
💞HAPPY READING💞
Sepeninggalan Raihan, Randi yang sejak tadi tidak lepas memandang Arsyila dengan tatapan penuh nafsunya, langsung saja berniat kembali mengulangi aksinya kotornya itu. Ia berjalan perlahan-lahan mendekati Arsyila. Didekati seperti itu, membuat Arsyila menjauhikan diri dari Randi. Meskipun saat ini Arsyila merasa sangat takut, namun.. Dia berusaha untuk mempertahankan dirinya. Ia tidak akan membiarkan lelaki brengsek dihadapannya saat ini untuk menyentuhnya lagi. Arsyila tidak akan membiarkan hal itu terjadi.
Randi semakin mendekatinya, Arsyila lantas mengambil sebuah buku yang terletak diatas meja dan melemparkan buku tersebut kearah Randi. Beruntung Randi bisa menghindar sehingga buku tebal itu tidak mengenai dirinya. Setelah itu, Arsyila mengambil benda yang lainnya lagi dan kini lebih besar. Baru saja ia akan melempar benda tersebut, tiba-tiba Randi mengeluarkan suara.
"Sudah Arsyila, Stop! Jangan kamu lempari aku dengan benda-benda itu lagi, aku gak akan menyentuh ataupun menyakiti kamu." Kata Randi dengan serius.
Arsyila memandang heran melihat ekspresi wajah Randi yang telah berubah. Tidak liar dan penuh nafsu seperti tadi.
"Maaf, aku telah menakuti kamu. Aku tidak akan melakukan apa yang sudah Raihan perintahkan ke Aku. Kamu jangan khawatir." Katanya lalu kembali duduk disofa. Sedangkan Arsyila masih berdiri mematung ditempatnya dengan perasaan lega, meskipun wajahnya masih terlihat takut tapi ia merasa sudah terselamatkan. Lalu ia mencuri pandang kearah Randi yang kini sibuk memainkan ponselnya.
"Kamu jangan lihat aku seperti itu. Duduklah.. Dari tadi kamu berdiri saja!" Perintahnya dengan suara yang lembut sembari melihat sekilas ke Arsyila.
Arsyila menuruti perintah Randi, kini dia sudah duduk di atas tempat tidur namun dengan hati dan perasaan yang tidak nyaman. Meskipun lelaki itu mengurungkan niat jahatnya akan tetapi Arsyila merasa risih berada didalam ruang tertutup bersama lelaki yang bukan mahramnya.
Kendatipun demikian, Arsyila sungguh sangat bersyukur Allah masih melindungi dirinya. Karena tidak terbayangkan bagaimana nasibnya jika lelaki itu benar-benar melecehkannya. Arsyila memang sudah menikah, namun dia masih suci. Karena sekalipun Raihan belum pernah menyentuhnya, bahkan Arsyila yakin tidak akan pernah Raihan menyentuhnya. Rasa benci dan dendam yang bersemayam dihati Raihan itulah yang menjadi penyebabnya.
Randi yang tadi menunduk dan sibuk dengan ponselnya kini mengangkat kepalanya lalu melihat kearah Arsyila.
"Aku heran.. Kenapa Raihan malah menyuruh aku melecehkan kamu ya? Padahal kamu kan istrinya. Kok dia begitu tega ya..?" Celetuknya tiba-tiba dengan tatapan bingung. Arsyila tidak menjawabnya.
"Maaf.. Sebelumnya aku memang mempunyai niat yang tidak baik sama kamu, Arsyila. Aku langsung saja mengiyakan apa yang Raihan suruh, karena hal itu adalah sesuatu yang aku sukai. Aku ini.. Bukanlah lelaki yang baik. Aku suka main wanita dan sudah tak terhitung lagi berapa banyak wanita yang sudah aku tidurin. Cuman.. Masalahnya, Bukan wanita tertutup seperti kamu ini yang biasa aku mainkan, Arsyila" Jelas Randi.
"Awalnya aku tidak tahu kalau kamu itu istrinya Raihan, tapi belakangan aku pun tahu bahwa kamu istrinya Raihan. Saat aku tanya mengapa dia melakukan itu, dia enggan menjelaskannya. Ia bersikukuh juga menyuruh aku melecehkan kamu. Dan.. Aku gak ada pilihan selain mengikuti perintahnya." Lanjut Randi lagi menceritakan semuanya. Arsyila menyimaknya dengan seksama.
"Lalu kenapa kamu tiba-tiba berubah pikiran?" Tanya Arsyila dengan suara yang pelan. Karena tidak dipungkiri ia juga penasaran mengapa Randi malah tidak jadi melakukan perbuatan keji itu.
"Kenapa memangnya? Apa kamu mau aku melakukannya??" Tanya Randi dengan tersenyum tipis. Wajah Arsyila langsung berubah.
"Tidak.. " Jawab Arsyila sembari menggelengkan kepalanya dengan mantap.
"Biarpun aku brengsek, suka main perempuan. Tapi, aku bisa menilai perempuan mana yang pantas aku mainkan. Dan.. kamu bukan termasuk perempuan itu Arsyila. Aku tau kamu wanita baik-baik, wanita yang bisa menjaga kesucian dan kehormatan dirinya. Aku gak akan merusaknya." Ucap Randi dengan Tegas.
"Tapi, didepan Raihan nantik kita bersandiwara saja. Anggap saja aku sudah melecehkan kamu. Karena aku juga tidak mau mengecewakan Raihan. Ia sudah banyak berjasa dalam kehidupan aku." Sambung Randi lagi. Arsyila hanya menganggukkan kepalanya tanda setuju.
**************************************************
"Hei, Kamu.. Sindy..!!" Hasby memanggil Sindy yang kebetulan lewat didepan ruang dosen. Mendengar namanya dipanggil, Sindy langsung menoleh kebelakang dan detik kemudian wajahnya mendadak pucat setelah tahu siapa yang memanggil dirinya.
"I-iya Pak.." Jawabnya dengan suara yang bergetar.
Hasby lalu menarik lengan Sindy agar menjauh dari ruang dosen.
"Bagaimana.. kamu sudah dapat info tentang keberadaan Arsyila??" Tanya Hasbi dengan suara yang pelan.
"Maaf pak, saya belum dapat info pak" Jawab Sindy dengan menundukkan wajahnya.
"Iya, mau gimana lagi pak? Raihan tidak mau memberitahu dimana dia saat ini. Dia cuman bilang ada kerjaan diluar kota selama 10 hari."
"Apa,10 hari??" Teriak Hasbi dengan suara tertahan.
"Aku ngak mau tahu, pokoknya hari ini kamu harus dapat info keberadaan mereka dimana. Jika tidak semua rahasia kamu saya bongkar didepan orang ramai." Kata Hasbi setengah mengancam.
"Tapi, pak.. Saya.."
"Ngak ada tapi-tapian Sindy. Aku lihat kamu gak ada usahanya. Cepat kamu hubungi Raihan sekarang juga." Perintah Hasbi.
"Pak, Kalau bapak ingin tahu keberadaan mereka dimana seharusnya bapak tanya dengan keluarganya Raihan. Bukan saya!" Kata Sindy dengan kesal karena didesak dan diancam terus oleh dosennya itu.
"Karena percuma bapak bertanya sama saya. Raihan dari awal memang tidak mau saya tahu dia ada dimana, jika saya terus mendesak dia.. Pasti dia akan curiga." Lanjut Sindy lagi.
"Oh Ya? Jadi apa yang harus saya perbuat lagi ha? Membiarkan Arsyila sampai 10 hari lamanya bersama lelaki gila itu? Kamu tau tidak pacar kamu itu kejam dan keji dengan istrinya, bahkan perlakuan dia tidak layak disebut manusia. Kamu tau tidak??" Tanya Hasbi dengan geram.
"Iya, Saya tau pak." Jawab Sindi dengan membuang mukanya.
"Tapi, Raihan melakukan itu ada alasannya kok Pak." Kata Sindi.
"Apa kamu bilang? Kamu berkata seperti itu seolah-olah tidak ada simpatinya sedikitpun terhadap Arsyila. Padahal Kalian sama-sama perempuan, seharusnya kamu bisa sedikit saja peduli dengan nasib dia. Ini tidak. Kamu malah membela pacarmu itu." Kata Hasbi dengan marah.
"Pak, Tadi kan sudah saya katakan. Raihan begitu karena ada alasannya. Ada sebuah dendam yang harus ia balaskan dengan perempuan itu." Ucap Sindi akhirnya. Seakan sadar bahwa dia telah kecoplosan, Sindy langsung menutup mulutnya.
"Apa? Dendam? Dendam apa??" Tanya Hasbi seraya menatap tajam ke Sindy.
"Saya gak tau apa pak, karena Raihan belum cerita secara detil ke saya pak." Jawab Sindy sambil menundukkan wajahnya.
"Kamu bohong.." Desis Hasbi dengan terus menatap tajam ke Sindi. Tidak tahan ditatap seperti itu akhirnya ia berujar..
"Saya gak bohong pak. Saya benaran gak tahu apa. Tapi, Saya akan bantu bapak mencari tahu semuanya. Kunci jawaban dari semua yang bapak tanyakan ini ada pada.. Adiknya dan juga ibu tirinya Raihan." Jelas Sindy.
"Oke.. Kalau begitu, kamu bawa aku bertemu dengan mereka berdua."
"Iya Pak. Baik.." Jawab Sindy akhirnya.
***
.
.
.
Bersambung...