
Lima hari kemudian...
Arsyila sudah diperbolehkan pulang kerumah oleh Dokter, namun ia disarankan untuk tetap bedrest total dirumah dan tidak boleh melakukan aktifitas yang berat dulu.
Saat dirumah, Arsyila hanya diam di kamar nya saja. Ardan mewanti - wanti kakaknya itu untuk tidak keluar kamar dan melakukan pekerjaan rumah dulu. Karena kandungan Arsyila yang masih lemah dan rentan untuk terjadi perdarahan lagi.
Mengenai permasalah video Arsyila yang tersebar itu, ternyata Raihan menepati janjinya dengan memberikan penjelasan ke orang - orang terutama kepada teman satu tempat mengajar Arsyila bahwa video itu bukan dirinya yang menyebarkan dan juga menjelaskan bahwa semuanya tidak seperti yang ada dalam pikiran mereka. Raihan berusaha menyakinkan orang - orang bahwa Arsyila sama sekali tidak melakukan perbuatan keji tersebut, karena Arsyila sendiri adalah korban atas jebakan seseorang yang tidak bertanggung jawab. Namun, Raihan tidak memberitahu bahwa orang itu adalah dirinya sendiri. Meskipun dia yang menjebak Arsyila, tapi Raihan tidak pernah menyebarkan video tersebut. Walaupun dulunya tujuan Raihan melakukan penjebakan melalui video itu adalah untuk menghancurkan nama baik Arsyila dikalangan orang - orang, namun niat buruk itu sama sekali belum sempat ia lakukan.
Dengan demikian, nama Arsyilanpun perlahan - lahan mulai bersih dari pemberitaan dan tuduhan yang tidak baik. Kendatipun demikian, Arsyila tetap belum mau bertemu dengan Raihan. Sudah berkali - kali suaminya itu menghubungi Arsyila, akan tetapi sekalipun Arsyila tidak mau mengangkat telepon darinya. Begitu juga saat Raihan datang kerumah, Ardan langsung memasang badan untuk mengusir Raihan dari sana.
Arsyila sama sekali tidak peduli Raihan sudah menepati janjinya itu, karena baginya Raihan tetap sudah membuat hatinya terluka, luka yang teramat dalam malahan. Sangat sulit bagi Arsyila untuk kembali lagi dengan lelaki itu, apalagi mengingat bahwa gara - gara ia meninggalkan Arsyila saat pingsan bersama laki - laki bejat seperti Randi itu, sehingga yang mengakibatkan Randi dengan tega menyentuhnya bahkan membuat dirinya menjadi Hamil.
Jika mengingat tentang kehamilannya ini, benar - benar membuat rasa frustasi itu muncul lagi. Arsyila belum bisa menerima sepenuh hati akan janin yang ada didalam rahimnya ini. Andai saja Arsyila tidak memiliki iman yang baik, pasti dia lebih memilih untuk membiarkan kandungannya ini keguguran. Pasti dia tidak peduli dan tidak melakukan semua anjuran dari Dokter.
Tapi, untungnya Arsyila masih memiliki naluri keibuan yang mulai muncul pada dirinya. Mau bagaimanapun, janin yang ada didalam rahimnya ini tidak lah bersalah. Arsyila tidak berhak menghakimi dia atau bahkan membiarkan dia keguguran tanpa ada usaha yang bisa Arsyila lakukan untuk mempertahankannya. Arsyila sudah bertekad untuk membiarkan dia tetap hidup kelak meskipun tanpa ada seorang ayah bagi anaknya.
Pagi itu, Arsyila baru selesai mandi dan sarapan pagi. Semenjak Arsyila sakit, Ardanlah yang menyiapkan semuanya. Termasuk masalah makanan, Ardan terlihat telaten dalam mengurusi kebutuhan rumah tangga mereka. Arsyila merasa salut kepada adiknya itu, dia bisa membagi waktu antara kuliah dan juga mengurusi dirinya dirumah. Dan sudah dua hari inipun Ardan diterima kerja part time pada sebuah cafe yang tidak begitu jauh dari rumah mereka. Ardan kerja dari jam 5 sore sampai jam 10 malam. Karena Arsyila yang tidak memungkinkan lagi untuk melanjutkan kerja ditempatnya mengajarnya, maka membuat Ardan berinisiatif mencari pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan mereka sehari - hari. Ditambah lagi uang peninggalan dari Ayah mereka yang sudah mulai menipis.
"Ardan, maaf ya gara - gara kakak gak bisa kerja lagi, kamu yang malah dipaksakan untuk bekerja." Kata Arsyila merasa tidak enak hati melihat Ardan yang tengah siap - siap berangkat ketempat kerjanya sore itu.
"Ya gak apa - apa, kak Arsy. Kak jangan merasa bersalah gitu, lagi pula ini memang sudah menjadi kewajiban Ardan sebagai anak laki - laki kak. Ayah juga pernah bilang bukan kalau Ardan harus mandiri, harus bisa mengayomi keluarga karena Ardan laki - laki." jawab Ardan dengan tersenyum lebar.
"Iya, Ardan.. Tapi, kamu kan masih kuliah. Kak gak mau gara - gara kamu kerja, kuliah kamu jadi terganggu." kata Arsyila dengan risau.
"InshaAllah tidak terganggu kok kak, Ardan bisa bagi waktu. Kerjanya kan sore sampai malam, dan pastinya tidak akan mengganggu jadwal kuliah Ardan." kata Ardan lagi dengan menyakinkan Arsyila.
"Gak apa - apakan kak, Ardan tinggal kak Arsy sendirian malam ini? Atau kalau tidak Ardan panggil kan kak Maida biar nemanin kakak di rumah menjelang Ardan balik." Lanjut Ardan lagi.
"Gak usah, Ardan. InshaAllah kak gak apa - apa kok dirumah sendirian. Lagi pula keadaan kak sudah berangsur membaik, jadi kamu jangan risau ya." kata Arsyila lalu tersenyum. Setelah itu, Ardan pun pamit lalu pergi ketempat kerjanya.
Selang beberapa menit kemudian setelah Ardan pergi, Arsyila yang baru saja masuk kedalam kamarnya tiba - tiba dikagetkan dengan suara ketukan dari pintu luar. Arsyila berpikir itu Ardan yang datang lagi, mungkin saja ada sesuatu yang tertinggal ataupun keperluan yang lainnya. Maka tanpa rasa curiga, Arsyilapun membukakan pintu tersebut. Dan betapa terkejutnya ia setelah melihat bahwa yang mengetuk pintu tersebut bukanlah Ardan.
Arsyila benar - benar terperanjat kaget melihat sosok yang sudah berdiri dihadapannya ini. Badan Arsyila mendadak lemas, kakinya seakan tidak mampu menompang tubuhnya yang mulai oyong. Belum lagi rasa ngilu dihatinya mulai ia rasakan. Pengalaman yang menyakitkan saat bersama lelaki yang ada dihadapannya saat ini malah kembali terbayang - bayang di pelupuk matanya. Arsyila meringis menahan rasa pedih tersebut seraya memegang bagian perutnya yang mulai terasa tegang.
"Mau apa kamu kesini?" tanya Arsyila dengan mata yang melotot marah. Ditanya seperti itu, membuat si lelaki malah tersenyum dengan santai. Tanpa ada rasa bersalah ataupun rasa penyesalan diwajahnya.
Lalu tanpa menjawab pertanyaan darinya, Arsyila langsung saja akan menutup pintu rumahnya kembali namun Randi dengan cepat malah menahan pintu itu dengan sebelah tangannya.
"Hai, ada tamu yang datang kok gak dipersilahkan masuk sih cantik?" katanya masih dengan senyuman nakalnya itu.
"Aku gak mau menerima tamu bejat seperti kamu, lebih baik kamu pergi dari sini sekarang, atau kalau tidak aku akan meneriaki kamu maling." ketus Arsyila setengah mengancam. Tapi, bukannya takut dengan ancaman Arsyila itu, malahan Randi kembali tertawa dengan terbahak - bahak sehingga membuat Arsyila semakin melotot marah.
"Arsyila, Arsyila... Kamu itu tidak akan bisa mengusir aku dari hidup kamu, tau kenapa? Karena kamu mengandung anak aku. Aku punya hak sepenuhnya atas diri kamu dan juga calon bayi kita. Jadi, kamu terima saja kenyataan yang ada Arsyila. Kamu cerai dengan Raihan, dan menikahlah dengan aku. Aku akan bertanggung jawab dengan apa yang telah aku perbuat ke kamu." katanya lagi lalu tersenyum penuh kemenangan.
Arsyila sekaan jijik mendengar ucapan yang keluar dari mulut lelaki licik itu, sedikitpun Arsyila tidak sudi jika dia harus menikah dengan lelaki jahat itu. Meskipun ia mengandung anaknya sekaligus, Arsyila lebih baik memilih hidup dan menjalani kehamilannya sendiri dari pada menikah dengan lelaki brengsek seperti Randi.
"Bagaimana tawaran aku ini Arsyila? Kamu bersedia kan?" tanyanya dengan rasa percaya diri yang tinggi.
"Demi Allah, aku tidak akan pernah mau hidup bersama lelaki jahat dan brengsek seperti kamu, Randi. Penipu, Licik, padahal aku awalnya mempercayai kamu yang telah menolong aku kabur dari Raihan. Tapi, ternyata kau sama saja denga Raihan. Bahkan kau malah menusuk aku dari belakang yang kau bilang tidak menyentuh aku saat aku gak sadar, tapi nyatanya.. Aku benar - benar menyesal sudah pernah mempercayai manusia munafik seperti kau Randi." kata Arsyila dengan suara yang tidak tertahankan lagi. Arsyila seakan ingin melampiaskan rasa marah, emosi dan kesalnya kepada lelaki ini. Dadanya seakan sesak menahan segala rasa yang berkecamuk didadanya.
"Sudahlah Arsyila, jangan sok jual mahal. Kamu pasti membutuhkan aku kan, iya kan..??" katanya lagi dan kali ini malah berani menyentuh tangan Arsyila. Sontak saja Arsyila langsung menepis sentuhan tiba - tiba dari Randi tersebut, namun tepisan dari Arsyila kalah kuatnya dari tangan kekar Randi yang sudah memegang tangannya dengan kencang.
"Lepaskan aku, Randi..!!!" teriak Arsyila dengan memberontak. Namun, Randi malah semakin liar yang membuat Arsyila meringis kesakitan.
"Tolooonggg...." Arsyila akhirnya berteriak mintak tolong. Bersamaan dengan itu pula, seseorang muncul dari balik pintu masuk dan dengan cepat langsung menarik tubuh Randi dan detik kemudian langsung menghajarnya habis - habisan.
#
#
#
#
BERSAMBUNG...
.
.