
"Pergi dari sini, Sindy. Jangan membuat aku muak" Kata Raihan dengan marah namun Sindy sama sekali tidak beranjak dari sana sehingga membuat Raihan geram dan menarik tangannya untuk keluar dari sana. Setelah itu, Raihan menutup dan mengunci pintunya.
Saat diluar, Sindy langsung mengumpat-umpat tak jelas. Wanita itu sudah merasa sangat sakit hati karena tiba-tiba ia diputusin oleh Raihan.
Beberapa saat kemudian, Sindy yang masih berdiri mematung didepan ruang kerja Raihan, langsung saja mengeluarkan handphone dari tasnya. Sindy tampak sedang mencari nomor seseorang, setelah ketemu nomor yang ia cari itu lalu ia pun langsung memencet tombol memanggil pada layar handphonenya.
"Halo, Aku butuh bantuan kamu sekarang..." Kata Sindy dengan sorot penuh kebencian.
"Bantuan apa??" Tanya seseorang disebarang sana.
"Akan aku ceritakan nanti saat kita bertemu." Kata Sindy.
"Oke. Ketemuan dimana?" Lelaki itu bertanya lagi.
"Ditempat biasanya jam 7 malam." Kata Sindy. Si lelaki mengiyakan dan setelah itu Sindy
mengakhiri panggilannya.
***
Sedangkan dirumah Arsyila, saat itu ada Maida dan juga Hasbi. Mereka datang untuk menyuruh Arsyila agar segera membuat laporan kekantor polisi untuk memenjarakan Raihan. Apalagi Hasbi yang tidak sabar melihat Raihan mendekam didalam penjara seperti dirinya yang sempat dipenjara satu malam gara-gara laporan dari lelaki itu.
"Hasby, Maida dan juga Ardan. Maaf.. Beribu-ribu kali maaf aku sampaikan ke kalian semua, bahwa aku.. Tidak akan membuat laporan untuk memenjarakan Raihan. Tidak akan." Kata Arsyila dengan suara yang tegas.
"Tapi, kenapa Arsyila?? Apa alasannya. Emang kamu gak mau membalas semua perbuatan Raihan terhadap kamu dan juga Ayah kamu?" Kata Hasby terdengar agak kesal.
"Hasby, jika aku membalas dendam. Jadi apa bedanya aku sama Raihan yang hidup dengan diselimuti rasa dendam. Tidak, aku tidak akan merusak hati aku dengan menyimpan rasa dendam." Kata Arsyila.
"Kak.. Anggap saja ini sebagai pelajaran dan juga hukuman untuk dia karena sudah bersikap semena-mena dengan keluarga kita. Kak penjarankan sajalah dia. Jangan ditolerir lagi." Ardan menimpali.
"Tidak Ardan, cukup Allah saja lah yang akan membalasnya. Kak gak ingin mengotori hati kak ini dengan dendam. Lagi pula Raihan sudah meminta maaf dan menyesali perbuatannya." Jelas Arsyila.
"Ya gak bisa kayak gitu juga donk Arsyila. Aku gak setuju dengan keputusan kamu ini, kamu itu harus tegas. Kalau kamu biarkan seperti ini akan membuat dia semakin besar kepala." Kata Hasby dengan suara yang lantang.
"Sudahlah, keputusan aku sudah bulat. Gak bisa diubah-ubah lagi. Raihan tidak akan aku laporkan, tapi aku akan tetap mengugat cerai Raihan." Tutur Arsyila dengan keyakinan yang tinggi.
"Jujur aku kecewa dengan keputusan kamu ini, Arsy. Tapi, ya sudahlah mau gimana lagi jika itu sudah menjadi keputusan kamu." Kata Hasby akhirnya.
"Jadi kapan kamu akan buat gugatan cerai kamu dari Raihan?" Tanya Hasby.
"Mungkin besok." Sahut Arsyila.
"Baguslah, lebih cepat lebih baik kamu pisah dari suami tak berguna macam dia itu." Kata Hasby dengan geram. Arsyila hanya diam. Arsyila tidak menceritakan kepada adik dan juga sahabatnya tentang Raihan yang tidak ingin bercerai darinya. Jika ia ceritakan, pasti akan membuat mereka semua semakin emosi dan marah terhadap Raihan.
***
Ditempat lain, Raihan yang lagi dalam perjalanan menuju rumahnya, terlihat murung dan tidak bergairah. ia mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi di jalanan yang sepi. Pikirannya melayang entah kemana. Sampai ia tidak sadar ada seseorang yang menyebrangi jalan tersebut dengan mendorong sebuah gerobak. Raihan yang kaget melihat orang itu melintas langsung saja membanting setirnya kekanan dan setelah itu ia menginjak rem mendadak sehingga menabrak sebuah pohon besar.
Kepala Raihan terantuk kuat pada setir mobil nya, dan membuat darah segar mengalir dari pelipisnya. Raihan tidak sadarkan diri. Beberapa saat kemudian, Orang-orang ramai berdatangan dan menolong Raihan. Mereka langsung membawa Raihan kerumah sakit.
Mendengar itu semua, Aditia dan Raina langsung saja bergegas kerumah sakit. Terlihat gurat kerisauan dari wajah mereka masing-masing.
Sesampainya dirumah sakit, Raihan masih berada di ruang IGD. Ia mengalami cedera ringan pada bagian kepalanya. Tapi, ia sudah sadar.
"Raihan, bagaimana ceritanya kamu bisa kecelakaan begini??" Tanya Aditia dengan wajah yang risau.
Raihan tersenyum tipis melihat Ayah dan adiknya datang dengan wajah yang risau.
"Tidak apa-apa Yah, cuman luka ringan." Katanya seraya memang dahinya yang sudah diperban.
"Luka ringan gimana, itu kepala kamu sampai diperban seperti itu." Kata Aditia.
"Pasti Bang Raihan bawa mobilnya ngebut-ngebut nih, makanya nabrak." Kata Raina menyimpulkan.
"Memang iya, Tapi.. Gak apa, abang pantas kok mendapatkan ini bahkan lebih dari ini juga pantas." Kata Raihan.
"Maksud kamu apa Raihan?" Aditia bertanya bingung.
"Ya, anggap saja dengan kecelakaan aku ini sebagai hukuman bagi aku karena sudah menyakiti Arsyila, Pa." Kata Raihan dengan wajah sedih.
"Meskipun Arsyila sudah memaafkan aku, tapi.. Luka dihatinya tidak semudah itu hilang Pa." Kata Raihan.
"Dan, Arsyila akan menggugat cerai aku. Aku tidak mau berpisah dengan dia, Pa. Aku masih ingin pertahankan pernikahan kami." Kata Raihan.
"Kenapa Bang Raihan gak mau bercerai dari Kak Arsyila? Emangnya bang Raihan cinta sama dia?" Tanya Raina ikut menimpali. Ditanya seperti itu, membuat Raihan mengalihkan pandangannya sebentar ke adiknya itu namun tidak memberi jawaban apapun. Raihan juga bingung dengan dirinya sendiri, dia belum bisa memberi jawaban apa - apa. Yang jelas saat ini dia tidak ingin berpisah dari Arsyila.
"Raihan, sekarang giliran kamu berjuang untuk mempertahankan rumah tangga kamu dengan Arsyila. Jika kamu tidak menginginkan perceraian ini, sebaiknya kamu bujuklah Arsyila. Agar ia berubah pikiran dan tidak jadi menggugat cerai kamu" Kata Aditia memberi saran.
"Iya, Pa. Aku akan berjuang untuk itu. Papa doakan saja agar Arsyila mau menerima aku lagi." Imbuh Raihan.
"Tapi, bagaimana jika kak Arsyila tetap tidak mau menerima bang Raihan. Ditambah lagi adanya hasutan dari adik dan sahabat-sahabatnya itu yang pasti mereka tidak mau semudah itu memaafkan Bang Raihan, malahan mereka ingin memenjarakan abang.." Kata Raina berpendapat.
Raihan berpikir sejenak, perkataan Raina itu ada benarnya juga. Mungkin dirinya bisa membujuk Arsyila untuk kembali bersamanya, tapi tidak dengan orang-orang yang ada di sekeliling Arsyila yang sudah teramat membenci dirinya. Meskipun demikian, Raihan tidak akan menyerah. Yang penting sekarang dia harus mencari cara bagaimana hati Arsyila luluh dan mau menerimanya lagi.
.
.
.
.
BERSAMBUNG
..