Bertahan Dalam Pernikahan

Bertahan Dalam Pernikahan
BERUSAH KABUR


"Jebakan Bagaimana maksud kamu?" Arsyila bertanya. Meskipun ia tidak begitu yakin dengan apa yang dikatakan Randi, namun tidak dipungkiri Arsyila juga merasa penasaran.


"Ya... Raihan sengaja menyuruh aku tidur disamping kamu untuk difotonya. Tapi, aku sama sekali gak ada nyentuh kamu kok. Beneran, aku gak bohong.." Kata Randi berusaha menyakinkan Arsyila.


"Raihan menyuruh aku membuka baju setelah itu ia suruh aku masuk kedalam selimut tepat disamping kamu, ya seakan-akan kita sudah tidur bareng gitu. Tapi, sebenarnya tidak. Itu cuman jebakannya saja untuk membuat kamu merasa sudah dilecehkan padahal kan tidak." Jelas Randi.


"Kamu pikir aku bodoh bisa percaya dengan apa yang kamu bilang itu." Kata Arsyila dengan emosi.


"Ya sudah, kalau kamu gak percaya. Yang penting aku sudah jelaskan apa adanya sama kamu." Ucapnya.


Arsyila mendengus kesal. Ia tidak tahu Apakah ia harus percaya dengan lelaki itu, meskipun dari cara penyampaiannya terlihat begitu menyakinkan namun Arsyila tidak mau terlalu percaya dan yakin dengan orang yang baru dikenalnya ini apalagi orang itu temannya Raihan.


Lagi pula, jika benar Raihan cuman ingin menjebaknya seperti itu, tapi.. kenapa ujung-ujungnya dia malah meninggalkan dirinya bersama Randi dengan dalih agar lelaki itu melecehkannya. Entahlah.. Arsyila benar-benar tidak mengerti pola pikir si Raihan itu.


Suasan hening untuk beberapa saat, mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing sampai akhirnya Randi mengatakan sesuatu.


"Kamu mau keluar dari sini kan?Aku bisa bantu kamu untuk kabur." Kata Randi memecahkan keheningan tersebut.


Hana melirik tajam kearah Randi yang sedang senyum - senyum tidak jelas, melihat wajah konyolnya itu membuat Arsyila semakin kesal.


"Lebih baik kamu pergi aja lah dari sini, jangan ganggu aku!" Kata Arsyila mengusir Randi. Arsyila merasa heran saja mengapa Raihan memberi akses ketemannya ini untuk bebas keluar masuk kedalam kamar Hotel ini. Arsyila sangat merasa terganggu dengan kehadiran lelaki itu.


"Hai, aku mau bantu kamu. Tapi kenapa malah diusir??" Protes Randi.


"Kamu jangan mempermainkan aku! Aku gak mau percaya sama kamu, kamu sama jahatnya dengan Raihan. Lebih baik.. Kamu keluar dari sini sekarang juga" Tekan Arsyila dengan suara keras.


"Aku gak jahat, Arsyila. Aku mau menolong kamu. Percayalah.." Kata Randi dengan sungguh-sungguh.


Lalu ia tampak mengeluarkan sesuatu dari saku celananya.


"Ini sudah aku belikan tiket untuk kamu pulang ketempat asal kamu dan juga ada sejumlah uang untuk ongkos taksi. Pergilah sekarang Arsyila, jangan sampai Raihan datang dan berbuat sesuatu yang lebih sadis lagi ke kamu. Karena tadi dia sempat bilang sama aku kalau kamu akan dijualnya ke lelaki hidung belang." Kata Randi dengan menyodorkan tiket dan juga sejumlah uang ke Arsyila.


Arsyila menatap ragu benda yang disodorkan Randi tersebut, haruskah ia menerimanya?? Apakah Randi benar-benar ingin membantunya? Atau apa mungkin Randi malah punya niat yang tidak baik juga ke dirinya??


"Arsyila, ambil.." Suruh Randi karena Arsyila tidak mengambil tiket dan uang yang ia berikan.


"Kenapa aku harus percaya sama kamu? Bagaimana jika kamu malah menipu aku?" Kata Arsyila dengan curiga.


"Sejak tadi kamu curiga terus sama aku ya, Coba lihat tiket kamu ini kemana tujuannya? Kekota Asal kamu kan tertera disini?" Ujar Randi seraya melihatkan tulisan yang tercantum di tiket tersebut yang menang benar adanya.


"Benar kan? Jadi, kamu masih gak percaya juga sama aku?" Tanyanya.


"Entahlah, aku gak tau. Cuman.. Kalaupun iya, kenapa kamu mau menolong aku? Bukannya kamu bilang kemarin tidak mau Mengecewakan Raihan karena ia sudah banyak berjasa sama kamu?" Tanya Hana.


"Bagaimana jika Raihan tahu kalau kamu membantu aku untuk kabur? Apa kamu tidak merasa takut dia akan marah besar dan mengamuk?" Lanjut Hana lagi.


Ditanya Arsyila seperti itu malah membuat Randi langsung tertawa terbahak-bahak.


"Kok malah ketawa?" Arsyila terlihat dongkol. Menurutnya tidak ada yang lucu dari perkataan barusan, Tapi lelaki aneh ini malah menertawakannya.


"Arsyila.. Arsyila.. Kamu ini lucu, sudah dikasih kesempatan untuk kabur tapi kamu malah banyak tanya. Apa mungkin kamu gak mau ya pergi dari sini? Kamu malah memikirkan bagaimana kalau Raihan marah, bagaimana kalau ia mengamuk? Bodoh amat seharusnya bagi kamu, Arsyila. Dia mau marah ataupun mengamuk dengan aku, Kamu gak usah pikirkan itu yang penting kamu bisa pergi dari sini. Emangnya kamu mau dijadikan pemuas nafsu para lelaki ha?" Jelas Randi panjang lebar.


"Aku mau menghubungi adik aku dulu. Pinjam handphone kamu." Kata Arsyila akhirnya.


"Oke." Randi langsung mengeluarkan Handphoennya dan memberikannya kepada Arsyila.


Arsyila mencoba beberapa kali menghubungi Ardan, namun tidak diangkatnya.


"Cepat sedikit Arsyila, Raihan tadi katanya sudah dijalan mau kesini. Kalo kamu gak pergi sekarang, aku gak jamin bisa membantu kamu lagi." Kata Randi mengingatkan Arsyila.


"Tapi, aku perlu telpon adik aku dulu." Kata Arsyila.


"Nantik biar aku saja yang hubungi dia, cepat kamu kemasi saja pakaian kamu" Suruh Randi.


Arsyila akhirnya menuruti perkataan Randi dan kemudian memasuki beberapa pakaiannnya kedalam koper, juga tidak ketinggalan ia mengambil buku catatan Raihan yang masih berada dibawah kolong tempat tidur dan memasukinya kedalam koper juga.


"Nih.. Ambil.." Kata Randi kembali mengulurkan tiket dan juga sejumlah uang. Kali ini Arsyila mengambilnya dengan menyakinkan diri bahwa Randi benar-benar serius ingin membantunya.


"Tapi, nantik bagaimana jika.."


"Sudah jangan banyak tanya lagi, Arsyila. Cepatan kamu turun kebawah sekarang." Potong Randi langsung dengan sedikit geram, kemudian ia langsung membukakan pintu untuk Arsyila dan dengan ragu-ragu Arsyila melangkah keluar.


"Terimakasih ya.." Ucap Arsyila sebelum pergi meninggalkan Randi.


Randi hanya mengganggukkan kepalanya seraya tersenyum,


Arsyila langsung menuju ke lift. Seingat dia, saat ini dia berada dilantai 7. Cukup jauh juga dia harus turun kebawah.


Arsyila memencet tombol lift, lumayan lama juga ia menunggu akhirnya lift terbuka. Ada beberapa orang yang keluar dari Lift, sedangkan yang masuk cuman dirinya sendiri.


Setelah berada didalam lift, lalu ia memencet tombol angka 1 yaitu lantai dasar. Arsyila seakan tidak sabar sampai kebawah, karena entah kenapa tiba-tiba firasatnya menjadi tidak enak. Bagaimana jika ia berpapasan dengan Raihan yang kata Randi tadi sudah menuju kesini? Tidak terbayang oleh Arsyila jika ketahuan Raihan bahwa dirinya kabur. Ada sedikit rasa penyesalan dihati Arsyila karena sudah nekat kabur dari Raihan. Tapi, jika dia tidak kabur.. Raihan akan bertindak lebih gila lagi terhadapnya yang kata Randi akan menjualnya ke lelaki hidung belang.


Arsyila merasa ngeri jika hal itu menimpa dirinya.


Beberapa saat kemudian, Lift tersebut berhenti dilantai 5, ada beberapa orang yang masuk kedalam. Dan kemudian lift kembali tertutup dan turun hingga kelantai paling bawah.


Sesampainya dilantai bawah, Lift langsung terbuka lebar, satu persatu orang keluar. Sesaat kemudian Arsyila tertegun, matanya menangkap sesosok wajah yang sangat ia kenali ada didepan lift hendak masuk kedalamnya. Kaki Arsyila seakan berat untuk melangkah menuju keluar Lift sedangkan lelaki yang ada dihadapannya saat ini semakin dekat hendak masuk kedalam diikuti juga beberapa orang yang terlihat menuju ke lift tersebut. Arsyila hanya bisa berdoa didalam hati, Semoga Raihan tidak melihat dirinya...


.


.


.


.


.


Bersambung..