Bertahan Dalam Pernikahan

Bertahan Dalam Pernikahan
TELPONAN DENGAN ARDAN


Akhirnya Arsyila menandatangani surat perjanjian aneh yang dibuat Raihan untuk dirinya. Dan seketika itu juga Arsyila langsung menagih janji Raihan untuk mengeluarkan Hasbi dari penjara. Raihan langsung menelpon seseorang dan memerintahkan kepada orang tersebut untuk mengeluarkan Hasbi. Setelah itu, Arsyila bisa bernapas dengan lega sekarang, meskipun dia belum bisa sepenuhnya lepas dari Raihan setidaknya orang-orang disekitarnya tidak lagi berurusan dengan Raihan yang licik itu.


"Lelaki itu sudah dilepaskan." Kata Raihan dengan tersenyum getir.


"Oke. Kalau gitu, saya pergi dulu." Ucap Arsyila lalu beranjak dari sana. Namun, langkahnya terhenti saat suara Raihan kembali memanggilnya dengan kuat.


"Tunggu, Arsyila!!" Kata Raihan yang mencegah Arsyila untuk pergi.


Arsyila yang sudah membelakangi Raihan langsung menoleh.


"Iya, kenapa lagi bang?" Tanya Arsyila.


"Kamu mau kemana??"


"Pulang kerumah" Jawab Arsyila dengan Lirih.


Tampak Raihan langsung menyunggingkan senyum kecutnya itu. Sebuah Senyum meremehkan yang selalu ia berikan ke Arsyila.


"Kamu belum baca sampai selesai ya? Makanya kamu tidak tau mulai kapan isi surat itu berlakunya." Kata Raihan mengingatkan Arsyila.


Kemudian Raihan kembali merentangkan kertas panjang itu kemudian menunjukkan sebuah tanggal yang ada tertera dibagian bawah surat tersebut.


"Surat ini berlaku mulai hari ini. Jadi, mulai detik ini, kamu dibawah kekuasaan Aku. Hidup Kamu.. Aku yang atur!!" Tegas Raihan setelah itu tertawa dengan kencang.


Arsyila terdiam dengan pandangan yang tidak lepas dari Raihan. Dalam hati ia menyesali dirinya yang tidak begitu teliti membaca surat perjanjian itu. Ia malah tidak terpikir bahwa ada tanggal mulai berlakunya. Arsyila menelan salivanya dan kemudian memasang wajah mengiba.


"Bang Raihan.. Keluarga kami lagi berduka. Baru saja Ayah saya dikuburkan tadi pagi, berilah saya kesempatan dulu untuk berkumpul dengan adik dan juga sanak saudara saya yang datang dari kampung.." Kata Arsyila meminta izin.


"Tidak bisa. Kamu tidak boleh kembali lagi kerumah kamu." Kata Raihan yang sama sekali tidak memberi izin kepada Arsyila.


"Sekarang.. Kamu masuk kamar. Dan tunggu disana sampai aku suruh kamu keluar baru kamu keluar dari kamar." Perintah Raihan.


"Tapi, saya harus pulang dulu..."


"Arsyila.. Aku suruh kamu masuk kamar sekarang! Kamu jangan membantah perintah aku." Bentak Raihan dengan melototkan matanya.


Arsyila mengelus dadanya mendengar bentakan dari Raihan itu. Ia berusaha menguatkan dirinya. Ia harus sabar dengan perlakuan suaminya itu.


"Baiklah." Jawab Asryila akhirnya dan kemudian berjalan menuju kamarnya.


Setelah ia berada didalam kamar, Arsyila langsung mencari Handphonenya yang kemarin sempat disita oleh Raihan. Arsyila mencari diseluruh sudut ruangan dikamar tapi tidak ketemu juga apa yang ia cari. Kemudian, karena lelah mencari akhirnya Arsyila terduduk lemas di sofa.


"Aku harus menghubungi Ardan. Tapi, bagaimana caranya??" Arsyila bertanya pada dirinya sendiri.


Beberapa saat kemudian, Arsyila mendengar suara Bik Ani dari luar kamarnya. Arsyila langsung bergegas keluar. Dengan perlahan ia membuka pintu kamarnya dan mendapati Bik Ani yang sedang bersih-bersih disana.


"Bik..Bik Ani.." Arsyila memanggil Bik Ani dengan suara yang pelan karena takut didengar oleh Raihan yang masih ada dibalkon lantai 2.


Bik Ani menoleh ke Arsyila. Ia melihat Arsyila menempelkan jarinya ke mulutnya sebagai tanda bahwa dia harus diam. Lalu Arsyila memanggil Bik Ani dengan melambaikan tangannya, Bik Ani yang paham akan situasi tersebut langsung menuju ketempat Arsyila.


"Iya, Non.. Non Arsyila kapan datang?" Tanya Bik Ani merasa heran.


"Ssttt... Pelankan suaranya Bik.." Kata Arsyila sambil sekali-sekali ia melirik ke Raihan yang sedang menelpon seseorang disana.


"Ya Non, Maaf.."


"Bik.. Bik Ani.. Saya boleh mintak tolong?" Tanya Arsyila.


"Tolong apa Non? Bik usahain kalau bisa.." Jawabnya.


"Saya boleh pinjam handphone bibik gak? Saya mau nelpon adik saya bik, Handphone saya disita bang Raihan. Tolong ya bik.. Tapi, diam-diam saja jangan sampai bang Raihan tahu.." Kata Arsyila dengan memohon kepada Bik Ani.


Bik Ani terlihat agak ragu-ragu. Namun, nalurinya tidak bisa dibohongi bahwa ia kasihan dengan Arsyila yang selalu diperlakukan tidak baik oleh Raihan. Sebagai pembantu di rumah ini, Bik Ani tidak banyak ikut campur perihal hubungan tidak sehat antara majikannya itu dengan istrinya. Bik Ani hanya sebagai saksi bisu dalam permasalahan mereka. Sedangkan Ibu tiri Raihan saja tidak berani ikut campur. Apalagi dirinya yang hanya sebagai seorang pembantu dirumah ini.


"I-iya Non, bisa" Jawabnya dan kemudian mengeluarkan hp dari sakunya.


"Ini Non." Bik Ani lalu menyodorkan benda pipih tersebut.


"Bik, saya bawa kedalam ya. Nantik kalo sudah selesai saya panggil bik Ani lagi" Kata Arsyila. Bik Ani hanya mengangguk.


Setelah itu, Arsyila menutup pintu kamarnya dan kemudian menuju ke sofa. Ia mencoba mengingat-ingat nomor Ardan. Untung saja ingatan Arsyila cukup baik sehingga ia dapat mengetik nomor yang benar cuman dengan sekali ketikan saja.


[Halo, Assalamualaikum..]


Tidak butuh waktu yang lama, Akhirnya Ardan mengangkat telepon dari Arsyila.


[Walaikumusalam, Ardan..Ini kakak..]


[Kak Arsy?? Kakak kemana aja? Dari tadi Ardan cariin. Orang-orang juga pada cariin kakak nih. Kak kenapa pergi gak ngasih tau Ardan? Apa benar kak Arsy kerumah bang Raihan?]


Arsyila langsung diserbu pertanyaan yang bertubi-tubi dari adiknya.


[Maafkan kakak Dan, Kak gak ngasih tau kamu. Sekarang kakak ada dirumah Bang Raihan.]


[Ngapain kak Arsy disana? Kak.. Ardan sudah tau semuanya dari Kak Maida kalau selama menikah kak Arsy selalu di sakiti dengan laki-laki itu kan? Pantasan Ayah sebelum meninggal nyuruh kakak tinggalin dia. Gak habis pikir Ardan kak, dari luar ia kelihatan baik tapi ternyata dia kejam..]


Arsyila mendengar nada geram dan marah dari suaranya Ardan.


[Iya.. Ardan, kamu tenang dulu ya. Jangan emosi.]


[Ya jelaslah Ardan emosi kak. Dia sudah jahat sama keluarga kita. Ayah meninggal aja dia gak ada datangkan. Ardan jadi curiga apa mungkin dia yang menyebabkan Ayah tiba-tiba jadi jantungan. Karena kemarin Ayah mendadak jatuh pingsan setelah telponan dengan dia]


Arsyila terdiam sejenak. Perkataan Ardan barusan ada benarnya juga. Apa benar Ayahnya tiba-tiba jantungan karena perkataan Raihan? Emangnya apa yang dikatakan Raihan?


[Kak Arsy, Ardan jemput kakak sekarang ya. Ardan gak mau melihat kakak terus-terusan disakiti oleh dia. Lebih baik kak cerai aja dengan dia. Gak ada gunanya bertahan dengan suami seperti itu kak]


[Ngak Ardan.. Kamu jangan ke sini...]


Arsyila langsung melarang Ardan untuk menjemputnya.


[Ardan, kak mohon. Kamu dengarkan kakak ya. Kak gak bisa lama-lama telponan sama kamu. Kak takut nantik ketahuan bang Raihan. Ini aja kak pinjam hp Bik Ani dan diam-diam telponan dikamar.]


[Yang jelas, kamu gak usah risaukan kakak. Dan.. kamu juga jangan nekat kesini. Ini demi kebaikan kamu Ardan. Raihan itu kejam, licik, dia bisa melakukan apa saja yang ia mau dan kakak gak mau kamu jadi sasaran dia nantiknya.]


[Ya gak bisa gitu kak, Ardan gak mungkin diam saja melihat kak Arsy bersama lelaki kejam itu kak. Kak pasti dikurung lagi kan? Hp kak aja disitanya, gimana Ardan bisa tenang disini kak.]


[Kak bisa jaga diri kak Ardan. Lagi pula.. Kak punya rencana untuk lepas dari jerat Raihan itu. Tapi, kak harus ikut permainan dia dulu. Kak harus menyelidikinya dulu..Oke]


[Tapi, kak...]


Tiba-tiba saja terdengar suara langkah kaki dari luar dan detik kemudian pintu kamarpun terbuka. Arsyila dengan cepat langsung mematikan handphonenya dan menyembunyikannya didalam bajunya.


Raihan menatap Arsyila dengan curiga.


"Kamu barusan bicara dengan siapa???" Tanya Raihan dengan menyipitkan matanya. Wajah Arsyila langsung berubah pucat. Ia benar-benar merasa takut jika ketahuan sedang telponan dengan Ardan.


.


.


.


Bersambung...