Bertahan Dalam Pernikahan

Bertahan Dalam Pernikahan
UTANG AYAH


"Kalian berdua lagi bicarain apa??" Tiba-tiba sebuah suara dari arah belakang mengagetkan Sindy dan teman lelakinya itu. Mereka langsung menoleh serentak kebelakang dan mendapati seseorang sudah berdiri disana dengan berdecak pinggang.


"Kenapa, kaget?? Gelagat kalian berdua mencurigakan dan aku juga sempat dengar kalian nyebut - nyebut nama Bang Raihan dan juga tentang pernikahannya, berarti ada kaitannya juga dengan kakak aku kan?" Tanya Lelaki itu dengan curiga, yang ternyata adalah Ardan.


"Eh, jangan sok tahu kamu ya. Dasar tukang nguping." Kata Sindy dengan emosi.


"Siapa dia Sin?" Tanya teman lelakinya Sindy.


"Anak ini namanya Ardan, adik iparnya Raihan." Kata Sindy dengan menatap sinis kearah Ardan. Memang mereka berkuliah dikampus yang sama. Ardan masih semester 3 sedangkan Sindy sudah semester akhir dan sebentar lagi akan wisuda.


"Oh, Adiknya Arsyila ternyata.." Kata si lelaki Dengan manggut - manggut.


"Apa yang sedang kalian rencanakan?" Tanya Ardan lagi sambil menatap mereka secara bergantian. Ia merasa curiga karena tadi saat melewati jalan itu, tanpa sengaja ia mendengar sekilas pembicaraan mereka tentang Raihan dan juga pernikahannya dengan Arsyila.


"Rencana apa? Kami gak merencanakan apa-apa kok." Sindy mengelak seraya melipatkan kedua tangannya ke dadanya.


"Tapi, tadi aku dengar kalian.."


"Apapun yang kau dengar itu anak manja, itu tidak penting." Potong silelaki dengan suara yang lantang.


"Sudah Sin, gak usah dihiraukan. Yuk kita pergi dari sini." Sambungnya lagi lalu menarik tangan Sindy untuk pergi dari sana.


Setelah mereka pergi, Ardan masih berdiri mematung disana. Rasa curiga semakin dalam dihatinya, ia tahu bagaimana licik dan jahatnya mereka berdua. Dan Ardan akan mencari tahu apakah rencana yang mereka bicarakan tadi ada hubungannya dengan kakaknya atau tidak. Jika ada, Ardan tidak akan tinggal diam. Dia akan menggagalkan rencana jahat yang akan mereka perbuat ke kakaknya.


Beberapa saat kemudian, Ardan memutuskan untuk pulang karena kebetulan jam kuliahnya juga sudah selesai. Saat sampai diparkiran, tidak sengaja ia melihat Raina yang baru saja keluar dari mobilnya. Ia berjalan dengan buru-buru, sepertinya ia terlambat untuk masuk kuliah siang itu, sampai-sampai ia tidak melihat Ardan didepannya dan bahkan malah saking buru-buru dan tidak fokusnya ia berjalan, wanita itu malah menabrak bahu Ardan dengan lumayan kuat sehingga lelaki itu langsung meringis.


"Aduh, Hei.. Jalan itu hati-hati donk, Main tabrak aja!!" Teriak Ardan ke Raina yang masih terus berjalan. Karena diteriakin seperti itu, membuat Raina langsung menoleh kebelakang. Saat itu Barulah Raina sadar bahwa lelaki yang ia tabrak barusan adalah Ardan. Wajahnya langsung berubah.


"Sorry ya, aku gak sengaja!." Kata Raina dengan ketus dan juga dengan gaya sombongnya itu. Kemudian Raina siap-siap untuk pergi, namun.. Ardan malah meneriakinya lagi.


"Aku tidak perlu kata maaf ketus dari kamu itu, kamu sama saja dengan abangmu, kalian pikir dengan kata maaf bisa merubah segalanya, gak semudah itu ya!!" Kata Ardan yang malah membawa - bawa nama Raihan. Raina yang tidak merasa terima dengan sikap dingin Ardan langsung kembali berjalan mendekati lelaki itu.


"Mau kamu apa sih? Aku kan sudah bilang mintak maaf, lagi pula aku gak sengaja menabrak kamu. Aku itu buru-buru tau gak??" Kata Raina dengan kesal.


"Dari Sikap dan cara ngomong kamu itu nampak sekali gak tulus minta maafnya, sama dengan abangmu itu. Minta maaf karena ingin bebas dari hukuman, padahal sebenarnya dia hanya berpura-pura menyesal." Kata Ardan yang membuat Raina semakin geram.


"Kamu jangan bawa-bawa nama abang aku ya, Dasar.. Sudah miskin belagu pulak lagi." Umpat Raina dengan melototkan matanya.


"Biar saja kami miskin harta dari pada kalian berdua miskin akhlak." Ucap Ardan yang membuat hati Raina semakin kesal. Lalu karena tidak ingin memperpanjang perdebatannya dengan wanita itu, akhirnya Ardan mengalah dan pergi dari sana.


"Brengsek.." Desis Raina dengan menahan emosinya yang sudah diubun-ubun.


Setelah itu, Ardan pulang kerumahnya. Sesampainya dirumah, ia melihat ada 3 orang bertubuh tegap berdiri di teras rumahnya sedang berbicara serius dengan kakaknya.


"Kak Arsy, ada apa ini ramai-ramai??" Tanya Ardan yang melihat ekspresi kakaknya agak lain ditambah lagi 3 orang laki-laki itu tampak memasang wajah sangar kepada Arsyila.


"Siapa lelaki ini?" Tanya salah satu dari mereka.


"Dia adik saya, Ardan." Jawab Arsyila.


"Oh.. Anaknya Aditia juga ternyata, Kalau gitu saya tagih ke kamu saja. Ini lihat.. utang Ayah kamu sudah bertumpuk-tumpuk, segera lunasi sekarang semuanya dengan bunganya juga." Katanya dengan garang sembari menunjukkan kertas yang tertulis jumlah utang Ayahnya tersebut.


"Utang?? Kak Arsy, apa maksud ini semua kak?" Tanya Ardan ke Arsyila yang sudah terduduk lemas di kursi terasnya.


"Ini pasti salah, Ayah kami tidak pernah berhutang dengan orang lain apalagi sebanyak ini sampai berpuluh-puluh juta. Untuk apa memangnya? Mungkin kalian salah orang.." Kata Ardan masih tidak yakin.


"Kau tidak percaya ha? Lihat ini, tanda tangan siapa?? Ayah kalian bukan??" Ucap lelaki yang lainnya dengan menunjukkan tanda tangan Ayahnya pada kertas tersebut. Ardan langsung terdiam. Karena memang benar adanya, itu memang tanda tanga Ayahnya.


"Jadi sekarang pilihan ada pada kalian, jika kalian tidak ada uang untuk melunasinya, terpaksa rumah ini kami sita beserta isi-isinya. Silahkan kalian keluar dari rumah ini sekarang juga." Kata pria berambut gondrong tersebut.


"Apa? Kami keluar dari rumah kami ini? Gak.. Gak Akan, Kak Arsyi.. Bagaimana ini kak?" Kata Ardan dengan suara yang panik.


"Kak juga gak tau Ardan. Kita mana ada uang sebanyak itu untuk melunasi utang Ayah. Sedangkan Kakak baru saja tadi diterima kembali mengajar ditempat kakak yang dulu. Tabungan kita pun sudah tinggal sedikit, dari mana kita bisa dapat uang sebanyak itu dalam waktu dekat?" Kata Arsyila dengan suara yang tertahan.


"Sudah, jangan banyak drama lagi kalian. Lebih baik kalian kemasi barang-barang kalian. Yang boleh kalian bawa cuman pakaian kalian saja, selebihnya tidak boleh. Itupun sebenarnya belum cukup untuk melunasi utang Ayah kalian yang sudah bejibun." Ucap Silelaki berwajah sangar.


"Pak, kasih kami waktu. Jangan hari ini usir kami dari sini. Beri kami waktu paling lama satu minggu lagi." Kata Arsyila berusaha untuk mengajak mereka berkompromi.


"Tidak bisa nona manis, kalian harus tinggalkan rumah kalian sekarang juga." Tegasnya dengan Suara yang lantang.


"Tapi, kami mohon.. Kami harus pergi kemana? Kami.."


"Ya itu bukan urusan kami kalian mau kemana. Yang penting aku ingin rumah ini dikosongkan. Kecuali jika kau mau diajak kerja sama.." Kata si lelaki gondrong dengan menatap genit kearah Arsyila. Perasaan Arsyila menjadi tidak enak ditatap seperti itu.


"Maksudnya, kerja sama apa?" Tanya Arsyila agak ragu-ragu. Lelaki itu langsung melirik Arsyila dari ujung kepala ke ujung kaki dengan tatapan liarnya.


"Kalau kamu bersedia membayar utang Ayah kamu dengan tubuh mu yang bagus ini" Katanya. Ardan dan Arsyila langsung melotot marah mendengar ucapannya itu.


"Eh, jangan kurang ajar kalian ya! Jangan memandang hina kami, biarpun Kami miskin tapi kami masih punya harga diri." Kata Ardan dengan emosi.


"Kalau begitu, cepat kalian kemasi barang kalian. Jangan banyak tingkah lagi" Ujarnya lalu mendorong tubuh Ardan untuk masuk kedalam rumah.


"Kami beri waktu kalian 15 menit" Sambungnya lagi. Ardan dan Arsyila kini berada didalam kamar mereka masing-masing, mereka seakan pasrah dengan keadaan yang menimpa mereka. Mau tidak mau mereka harus pergi dari rumah mereka sendiri, meskipun berat namun tetap harus mereka jalani juga.


Setelah 15 menit kemudian...


"Waktu habis, sudah saatnya kalian pergi dari sini. Keluar kalian berdua.." Teriak si gondrong lalu masuk kedalam rumah dan diikuti dengan 2 orang temannya yang lain. Tapi, Arsyila dan Ardan belum juga beranjak dari kamar. Lalu si gondrong masuk kedalam kamar Arsyila dan menarik tangan Arsyila untuk keluar, begitu juga dengan Ardan. Mereka seakan tidak mampu melawan keganasan dari lelaki berbadan kekar itu. Sampai akhirnya...


"Woi, apa-apaan ini. Lepaskan tangan wanita itu." Tiba-tiba dari pintu masuk datang seorang lelaki sebagai penyelamat bagi mereka berdua..


.


.


.


BERSAMBUNG...


PENASARANKAN SIAPA YANG DATANG? YUK TETAP SETIA MENUGGU KELANJUTANNYA YA, TERIMAKSIH..😊😊


.


.