
Arsyila membuka matanya perlahan - lahan. Saat matanya terbuka, ia melihat Raihan sudah berada disampingnya dengan wajah yang khawatir.
"Aku dimana?" tanya Arsyila seraya memegang kepalanya yang masih terasa berdenyut.
"Dirumah sakit, Arsyila." jawab Raihan dengan menyentuh lembut lengan istrinya itu. Arsyila langsung menepis tangan Raihan tersebut. Ia lantas menatap Raihan dengan pandangan tajam.
"Kenapa kamu yang ada disini? Dimana Ardan atau Hasbi?" tanya Arsyila dengan melihat kesekelilingnya yang tiada siapapun selain dirinya dan Raihan didalam ruangan tersebut. Padahal seingat Arsyila saat itu ia bersama Hasbi. Dimana Hasbi? Mengapa ia malah membiarkan dirinya bersama Raihan? Arsyila hanya bisa bertanya - tanya didalam hatinya.
"Arsyila, apa yang kamu rasakan sekarang?" tanya Raihan yang masih setia disamping Arsyila. Ditanya seperti itu membuat Arsyila langsung membuang muka dengan mengalihkan wajahnya kearah berlawanan dari Raihan.
"Arsyila, Maafkan aku... Aku benar - benar mintak maaf. Tapi, Sudahlah masalah kita ini jangan kamu pikirkan dulu. Kamu fokus terhadap kesehatan kamu dulu ya, aku gak mau kamu ataupun calon bayi kita kenapa - napa." kata Raihan masih dengan rasa cemas.
"Bayi kita?" desis Arysila yang kini sudah membalikkan wajahnya untuk melihat Raihan.
"Iya, Arsyila. Bayi kita." sahut Raihan dengan menganggukkan kepalanya.
"Kenapa kamu begitu yakin kalau ini bayi kamu?" tanya Aleeya dengan nada sinis.
"Kamu masih belum percaya Arsyila? Raina kan sudah menjelaskan semuanya." tutur Raihan.
"Sudah habis kepercayaan aku sama kamu, Raihan. Benar kata Hasbi, bisa saja kamu yang menyuruh Raina untuk mengarang cerita seperti itu agar aku percaya dan kembali lagi sama kamu. Aku gak sebodoh itu, Raihan. Aku gak akan tertipu untuk kesekian kalinya lagi olehmu. Tidak akan." ucap Arsyila dan kemudian kembali memalingkan wajahnya.
Raihan terdiam. Benar dugaannya, Arsyila tidak semudah itu bisa mempercayainya lagi. Wanita itu sudah merasa dibohongi berkali - kali oleh Raihan. Yang padahal, Raihan sama sekali tidak pernah berniat berbuat demikian.
"Aku.. Aku tidak tahu harus menyakinkan kamu bagaimana lagi, Arsyila. Aku tahu aku salah waktu itu, mempertemukan kamu dengan Randi adalah kesalahan besar yang pernah aku perbuat. Aku sungguh menyesal. Sampai detik ini pun aku belum bisa memaafkan diriku sendiri. Jadi aku bisa terima jika kamu pun melakukan hal yang sama terhadap aku yang jahat ini dulunya. Tak mengapa Arsyila, meskipun kamu belum memaafkan aku dan bahkan membenci aku. Tapi, tetap aku tidak akan berhenti untuk menyakinkan kamu bahwa saat ini aku sungguh - sungguh dan tulus mencintai kamu. Apalagi saat ini kamu tengah mengandung anak aku, aku gak akan membiarkan kamu menjalani kehamilan kamu seorang diri, Arsyila." tutur Raihan dan kali ini dengan mata yang berkaca - kaca.
Sedangkan Arsyila, sama sekali tidak menghiraukan perkataan Raihan tersebut. Ia masih memalingkan wajahnya, seakan tidak sudi untuk memandang laki - laki yang sedari tadi memohon dan memelas dengan wajah sayu terhadapnya. Arsyila tetap tidak peduli dan berusaha sekuat hati untuk tidak mempercayai setiap kalimat yang dilontarkan oleh Raihan. Ia juga berusaha mengendalikan perasaannya sendiri, tidak mau lemah dan luluh dengan bujuk rayuan laki - laki itu.
"Arsyila..." panggil Raihan dengan suara yang lembut. Arsyila sama sekali tidak bergeming. Raihan menarik nafas panjang lalu menghembuskan nafasnya dengan kasar. Walaupun ia tahu tidak akan mudah untuk mengambil hati Arsyila lagi, Tapi Raihan tetap tidak akan menyerah.
"Mana mungkin aku tega meninggalkan kamu dalam kondisi seperti ini, Arsyila. Kata Dokter tubuh kamu masih sangat lemah, dan harus dirawat beberapa hari kedepan. Jadi aku bertanggung jawab untuk menjaga kamu karena aku masih suami kamu, Arsyila." kata Raihan yang masih bersikeras meluluhkan hati Arsyila.
"Raihan, Aku sudah gak anggap kamu suami aku lagi. Kita akan bercerai." protes Arsyila yang akhirnya melihat kearah Raihan dengan sangat kesal.
"Kita belum resmi bercerai, jadi aku masih suami kamu." sahut Raihan dengan suara yang pelan.
Arsyila langsung mendengus kesal. Ia rasa percuma berdebat dengan Raihan yang ia kenal memang keras kepala itu. Lagi pun Arsyila seakan tidak bertenaga untuk membalas setiap ucapan dari laki - laki itu. Maka Arsyila putuskan untuk keluar dari kamar rawatan tersebut dan mencari siapapun diluar sana untuk mengusir Raihan dari dalam kamarnya.
"Kamu mau kemana Arsyila? Tubuh kamu masih lemah, jangan banyak bergerak dulu." Raihan mencegah Arsyila agar tidak bangkit dari tempat tidurnya. Namun terlambat, Arsyila sudah berdiri disamping tempat tidur dengan sedikit oyong. Raihan langsung saja menuju ke seberang sana dan mencegat Arsyila agar tidak berjalan menuju keluar pintu.
"Minggir Raihan, aku mau keluar mencari satpam biar bisa mengusir kamu!!" ketus Arsyila dengan garang.
"Apa? Kamu.." Raihan seakan tidak mampu lagi mengatakan apa - apa sedangkan Arsyila sudah berjalan menuju pintu dengan sempoyongan dan belum sampai ke pintu, wanita itu terjatuh kelantai. Raihan langsung menolongnya.
"Kan sudah aku bilang Arsyila, tubuh kamu masih sangat lemah." kata Raihan dan sejurus kemudian langsung saja menggendong Arsyila kembali keatas tempat tidur.
"Raihan, apa - apaan sih? Turunkan aku!!" protes Arsyila yang tidak mau digendong oleh lelaki itu. Namun, Raihan tetap melakukan itu sampai akhirnya meletakkan istrinya dengan perlahan keatas tempat tidurnya kembali.
"Kamu gak perlu repot - repot memanggil satpam, Arsyila. Aku akan pergi sendiri. Tapi, sebelumnya aku mohon sama kamu sekali lagi Arsyila agar mempercayai apa yang aku dan Raina katakan ini. Raina tidak mungkin mengarang cerita, ia benar - benar mendengar langsung hal itu dari Randi. Apa perlu aku bawa Randi kesini agar kamu percaya?Kalau iya, aku akan cari Randi sekarang juga dan membawanya kesini dan akan aku paksa dia untuk berbicara jujur ke kamu perihal ini." ucap Raihan dengan antusias.
"Tidak perlu kau mencari aku, Raihan. Aku sudah disini."
Tiba - tiba saja pintu terbuka, dari balik pintu muncullah sosok lelaki yang baru saja mereka bicarakan. Arsyila dan Raihan langsung melihat berbarengan kesumber suara tersebut dengan wajah penuh keterkejutan.
💦💦💦💦
BERSAMBUNG...