Bertahan Dalam Pernikahan

Bertahan Dalam Pernikahan
MEMBUJUK


Raihan memarkirkan mobilnya didepan rumah Arsyila, bersama supir sekaligus asisten pribadinya ia pun turun dari mobil. Ketika itu pula Raihan mendengar suara gaduh dari dalam rumah Arsyila. Ia juga melihat ada 3 motor yang terparkir didepan rumah istrinya itu. Satu motor ia kenali milik Ardan dan Arsyila, berarti 2 motor lagi adalah Milik orang lain yang datang bertamu dirumahnya.


Rasa penasaran menyelimuti hati Raihan saat suara gaduh itu semakin kuat didengarnya. Apalagi hati Raihan menjadi resah saat ia mendengar suara teriakan dan juga rintihan Arsyila dari dalam rumah. Raihan langsung saja bergegas masuk kedalam rumah dan diikuti oleh Asistennya.


Benar saja, saat ia sudah masuk kedalam rumah yang pintunya tidak terkunci itu, Raihan melihat 2 orang lelaki bertubuh kekar dan berwajah sangar sedang menarik tangan Arsyila juga Ardan dengan keras agar keluar dari kamar mereka masing-masing. Ia saksikan bagaimana istrinya itu diseret dengan kasar oleh lelaki gondrong tersebut. Darah Raihan seakan mendidih melihat Arsyila diperlakukan kasar seperti itu, matanya melotot marah dengan wajah yang sudah merah padam menahan emosi yang sudah diubun-ubun.


"WOI, LEPASKAN TANGAN WANITA ITU.." Teriak Raihan dengan suara yang menggelegar.


Teriakan dari Raihan membuat mereka semua menoleh serentak ke arah pintu masuk. Arsyila juga Ardan kaget ketika melihat Raihan yang sudah ada didepan pintu. Raihan langsung berjalan mendekati mereka dan kini sudah berada tepat dihadapan Arsyila dan lelaki gondrong yang masih memegang erat tangan Arsyila.


"Kau tidak punya telinga ha? Aku bilang lepaskan tangan dia, lepaskan tangan istri saya!!" Ucap Raihan dengan suara yang lantang.


Lelaki gondrong itu menatap Raihan dengan tatapan sinis, sambil menyunggingkan senyum getirnya, ia pun berujar.


"Jadi wanita ini istri kamu? Hebat.. Ternyata suaminya kaya raya, tapi mengapa kau bilang tidak punya uang ha??" Desis lelaki gondrong itu dengan melihat Raihan dan Arsyila secara bergantian.


Lelaki gondrong itu bisa menilai dari penampilan Raihan yang terkesan rapi dan mewah. Oleh karena itu, ia berkesimpulan sendiri bahwa Raihan orang kaya.


"Lepaskan tangan saya!" Kini Arysila berujar, karena dia sudah sangat risih tangannya dipegang oleh lelaki itu.


"Hei, lepaskan tangan dia. Brengsek..!!" Umpat Raihan seraya mendorong lelaki tersebut.


"Oke, Oke. Santai Bro.." Sahutnya dan lalu melepaskan tangan Arsyila. Begitu juga dengan kedua temannya yang lain, mereka sudah melepaskan Ardan.


"Mau apa kalian kesini ha? Mau membuat onar?" Tanya Raihan dengan garang.


"Siapa yang mau buat onar, kami kesini mau menagih hutang" Jawab salah satu dari mereka.


"Utang apa??" Raihan bertanya lagi.


"Ayah mereka sudah berhutang dengan kami 20 juta, ini buktinya. Tapi, mereka tidak punya uang untuk membayarnya, jadi.. Ya mau tidak mau rumah ini yang akan kami sita." Jelasnya.


Raihan mengambil bukti tersebut dari tangan lelaki itu dan membaca isinya.


"Oke, Biar saya lunasi semuanya." Kata Raihan akhirnya. Mendengar penuturan Raihan tersebut, membuat Arsyila dan Ardan menoleh serentak kearah Raihan, dengan wajah bingung dan seakan tidak terima dengan keputusan tiba-tiba dari lelaki tersebut.


Raihan memerintahkan Asistennya untuk mengurusi semua utang tersebut, dan ketiga preman bertubuh kekar itu mengikuti asisten Raihan menuju keluar rumah.


"Kamu seharusnya gak perlu melakukan itu" Kata Arsyila setelah mereka pergi.


"Iya, mending kami diusir dari sini dari pada menerima bantuan dari kamu." Ardan ikut manimpali.


"Aku cuman ingin membantu kalian, bukan bermaksud apa-apa. Jadi kalian jangan salah sangka dengan pertolongan aku ini." Kata Raihan yang sadar melihat ekspresi tidak senang dari Arsyila juga Ardan atas pertolongannya itu.


"Tapi tetap saja kami berhutang dengan kamu jadinya. Ya sudah, Ardan.. Kita akan bayar hutang Ayah kita ke dia." Kata Arsyila akhirnya.


"Beri kami waktu untuk melunasi utang kami sama kamu. Kami akan menggantinya." Lanjut Arsyila dengan wajah yang dingin.


"Arsyila, kamu gak perlu menggantinya. Aku ikhlas membantu kalian. Lagi pula, aku ini masih suami kamu. Aku tidak mungkin membiarkan kamu terusir dari rumah kamu sendiri karena tidak bisa melunasi hutang Ayah kamu itu." Jelas Raihan.


"Baru tadi pagi aku masukkan berkas gugatan cerai aku dari kamu. Dan mungkin besok sudah mulai di proses. Meskipun kita belum resmi bercerai, tetap saja bagi aku kamu bukan lagi suami aku." Ucap Arsyila dengan nada yang ketus.


"Arsyila..?? Kamu.. Benar-benar ingin pisah dari aku?" Tanya Raihan dengan wajah yang memelas.


Arsyila lalu mengangguk dengan mantap dan penuh keyakinan.


"Sudah jelas sekarang kan? Lebih baik Anda pergi dari sini. Secepatnya kami akan mengganti uang Anda itu." Kata Ardan dengan mengusir Raihan.


Namun, Raihan sama sekali tidak menanggapi kalimat usiran yang diberikan oleh Ardan. Ia berjalan mendekati Arsyila lalu tanpa diduga ia malah memegang lembut tangan wanita itu.


Arsyila lantas menangkis sentuhan tangan dari Raihan tersebut.


"Tidak, gak ada lagi yang perlu aku pikirkan. Tidak ada lagi yang perlu aku pertimbangkan. Keputusan aku sudah bulat. Jalan terbaik untuk kita, ya .. memang harus berpisah." Kata Arsyila.


"Kenapa harus berpisah?? Aku sudah minta maaf sama kamu dan menyesali semua perbuatan aku itu, kalau pun aku harus dipenjara sebagai ganjarannya, Aku siap Arsyila. Aku rela. Asalkan kita tidak bercerai." Kata Raihan dengan sungguh-sungguh.


"Kau memang harus dipenjara selayaknya." Celetuk Ardan tiba-tiba. Raihan masih tidak peduli dengan perkataan Ardan itu, dia hanya fokus untuk membujuk wanita yang ada dihadapannya ini agar tidak berpisah darinya.


"Arsyila.. Apa tidak ada kesempatan bagi aku untuk merubah semuanya?? Selama ini aku sudah jahat sama kamu, aku.. Aku menjadi suami yang tidak berguna, dan.. Karena itu aku mau berubah Arsyila. Aku ingin memperbaiki hubungan kita ini." Lanjut Raihan semakin berusaha membujuk Arsyila.


"Berubah? Berubah untuk apa? Sudahlah.. Sekarang gini, Kamu menikahi aku atas dasar apa awalnya? Dendamkan? Dan.. Sekarang, anggaplah dendam kamu itu sudah terbalas meskipun.. Tidak tepat sasaran. Jadi, apa lagi sekarang? Kamu belum puas membuat aku menderita dengan membiarkan aku tetap bertahan dalam pernikahan yang sudah tidak layak lagi dipertahankan ini? Iya, itu yang kamu mau?" Kata Arsyila dengan tatapan sinis.


"Tidak Arsyila. Bukan itu maksud aku.." Jawab Raihan dengan menggelengkan kepalanya.


"Maksud aku, aku ingin..."


"Sudahlah, aku tidak ingin mendengar apapun itu dari mulut kamu. Ardan, tolong suruh lelaki ini pergi dari sini.." Potong Arsyila kemudian menyuruh adiknya untuk mengusir Raihan.


"Pergi dari sini. Kak Arsyi sudah tidak ingin lagi mendengar omongan tak berguna dari kamu itu." Kata Ardan setengah membentak.


"Aku tidak akan pergi dari sini." Kata Raihan masih bersikeras tetap disana untuk membujuk Arsyila.


"Arsyila, aku mohon. Beri aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya, beri aku kesempatan untuk membuat kamu bahagia. Tolong.. Aku mohon.." Sambung Raihan lagi.


"Membuat bahagia? Apa aku gak salah dengar? Aku akan bahagia bila tidak lagi bersama kamu, Raihan." Kata Arsyila dengan lantang. Akhirnya Arsyila menyebut nama Raihan, tanpa kata 'bang' didepannya. Hal itu sebagai tanda bahwa ia tidak lagi menghormati lelaki itu.


Setelah mengatakan itu, Arsyila lalu berbalik dan langsung masuk kedalam kamarnya. Ia mengunci pintu kamarnya dari dalam. Raihan yang belum terima dengan keputusan Arsyila, langsung saja mengetuk-ngetuk pintu kamar Arsyila. Ia masih belum menyerah untuk membujuk wanita yang sudah ia sakiti itu.


Ardan tidak tinggal diam menyaksikan aksi Raihan didepan pintu kamar kakaknya. Ardan mendorong tubuh Raihan agar menjauh dari sana atau bahkan keluar dari rumahnya. Namun, Raihan masih tetap bertahan. Pertahanannya sedikitpun tidak goyah, ia masih tetap disana dengan mengedor-ngedor pintu kamar Arsyila agar wanita itu membuka pintunya.


"Sudahlah, Kamu pergi dari sini. Gak ada lagi yang perlu kita bicarakan." Teriak Arsyila dari dalam kamarnya. Arsyila merasa sangat heran, mengapa keinginan Raihan begitu kuat untuk tetap mempertahankan pernikahan mereka. Hal itulah yang membuat Arsyila menjadi takut, takut jika lelaki itu mempunyai rencana jahat lagi. Rasa trauma yang dulu saja belum hilang, dia tidak akan kembali lagi hidup bersama lelaki itu.


Tidak akan. Tekad Arsyila didalam hatinya.


"Arsyila, bukalah pintunya sebentar. Aku Mohon." Kata Raihan dengan berteriak.


"Pergilah Raihan. Untuk apa kita tetap bersama jika tidak ada cinta dalam pernikahan kita, yang ada cuman dendam dan saling menyakiti." Kata Arsyila dengan air mata tak terbendung lagi.


"AKU MENCINTAI KAMU, ARSYILA. AKU CINTA SAMA KAMU..." Teriak Raihan dengan suara yang lantang.


Arsyila yang masih berdiri didelan pintu kamarnya, langsung tersentak dengan pengakuan Raihan barusan itu..


.


.


.


.


.


.


BERSAMBUNG..