
💓HAPPY READING💓
Keesokan harinya disore hari, Raihan datang kerumah Arsyila. Ia datang tanpa mengabari Arsyila dulu sehingga membuat wanita itu yang tengah berberas sedikit terkejut akan kedatangannya.
"Kamu kok gak ngabarin dulu kalau mau kesini?" Tanya Arsyila setelah Raihan masuk dan duduk diruang tamu. Arsyila juga sudah membuatkan minuman untuk suaminya itu.
"Ya, sengaja saja mau bikin surprise sedikit." Ucap Raihan lalu tersenyum, yang dibalas Arsyila dengan senyuman juga.
"Kebetulan sekali bang Raihan datang.." Kata Arsyila yang kembali tersenyum tipis.
"Kenapa Arsyila?" Tanya Raihan penasaran.
Arsyila membetulkan posisi duduknya, entah kenapa ia merasa sedikit gugup untuk mengatakan bahwa Ardan sudah menerima keputusannya untuk kembali kepada suaminya itu. Sebenarnya Arsyila berniat untuk mengabari Raihan segera perihal itu, tapi karena kesibukannya ditempat kerja membuat Arsyila lupa untuk memberitahu kabar gembira tersebut. Dan sebenarnya juga sore ini Arsyila akan mengatakan secara langsung ke Raihan, Tapi ternyata lelaki itu malah datang duluan mengunjunginya.
"Arsyila...??" Panggil Raihan yang mendapati Arsyila malah melamun.
Arsyila langsung mengangkat wajahnya.
"Maaf bang.." Lirih Arsyila merasa tidak enak karena membuat Raihan menunggu lama.
"Sebenarnya.. saya mau ngasih tau bang Raihan kalau Ardan.. Sudah mau menerima keputusan saya bang.." Kata Arsyila dengan suara yang pelan.
"Ardan sudah setuju, dia mau memberi bang Raihan kesempatan.." Sambung Arsyila lagi dengan sorot mata yang berbinar-binar. Begitu juga dengan Raihan yang terlihat senang mendengar kabar dari Arsyila tersebut.
"Alhamdulillah, aku senang sekali mendengarnya Arsyila. Aku malah sempat berpikir akan butuh waktu yang lama kamu untuk membujuknya." Ujar Raihan.
"Iya, Alhamdulillah bang, aku juga bersyukur Ardan bisa dibujuk secepat ini." Ucap Arsyila dengan penuh rasa syukur.
"Terus dimana Ardan, Arsyila? Aku mau ucapin terimakasih ke dia secara langsung." Tanya Raihan seraya melihat sekeliling rumah Arsyila yang terlihat sepi.
"Ardan masih dikampusnya bang" Jawab Arsyila.
"Oh, ya sudah nantik saja jika dia sudah pulang aku ngobrol - ngobrol dengan dia." Imbuh Raihan lagi.
Untuk beberapa saat hening, mereka berdua sibuk dengan pikiran masing-masing. Sampai akhirnya, Raihan kembali memecahkan keheningan tersebut dengan mengeluarkan suara.
"Jadi, kapan kamu akan kembali kerumah aku lagi Arsyila??" Tanya Raihan tiba - tiba dengan sorot mata yang tajam memandang Arsyila.
"Hhmm... Akan secepatnya," Jawab Arsyila.
"Malam ini, bisa?" Tanya Raihan lagi masih dengan tatapan mautnya itu yang mampu membuat Arsyila langsung terhenyak.
"Malam ini? Kenapa begitu buru-buru?" Arsyila balik bertanya lagi dengan hati yang bergetar.
"Kalau bisa segera, kenapa mesti ditunda-tunda lagi Arsyila?" Sahut Raihan dengan tersenyum manis. Arsyila kembali diam dengan menundukkan wajahnya. Entah kenapa, melihat Raihan yang memandangnya seperti itu membuat hati Arsyila bergetar hebat. Arsyila yakin saat ini wajahnya pasti sudah bersemu merah, karena itu ia hanya mampu menyembunyikan wajahnya itu.
"Aku ada sesuatu untuk kamu, Arsyila. Tapi, aku akan memberinya nantik kalau kamu sudah kembali kerumah." Ucap Raihan.
"Apa emangnya?" Tanya Arsyila penasaran.
"Aku gak akan bilang sekarang Arsyila, karena itu.. Ayoklah pulang kerumah malam ini. Aku akan menunjukkannya ke kamu, saat kita dikamar. Berdua.." Sahut Raihan dengan suara yang lembut.
"Tapi, Aku belum siap..." Akhirnya Arsyila mengutarakan keraguannya untuk kembali kerumah Raihan.
"Belum siap? Kenapa belum siap Arsyila?" Tanya Raihan lagi. Arsyila lalu menarik nafas panjang sebelum akhirnya ia kembali menjawab pertanyaan dari Raihan.
"Sebenarnya bukan masalah belum siap, tapi tepatnya.. Aku Masih merasa takut, Bang." Kata Arsyila dengan jujur.
"Takut? Kenapa Takut? Apa kamu takut aku akan menyakiti kamu lagi?" Tebak Raihan yang mulai paham arah pembicaraan Arsyila. Arsyila langsung menganggukkan kepalanya.
"Arsyila, sayang.. Kalau kamu masih merasa takut, berarti kamu belum yakin sama aku yang sudah benar-benar berubah ini. Maafkan aku Arsyila, begitu sulit mungkin membuat kamu melupakan kenangan buruk yang pernah aku berikan sama kamu. Karena itulah, izinkan aku untuk mengahpus itu semua dari ingatan kamu lalu menggantikannya dengan sesuatu yang indah. Aku janji akan selalu membuatmu bahagia, Arsyila." Kata Raihan dengan wajah yang sayu.
"Terimakasih Arsyila, karena sudah mau menerima aku kembali." Ucap Raihan dengan lirih. Arsyila hanya tersenyum lalu menganggukkan kepalanya.
"Ehhmmm...." Tiba-tiba terdengar suara dehaman seorang lelaki yang sudah berdiri didepan pintu masuk. Sontak saja Raihan dan Arsyila menoleh serentak ke sumber suara tersebut. Ternyata Ardan yang datang.
"Ardan, kamu sudah pulang?" Tanya Arsyila.
"Iya, sudah kak" Jawab Ardan namun pandangannya tidak lepas dari Raihan.
"Ayuk gabung kesini dulu, Ardan. Bang Raihan mau ngomong sama kamu" Kata Arsyila. Ardan mengikuti perintah kakaknya itu dan duduk ditepat didepan mereka.
"Ardan, Arsyila sudah menceritakan semuanya kepada abang. Abang sangat merasa bersyukur karena kamu mau memberi kesempatan untuk abang kembali ke kakak kamu dan memperbaiki semuanya. Abang juga mau berterimakasih sama kamu, Ardan. Terimakasih banyak atas semuanya, karena kamu sudah berbesar hati untuk memaafkan semua kesalahan abang kepada kakak kamu." Ucap Raihan dengan sungguh-sungguh.
"Iya, Iya Bang Raihan. Sama-sama. Aku cuman berharap bang Raihan bisa membuktikan semua janji dan kata-kata abang itu. Jangan pernah lagi mengulangi kesalahan yang sama." Kata Ardan.
"Kamu tenang saja, Ardan. Abang tidak akan mengecewakan kamu, apalagi Arsyila." Sahut Raihan dengan tersenyum lebar.
Setelah itu, Raihan juga mengatakan keinginannya untuk membawa Arsyila malam itu juga kerumahnya. Ardan tidak lagi melarangnya, dengan berbesar hati ia membiarkan kakaknya untuk pergi bersama suaminya malam itu juga.
Namun, sebelum Arsyila dan Raihan pergi, Mereka bertiga menyempatkan sebentar untuk makan malam bersama. Mereka berbincang dengan hangat, tidak ada lagi rasa canggung diantara mereka. Setelah selesai makan, Arsyila pamit sebentar ke kamarnya untuk membereskan baju-bajunya yang akan dibawanya kembali kerumah Raihan. Saat berberes itulah, tiba-tiba saja Arsyila merasa agak lain pada tubuh dan juga kepalanya yang mulai berdenyut. Namun, Arsyila abaikan karena ia yakin cuman kecapean saja.
Tepat setelah adzan isya berkumandang, Raihan dan Arsyila pamit dengan Ardan. Dan menit kemudian, mobil Raihanpun berlalu dari sana meninggalkan rumah Arsyila dan menuju ke rumah mewahnya Raihan. Disepanjang perjalanan, Arsyila banyak diam. Hanya Raihan lah yang banyak berbicara, Arsyila cuman menanggapinya dengan senyuman dan anggukakan kepalanya saja.
Beberapa saat kemudian, merekapun sampai. Dengan langkah kaki yang berat Arsyila masuk kedalam rumah dan kemudian langsung menuju kekamar mereka. Raihan menggandeng tangan Arsyila dengam lembut.
"Kebetulan Papa berangkat lagi keluar kota, Arsyila. Dan Rainapun ada kegiatan kampus juga diluar kota." Jelas Raihan yang menjawab pandangan Arsyila pada rumah yang terlihat sepi.
Setelah sampai dalam kamar, Raihan langsung saja meletakkan koper Arsyila di dekat lemari. Sedangkan Arsyila, langsung terduduk lemas ditepi ranjang mereka.
"Kamu kenapa, Arsyila?" Tanya Raihan dengan khawatir karena ia melihat wajah Arsyila yang sudah berubah seperti sedang menahan rasa sakit.
"Ngak kenapa-napa, bang." Jawab Arsyila dan memaksakan diri untuk tersenyum.
"Tapi, wajah kamu itu.."
"Ngak bang, aku baik-baik saja. Oya, kita belum sholat isya." Ujar Arsyila yang mengingatkan Raihan bahwa mereka belum sholat.
"Oh iya, kalau gitu kita sholat dulu ya." Kata Raihan.
"Tapi, Bang Raihan yang mengimamkan aku kan?" Ujar Arsyila dengan menatap dua bola mata Raihan yang coklat itu.
"Oke, aku coba." Jawab Raihan lalu tersenyum dengan manis.
Kemudian mereka berwudhu secara bergantian setelah itu barulah mereka sholat dengan Raihan yang menjadi Imamnya. Saat berdiri di rakaat pertama, Arsyila merasa tubuhnya semakin lemah tak berdaya. Namun ia masih memaksakan diri untuk tetap bertahan sampai selesai sholat.
Akhirnya Raihan sukses mengimamkan Arsyila malam itu, untuk pertama kalinya selama mereka berumah tangga. Setelah selesai berdoa, Raihan mengulurkan tangannya kearah Arsyila agar wanita tersebut mencium telapak tangannya. Arsyila melakukan itu dengan perlahan - lahan. Saat itu juga, Raihan merasakan tangan Arsyila yang agak hangat. Setelah Arsyila mengangkat kepalanya, Raihan memandang Arsyila dengan pandangan teduh hingga detik kemudian ia mendekatkan wajahnya ke Arsyila lalu mencium kening Arsyila dengan lembut dan sangat lama. Arsyila memejamkan matanya, seakan menikmati kecupan pertama yang diberikan suaminya itu untuknya. Sampai akhirnya, mata Arsyila benar-benar terpejam dengan tubuh yang roboh dihadapan suaminya...
#
#
#
#
BERSAMBUNG..
YUK.. TETAP BERIKAN LIKE DAN KOMENTAR TERBAIKNYA..😊😊
..