
Arsyila lalu mengambil buku tebal itu. Dan kini buku tersebut sudah ada didalam dekapannya. Dengan ragu-ragu Arsyila mencoba membuka lembaran pertama dari buku tersebut. Dan.. Bersamaan dengan itu pula, suara seseorang membuka kunci pintu terdengar dari luar. Arsyila langsung terperanjat kaget dengan jantung yang berdebar kencang tak beraturan. Ia yakin itu Raihan yang datang.
Beberapa detik kemudian, pintu kamar itu pun terbuka dan sejurus kemudian wajah Raihan menyembul dari balik pintu. Arsyila buru-buru menyembunyikan buku catatan Raihan di bawah kolong meja.
Raihan menatap Arsyila dengan tatapan tajam. Wajah Asryila terlihat pucat pasi dengan tangan dan kakinya yang bergetar hebat.
"Ngapain kamu disana?" Raihan bertanya dengan setengah membentak.
Mendengar bentakan dari Raihan membuat Arsyila semakin gugup tak karuan.
"Eee.. Gak.. Gak ngapain-ngapain.." Jawab Arsyila kemudian menundukkan kepalanya.
Raihan berjalan mendekati Arsyila masih dengan tatapan curiga. Hingga kini ia sudah berdiri dihadapan Arsyila. Jarak mereka yang begitu dekat membuat jantung Arsyila berdetak semakin kencang. Ia dapat merasakan hembusan nafas Raihan dan juga aroma parfum dari tubuh lelaki itu. Arsyila semakin menundukkan kepalanya.
Namun, tiba-tiba saja Raihan memegang dagu Arsyila dengan kasar dan mengangkatnya keatas.
"Aku tahu kamu pasti sedang tidak ngapain-ngapain seperti yang kamu bilang itu.." Desis Raihan. Setelah itu ia melepaskan dagu Arsyila dengan kasar dan mengambil foto usang yang ada di meja kerjanya.
"Posisi foto ini berubah. Kamu menyentuhnya lagi kan???" Tanya Raihan dengan marah.
"Iya, maaf.. S-saya gak sengaja.." Lirih Arsyila dengan suara tertahan.
"Sudah berapa kali aku bilang sama kamu Arsyila. Jangan kau sentuh benda apapun itu yang ada didalam kamar aku ini. Apalagi foto ini, Kau gak paham juga ha?" Teriak Raihan dengan mata yang melotot seakan ingin keluar dari tempatnya.
Arsyila hanya bisa meringis ketakutan dengan membungkukkan badannya. Lalu ia mundur bebarapa langkah kebelakang, menjauh dari Raihan yang begitu dekat dengannya.
"Sekali lagi aku lihat kamu menyentuh foto ini, aku gak akan segan-segan melakukan kekerasan terhadap kau Arsyila. Meskipun.. AKU SEBENARNYA TIDAK SUKA MELAKUKAN ITU, paham kamu??"
"Iya..Iya.. Maaf Bang Raihan, saya gak akan menyentuhnya lagi.." Jawab Arsyila dengan suara yang parau.
"Oke. Jadi, kamu sudah mempersiapkan barang kamu untuk berangkat besok kan??" Raihan bertanya. Kini lelaki itu sudah tidak lagi berdiri di depan Arsyila sehingga membuat Arsyila bisa bernafas dengan normal.
"Sudah Bang, semuanya sudah didalam koper.." Kata Arsyila seraya menunjuk kearah koper kecil miliknya.
"Bagus. Besok subuh-subuh kita langsung berangkat dari rumah karena jadwal penerbangannya jam 6 pagi." Ucap Raihan.
"Tapi... Kalau boleh saya tahu, kita mau kemana??" Akhirnya pertanyaan itu keluar juga dari mulut Arsyila. Karena wajar ia harus tau kemana Raihan akan membawanya apalagi pergi menggunakan pesawat, pasti tujuannya tidak dekat.
"Kamu akan tahu nantik." Kata Raihan dengan dingin dan setelah itu ia masuk kedalam kamar mandi.
***
Malam semakin larut, Arsyila yang tadi sudah tidur kini tersentak bangun karena merasa kerongkongannya kering. Ia berniat untuk kebawah mengambil minuman. Dengan pelan-pelan ia berjalan kearah pintu dan matanya tak lepas dari memandang Raihan seakan ia ingin mengawasi suaminya itu yang sedang tertidur pulas diatas kasurnya. Ia tidak mau Raihan terbangun karena mendengar dirinya yang keluar dari kamar.
Setelah tiba didapur, Arsyila langsung minum satu gelas air sampai habis. Kemudian ia iseng juga membuka kulkas dan mencari cemilan. Entah kenapa tiba-tiba ia merasa lapar. Kebetulan ada cake didalam kulkas, Arsyila langsung saja mencomotnya 2 potong.
Arsyila kemudian kembali kesofa tempat ia tidur. Namun, baru saja ia menutup tubuhnya dengan selimut untuk tidur lagi, tiba-tiba saja ia teringat akan buku tebal milik Raihan yang ia letak dibawah kolong meja Raihan tadi.
Arsyila berfikir keras. Entah kenapa Timbul dorongan kuat dari dalam dirinya untuk mengambil buku itu. Meskipun iya sebenarnya takut dengan ancaman Raihan jika ketahuan menyentuh barang miliknya, tapi.. Arsyila nekat juga berjalan pelan menuju meja Raihan dan setelah itu meraba-raba kekolong meja untuk mengambil buku tersebut. Sampai akhirnya kini buku tebal itu kembali dalam dekapannya.
Jantung Arsyila berdegup kencang saat Raihan yang sejak tadi tidur membelakanginya tiba-tiba saja menggeliat dan berbalik arah. Arsyila langsung bergegas kembali ke sofa dan dengan sebelumnya memasukkan buku tebal itu kedalam kopernya. Meskipun ia tahu perbuatannya ini memang salah, tapi.. Arsyila seakan tidak peduli. Karena ia sangat yakin ada sesuatu hal didalam buku itu yang bisa membuat dirinya lepas dari jerat Raihan..
***
Keesokan harinya dipagi hari...
Ardan turun dari taksi yang membawanya kerumah suami kakaknya. Ardan sangat khawatir dengan keadaan Arsyila maka dari itu ia nekat datang meskipun Arsyila sempat melarangnya untuk datang.
Ardan berdiri didepan pagar rumah Raihan yang menjulang tinggi. Dengan ragu-ragu ia memencet bel dengan pelan. Namun tidak ada yang datang untuk membukakan pintu pagar tersebut sampai akhirnya sebuah mobil mewah berwarna mewah berhenti didepan rumah Raihan.
Seorang supir dari mobil mewah tersebut keluar dan membukakan pintu pagar yang ternyata tidak terkunci. Sesaat kemudian ia kembali masuk lagi dan membawa mobil beserta penumpangnya itu masuk ke halaman rumah Raihan yang luas. Ardan yang sedari tadi berdiri diam disana tidak lengah langsung saja ikut juga masuk kedalam.
Ardan melihat seorang wanita cantik bertubuh langsing keluar dari mobil merah tersebut. Ardan mengenali wanita itu yang bukan lain adalah adik dari suami kakaknya dan sekaligus salah satu mahasisiwi ditempat ia berkuliah saat ini.
Ardan sudah lama tahu tentang Raina. Siapa yang tidak mengenali Raina dikampusnya. Ia wanita yang disegani banyak orang tapi bukan karena prestasinya melainkan karena Raina yang kaya raya sehingga wanita itu dapat melakukan apapun dengan kekayaannya. Tidak ada yang berani macam-macam terhadapnya, dengan sifatnya yang angkuh itu membuat orang jadi takut untuk berurusan dengan dirinya.
Raina sepertinya tidak menyadari akan kehadiran Ardan disana, ia terlihat sibuk mengetik sesuatu di handphonenya sambil berjalan menuju pintu utama.
Ardan lalu mempercepat langkah kakinya berjalan mendekati Raina.
"Assalamualaikum, maaf mengganggu..." Ucap Ardan dengan sopan. Meski bagaimanapun dia tau adab bertamu dirumah orang maka Ia tidak Lupa mengucapkan salam.
Raina langsung menoleh kesumber suara yang begitu asing baginya. Ia melihat Ardan dengan tatapan heran.
"Siapa kamu?" Tanya Raina tanpa menjawab salam dari Ardan. Raina sama sekali tidak mengenali Ardan. Mungkin dulu ia pernah dikenalkan saat dihari pernikahan abangnya namun Raina yang memiliki sifat cuek dan tidak mau tahu sehingga membuat dia benar-benar tidak lagi mengenali Ardan sebagai adiknya Arsyila.
"Saya Ardan, adiknya Kak Arsyila.." Jawab Ardan. Mendengar jawaban Ardan barusan membuat Raina langsung melipatkan kedua tangannya didada dan lalu mengangkat dagunya dengan angkuh.
"Oh.. Mau ngapain kesini??" Tanyanya dengan gayanya yang sombong.
"Saya mau ketemu dengan kak Arsyi. Kamu bisa panggilkan kak Arsy?" Pinta Ardan ke Raina.
Raina menyunggingkan senyum meremehkannya ke Ardan lalu kedua tangannya kini berpindah ke pinggangnya.
"Dia gak ada disini. Dia sudah pergi jauh.. Bang Raihan antar dia ketempat selayaknya dia berada.." Kata Raina dengan tersenyum sinis.
Ardan langsung tercengang dengan jawaban Raina yang spontan itu..
Bersambung..