
Matahari seakan enggan menampakkan sinarnya dipagi hari yang terlihat mendung itu. Dan sejurus kemudian hujan rintik-rintik pun mulai membasahi bumi yang membuat suasana di pagi itu semakin sejuk dirasakan.
Semalaman Arsyila tidak bisa tidur, baru saja ia akan memejamkan mata, bayangan Ayahnya kembali seakan menari-nari di pelupuk matanya. Arsyila kembali sadar, begitulah seterusnya hingga pagi hari menyapanya.
Diluar masih gerimis, namun orang-orang tetap berdatangan kerumah Asryila. Ardan yang sudah mandi dan berganti pakaian, kini terlihat sibuk mempersiapkan segala hal untuk proses pemakaman Ayahnya. Sedangkan Arsyila, yang dikamar sedari tadi seakan diam mematung didepan cermin besar disudut kamarnya dengan tatapan kosong.
Tot.. Tok.. Tok..
Pintu kamar Arsyila terdengar ada yang mengetuk dari luar, Arsyila terperanjat kaget lalu bergegas untuk membukakan pintu kamarnya.
"Arsy, kamu sudah siap?" Tanya Maida. Arsyila hanya mengangguk.
Maida melihat sahabatnya itu dengan rasa iba, mata Arsyila yang sembab dan wajahnya yang agak pucat. Maidapun yakin pasti Arsyila menangis semalaman dan juga tidak tidur pastinya.
"Yuk kita keluar Arsy.. Diluar ada teman-teman pengajian kita yang datang melayat. Mereka ingin ketemu kamu dan mengucapkan rasa duka mereka langsung ke kamu" Ujar Maida yang kemudian memegang tangan Arsyila dan membawanya keluar dari kamar.
Benar saja, setelah Arsyila keluar kamar, ia melihat teman kajiannya datang semua untuk bertakziah. Mereka secara bergantian menyalami dan merangkul Arsyila serta mengucapkan kata-kata duka dan juga mengucapkan kalimat penyemangat untuk Arsyila.
"Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi raji'un. Kami semua Turut berduka cita yang sedalam-dalamnya atas meninggalnya Ayah kamu, Arsyi. Semoga Almarhum diampuni segala dosa dan kesalahannya serta diterima segala amal ibadahnya oleh Allah SWT. Dan semoga Kamu juga adik kamu diberikan ketabahan dan kekuatan iman lahir dan bathin dalan menerima kenyataan ini.." Kata Aisyah mewakili teman-temannya yang lain dalam memberikan ucapan belasungkawa.
"Aamiin.. Allahumma Aaminn.. Terimakasih sudah datang ya Aisyah dan teman-teman yang lain.." Kata Arsyila dengan tersenyum tipis.
Setelah itu, beberapa saat kemudian.. Meskipun masih gerimis, Mereka tetap menguburkan Ayah Arsyila pagi itu juga. Ada Banyak tetangga, saudara serta teman pengajian Arsyila yang mengantarkan Ayah Arsyila ketempat peristirahatan terakhirnya. Termasuk juga Umi Lika yang tampak hadir dipemakaman Ayah Arsyila. Meskipun mertuanya itu berdiri diseberang sana, jauh dari Arsyila.
Namun, Asryila tidak melihat Raihan dan Raina datang bersama mertuanya. Padahal Umi Lika bilang tadi malam bahwa Raihan akan datang saat pemakaman Ayahnya. Tapi, dimana dia? Kenapa tidak muncul?? Meskipun Raihan sudah jahat terhadap dirinya, entah kenapa Arsyila mengharapkan Kehadiran Raihan saat ini.
Tadi Arsyila juga sempat mendengar desas desus suara para tetangganya yang ikut mengantarkan jenazah Ayahnya, mereka saling bertanya akan keberadaan Suami Arsyila. Arsyila memaklumi timbul pertanyaan itu dari para tetangganya, karena dari tadi malam sampai pagi ini mereka melihat Arsyila sendiri tanpa suami yang menemaninya disisinya.
Setelah selesai pemakaman, Arsyila yang masih jongkok disamping kuburan Ayahnya, tiba-tiba saja dihampiri oleh keluarga dari pihak ibunya yang datang dari luar kota. Tanpa basa-basi, seorang wanita berkaca mata hitam itu langsung bertanya ke Arsyila. Bertanya tentang suaminya.
"Suami kamu mana, Arsy?" Tanya Rika, Tante Arsyila, adik dari almarhumah ibunya, Yang tinggal beda kota dengan Arsyila.
"Ee.. Bang Raihan, kebetulan dia ada dinas diluar kota tante.." Jawab Arsyila. Terpaksa dia berbohong untuk menutupi aib dalam rumah tangganya. Arsyila tidak ingin saja keluarga besarnya mengetahui permasalahan dalam rumah tangganya.
"Oo.. Tapi, sekarang dia sudah dijalan pulang kan?" Tanya Rika lagi seakan tidak puas dengan jawaban dari Arsyila.
"Ya.. Gak mungkin kan suami kamu itu gak pulang. Ayah mertuanya kan baru saja meninggal. Masak lebih mementingkan pekerjaannya dari pada kamu.." Sindir Tantenya itu. Arsyila hanya diam. Tidak berniat untuk menanggapi omongan dari tantenya itu.
"Dan.. Mertua kamu gak ada juga?" Tante Rika masih menginterogasi Arsyila.
"Tadi ada.. Mungkin sekarang sudah pulang Tante.." Jawab Arsyila seadanya.
"Rumah tangga kamu baik-baik aja kan, Arsy? Kamu gak lagi berantem kan sama suami kamu??" Tanya tante Rika yang tiba-tiba saja menyinggung masalah rumah tangganya dengan Raihan. Ditanya seperti itu, lantas membuat Arsyila langsung menoleh ke tantenya itu.
"Maksud tante bertanya seperti itu apa??" Tanya Arsyila merasa tidak senang. Karena menurutnya tidak tepat bertanya masalah rumah tangganya disaat ia tengah berduka seperti ini. Bukannya menghibur dirinya malahan bertanya hal yang sama sekali tidak ingin dia jawab. Cukup sekali tadi saja Arsyila melakukan kebohongan. Dia tidak ingin menambah kebohongan baru lagi dengan mengatakan bahwa rumah tangganya baik-baik saja, padahal malah sebaliknya.
"Ya.. Gak ada maksud apa-apa, tante ingin tahu aja.." Katanya yang setelah itu pergi menjauh dari Arsyila.
Setelah itu, satu persatu orangpun pergi meninggalkan pemakaman. Yang tinggal hanya Arsyila berdua dengan Ardan. Agak lama juga mereka disana, memandangi kuburan Ayah mereka dengan diam membisu, sampai akhirnya Ardan mengajak Arsyila untuk pulang.
Sesampainya dirumah, Arsyila langsung masuk kamar. Rasa kantuk tiba-tiba menguasai dirinya ditambah juga kepalanya yang mulai terasa nyut-nyutan. Arsyila berniat untuk mengistirahatkan sejenak matanya dengan tidur. Dan detik kemudian ia pun menghempaskan badannya ke atas tempat tidurnya.
Baru saja setengah jam Arsyila tidur, tiba-tiba saja Ia terbangun karena mendengar suara teriakan Maida dari luar rumahnya.
Maida masuk kerumah Arsyila dengan berlari tergopoh-gopoh dan juga berteriak memanggil nama Arsyila. Spontan saja Arsyila dan Ardan keluar kamar berbarengan menuju ke sumber suara.
"Arsy... Itu.. Si Hasbi.. Hasbi.." Dengan nafas ngos-ngosan Maida mengeluarkan suara yang terbata-bata.
"Kenapa dengan Hasbi??" Tanya Arsyila seakan tidak sabaran dengan kalimat lanjutan dari Maida.
"Si Hasbi.. dia barusan... Dibawa kekantor polisi, katanya ia dilaporkan atas tindakan pemukulan terhadap Raihan, Arsy.." Jelas Maida.
"Apaa??" Teriak Arsyila seakan tidak percaya. Inilah yang Arsyila takutkan sebenarnya, pasti Raihan tidak diam begitu saja atas pukulan yang dilakukan Hasbi kepada Raihan, dan terbukti sekarang Hasbi dibawa kekantor polisi atas aduan Raihan.
Bersamaan dengan itu pula, hp Arsyila berdering. Arsyila langsung mengambil hp yang ada di dalam sakunya itu dan betapa terkejutnya dia setelah mengetahui siapa yang menelpon.
"Halo Arsyila... Oya, aku mau mengucapkan 2 kata selamat untuk kamu. Yang pertama selamat atas meninggalnya Ayah kamu... dan kedua.. Selamat juga atas dipenjaranya sahabat kamu itu, hahahahaha..." Terdengar tawa keras Raihan diujung telpon sana.
Arsyila menarik nafas panjang. Disaat semua orang mengucapkan belasungkawa atas meninggalnya Ayahnya, Namun.. suaminya itu malah mengucapkan kata selamat.. Memang luar biasa, luar biasa biadabnya Raihan itu....
.
.
.
.
BERSAMBUNG..