
Perlahan-lahan Arsyila membuka matanya yang masih terasa sangat berat, setelah matanya terbuka sedikit ia langsung dihadapkan dengan langit-langit disebuah kamar.
Arsyila menyipitkan matanya dan mencoba kembali mengingat-ingat akan keberadaannya saat ini. Kesadarannya belum pulih betul sehingga membuat Arsyila merasa kesulitan untuk mencernanya.
Arsyila lalu ingat bahwa subuh-subuh tadi ia dan Raihan berangkat ke bandara. Setelah sampai dan Tidak menunggu lama pesawat pun berangkat menuju ke kota yang sama sekali belum pernah Arsyila kunjungi. Dan ia juga tidak tahu dimana. Yang jelas setelah itu, Raihan langsung membawanya kesebuah hotel mewah. Dan sesampainya mereka didalam hotel, Raihan menelpon seseorang untuk mengantarkan sarapan keatas.
Sarapanpun sampai, Raihan menyuruh Arsyila memakan makanan tersebut. Arsyila yang saat itu tengah lapar, langsung saja makan dengan begitu lahapnya.
Namun, setelah selesai makan, Arsyila merasa pandangannya mulai kabur dan lama kelamaan semakin tidak jelas, belum lagi kepalanya yang mulai terasa sakit. Arsyila lalu menguap beberapa kali, tiba-tiba dia merasa kantuk luar biasa. Dan.. Detik kemudian dia pun tidak teringat apa-apa lagi.
Sejurus kemudian mata Arsyila memandang jam dinding yang ada didepannya. Jam itu menunjukkan pukul 12 siang. Arsyila langsung terduduk. Ia pun tersadar bahwa sudah begitu lama ia tertidur. Entah tidur atau apa Arsyilapun tidak tahu. Andaipun dia tertidur, Arsyila merasa janggal saja, sebab tidak pernah sekalipun ia tidur selama ini saat dipagi hari kecuali jika ia sakit itupun tidak senyeyak ini.
Arsyila lantas berdiri dan kemudian berjalan menuju pintu keluar. Ia coba membuka pintu tersebut yang ternyata terkunci. Arsyila teringat Raihan, dimana lelaki itu? Mengapa Raihan tidak membangunkannya? Arsyila merasa aneh Raihan malah membiarkan dirinya tidur diatas ranjang.
Arsyila pasrah saja dibawa Raihan ketempat ini, entah untuk apa dan berapa lama mereka disini. Arsyila tidak banyak bertanya lagi karena ia rasa percuma. Arsyila yakin, Raihan pasti tidak akan memberitahuinya. Seperti disurat perjanjian yang sudah terlanjur ditanda tanganinya waktu itu bahwa dia harus menuruti semua keinginan lelaki itu. Entah sampai kapan seperti ini? Arsyila tidak tahu. Namun, tiba-tiba Arsyila teringat akan sesuatu. Ya.. Arsyila teringat pada Buku catatan Raihan yang sempat ia masukkan kedalam kopernya tadi malam. Arsyila rasa sekarang adalah waktu yang tepat baginya untuk mencari tahu sebuah kebenaran dari buku Raihan.
Kemudian Arsyila mengambil kopernya yang terletak didekat lemari. Arsyila membukanya dan setelah itu mengambil buku Raihan dalam tumpukan bajunya.
Kini buku catatan Raihan sudah ada dalam dekapannya. Arsyila lalu membuka lembar pertama buku bersampul hitam itu. Dilembar pertama Arsyila belum menemui hal yang aneh, disitu cuman berisi daftar riwayat Raihan lengkap dengan fotonya waktu masih remaja. Kemudian Arsyila membuka lembaran kedua, disitu ada foto Raihan dan Raina bersama kedua orang tuanya. Namun, yang anehnya pada foto Papa Raihan terdapat coretan pada bagian wajahnya dan juga sebagian tubuhnya dilingkari. Dan dibawah foto tersebut ada sebuah tulisan pendek, Arsyila membacanya dengan pelan.
'Keluarga kami yang awalnya harmonis tapi berubah menjadi berantakan setelah dia berkhianat..'
Arsyila mencoba mencerna apa yang ia baca barusan. Keluarga Harmonis? Menjadi Berantakan? Dia berkhianat? Sudah dipastikan ini tentang kehidupan keluarga Raihan yang awalnya harmonis namun berubah tidak harmonis karena sebuah pengkhianatan. Tapi, siapa Dia yang dimaksud Raihan dalam kalimat tersebut? Apakah Papanya? Karena hanya foto papa Raihan yang dilingkari dan juga terdapat coretan diwajahnya. Arsyila dapat menyimpulkan hal itu dari apa yang ia lihat dan yang ia baca.
Kemudian Arsyila membuka lembaran ketiga. Dilembaran itu tidak ada foto, cuman ada sedikit tulisan tangan Raihan tapi tulisannya kali ini tidak serapi tulisan sebelumnya.
"Kasihan Mama.. Selalu disalahkan.. Selalu dimarah.. dituduh yang tidak-tidak.. "
Raihan menulisnya dengan huruf besar semua dan tidak beraturan, sepertinya ia begitu geram dan marah dengan seseorang sehingga berpengaruh pada tulisannya menjadi tidak bagus.
Arsyila belum bisa menyimpulkan apa-apa dari tulisan itu, ia lalu membuka lembaran selanjutnya.
Arsyila berhenti sejenak. Dalam hati ia menimbang-nimbang apakah pantas ia melanjutkan membaca buku Harian Raihan? Karena sejauh yang ia baca sampai lembaran ini belum ada kaitan dengan keluarganya, semuanya tentang keluarga Raihan. Tiba-tiba saja Arsyila sungguh merasa bersalah karena sudah membaca buku harian Raihan tanpa seizin suaminya itu.
Namun, hati kecil Arsyila masih diselimuti rasa penasaran teramat dalam. Ada terbesit keyakinan dihatinya bahwa ada jawaban dari semua pertanyaan dibenaknya selama ini, pertanyaan tentang apa yang membuat Raihan memiliki dendam terhadap keluarganya terutama ayahnya Arsyila. Meskipun Ayah Arsyila sudah meninggal dunia, Raihan tidak puas begitu saja. Dia masih ingin melanjutkan dendamnya itu kepada Arsyila dan juga Ardan.
Lalu Arsyila kembali membuka buku Raihan yang sempat ia tutup tadi. Tapi, kini Arsyila tidak melanjutkan dari halaman terakhir yang ia baca. Arsyila sengaja membuka dilembar pertengahan pada buku tebal tersebut. Dan akhirnya Arsyila membaca suatu kalimat yang membuat darahnya langsung berdesir.
"Fitnah kejam yang kalian tuduhkan kepada Mama aku, akan aku balas suatu saat nantik.. Bahkan sampai ke anak cucu kalian, akan merasakan bagaimana difitnah dan dijebak dengan sesuatu perbuatan yang sama sekali tidak ia perbuat. Aku janji.."
Arsyila mengulang kalimat panjang itu sebanyak 3 kali. Disini baru terlihat titik terangnya. Raihan menuliskan tentang Dendam. Walaupun Raihan tidak menulis secara detil pada siapa dendam tersebut, namun Arsyila merasa Apakah kata 'kalian' disini maksudnya adalah ditujukan untuk keluarganya???
Arsyila menggelengkan kepalanya. Tidak mungkin Ayahnya melakukan perbuatan keji dengan memfitnah Mamanya Raihan. Fitnah seperti apa memangnya? Pasti telah terjadi kesalahpahaman diantara mereka saat itu, Arsyila yakin. Jika Ayahnya masih hidup, Arsyila pasti akan langsung menanyai hal ini kepada Ayahnya. Meminta penjelasan dari beliau apa sebenarnya yang terjadi. Agar semua jelas dan tidak ada lagi yang ditutup-tutupi.
Arsyila menarik nafas panjang setelah itu membuka kehalaman yang sebelumnya, berharap ada sesuatu hal penting lagi yang dapat menjawab semua pertanyaan dibenaknya saat ini.
"Mama.. Raihan sayang Mama, Raihan sedih melihat Mama seperti ini, jahat sekali mereka yang telah menjebak Mama.. Raihan tahu Mama tidak melakukan itu, Raihan bisa apa Ma? Raihan tidak bisa apa-apa untuk menolong Mama.. Maafkan Raihan, Ma.."
Arsyila merasa tersentuh dengan kalimat terakhir Raihan itu. Dari kata-katanya Arsyila bisa menangkap bahwa Raihan begitu menyayangi Mamanya dan sangat terpukul saat sesuatu menimpa Mamanya. Apa sebenarnya yang terjadi? Siapa yang menjebak Mamanya Raihan? Apa iya, 'mereka' yang dimaksud Raihan itu adalah salah satunya... Ayahnya????
Arsyila kembali akan membuka lembaran sebelumnya, namun.. niatnya itu tertunda saat ia mendengar suara pintu dibuka dari luar. Arsyila terperanjat kaget sehingga buku yang dipegangnya pun jatuh karena saking kagetnya.
Beberapa saat kemudian, Pintu pun terbuka lebar. Dan.. Muncullah dua orang sosok lelaki dari balik pintu...
.
.
Bersambung...