lupa membawa Raihan bermain disana. Raihan sangat senang dan antusias jika dibawa ketempat itu, selain tempatnya yang masih asri dan jauh dari perkotaan, ada satu hal yang membuat Raihan selalu rindu untuk berkunjung disana, yaitu.. karena adanya sosok anak perempuan yang sangat ia senangi. Atas sikap polos dan tingkah lakunya yang menggemaskan itu, membuat Raihan tidak berhenti untuk tersenyum.
"Ayah.. Ayah.. Ada Bang Raihan datang Yah.." Suara teriakan nyaring dari seorang anak perempuan terdengar dari dalam rumah. Ternyata dia sudah mengintip sejak tadi dari jendela, ketika melihat mobil Ayah Raihan berhenti didepan rumahnya.
Seorang lelaki yang dipanggil Ayah tadi lalu keluar dari kamarnya, Si anak perempuan langsung menarik tangan Ayahnya untuk menuju keluar rumah. Diteras sudah ada Raihan bersama Papanya. Ayah si anak perempuan tadi mempersilahkan mereka untuk masuk. Namun, Si anak perempuan malah menarik tangan Raihan untuk menuju kesamping rumahnya.
"Kita main diluar aja yuk bang.." Ucapnya dengan suara yang imut itu. Raihan mengiyakan dan pasrah saat tangannya ditarik oleh anak perempuan tersebut.
"Bang Raihan.. Ayok ayunin Syila.." Kata si anak perempuan yang bernama Syila, dia sudah duduk disebuah ayunan yang ada disebelah rumahnya. Sudah menjadi kebiasaan jika Raihan datang, pasti Syila selalu mintak diayunin oleh Raihan.
"Bang.. Yang kencang donk dorongnya.." Perintah Syila karena Raihan mendorong ayunannya dengan pelan.
"Jangan Syila, nantik kamu bisa jatuh.." Larang Raihan karena ia tidak berani mendorong tubuh kecil Syila diatas ayunan yang sebenarnya sudah tidak layak lagi dipakai.
"Ngak papa Bang, gak seru kalau gak kencang.." Syila masih tetap ngeyel menyuruh Raihan menambah dorongannya. Maka dengan berat hati, Raihanpun menambah sedikit dorongan pada Ayunan tersebut. Sampai akhirnya, kejadian tak terduga yang ditakutkan Raihanpun terjadi. Salah satu tali pada ayunan itu putus sehingga membuat tubuh kecil Syila jatuh ketanah yang banyak kerikil-kerikil kecilnya.
Melihat Syila terjatuh, Spontan Raihan berteriak histeris lalu menolongnya untuk berdiri. Namun, Syila tidak bisa langsung berdiri, siku dan lutut Syila terluka yang membuat anak kecil itu meringis kesakitan.
"Bentar Syila, kamu tunggu disini sebentar ya. Abang ambil obat dulu dimobil" Kata Raihan setelah itu berlari kedalam mobil. Raihan sengaja tidak memberitahu Papanya dan Ayah Syila dikarenakan ia takut nanti akan dimarahi oleh mereka karena telah membuat Syila jatuh dan terluka.
Beberapa saat kemudian, Raihan datang kembali ketempat Syila dengan membawa kotak P3K yang kebetulan memang ada didalam mobil Papanya.
"Coba lihat sini luka Syila, biar bang Raihan obatin.." Kata Raihan. Syila yang sejak tadi merasa kesakitan, tidak lagi banyak bicara. Ia langsung saja mengarahkan bagian sikunya kearah Raihan.
"Yang ini bang lukanya, tapi.. Janji pelan-pelan ya ngasih obatnya?" Ujar Syila seraya matanya yang bulat itu menatap Raihan dengan rasa takut.
"Iya, iya.. Pelan-pelan kok, Syila." Jawab Raihan sembari tersenyum hangat. Raihan mengobati luka disiku juga lutut Syila dengan Pelan-pelan.
"Maaf ya syila, gara-gara bang Raihan tangan dan kaki kamu jadi terluka seperti ini" Ujar Raihan dengan merasa bersalah.
"Bukan salah bang Raihan, Syila yang salah karena sudah bandel. Ngak mau dengar kata bang Raihan.." Kata Syila dengan terisak-isak.
"Ya gak apa-apa. Lain kali kita harus lebih berhati-hati lagi ya, bang Raihan gak mau lihat Syila jadi kesakitan seperti ini." Tutur Raihan.
"Nah, sudah selesai." Kata Raihan setelah selesai mengobati luka Syila.
"Alhamdulillah, terimakasih banyak ya bang Raihan yang baik.." Ucapnya dengan tersenyum manis.
"Sama-sama, Syila." Jawab Raihan dengan tersenyum manis juga.
Setelah itu, mereka kembali bermain bersama lagi. Seperti itulah setiap hari liburnya, jika Raihan datang.. Gadis kecil itu akan menyambutnya dengan hati yang girang, Raihan juga sangat betah bermain bersama gadis kecil itu sehingga membuat dia tidak berhenti untuk tersenyum mendengar setiap untaian kata celotehan yang keluar dari lisannya Syila.
Sampai akhirnya, setelah dua tahun kemudian, usia Raihan saat itu sudah mulai menginjak 15 tahun. Disaat itulah, hubungannya dengan Syila mulai merengang. Dia tidak lagi mau dibawa oleh Ayahnya untuk pergi kerumah Syila. Hal itu disebabkan karena telah terjadi perselisihan yang sengit antara kedua orang tuanya Raihan dan juga Ayahnya Syila. Dimana, Mama Raihan mengatakan bahwa Ayah Syila memberi pengaruh yang buruk terhadap keutuhan rumah tangga mereka atas hasutan dan tuduhan yang bertubi-tubi dilakukan oleh Ayah Syila terhadap Mamanya Raihan. Dan Raihan remaja hanya menerima mentah-mentah perkataan Mamanya tersebut.
***
Aditia masuk terburu-buru kedalam Kamar Raihan yang tidak terkunci, ia lalu mendapati anaknya itu sedang duduk melamun di tepi ranjangnya.
"Raihan..Ikut Papa sekarang!" Perintah Aditia.
Pikiran Raihan yang tengah melayang itu langsung saja buyar ketika mendengar suara Aditia memanggil namanya.
"Kemana?" Tanya Raihan dengan bingung.
"Bukankah kamu bilang tadi mau bertemu dengan manusia yang bernama Irwan itu?" Tanya Aditia. Lalu Raihan menanggapi perkataan Papanya dengan anggukan.
"Dia sudah ada dikantor polisi sekarang. Jika kamu mau tau dari mulut dia langsung gimana kejadian sebenarnya, mari kita kekantor polisi sekarang juga. Kita tanyakan semuanya ke dia." Ajak Aditia.
Raihan terdiam sejenak, tidak tahu harus menjawab apa atas ajakan Aditia tersebut, sampai akhirnya ia memutuskan untuk mengikuti ajakan Papanya itu pergi ke kantor polisi menemui Irwan.
Sesampainya dikantor polisi, Aditia langsung meminta izin kepada pihak polisi untuk dipertemukan sebentar dengan Irwan yang sudah berada didalam sel tahanan. Polisi lalu mengizinkan mereka untuk bertemu dengan lelaki jahat itu.
"Hai, kau.. Irwan. Coba kau jelaskan bagaimana kejadian sebenarnya ke kami berdua, terutama ke anak aku ini" Ucap Aditia dengan menunjuk kearah Raihan.
Raihan menatap tajam kearah Irwan yang sedikitpun tidak terlihat rasa penyesalan diparasnya. Dia tampak menyunggingkan senyum getirnya, seakan meledek.
"Cepat jelaskan apa yang kau ketahui, aku tidak punya waktu untuk berlama-lama disini." Kata Raihan akhirnya.
"Apa lagi yang mau aku jelaskan? Bukankah kalian sudah dengar semua pengakuan dari Samsul juga Lika??" Tanyanya dengan santai.
"Jadi.. Semua pengakuan dari mereka berdua itu benar adanya? Kau lah penjahat yang sebenarnya ha?" Tanya Raihan dengan geram.
"Iya, pakai tanya lagi. Kalau tidak.. untuk apa aku melarikan diri? dan sialnya aku malah ketangkap juga.." Katanya terlihat agak kesal.
"Berarti... Kau penyebab dari meninggalnya Mama aku ha? Dasar brengsek..!!" Raihan langsung menghajar Irwan dengan memukul kuat wajah Irwan berkali-kali...
.
.
.
.
BERSAMBUNG..
*JANGAN LUPA TINGGALKAN LIKE DAN KOMENTARNYA, TERIMAKASIH😊🙏🏻🙏🏻
.
.