
Cukup lama juga Azizah berada dirumah Arsyila, Kemudian iapun pamit pulang karena hari sudah sore. Setelah kepergian Azizah, Arsyila kembali beristirahat dikamarnya. Namun, baru saja ia membaringkan badannya, tiba-tiba terdengar suara ketukan dari pintu luar. Arsyila lalu bergegas menuju kepintu.
Saat ia membuka pintu, seorang lelaki sudah berdiri mematung disana. Dan Mata Arsyila pun langsung menangkap seraut wajah penuh penyesalan dari seseorang tersebut.
Hening. Belum ada sepatah katapun yang keluar dari mulut kedua insan tersebut. Lama kedua mata mereka saling beradu pandang. Namun, Tatapan dari keduanya sangat terlihat kontras berbeda. Arsyila menatap Raihan dengan pandangan takut dan harap-harap cemas sedangkan Raihan menatap Arsyila dengan pandangan teduh dan juga penuh penyesalan.
"Arsyila.. Kamu apa kabar?" Akhirnya Raihan mengeluarkan suaranya yang terdengar berat. Ada sebuah getaran juga yang dapat Arsyila rasakan dari nada bicaranya. Arsyila tidak langsung menjawabnya, ia nampak mengalihkan pandangannya dengan menunduk. Arsyila berdelik, tanpa dipinta.. Semua perbuatan keji Raihan kepadanya malah menari-menari di pelupuk matanya. Arsyila masih belum bisa melupakan semua itu.
Tanpa berbicara, Arsyila kemudian hendak menutup kembali pintu rumahnya yang masih setengah terbuka. Namun, Raihan malah menahannya.
"Aku mau ngomong sama kamu," Lirih Raihan dengan menatap Arsyila.
"Boleh aku masuk kan?" Lanjut Raihan lagi dengan bertanya. Sedangkan Arsyila masih bungkam.
"Aku.. Aku cuman sendiri dirumah, kalau ada yang mau dibicarakan tunggu Ardan pulang dulu." Kata Arsyila. Raihan langsung mengerutkan keningnya tanda bingung atas penuturan dari Arsyila tersebut.
"Mengapa harus menunggu Ardan? Yang ingin berbicara sama kamu ini suami kamu, Arsyila." Kata Raihan.
"Ya aku tahu, tapi aku gak mau berbicara cuman berdua dengan kamu saja." Tegas Arsyila.
Namun, sedikitpun Raihan tidak peduli atas penolakan Arsyila tersebut. Ia tetap menahan pintu itu dengan tangannya. Kemudian Raihan kembali menatap Arsyila dengan erat, wanita itu masih saja menundukkan wajahnya seakan merasa takut untuk melihat wajah Raihan.
"Arsyila, aku kesini mau minta maaf sama kamu. Aku benar-benar menyesal Arsyila, atas apa yang aku perbuat sama kamu. Aku.. Aku tahu perbuatan aku sudah sangat keterlaluan, aku yang bodoh karena sudah menyia-nyiakan istri aku sendiri. Aku menyesal Arsyila. Aku benar-benar ingin memintak maaf.." Ucap Raihan dengan sungguh-sungguh.
"Andai saja aku tahu ini semua dari awal, pasti aku tidak akan melakukan perbuatan keji ini ke kamu Arsy. Ini semua karena kesalahpahaman aku selama ini terhadap ayah kamu, Maaf Arsyila.. Kamu mau memaafkan aku kan Arsyila??" Pinta Raihan dengan wajah memelas.
Arsyila menarik nafas panjang, sangat sulit baginya untuk mengeluarkan suara. Meskipun tadi dia sudah bertekad akan memaafkan Raihan, atas saran dan nasihat yang diberikan oleh Azizah. Namun, entah kenapa lidah Arsyila seakan kelu untuk mengatakan bahwa iya telah memaafkan lelaki itu.
"Arsyila, plis.. Jawablah, katakan sesuatu. Jangan diam aja seperti ini." Kata Raihan dengan memohon.
"Arsyila.." Desis Raihan lalu memegang tangan Arsyila. Arsyila yang kaget dengan sentuhan Raihan tiba-tiba pada tangannya itu, langsung saja menarik tangannya.
"Jangan sentuh saya!!" Kata Arsyila dengan membesarkan matanya.
"Maaf, aku.. Aku minta maaf Arsyila." Lirih Raihan kali ini dengan suara yang pelan.
Arsyila kembali menarik nafas panjang, dia menguatkan dirinya agar bisa berbicara dengan lelaki yang ada dihadapannya ini.
"Masuklah dulu.." Akhirnya Arsyila menyuruh Raihan masuk seraya membuka pintu lebar-lebar
"Terimakasih," Ucap Raihan lalu masuk kedalam rumah Arysila dan tanpa disuruh Raihan langsung saja duduk di kursi tamu rumah Arsyila.
"Bagaimana keadaan kamu Arsyila?" Tanya Raihan berbasa-basi.
"Sudah lumayan baik." Jawab Arsyila dengan suara yang datar. Arsyila sudah duduk juga disana cuman dengan jarak yang cukup jauh dari Raihan.
"Dimana Ardan?" Raihan bertanya lagi seraya melihat kesekeliling rumah Arsyila yang terlihat sepi.
"Kerumah temannya." Jawab Arsyila dengan singkat dan padat.
Raihan menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ia seakan berpikir bagaimana agar dia bisa mencairkan suasana saat mengobrol dengan Arsyila. Saat ini suasana terlihat kaku dan tegang.
"Hhmm.. Arsyila, jadi bagaimana kamu sudah memaafkan aku kan??" Raihan kembali bertanya. Sudah berulang kali lelaki itu mengutarakan permintaan maafnya kepada Arsyila, namun wanita itu belum juga memberi jawaban apa-apa.
Arsyila mengangkat wajahnya, dengan wajah yang datar akhirnya Arsyila berujar juga.
"Setelah apa yang kamu buat ke aku dan juga Ayah aku. Sebenarnya, masih sulit bagi aku untuk melupakan perbuatan keji kamu itu, jika ditanya apa yang aku rasakan saat ini. Jujur.. Hati aku sungguh masih sakit. Goresan luka disini masih menganga." Lirih Arsyila dengan memegang bagian dadanya.
"Iya, aku tahu Arsyila. Sikap aku sudah sangat keterlaluan ke kamu, Makanya.."
"Aku mau tahu, Apa yang kamu katakan pada Ayah aku waktu itu sehingga membuat beliau shok dan sampai tidak sadarkan diri??" Sambung Arsyila lagi dengan bertanya kepada Raihan. Ditanya seperti itu, Raihan langsung menundukkan wajah seraya memegang kepalanya.
"Maaf Arsyila, waktu itu aku sudah mengatakan sesuatu yang membuat Ayah kamu langsung ngedrop. Aku memang sengaja melakukannya, aku sungguh mintak maaf." Kata Raihan dengan hati yang diselimuti rasa bersalah.
"Apa dengan kata maaf bisa mengembalikan Ayah aku? Tidak kan??" Tanya Arsyila dengan mata yang sudah mulai berkaca-kaca.
"Aku paham Arsyila, memang tidak bisa. Tapi, setidaknya kamu harus mengerti juga bagaimana posisi aku saat itu. Aku melakukan perbuatan tersebut karena sejak dulu sudah ditanamkan didalam pikiran aku ini bahwa Ayah kamulah yang menyebabkan Mama aku meninggal." Jelas Raihan dengan suara yang tertahan.
"Aku harus mengerti kondisi kamu?? Jadi kamu sendiri, apa pernah mengerti dengan kondisi aku yang sedikipun tidak tahu menahu tentang dendam kamu itu??" Tanya Arsyila lagi.
"Aku ini cuman korban atas kesalahpahaman kamu itu, begitu juga dengan Ayah aku. Apa salahnya sih kamu selidiki dulu, cari kebenarannya tanpa langsung melakukan balas dendam yang kejam itu bahkan sampai membuat Ayah aku meninggal." Ucap Arsyila dan kali ini ia tidak bisa lagi menahan air matanya yang akhirnya tumpah juga.
"Sudahlah, lebih baik kamu pergi dari sini. Aku mau sendiri dulu." Usir Arsyila lalu berjalan kedepan pintu lalu memberi kode dengan tangannya agar Raihan segera pergi.
"Aku tidak akan pergi sebelum mendapat kata maaf dari kamu" Tegas Raihan masih duduk ditempatnya.
"Oke, aku maafkan. Sudah puaskan? Sekarang, silahkan kamu pergi." Arsyila kembali mengusirnya.
"Tidak Arsyila, kamu belum ikhlas memaafkan aku. Aku tidak akan pergi sebelum kamu ikhlas memaafkan aku." Tegas Raihan lagi.
"Aku ikhlas, InshaAllah.. Aku sudah ikhlas, jauh sebelum kamu datang kesini untuk meminta maaf, aku memang sudah berniat untuk memaafkan kamu. Tapi, kalau untuk melupakan semuanya, aku butuh waktu yang cukup lama mungkin. Karena jujur aku masih trauma dengan itu semua. Aku ini hanyalah manusia biasa yang punya rasa takut juga trauma. Sebenarnya aku gak mau bertemu dengan kamu dulu, melihat wajah kamu saja membuat aku menjadi terbayang bayang kejadian yang suram itu. Masih jelas di pelupuk mata aku, semua yang kamu lakukan itu. Jadi aku mohon.. Pergilah dari sini. Jangan pernah datang lagi kesini." Tutur Arsyila.
"Sampai kapan Arsyila? Kita ini masih suami istri, tidak mungkin kita hidup berpisah." Kata Raihan akhirnya.
"Kita memang akan berpisah. Besok aku akan ajukan gugatan cerai aku ke kamu di pengadilan." Kata Arsyila dengan mantap.
Mendengar perkataan Arsyila barusan, membuat Raihan langsung berdiri dan berjalan mendekatinya. Setelah didekat Wanita itu, Raihan langsung saja memegang kedua tangan Arsyila dengan erat.
"Aku gak mau kita cerai..!!" Tegas Raihan dengan tatapan mata yang tajam.
"Lepaskan tangan aku," Arsyila memberontak, karena tidak ingin kedua tangannya dipegang oleh Raihan. Namun, Raihan sama sekali tidak mau melepaskan tangan Arsyila yang malah semakin kuat memegang tangan wanita itu.
Sampai akhirnya, dari arah luar tampak seseorang berlari menuju kedalam rumah. Ia melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Raihan memegang kuat tangan Arsyila.
"Lepaskan dia laki-laki jahat.." Teriak seseorang itu dengan sangat marah..
.
.
.
.
BERSAMBUNG..
ASSALMU'ALAIKUM WR.WB..
TERUNTUK PEMBACA SETIA,
TERIMAKASIH SUDAH MEMBACA SAMPAI EPISODE INI, TERUS DUKUNG KARYA INI DGN LIKE DAN KOMENTARNYA YA...
TETAP TUNGGU KELANJUTANNYA,,
😇😇😇
..