
Raihan mengakhiri panggilan dari Papanya. Ia terlihat tidak peduli ketika Papanya kembali menghubungi lagi. Ia tolak panggilan itu dan kemudian mematikan handphonenya dan setelah itu meletakkan benda pipih tersebut dengan kasar diatas meja.
Arsyila mendengar semua pembicaraan Raihan dengan Papanya. Arsyila melihat Raihan dengan pandangan ngeri, ia menyaksikan bagaimana ekspresi Raihan saat mengatakan kata benci yang ditujukan untuk Arsyila dan juga Ayahnya. Ekspresi yang menggambarkan rasa benci yang amat dalam. Arsyila menghela nafas panjang, ingin rasanya dia segera mengungkapkan semua yang ada didalam buku catatan Raihan yang belum selesai ia baca. Arsyila sungguh penasaran dengan teka-teki masa lalu Raihan yang melibatkan dia dan juga Ayahnya.
"Kenapa kamu lihat-lihat??" Sebuah suara keras milik Raihan menyadarakan Arsyila dari lamunannya, Ia tersentak kaget lalu bergegas melemparkan pandangannya kearah lain.
"Kamu.. Sudah dengar semuanya kan?? Bagaimana aku menentang Papa Aku sendiri." Kata Raihan dengan tatapan tidak lepas dari Arsyila.
Arsyila tidak menjawabnya, ia masih menunduk dengan memegang bagian ujung roknya.
"Lihat kesini, Arsyila!" Perintah Raihan setengah membentak.
"Aku paling tidak suka jika lagi bicara tapi tidak diperhatikan, malah menunduk seperti itu." Sambungnya lagi. Arsyila lalu mengangkat kepalanya dan melihat Raihan dengan takut-takut.
"Bagus..!! Jadi, Bagaimana pertualangan kamu sama Randi tadi? Sepertinya kamu sangat menikmatinya kan??" Ucap Raihan dengan tersenyum menggodanya. Arsyila langsung membuang muka. Jika kembali mengingat itu semua mampu membuat hatinya sakit dan tidak terima dengan perlakuan keji dari Raihan itu.
Meskipun Randi tidak melakukannya, tetap saja Arsyila sudah merasa dilecehkan oleh suaminya sendiri. Raihan benar-benar sudah membuat Arsyila hampir kehabisan kesabaran, tapi tetap Arsyila tahan demi untuk mengungkapkan semuanya.
"Aku mau memperlihatkan sesuatu ke kamu." Kata Raihan dan kemudian kembali mengambil Handphonenya. Ia membuka galeri dari handphonenya dan detik kemudian menunjukkan sebuah foto ke Arsyila.
"Kesini kamu, mendekat.." Panggil Raihan. Arsyila mengikuti perintah Raihan dan berjalan mendekatinya.
"Kamu kenal dengan wanita ini?" Tanya Raihan dengan menyunggingkan senyum sinisnya. Arsyila melihat dengan seksama foto yang Raihan sodorkan, seorang wanita bersama seorang pria berada dalam satu selimut diatas ranjang. Tapi, Arsyila tidak bisa melihat jelas wanita itu karena posisi tidurnya miring. Begitu juga dengan si lelaki yang bertelanjang dada itu sedang menutup wajahnya dengan tangannya.
"Wajahnya gak kelihatan" Kata Arsyila.
"Oh, begitu.. Dari bentuk rambutnya kamu gak kenal juga ya?" Tanya Raihan seperti menahan tawanya. Arsyila kembali melihat foto tersebut dengan seksama, khususnya dibagian rambut. Dan.. Arsyila seperti mengenalinya, tapi.. Arsyila langsung menepis apa yang terlintas tiba-tiba didalam pikirannya. Dia yakini pasti itu cuman hanya mirip saja.
"Oke, kalau begitu.. Coba kamu lihat yang satunya lagi.." Kata Raihan kemudian menscroll foto yang selanjutnya. Dan.. Foto kedua ini Arsyila bisa melihat jelas wajah wanita sekaligus laki-laki disampingnya yang ternyata.. Arsyila langsung menutup mulutnya seakan tak percaya, matanya terbelalak kaget, jantungnya berdebar kencang dan keringat dinginpun mulai menjalari setiap inchi tubuhnya. Tidak disangka bahwa Wanita didalam foto itu adalah... dirinya sendiri, sedangkan si lelaki adalah Randi. Arsyila menelan salivanya. Apa maksud semua ini? Arsyila hanya bisa berteriak didalam hatinya...
**************************************************
Arsyila terlihat mondar mandir didalam kamarnya, hatinya sungguh gelisah, pikirannya kacau, jiwanya seakan terguncang. Itu semua karena foto tadi yang dilihatkan oleh Raihan kepadanya. Setelah Raihan melihatkan itu, ia langsung keluar kamar dengan tertawa sekeras-kerasnya. Sama sekali ia tidak memberikan kesempatan untuk Arsyila bertanya akan kebenaran foto itu.
Arsyila memegang tubuhnya yang semakin bergetar tidak karuan. Jika benar wanita difoto itu adalah dirinya, Arsyila tidak tahu lagi harus berkata apa.. Hancur sudah hidupnya. Ia tidak tahu apa saja yang telah mereka perbuat saat dirinya tertidur waktu itu. Arsyila yakin pasti Raihan memberinya obat tidur sehingga Arsyila dibuatnya tidak sadar sampai.. Arsyila sungguh tidak sanggup membayangkannya. Dia tidur bersama Randi, satu selimut dan dia tidak tahu apakah saat itu ia berpakaian atau tidak. Dan dia tidak tahu juga apa yang mereka perbuat setelah dan sebelum itu??
"Ya, Allah.." Desis Arsyila dengan jantungnya yang semakin kuat berdetak.
"Ternyata Randi sama saja, dia berpura-pura tidak mau menyentuh aku.. Tapi, ternyata.. sebelum itu.." Arsyila menyesali karena sempat mempercayai kata-kata dari temannya Raihan itu, yang ternyata mereka sama saja bejatnya. Asryila mengutuk-ngutuk perbuatan mereka berdua didalam hatinya.
Beberapa saat kemudian, pintu kamar hotel tempat Arsyila dikurung terbuka lebar. Detik kemudian, Muncullah seorang lelaki berpakaian rapi dari balik pintu. Sorot mata Arsyila langsung berubah marah setelah tahu siapa yang datang.
"Ngapain kamu kesini lagi??"Ucap Arsyila dengan nada kasar. Randi langsung merasa heran dengan sikap Arsyila yang tiba-tiba berubah terhadapnya.
"Loh, kamu kok jadi marah begitu? Aku kesini bermaksud baik, gak ada niat macam-macam sama kamu" Katanya. Arsyila langsung mencibir.
"Niat baik kamu bilang?? Kamu itu sama saja dengan Raihan, kalian berdua memang jahat!" Kata Arsyila dengan suara tertahan.
"Lebih baik kamu keluar, pergi dari sini..!!" Usir Asryila. Randi semakin heran dengan sikap Arsyila yang tiba-tiba terlihat marah terhadap dirinya.
"Arsyila, aku mau bantu kamu..." Kata Randi yang kemudian berjalan mendekati Arsyila, melihat Randi yang mulai mendekat membuat Arsyila langsung berteriak.
"MENJAUH DARI SAYA!!!" Kata Arsyila dengan suara yang keras. Randi langsung berhenti.
"Kamu bohong ternyata, menyesal aku sudah mempercayai kamu. Sekali bejat tetap bejat, gak mungkin berubah dengan begitu mudahnya." Kata Arsyila dengan geram.
"Hai, kamu ngomong apa sih? Aku ini memang bejat, tapi kali ini aku mau buang jauh-jauh dulu sifat bejat aku itu karena aku mau jadi orang baik dengan menolong kamu.." ucap Randi dengan sepenuh hati. Tapi, Arsyila sama sekali tidak mengindahkannya. Ia tidak mau semudah itu lagi mempercayai lelaki yang ada dihadapannya ini.
"Apa saja yang sudah kamu perbuat sama aku ha?" Tanya Arsyila dengan menahan air matanya yang akan tumpah.
"Saat Raihan memberi aku obat tidur, apa yang kamu perbuat ke Aku? Raihan melihatkan foto aku dan kamu..." Arsyila tidak melanjutkan kalimatnya, dadanya seakan sesak jika memaksakan diri untuk mengucapkan kata-kata yang membuat dirinya semakin terasa terhina.
Namun, Randi sepertinya langsung mengerti apa maksud Arsyila. Seketika itu juga dia langsung menggeleng-gelengkan kepalanya dengan tersenyum penuh ketenangan.
"Foto itu tidak seperti yang kamu bayangkan Arsyila. Itu cuman jebakan, percayalah sama aku.." Kata Randi menyakinkan Arsyila.
Arsyila terdiam dengan segala rasa berkecamuk didalam hatinya. Apakah harus percaya atau tidak dengan ucapan lelaki itu??
.
.
.
.
.
Bersambung..