
Setelah sampai diluar bandara, Arsyila bermaksud mencari taksi. Namun, matanya seakan berbinar saat melihat diseberang sana ada Ardan yang sedang berdiri mematung dengan pandangan menoleh kekiri dan kekanan. Arsyila yakin dia tidak salah lihat, itu adiknya Ardan yang sedang menunggunya. Dengan hati girang, Arsyila bergegas menuju ke seberang jalan sana dengan sebelumnya ia mengeluarkan suara untuk memanggil adiknya itu.
"Ardan..." Panggil Arsyila setengah berteriak. Ardan menoleh ke sumber suara dan melihat kakaknya dengan ekspresi bahagia yang tidak terkira.
Namun, Naas.. Baru saja Arsyila hendak menyebrang, sebuah mobil berhenti tepat didepannya. Dua orang lelaki bertubuh kekar keluar dari mobil, dan dengan gerakan cepat mereka langsung saja menyeret Arsyila masuk kedalam mobil tersebut. Detik kemudian, mobil itupun langsung berlalu dari sana.
"Kak.. Kak Arsyi.." Jerit Ardan yang menyaksikan langsung bagaimana Kakaknya diseret 2 orang laki-laki berbadan besar untuk masuk kedalam mobil kijang berwarna biru itu. Ardan yang masih diseberang jalan, tidak bisa berbuat banyak selain berteriak lalu berusaha berlari mengejar mobil yang sudah bergerak jauh itu.
Ardan berhenti dengan nafas ngos-ngosan, karena percuma saja dirinya terus berlari mengejar, sedangkan mobil itu sudah sangat jauh meninggalkannya.
Sesaat kemudian, sebuah mobil berhenti disamping Ardan yang masih mengatur helaan nafasnya. Lelaki tampan yang ada didalam mobil tersebut langsung turun dan menghampiri Ardan.
"Ardan, kamu ngapain disini? Dan.. Mana Arsyila? Kamu bilang mau jemput dia di bandara." Kata si lelaki yang ternyata adalah Hasbi. Melihat Hasbi yang datang, membuat Ardan memiliki harapan untuk kembali mengejar penjahat yang telah membawa kakaknya tadi.
"Kak Arsyi diculik, bang. Ayok cepat kita kejar. Sebelum mereka jauh, aku ingat mobilnya yang mana." Kata Ardan langsung menarik tangan Hasbi untuk masuk kedalam mobilnya. Hasbi yang masih tercengang tetap mengikuti Ardan masuk kedalam mobil.
"Diculik bagaimana, Ardan? Siapa yang culik?" Tanya Hasbi saat mereka sudah berada didalam mobil. Hasbi membawa mobilnya melaju dengan kencang dijalanan yang tidak begitu ramai.
"Gak tau bang, tadi tiba-tiba aja ada mobil berhenti didepan kak Arsyi. Terus 2 orang turun lalu menyeret kak Arsyi masuk kedalam mobil itu." Ucap Ardan menjelaskan kronologi kejadian yang ia lihat tadi dengan nafas yang masih naik turun.
"Brengsek...!! Pasti itu orang suruhannya Raihan" Umpat Hasbi dengan marah.
"Aduuh.. Mobilnya belok kemana ya bang?" Tanya Ardan bingung ketika mereka sampai dipersimpangan jalan. Hasbi memberhentikan mobilnya kepinggir jalan.
"Sepertinya kita gak bisa lagi mengejar mobil itu, Dan. Karena kita gak tau kan mereka belok kemana?" Kata Hasbi dengan kesal.
"Jadi, kita harus bagaimana donk, bang? Kasihan kak Arsyi. Entah dibawa kemana lagi dia dengan orang jahat itu. Apa kita lapor ke polisi saja, bang?" Tanya Ardan dengan memberi saran. Hasbi tampak berpikir sejenak, sampai akhirnya ia memutuskan untuk kekantor polisi.
"Ya sudah, kita kekantor polisi aja dulu membuat laporan penculikan." Putus Hasbi akhirnya dan kemudian memutar balik mobilnya menuju kekantor polisi terdekat.
************************************************
Beberapa jam kemudian...
Sebuah percikan air membasahi wajahnya sehingga membangunkan Arsyila dari pingsannya.
Arsyila membuka matanya perlahan - lahan. Dan ketika matanya terbuka, ia mendapati dirinya sudah berada didalam sebuah bangunan tua dengan tangan dan kaki diikat menggunakan tali.
Arsyila langsung terduduk dengan kepala yang masih terasa sakit. Karena seingat Arsyila ia sempat memberontak didalam mobil dan ingin keluar dari sana, namun salah satu dari orang yang memasukkan dirinya didalam mobil itu malah mendorong Arsyila dengan kuat sehingga kepalanya sempat terantuk dan setelah itu iapun pingsan.
Lalu kini Arsyila mengalihkan pandangannya ke Orang yang telah memercikan air ke wajah nya tadi. Lelaki bertubuh kekar itu berdiri dengan senyuman sinis tergambar di bibirnya. Arsyila berdelik dan sama sekali tidak mengenali siapa manusia jahat yang telah menculiknya ini.
"Siapa kamu? Dan.. Dimana saya??" Tanya Arsyila. Si lelaki itu tidak langsung menjawab pertanyaan Arsyila, ia semakin melebarkan senyum sinisnya yang membuat Arsyila langsung membuang muka.
Beberapa menit kemudian, dari luar pintu terdengar suara beberapa langkah kaki menuju kedalam. Dan.. Dari balik pintu muncullah 3 orang laki-laki yang salah satunya adalah... Raihan.
Arsyila tercengang melihat Raihan kini ada dihadapannya. Raihan langsung mendekati Arsyila, dengan berjongkok ia lalu menarik ujung kerudung Arsyila sehingga kepala perempuan itu langsung menengadah keatas.
"Kau lebih mengikuti kata lelaki bodoh itu dari pada aku, suami kamu.." Sambungnya lagi dengan semakin menarik ujung kerudung Arsyila sehingga wanita itu sedikit merintih kesakitan.
"Bagaimana aku gak kabur dari kamu, sedangkan kamu berniat akan menjual aku dengan lelaki hidung belang." Kata Arsyila mencoba membela diri.
Raihan lalu melepas pegangan tangannya pada kerudung Arsyila dengan keras lalu tertawa dengan kencangnya.
"Bodoh kalau kau percaya dengan kata-kata si pengkhianat itu." Kata Raihan.
"Mana mungkin aku mau menjual kamu, Arsyila. Aku gak sekejam itu, hahahah... Aku hanya menggertak kamu, begitupun.. Saat aku menyuruh Randi melecehkan kamu, itu hanya sebuah gertakan dan juga jebakan. Randi tidak jadi melecehkan kamu, bukan berarti dia kasihan sama kamu. Tidak Arsyila, itu semua atas perintah aku. Randi itu bejat, haus akan wanita, jadi mana tahan dia sebenarnya jika berada dalam satu ruangan bersama wanita tanpa menyentuh wanita tersebut." Jelas Raihan.
Arsyila menggeleng-gelengkan kepalanya, seakan tidak percaya dengan apa yang Raihan katakan itu. Palingan itu cuman akal bulusnya saja, pikir Arsyila didalam hatinya.
"Jadi kalau kau mau berterimakasih seharusnya berterimakasih lah sama aku, bukan lelaki pengkhianat itu" Lanjut Raihan lagi dengan melototkan matanya.
"Tidak ada alasan bagi aku harus berterimakasih dengan kamu, Raihan. Buktinya.. Sekarang kamu malah menculik dan menyekap aku seperti ini. Mau kamu sebenarnya apa sih? Kenapa kamu begitu kejam??" Tanya Arsyila. Kali ini.. Arsyila memanggil Raihan langsung dengan sebutan namanya saja, itu sebagai tanda hatinya yang sudah sangat terluka karenanya.
"Aku kejam?? Iya, mungkin aku memang kejam, Arsyila. Tapi, aku tidak akan kejam seperti ini jika Ayah kau tidak memulainya Arsyila." Sahutnya dengan pandangan yang tajam.
"Raihan, Ayah aku sudah meninggal. Kamu jangan bawa-bawa nama Ayah aku lagi." Protes Arsyila yang merasa tidak senang karena nama Ayahnya dibawa-bawa
"Maka dari itu karena dia yang sudah meninggal, Jadi, kamu lah.. Ya.. Kamu.. Arsyila... yang harus menerima ganjaran atas perbuatan Ayah kamu itu." Tekan Raihan.
"Apa yang telah diperbuat Ayah aku emangnya? Sehingga membuat kamu begitu membencinya?" Tanya Arsyila dengan penasaran.
"Kamu benar-benar ingin tahu kenapa??" Tanya Raihan. Arsyila menganggukkan kepalanya dengan cepat. Dari kemarin-kemarin lagi dia ingin tahu semuanya, dendam apa yang marasuki suaminya itu sehingga membuat dia menjadi lelaki yang kejam.
"Oke, memang sudah saatnya kamu harus tau. Aku akan menceritakannya. Cerita bagaimana jahatnya Ayah kau itu terhadap ibu aku." Kata Raihan dengan tatapan dipenuhi dengan rasa benci yang teramat dalam. Arsyila bersiap-siap mendengar cerita dark Raihan.
Akhirnya Raihan memulai bercerita, tentang semuanya. Sebuah teka-teki yang belum terjawab, dan Arsyila yakin jawaban sebenarnya ada dibuku catatan Raihan yang belum selesai ia baca. Tapi, kini Arsyila rasa ia tidak perlu lagi repot-repot mencari tahu dari dalam buku itu. Ia akan mendengarnya langsung dari mulutnya Raihan.
.
.
.
.
Bersambung...
PENASARAN DENGAN CERITANYA RAIHAN KAN?? TETAP SETIA MENUNGGU KELANJUTANNYA YA...
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMENT, TERIMAKASIH...
❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤