Bertahan Dalam Pernikahan

Bertahan Dalam Pernikahan
PENYESALAN


Raihan berdiri mematung didepan pintu kamar rawatan Arsyila, wajahnya tampak sendu dengan pandangan mata yang sayu. Ia mendengar semua dengan jelas apa yang dibicarakan oleh mereka didalam sana tentang semua perbuatan jahatnya terhadap Arsyila.


Raihan sungguh tidak pernah menyangka akan seperti ini jadinya, sedikitpun tak pernah terlintas dipikirannya akan terjadi kesalahpahaman yang begitu besar dalam hidupnya. Balas dendam yang sudah lama dia rencanakan itu, malah berakhir dengan kejadian yang tidak terduga ini.


Jika menilik lagi kebelakang, mengingat tentang apa yang sudah ia perbuat kepada Arsyila, membuat seluruh tubuhnya seakan lemas tak berdaya. Bagaimana tidak, Arsyila juga Ayahnya.. sedikitpun tidak ada sangkut pautnya dengan kejadian masa lalu yang menimpa keluarganya. Mereka hanyalah korban. Korban fitnah dari penjahat yang sesungguhnya.


Raihan tidak berhenti mengutuk dirinya sendiri didalam hati, atas kesalahpahaman yang sudah bertahun - tahun ini bersemayam didalam dirinya. Dan sekarang ini, apa yang bisa ia lakukan lagi selain menyesali perbuatannya dan meminta maaf kepada Arsyila dan keluarganya??


Sebenarnya.. Ada rasa keinginan dihati Raihan untuk masuk kedalam ruang rawatan Arsyila dan meminta maaf langsung ke istrinya itu, namun tidak dipungkiri juga saat ini egonya masih sangat tinggi. Dia tidak mungkin melakukan itu didepan keluarganya, adik serta sahabatnya Arsyila. Dimana harga dirinya? Meskipun dia tahu bahwa dia salah dan mungkin saat ini mulai timbul rasa penyesalan itu dihatinya, akan tetapi tetap dia tidak mau mempertaruhkan harga dirinya. Raihan masih menimbang hal tersebut, maka ia putuskan untuk menyuruh Ayahnya duluan yang berbicara dengan Arsyila. Sedangkan dirinya, akan tetap meminta maaf tapi hanya berdua saja. Tidak disaksikan siapapun.


Raihan tidak tahu bagaimana nasibnya selanjutnya, mendengar kata Hasby dan Ardan yang ingin memenjarakannya cukup membuat Raihan sedikit takut. Meskipun ia merasa pantas mendapatkan hukuman itu, tapi.. lagi-lagi egonya seakan memberontak semua itu. Dia tidak ingin menyia-nyiakan hidupanya dengan terkurung dibalik jeruji besi itu bertahun-tahun. Walaupun dia memiliki harta dan bisa menyewa pengacara untuk membelanya, tetap saja.. Namanya sudah tidak baik lagi, orang-orang sudah menganggapnya sebagai seorang penjahat.


Sedangkan didalam, Mereka semua masih menunggu jawaban dari Arsyila. Karena Arsyila yang tidak kunjung mengeluarkan suara, Aditia kembali mengatakan sesuatu kepada menantunya itu.


"Arsyila... Setelah ini, Papa akan suruh Raihan untuk bertemu sama kamu dan meminta maaf secara langsung ke kamu. Dan Papa harap.. Hatimu yang lembut itu akan terbuka untuk memaafkan semua kesalahan Raihan.." Ucap Aditia.


"Tidak perlu, Pa. Saya gak ingin bertemu dengan dia lagi." Arsyila langsung menyahut dengan wajah yang datar. Aditia langsung berdelik bingung dengan jawaban menantunya itu.


"Kenapa Arsyila? Raihan kan masih suami kamu, mengapa kamu tidak mau lagi bertemu dengan dia?" Tanya Aditia.


"Pa.. Mungkin diatas kertas kami memang masih suami istri. Tapi, diluar itu kami ini tidak lebih seperti orang asing yang tidak saling kenal dan bahkan dia sempat menganggap saya ini sebagai musuhnya yang harus dimusnahkan. Dan.. Balik lagi ke niat dia untuk menikahi saya karena apa? Karena dendam bukan, meskipun dendam itu sudah salah sasaran. Tidak akan merubah apapun.." Jelas Arsyila dengan tersenyum tipis.


"Jadi maksud kamu, kamu akan berpisah dengan Raihan? Berarti kamu tidak mau memaafkan Raihan, nak?" Tanya Aditia dengan suara yang parau. Bagaimanapun dia masih sangat berharap Arsyila masih tetap bertahan bersama Raihan. Arsyila yang sudah ia anggap sebagai anaknya sendiri, anak dari sahabat dekatnya sejak kecil. Dia yang belum sempat memberikan kebahagian untuk menantunya itu yang malah membuat Arsyila menderita atas perbuatan dari anaknya sendiri.


"Saya rasa Om sudah tahu jawabannya apa. Yang jelas saat ini kami akan membuat laporan untuk memenjarakan Raihan setelah itu kami akan membantu proses perceraian Arsyila dengan Raihan." Kata Hasby yang kembali angkat bicara.


"Kamu tidak akan memenjarakan Raihan kan Arsyila?" Tanpa mempedulikan pernyataan dari Hasby, Aditia lalu bertanya ke Arsyila dengan wajah yang risau.


"Tentu saja Om, Raihan harus dipenjara." Maida tidak mau kalah dan ikut menimpali.


"Saya tidak bertanya dengan kalian, saya bertanya dengan menantu saya!" Ujar Aditia dengan sedikit kesal.


"Itu pertanyaan yang gak perlu di jawab lagi Om. Sudah jelas jawaban iya, benar kan kak Arsy?" Kata Ardan langsung menoleh ke Arsyila yang masih bungkam. Aditia langsung menatap erat Arsyila seolah sedang menunggu jawaban langsung dari lisan Arsyila.


"Maaf, Pa.. Mungkin.. dengan berjalannya waktu, saya bisa memaafkan dia tapi proses hukum akan tetap berlanjut begitu juga dengan perceraian.." Akhirnya Arsyila menjawab pertanyaan Aditia dengan suara yang lantang.


"Ya, benar itu. Raihan memang harus dihukum. Dia pantas menerima ganjaran atas perbuatannya itu." Kata Maida dengan tersenyum puas.


"Arsyila.. Kamu yakin ingin memenjarakan Raihan?" Aditia kembali menekan Arsyila.


"Iya, Kak Arsy kok tega sih? Kalau kak tetap penjarakan bang Raihan, sama saja kakak juga jahat karena telah menyimpan dendam dengan bang Raihan. Kalau cerai.. Cerai saja tapi jangan lapor-lapor ke polisi segala." Raina yang sejak tadi menjadi pendengar, kini akhirnya malah berani mengeluarkan suaranya yang ketus itu.


"Loh, Kok aku??" Wajah Raina langsung berubah mendengar perkataan dari Ardan.


"Sudah.. Sudah.. Kalian jangan berdebat." Kata Aditia melerai Ardan dan Raina yang masih ingin melanjutkan perdebatan mereka.


"Arsyila, Papa mohon.. Kamu pikirkan lagi ini semua baik-baik ya. Jangan terburu-buru dalam mengambil keputusan apalagi terpengaruh dengan sesuatu hal yang bukan dari hati kamu.." Kata Aditia dengan memandang sinis ke Hasby.


"Maksud Om apa? Om pikir kami yang memberi pengaruh buruk ke Arsyila, gitu?" Tanya Hasby yang merasa tersinggung atas ucapannya barusan itu. Aditia langsung menatap tajam ke Hasby yang sejak tadi selalu mengotot untuk memenjarakan anaknya.


"Saya sedang berbicara dengan menantu saya! Bukan dengan Anda. Jadi tolong, bersikap sopan lah sedikit." Kata Aditia terlihat kesal karena Hasby yang sejak tadi menimpali omongannya dengan Asryila.


"Arsyila bukan menantu Om lagi. Dia akan bercerai dengan lelaki jahat itu, lelaki brengsek itu sejak dulu memang tidak pantas menjadi suaminya Arsy." Kata Hasby yang membuat Aditia langsung melototkan matanya karena menahan emosi. Arsyila yang tadi hanya diam mendengar mereka semua saling sahut menyahut, akhirnya kembali mengeluarakan suaranya.


"Sudah.. Sudah..!! Hasby, sudah.." Arsyila langsung memberi kode ke Hasby agar lelaki itu sedikit tenang dan tidak lagi menyudutkan mertuanya. Lalu Arsyila langsung menoleh ke Aditia.


"Pa, Saya akan pertimbangkan semua ini dulu, saya akan pikirkan, Jadi saya belum bisa memberi keputusan apapun saat ini." Putus Arsyila akhirnya.


"Pertimbangkan apa lagi Arsyila? Ya Allah.. Gak ada yang perlu kamu pikirkan lagi Arsyi. Langsung penjarakan saja dia." Kata Hasby dengan kesal. Ia lalu menatap tajam kearah Aditia, dia merasa geram karena bujukan dari Aditia itu malah membuat hati Arsyila luluh dan ingin mempertimbangkannya. Bagaimana Hasby tidak merasa geram dan kesal dengan keputusan Arsyila itu?


Sedangkan diluar Raihan masih setia menunggu dan juga menguping semua pembicaraan mereka. Raihan bisa saksikan sendiri bagaimana wanita yang sudah ia sakiti itu masih mau memaafkannya dan bahkan juga mempertimbangkan untuk memenjarakan dirinya. Padahal jika Arsyila mau, dia bisa langsung saja menyeret dirinya ke dalam penjara. Sudah banyak bukti yang bisa ia gunakan saat itu untuk memenjarakan Raihan. Tapi, dia belum melakukan itu. Dia masih mempertimbangkannya.


Saat itu juga, Raihan merasakan sebuah penyesalan yang teramat dalam karena telah menyia-nyiakan wanita berhati baik dan lembut seperti Arsyila. Raihan menyesal.. Mengapa semua ini baru terungkap setelah ia membuat Arsyila sakit atas perbuatannya. Andai saja.. Rahasia ini dia ketahui sebelum itu semua terjadi.. Pastilah tidak seperti ini akhir dari pernikahannya dengan Arsyila.


Raihan masih sibuk dengan pikiran dan hatinya yang diselimuti rasa sesal yang semakin menyiksa dirinya, sampai ia tidak menyadari ada seseorang yang berjalan kearah pintu keluar. Dan detik kemudian, seseorang itu langsung membuka lebar pintu tersebut. Raihan yang masih berdiri didepan pintu, langsung terkejut saat seraut wajah penuh kemarahan langsung tertangkap oleh matanya. Mata Mereka beradu pandang sekian detik hingga akhirnya.. Sebuah pukulan kuat langsung mendarat ke wajah Raihan. Bukan hanya sekali, namun berkali-kali...


.


.


.


.


BERSAMBUNG.


SIAPAKAH YG MEMUKUL RAIHAN? YUK BERI JAWABANNYA DIKOLOM KOMENTAR. JANGAN LUPA LIKENYA JUGA YA, TERIMAKASIH..


😊😊


.