
2 Hari kemudian...
Setelah memberi materi pembelajaran dan juga tugas pada muridnya pagi itu, Arsyila lalu kembali duduk dikursinya. Ia lalu mengambil handphone dari dalam tasnya dan kemudian memeriksa pesan masuk pada Aplikasi whatshapnya.
Arsyila menscroll satu persatu pesan yang masuk, sampai akhirnya scrollnya berhenti pada sebuah nama. Arsyila langsung saja membuka pesan tersebut.
[Arsyila, tolong kamu pikirkan lagi keputusan kamu yang ingin berpisah dari aku. Aku berharap, kamu masih mau menerima aku lagi menjadi suami kamu. Aku akan memperbaiki semuanya, Arsyila. Aku akan menjadi suami yang baik untuk kamu.]
Raihan mengirim pesan tersebut ke Arsyila. Raihan masih gencar membujuknya untuk mengubah keputusan cerai yang sudah diajukannya ke pengadilan. Tapi, entah mengapa Arsyila masih ragu dengan ketulusan yang dikatakan oleh Raihan itu. Arsyila masih merasa takut dan trauma akan penderitaan yang telah ia rasakan saat menjalankan kehidupan rumah tangga bersama Raihan.
Kemudian Arsyila membuka galeri dari dalam Hpnya. Arsyila melihat foto-foto pernikahannya bersama Raihan yang sempat ia abadikan didalam handphonenya.
Mata Arsyila tertuju pada sebuah foto saat mereka didalam kamar saling merangkul dan saling berpandangan dengan mesra. Arsyila kembali mengingat momen itu, moment dimana Ia merasakan bahwa suaminya itu begitu mencintainya, dihari pernikahan mereka. Hal itu ditandai dengan bagaimana sikap dan perlakuan Raihan yang begitu hangat dan lembut terhadapnya. Meskipun mereka belum banyak berbicara, tapi dari cara Raihan memperlakukan Arsyila sudah bisa membuat hati Arsyila merasa tersentuh dan nyaman bersamanya.
Namun, itu semua hanya sandiwaranya saja. Setelah resepsi pernikahan mereka, sikap Raihan berubah total. Semenjak itulah perasaan Arsyila terhadap Raihan jadi berubah, yang tinggal hanya rasa takut dan kecewa.
"Arsyila..." Seseorang memanggil Arsyila, yang membuat lamunan Arsyila tentang Raihanpun buyar.
"Iya, Kak Sari.. Ada apa?" Tanya Arsyila kepada Sari, salah satu pengajar di sekolah itu juga.
"Ada yang nyariin kamu diluar." Kata Kak Sari.
"Siapa kak?" Tanya Arsyila dengan penasaran.
"Dia bilang, suami kamu.." Jawab Kak Sari dengan tersenyum manis. Arsyila langsung tersentak kaget mendengar jawaban dari Kak Sari tersebut. Arsyila tidak menyangka Raihan sampai nekat mencarinya di tempat ia bekerja.
Setelah mengatakan itu, Kak Saripun pergi meninggalkan Arsyila. Beberapa detik kemudian, ada sebuah panggilan masuk dari handphonenya. Ternyata Raihan yang menelpon. Dengan ragu-ragu, Arsyila akhirnya menerima panggilan tersebut.
"Assalamualaikum, Arsyila? Bisa kamu keluar sebentar?" Tanya Raihan dengan suara yang lembut. Cukup lama juga Arsyila diam, tidak menjawab pertanyaan dari suaminya itu.
"Arsyila, aku tau kamu mendengarnya. Kamu bisa temui aku sekarang diluar?" Kata Raihan lagi.
"Maaf, saya lagi mengajar. Saya gak bisa temui kamu sekarang." Ucap Arsyila dengan nada dingin.
"Jam berapa kamu selesai mengajarnya? Aku akan tunggu kamu sampai selesai" Kata Raihan lagi.
"Memangnya ada perlu apa lagi kamu mau menemui saya?" Tanya Arsyila. Saat itu ia sudah berada diluar kelas, karena ia tidak mau anak - anak muridnya mendengar pembicaraannya lewat telpon.
"Ada suatu hal yang ingin aku sampaikan ke kamu" Jawab Raihan.
"Tapi, aku gak ingin mendengar apapun itu lagi dari kamu. Maaf, aku harap kamu mengerti. Assalamu'alaikum.." Arsyila langsung mematikan panggilan dari Raihan tersebut.
Arsyila kembali masuk kedalam kelas. Ia menonaktifkan hpnya dan memasukkannya didalam tas. Arsyila berusaha mengalihkan pikirannya dari Raihan dan memfokuskan pada aktifitas mengajarnya pagi itu.
Beberapa jam kemudian, Arsyila selesai mengajar dan kemudian ia keluar dari gerbang sekolah untuk langsung pulang menuju rumahnya. Saat sudah didepan gerbang, Arsyila melihat ada sebuah mobil hitam yang terparkir disana. Mobil hitam itu tidak asing baginya. Arsyila yakin itu pasti mobilnya Raihan. Meskipun demikian, Arsyila pura-pura tidak tahu dan tetap berjalan cuek melewati mobil tersebut. Namun, saat Arsyila melewati mobil itu tiba-tiba saja pintu mobil terbuka. Raihan keluar dari mobilnya dan langsung saja memegang lengan Arsyila.
"Arsyila, bisa kita bicara sebentar?" Pinta Raihan.
"Sebentar saja.." Kata Raihan dengan pandangan memohon.
Arsyila menatap sorot mata teduh milik Raihan. Semenjak kesalahpahaman tentang dendam Raihan itu terungkap, semenjak itu pula Arsyila tidak pernah lagi melihat kesangaran dari wajah dan sorot mata Raihan. Yang tinggal saat ini adalah pandangan rasa penuh penyesalan dan juga rasa bersalah yang selalu ia tampilkan diwajahnya itu.
"Bisa ya? Aku mohon..." Lirih Raihan masih menatap Arsyila dengan erat. Arsyila terdiam dengan mata tak berkedip memandang lelaki dihadapannya ini. Sampai akhirnya, hati Arsyilapun luluh. Dia mengangguk sebagai tanda bahwa ia setuju untuk berbicara dengan lelaki yang masih berstatus suaminya itu.
"Syukurlah, Yuk Masuklah kedalam, Arsyila." Ucap Raihan lalu membuka pintu mobilnya yang satunya lagi.
"Arsyila, apa kamu masih ingat masa-masa kecil kita dulu?" Tanya Raihan setelah mereka berada didalam mobil.
"Ya, sedikit-sedikit masih ingat." Jawab Arsyila. Dalam hati tidak dipungkiri ia penasaran juga, mengapa tiba-tiba Raihan menanyai tentang masa kecil mereka. Memang dulu sejak kecil mereka begitu akrab, selalu bertemu dan bermain bersama. Tapi, bagi Arsyila masa kecil itu tidak lagi berarti apa - apa. Itu hanya sebuah kenangan masa kecilnya semata.
"Arsyila, aku ingin kita dekat seperti dulu lagi. Seperti masa kecil kita, tidak ada jarak yang membuat kita merasa canggung, yang ada hanya keceriaan, kebersamaan yang indah. Memang.. Aku yang awalnya pergi menjauh dari kamu. Aku yang menghindar bahkan berusaha menjadi benci sama kamu. Itu semua atas kesalahpahaman aku. Usia aku saat itu belum bisa mencerna dengan baik apa yang aku lihat dan apa yang aku dengar. Aku menerimanya mentah-mentah tanpa mencari tahu dulu kebenarannya seperti apa. Sampai aku dewasa pun hal itu seakan sudah mendarah daging di benak dan pikiran aku." Jelas Raihan setelah itu mengakhirnya dengan menarik nafas panjang sebelum ia melanjutkan kembali perkataannya.
"Karena itu, aku benar-benar menyesali semua perbuatan terkutuk aku itu Arsyila. Meskipun kamu sudah memaafkan aku dan tidak menjebloskan aku kedalam penjara, aku tetap bersyukur akan hal itu. Karena aku tahu, kamu wanita yang baik, wanita yang tulus dan pemaaf. Sejak kecil aku sudah mengagumi mu Arsyila. Yah.. Sejak kecil, aku sudah menyukai semua yang ada pada dirimu. Dan pernah juga terlintas didalam pikiran ku saat kecil dulu, jika telah dewasa aku akan menikahi kamu. Itulah pikiran sederhana saat aku kecil dulu, Arsyila. Aku mempunyai keinginan untuk membuat kamu bahagia, membuat kamu selalu tersenyum ceria, aku yang selalu ingin melindungi kamu. Tapi, pikiran itu semua ada disaat sebelum sesuatu itu terjadi. Sesuatu yang memaksa aku menjadi membenci kamu dan akhirnya meninggalkan kamu yang mungkin bingung dengan perubahan pada diriku yang tiba-tiba itu." Jelas Raihan lagi masih menatap Arsyila yang sejak tadi hanya menundukkan wajahnya.
"Arsyila.. Aku masih berharap kamu mau memberikan aku kesempatan untuk mewujudkan semua impian aku sejak kecil dulu. Aku ingin memberikan kamu kebahagiaan. Aku ingin menjadi pelindung bagi kamu, aku ingin selalu ada disaat kamu butuhkan. Karena selama kita menikah, aku belum pernah memberikan itu semua ke kamu.. Yang ada malahan aku menjadi suami yang tak berguna bagi kamu. Yg selalu menyakiti kamu sehingga membuat kamu takut dan trauma untuk hidup bersama aku lagi." Kata Raihan masih melanjutkan perkataannya yang panjang lebar itu.
"Arsyila.. Katakanlah sesuatu.." Desak Raihan yang melihat Arsyila masih saja bungkam.
"Aku janji tidak akan mengecewakan kamu, Arsyila. Aku janji." Kata Raihan dengan sungguh-sungguh.
Arsyila belum juga mengeluarkan suara. Sedangkan Raihan masih sabar menanti jawaban dari Arsyila.
Arsyila sedang berpikir keras, jawaban apa yang harus ia katakan kepada Raihan. Sesungguhnya, Bujukan Raihan kali ini membuat Arsyila menjadi galau dengan keputusannya sendiri yang ingin berpisah dari Raihan.
"Arsyila...???" Raihan kembali memanggil nama Arsyila dengan sangat lembut. Kemudian, wanita itu menoleh sesaat kearah Raihan.
"Baiklah, beri aku waktu untuk sholat istikhorah dulu. Setelah aku mendapatkan jawabannya, apapun itu yang akan diberi setelah Aku sholat istikhirah, Aku harap kamu bisa menerimanya dengan lapang dada." Tutur Arsyila.
"Baiklah, aku akan menunggu jawaban kamu" Kata Raihan dengan tersenyum hangat...
.
.
.
.
BERSAMBUNG...
"MOHON LIKE DAN KOMENNYA YA... TERIMAKASIH SUDAH SETIA MEMBACA..😊😇"