
"Bang..." Raina memanggil abangnya dengan suara yang pelan.
"Hhmmm..." gumam Raihan tanpa memandang ke Raina.
"Raina mau mengakui sesuatu.." kata Raina.
"Apa itu?" tanya Raihan yang kini sudah mengalihkan pandangannya ke Adiknya itu.
"Sebuah Rahasia." Kata Raina lalu menundukkan wajahnya.
Raihan yang sejak tadi membaringkan badannya kemudian dengan sigap langsung duduk berhadapaan kearah Raina. Ia menatap lekat - lekat wajah Raina yang tertunduk lesu dan terlihat sangat takut. Melihat perubahan pada wajah adiknya itu membuat Raihan yakin bahwa telah terjadi sesuatu hal.
"Apa?" tanya Raihan. Namun, Raina belum juga mengeluarkan suara lagi untuk menjawab pertanyaan dari Raihan. Ia masih menunduk dengan sekali - sekali ekor matanya menatap Raihan dengan takut - takut.
"Ayo katakan, Raina. Rahasia apa? Kenapa kamu diam saja!!" kata Raihan yang mulai tidak sabaran.
"Iya, bang. sebelumnya Raina mau mintak maaf dulu sama abang. Karena Raina tahu apa yang akan Raina sampaikan ini adalah suatu kesalahan besar." tutur Raina dengan suara yang parau.
"Sudah, jelaskan saja. Jangan banyak basa - basi lagi." ujar Raihan.
"Bang.. Sebenarnya, Raina dan.. Bang Randi, temannya abang itu.. Kami.." Raina berhenti sejenak untuk menarik nafas panjang, ia seakan tidak sanggup untuk membuat sebuah pengakuan ini. Tapi hatinya terus mendesak dirinya untuk tetap berterus terang. Ia tidak ingin dicap sebagai adik yang jahat karena tega merusak hubungan rumah tangga abang kandungnya sendiri. Dan ia juga tidak tega melihat abangnya itu setiap hari semakin tersiksa atas rasa bersalahnya terhadap istrinya itu.
"Apa Raina? Kamu mau bilang apa, cepat saja katakan. Jangan berbelit - belit, dan.. Bang Randi...?? Kenapa kamu malah bawa - bawa nama bajingan itu?" kata Raihan yang kali ini semakin kesal.
"Bang.. Bajingan yang abang sebut itu sebenarnya adalah... pacarnya Raina." ucap Raina akhirnya dengan air mata yang sudah tergenang dipelupuk matanya.
"AAPAA???" Raihan langsung teriak dengan mata yang melotot. Ia sama sekali tidak pernah mengira bahwa hal itu yang terlontar dari mulut adiknya sendiri.
"Kamu jangan bicara yang tidak - tidak, Raina. Mana mungkin kamu bisa pacaran dengan dia." kata Raihan yang masih belum bisa menerima kenyataan tersebut.
"Raina bicara apa adanya, Bang. Begitulah kenyataan yang sebenarnya. Raina dan bang Randi sudah cukup lama juga berpacaran tanpa sepengetahuan abang." ucap Raina dengan menahan air matanya agar tidak tumpah.
"Sejak kapan kamu merahasiakan ini ha?" tanya Raihan lagi dengan tatapan penuh amarah.
"Sudah setahun kami menjalani hubungan tanpa sepengetahuan abang." jawab Raina lagi.
"Kenapa kamu merahasiakannya dari abang?" tanya Raihan lagi yang terus - terusan menginterogasi adiknya itu.
"Karena bang Randi melarangnya, ia tidak ingin abang tahu dulu hubungan kami ini. Kata dia ada saatnya nantik dia sendiri yang akan memberitahu abang." jelas Raina.
"Raina, abang benar - benar kecewa dengan kamu." desis Raihan dengan menggeleng - gelengkan kepalanya.
"Maaf bang." kata Raina dengan penuh penyesalan.
"Karena kamu tahu sendiri kan apa yang sudah terjadi diantara kami berdua? Memang dulu ia teman dekat abang, tapi itu dulu... Sekarang ini semua sudah berbalik. Dia musuh abang. Dia pengkhianat yang sudah tega menyentuh Arsyila dan bahkan.. Sampai Arsyila hamil anaknya dia." jelas Raihan dengan hati dan perasaan yang sangat terluka jika kembali mengingat hal itu.
"Iya, Raina tahu bang. Makanya sekarang ini Raina merasa serba salah dan Raina gak tahu harus berbuat apa? Di satu sisi bang Raihan adalah abang kandungnya Raina sedangkan bang Randi... Jujur, Raina sangat menyanyanginya Bang. Raina.. Cinta sama dia, bang.." kata Raina dan kali ini airnya matanya sudah mengalir deras di pipinya.
"Kamu jangan lemah, Raina!! Kamu mencintai orang yang salah. Randi itu jahat, brengsek dan tidak ada kata baik yang pantas ia sandang sama sekali. Tidak ada alasan lagi untuk kamu mencintainya. Tidak Ada Raina." kata Raihan dengan lantang.
"Tapi, Bang..." Raina seperti akan mengucapkan kata pembelaan untuk Randi tapi sebelum ia mengeluarkan suara, Raihan sudah duluan memotong perkataan adiknya itu.
"Setelah apa yang dia perbuat kamu tetap mau dengan orang seperti itu, Raina? Kamu lebih memilih dia ketimbang abang kamu sendiri, benar begitu Raina?" kata Raihan setengah berteriak. Raina terdiam, ia kembali menundukkan wajahnya karena ia seakan tidak sanggup melihat wajah abangnya yang begitu kecewa atas apa yang sudah ia perbuat selama ini dibelakangnya.
"Tidak pun Randi sudah berbuat seperti itu dengan Arsyila, abang tetap gak akan merestui hubungan kalian. Kamu gak kenal Randi sebelumnya, Raina. Dia itu suka main perempuan. Sudah berapa banyak perempuan yang ditidurinya, kamu mau dengan lelaki seperti itu ha?" tanya Raihan lagi - lagi dengan mata yang melotot tajam.
"Apa? Bang Randi gak seperti itu, bang. Bang Raihan jangan gara - gara dia sudah membuat satu kesalahan terhadap kak Arsyila, malah membuat abang semakin menyudutkannya dan memfitnah dia seenaknya saja. Bang Randi yang selama ini aku kenal, meskipun jarang berjumpa, tidaklah seperti itu bang. Dan asal abang tahu aja, Ia melakukan perbuatan itu sebenarnya karena perbuatan bang Raihan sendiri. Bang Raihan yang sudah semena - mena dengannya." kata Raina lagi dengan balik menuduh abangnya.
Raihan yang balik dituduh seperti itu membuatnya langsung melotot gusar kearah Raina. Ia sangat marah sekali karena Randi bukan saja sudah menghancurkan Arsyila, tapi juga telah mencuci pikiran Raina sehingga adiknya itu berani menentangnya seperti ini.
"Kamu.. Memang sudah termakan omongan laki - laki bejat itu, Raina. Sekali lagi abang tegaskan, kamu tinggalkan laki - laki itu, kamu lupakan dia. Pergi jauh dari dia Raina, abang gak mau kamu berhubungan dengan dia lagi. Mana Hp kamu?" tanya Raihan dan langsung memeriksa dibagian saku celana Raina untuk mencari hpnya.
"Abang mau ngapain?" tanya Raina. Raihan tidak menjawabnya, ia tetap memeriksa bagian saku Raina dan setelah mendapati apa yang ia cari lalu Raihan menyuruh Raina untuk membuka layar kunci Hp tersebut.
"Abang mau kamu hapus nomor dia, cepat buka kuncinya." suruh Raihan. Tapi, Raina sama sekali tidak berkutik.
"Percuma bang... Meskipun bang Raihan menyuruh Aku menghapus nomornya, gak akan ngaruh. Aku sudah hapal nomornya diluar kepala. Dan.. Aku gak akan tinggalkan dia." tegas Raina dengan gusar.
"Kamu.. Memang gak bisa dibilangin. Buka mata kamu lebar - lebar Raina.." kata Raihan yang sudah habis kesabaran untuk menyadarkan adiknya itu.
"Randi itu sudah menghamili Arsyila, kakak ipar kamu sendiri. Kamu sadar gak perbuatan dia itu sudah menyakiti abang ha? Dan kalau kamu masih anggap aku ini abang kamu, tolong... Tinggalkan dia sekarang juga!!!" Tegas Raihan lagi.
"Bang..." Lirih Raina dengan tersenyum tipis.
"Ada satu hal lagi yang abang tidak ketahui." lanjut Raina dengan menampilkan wajah misteriusnya.
"Apa??" Tanya Raihan dengan penasaran.
"Bukan Bang Randi yang telah menghamili kak Arsyila..!!" ujar Raina akhirnya. Raihan langsung terdiam dengan menelan salivanya...
💦💦💦💦
BERSAMBUNG...