Bertahan Dalam Pernikahan

Bertahan Dalam Pernikahan
MEMOHON


Arsyila memutuskan hubungan via telpon dengan suaminya itu, karena baginya percuma jika tetap dilayani, pasti Raihan tidak henti-hentinya mengeluarkan kata yang membuat hati Arsyila semakin terluka.


"Siapa yang nelpon, Arsy?" Tanya Maida saat melihat Arsyila malah mengakhiri panggilan tersebut.


"Raihan.." Jawab Arsyila dengan suara yang berat.


"Apa katanya? Kenapa kamu matikan telpon darinya?" Tanya Maida penasaran karena dia memang sama sekali tidak tahu apa yang telah terjadi sebelumnya.


"Hasbi ditangkap polisi atas laporan dari Raihan. Karena.. Semalam Hasbi memukul Raihan hingga pingsan lantaran ia menolong aku yang dikurung oleh Raihan dikamarnya." Cerita Arsyila dengan mata yang berkaca-kaca.


"Hah?? Ya ampun.. Raihan mengurung kamu? Tapi, Kenapa??" Tanya Maida sedikit berteriak kaget.


Arsyila menceritakan kejadian semalam secara detil. Maida mendengarnya dibuat geleng-geleng kepala dan merasa geram terhadap kelakuan Raihan.


"Memang brengsek si Raihan itu. Kasihan kali si Hasbi. Terus.. Sekarang gimana? Apa yang harus kita perbuat, Arsy??"


Arsyila menarik nafas panjang. Ia tampak tengah berfikir. Apa yang harus dilakukannya untuk menolong Hasbi? Haruskah ia menemui Raihan dan meminta ke suaminya itu untuk menarik semua laporannya?


"Aku harus ketemu dengan Raihan." Putus Arsyila akhirnya.


"Kamu yakin, Arsy? Kalau kamu diapa-apain lagi sama dia gimana?" Tanya Maida dengan nada khawatir.


"Apa perlu aku ikut temanin kamu kesana?" Lanjut Maida dengan menawarkan diri.


"Gak usah Maida, biar aku sendiri saja!" Jawab Arsyila.


Beberapa saat kemudian, tanpa menunggu lama Arsyila langsung bergerak menuju kerumah Raihan untuk bertemu dengan suaminya itu.


Saat didalam taksi, Arsyila kembali merenung dan berfikir keras tentang langkah apa yang seharusnya ia ambil. Pesan terakhir dari Ayahnya pun menjadi jawaban dari semuanya, bahwa dia memang harus pergi dari Raihan. Arsyila bertekad akan langsung meminta cerai dari Raihan saat bertemu nantik. Seharusnya sejak dulu ia memutuskan hal ini, tapi demi baktinya kepada Ayahnya dia bertahan dengan harapan Raihan bisa berubah menjadi baik. Namun, semakin kesini.. Sikap Raihan semakin liar dan tidak terkendalikan. .


Sekarang pikiran Arsyila beralih ke Hasbi, ia merasa prihatin akan nasib sahabat baiknya itu. Karena menolang dirinya, dia malah mendekam saat ini di kantor polisi. Arsyila tidak mungkin tinggal diam saja menyaksikan itu, Arsyila harus mengeluarkan Hasbi dari sana. Karena sepenuhnya itu bukanlah salah Hasbi. Dia hanya ingin menolong Arsyila lepas dari jerat Raihan yang kejam itu.


Tanpa terasa taksi yang Arsyila tumpangi sudah sampai didepan rumah mewahnya Raihan. Arsyila lalu keluar dari taksi tersebut dan kemudian dengan agak ragu-ragu dia memencet bel dari pagar rumah Raihan yang tertutup rapat.


Beberapa saat kemudian, pagar itu pun dibuka oleh Bik Ani.


"Non Arsyila?" Ucap Bik Ani yang terlihat kaget dengan kedatangan Arsyila.


"Bik.. Bang Raihan Ada dirumah?" Tanya Arsyila langsung ke Bik Ani yang masih terperangah melihat Arsyila.


"Ada.. Ada didalam non.." Jawab Bik Ani lalu mempersilahkan Arsyila masuk. Tanpa menunggu bik Ani yang menutup pagar, Arsyila langsung saja bergegas masuk kedalam halaman rumah Raihan dan sejurus kemudian masuk kedalam rumah dan menuju kelantai dua.


Saat Arsyila sudah dilantai atas, ia mendengar suara Raihan sedang tertawa keras dan terbahak-bahak, Arsyila langsung menuju ke sumber suara. Ternyata ia mendapati Raihan sedang dibalkon tengah telponan dengan seseorang. Arsyila lantas menghampiri suaminya itu.


"Hahahaha... Pokoknya aku tidak mau tau, kau harus pastikan tidak ada satu orang pun yang bisa menjamin lelaki itu bebas. Bayar berapa pun mereka agar lelaki itu tetap membusuk didalam penjara.."Ucap Raihan dengan lawan bicaranya.


Arsyila mendengar jelas hal itu keluar dari mulut Raihan. Arsyila yakin Raihan tidak main-main dengan ucapannya. Raihan mempunyai segalanya, kekuasaan, jabatan dan uang yang banyak sehingga membuat laki-laki itu bisa melakukan apa saja yang ia mau.


"Bang Raihan..!!" Entah keberanian dari mana yang membuat Arsyila tiba-tiba mengeluarkan suara dan memanggil nama suaminya itu.


Raihan yang kaget langsung saja menoleh kebelakang. Saat melihat Arsyila, wajahnya pun langsung berubah.


"Hai, Arsyila... Istriku yang paling baik dan juga.. Bodoh..!!" Kata Raihan yang diakhiri dengan mata melotot saat kata terakhir diucapkannya.


Arsyila sedikit tersentak dengan kalimat yang dilontarkan Raihan barusan, namun ia mencoba untuk menguatkan dirinya dan tidak lagi lemah berhadapan dengan Raihan.


"Bang, Saya.. Saya gak tahan lagi dengan semua ini. Dengan perlakuan bang Raihan terhadap saya, keluarga saya dan sekarang terhadap Hasbi. Ini mutlak bukan salah Hasbi, dia melakukan itu sebenarnya untuk menolong saya. Ayah saya saat itu sekarat dan butuh saya disampingnya. Tapi, Bang Raihan sedikitpun tidak mengerti, tidak peduli dengan kami. Apa salah kami hingga bang Raihan tega berbuat seperti ini?? Apa salah kami bang??" Tanya Arsyila dengan terisak-isak.


Baru kali ini Arsyila berani berbicara banyak kepada Raihan, padahal selama ini dia banyak diam dan mengalah. Tapi, kali ini dirinya seakan memberontak tidak terima dengan perlakuan Raihan. Apalagi setelah Ayahnya tiada dan menyuruhnya untuk pergi meninggalkan Raihan sehingga membuat dirinya yakin untuk berhenti mempertahankan pernikahannya dengan Raihan.


Prok...Prok...Prok...


Raihan bertepuk tangan setelah mendengar kalimat panjang yang dilontarkan Arsyila barusan.


"Hebat... Hebat Arsyila.. Aku suka keberanian kamu ini, Hebat.. Kamu sudah banyak kemajuan Sekarang ya?? Hahahaha..." Kata Raihan lagi-lagi dengan tawanya yang keras itu.


"Saya mohon bang Raihan.. Jangan penjarakan Hasbi. Lepaskan dia!" Kata Arsyila dengan memohon.


"Oh, gitu? Kamu memohon untuk lelaki itu? Begitu istimewa bagi kamu ya lelaki yang sudah memukul WAJAH AKU DUA KALI..!!" Ujar Raihan yang kali ini benar-benar marah.


"Maaf, bukan begitu maksud saya. Saya cuman merasa bersalah ke dia karena menolong saya dia yang jadi kenak imbasnya. Kalau bang Raihan ingin marah, marah dan hukum saja saya. Jangan teman saya." Kata Raihan.


"Benarkah?? Jadi kamu mau dipenjara menggantikan laki-laki itu maksud kamu, ha??" Tanya Raihan dengan sinis.


Arsyila langsung menelan ludahnya. Bukan itu maksud dia sebenarnya.


"Bukan begitu maksud saya, mana ada orang yang mau dipenjara, Bang? Saya cuman mintak tolong Bang Raihan maafkan Hasbi. Saya ingin kita berdamai saja. Lupakan apa yang telah Hasbi perbuat ke bang Raihan dan... Saya juga akan melupakan dan tidak mempermasalahkan apa yang telah bang Raihan perbuat ke saya.. Jadi, saya harap ini semua bisa imbas dan kita tidak lagi saling menyakiti.. Lagi pula setelah ini, saya.. Saya ingin bang Raihan menceraikan saya!!" Tutur Arsyila dengan yakin.


Setelah mendengar kalimat panjang dari Arsyila tersebut, Raihanpun terdiam untuk beberapa saat. Ia tampak sedang berfikir dengan tatapan mata yang tidak lepas dari Arsyila. Sedangkan Arsyila yang merasa risih ditatap seperti itu langsung menundukkan wajahnya.


"Oke. Aku akan cabut laporan aku tapi dengan satu syarat..." Katanya dengan tersenyum sinis.


"Apa syaratnya?" Tanya Asryila penasaran.


"Syaratnya.. Kau, Arsyila.. Tidak boleh menggugat cerai AKU..!!" Katanya dengan nada membentak.


"K-kenapa??" Tanya Arsyila bingung.


"Suatu saat nanti aku yang akan menceraikan kau tanpa kau pinta, tapi.. tidak sekarang Arsyila! Dendam aku belum sepenuhnya terbalas dan.. Hidup Kau.. akan tetap didalam genggaman aku."


"A-apaa???"


.


.


.


.


Bersambung...


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMENNYA YA


TERIMAKSIH SUDAH MEMBACA..😊🙏🏻