
Arsyila pingsan tepat dihadapan Raihan. Raihan yang panik langsung saja mengangkat tubuh Arsyila yang masih menggunakan mukena keatas tempat tidur.
"Arsyila, Arsyila..." Panggil Raihan seraya memegang pipi Arsyila dengan lembut. Berusaha membangunkan wanita tersebut.
Namun, Arsyila tetap tidak bergeming. Lalu Raihan mengambil handphonenya dan menelpon seseorang.
"Bisa datang sekarang kerumah saya Dokter Aldi?" Ucap Raihan yang ternyata menelpon dokter pribadinya. Terdengar sahutan dari seberang sana yang mengatakan iya.
Setelah menelpon Dokter Aldi, Raihan kembali mencoba membangunkan Arsyila yang kali ini menggunakan minyak angin. Tapi, tetap.. Istrinya itu tidak juga sadar. Raihan semakin panik, apalagi ketika ia memegang badan Arsyila yang terasa semakin panas.
Menjelang Dokter Aldi datang, Raihan menyuruh bik Ani menyiapkan air hangat untuk mengompres istrinya itu.
"Ini air hangatnya Tuan.." Ucap Bik Ani seraya menyerahkan baskom yang berisi air hangat.
"Baik Bik, terimakasih." Jawab Raihan.
"Non Arsyila kenapa Tuan?" Tanya Bik Ani dengan risau.
"Ngak tau Bik, tiba-tiba saja Arsyila pingsan. Dan.. Badannya juga panas bik." Jawab Raihan dengan gurat kerisauan.
"Oohh... Kalau gitu biar bibik bantu kompresin Non Arsyila ya, Tuan." Kata Bik Ani menawarkan diri.
"Ngak usha Bik, Biar saya saja." Tolak Raihan dengan halus.
"Lebih baik Bik Ani istirahat saja, sebentar lagi Dokter Aldi juga datang." Lanjut Raihan lagi menyuruh pembantunya untuk pergi.
"Baik, Tuan. Bibik pemirsi dulu" Lirihnya dan kemudian berlalu dari sana.
Setelah Bik Ani pergi, Raihan kembali duduk didekat Arsyila dan mengompres dahi wanita itu dengan air hangat yang telah siapkan oleh Bik Ani. Raihan juga mengelus - elus kepala Arsyila dengan penuh kasih sayang.
"Arsyila, kamu kenapa sayang? Bangunlah Arsyila, jangan buat aku risau" Lirih Raihan tepat di telinganya Arsyila. Setelah itu, Raihan memegang tangan Arsyila dan menciumnya dengan lembut.
Raihan menyesali dirinya sendiri yang kurang peka terhadap kondisi Arsyila, mungkin saja saat dirumahnya tadi, Arsyila sudah merasakan tidak enak pada badannya. Tapi, Raihan tetap saja mendesak Arsyila untuk ikut dengannya.
"Maafkan aku Arsyila, aku yang tidak tahu kalau kamu lagi sakit." Ucap Raihan lagi masih dengan rasa bersalahnya.
Raihan masih terus mengompres dahi Arsyila. Tapi, sedikitpun panas di badan Arsyila tidak kunjung turun sehingga membuat Raihan semakin risau dan kemudian laki-laki itu mencoba menghubungi Dokter Aldi lagi.
"Iya, Raihan. Aku sudah didepan rumah kamu Nih. Baru saja turun dari mobil." Kata Dokter Aldi yang sudah paham tujuan Raihan menelponnya lagi.
Benar saja, beberapa saat kemudian Dokter Aldi pun datang dan langsung saja masuk kedalam kamarnya Raihan.
"Kenapa dia Raihan?" Tanya Dokter berkaca mata itu sembari melirik kearah wanita cantik yang berbaring di kasurnya Raihan.
"Istri aku tiba-tiba pingsan, Aldi. Aku gak tau kenapa, tapi badannya cukup panas" Jelas Raihan kepada Dokter sekaligus teman dekatnya itu.
"Bentar, aku periksa dulu." Ucap Aldi lalu mendekat kesana dan kemudian memeriksa Arsyila.
"Badannya panas sekali Raihan, kita infus aja ya. Biar nantik aku suntikkan obat dari infusnya." Ucap Dokter Aldi setelah memeriksa Arsyila.
"Oke, Lakukan saja yang terbaik untuk istri aku." Jawab Raihan.
"Istri kamu? Bukannya waktu itu kamu bilang..."
"Sudahlah Aldi, jangan bahas sekarang. Yang penting kamu obati dulu Arsyila, aku gak mau dia kenapa-napa." Kata Raihan yang langsung memotong perkataan Aldi.
"Oke, siap Bos. Kamu jangan khawatir, aku akan melakukan yang terbaik untuk istrimu ini.." Ucap Aldi dengan tersenyum simpul.
Beberapa saat kemudian, Dokter Aldi sudah selsai memasang infus dan juga menyuntikkan obat kedalam cairan infusnya.
"Jadi, bagaimana? Kenapa Arsyila belum juga sadar?" Tanya Raihan.
"Biar saja dia istirahat dulu Raihan, besok pagi pasti sadar kok." Sahut Aldi dengan yakin.
"Yakin kamu? Dia gak sakit parah kan?" Raihan bertanya lagi. Masih terdengar kerisauan dari nada bicaranya.
"InshaAllah, Raihan. Banyak-banyak saja berdoa." Kata Aldi seraya tersenyum lebar. Tapi, kendatipun demikian Raihan sama sekali belum merasa puas hati atas jawaban dari Aldi sebelum ia melihat Arsyila sadar.
"Istri aku sakit apa sebenarnya, Aldi?" Tanya Raihan lagi.
"Sejauh ini yang bisa aku simpulkan kalau dia terkena demam tinggi, tapi untuk pemeriksaan lebih lanjut harus diambil darahnya dulu dan dibawa kerumah sakit. Tapi, semoga saja setelah aku suntikkan obat tadi demamnya akan turun. Kamu tenang saja, Raihan. Jangan terlalu risau." Nasihat Aldi dengan suara yang santai.
"Bagaimana aku tidak risau, Aldi? Sampai sekarang Istri aku tidak sadar - sadar juga." Sahut Raihan.
"Baiklah jika kau yakin seperti itu." Kata Raihan akhirnya.
"Ya sudah, aku pulang dulu ya Raihan. Kalau ada apa-apa kamu cepat kabari aku. Besok pagi aku ke sini lagi untuk melihat kondisinya lebih lanjut." Pamit Dokter Aldi yang dijawab hanya dengan anggukan kepala oleh Raihan.
####
Keesokan harinya...
Arsyila membuka matanya yang terasa berat dengan perlahan - lahan. Detik kemudian, mata merahnya pun terbuka dan seketika itu juga ia merasakan kepalanya berdenyut. Namun, saat Arsyila akan mengangkat tangan untuk memegang kepalanya, ia pun sadar bahwa tangannya sudah terpasang infus.
Arsyila lalu mengalihkan pandangannya kesebelah kanan dan mendapati Raihan yang tidur dengan posisi duduk dan juga wajahnya yang tertunduk.
Arsyila lalu menggerakkan badannya yang masih terasa lemas, atas gerakkan tersebut membuat Raihan yang ada disamping Arsyila langsung terbangun.
"Arsyila, Sayang? Syukurlah kamu sudah sadar." Tutur Raihan setelah melihat Arsyila membuka matanya.
"A-aku, kenapa bang??" Tanya Arsyila dengan lirih.
"Kamu gak sadarkan diri tadi malam, Arsyila. Badan kamu juga panas." Jawab Raihan dan kemudian memegang dahi Arsyila.
"Syukurlah, panasnya sudah turun." Lanjut Raihan lagi dengan rasa lega.
"Apa yang kamu rasakan sekarang?" Tanya Raihan seraya menatap Arsyila dengan erat.
"Kepala saya sakit, bang.." Jawab Arsyila dengan lirih.
"Ya sudah, kamu jangan banyak bergerak. Aku telpon dokter Aldi dulu." Kata Raihan akhirnya dan kemudian langsung menelpon teman dekatnya tersebut.
"Dokter Aldi akan segera kemari, Arsyila. Kamu tahan sebentar ya? Oya, Bagian mana yang sakit? Biar aku pijitin." Tawar Raihan dengan penuh perhatian setelah ia selesai menelpon Dokter Aldi. Arsyila tidak menjawabnya, akan tetapi ia mengarahkan tangan kanannya dibagian keningnya. Dan kemudian Raihan langsung saja memijit kepala Arsyila dengan lembut.
"Kamu kenapa gak bilang sama aku Arsyila kalau kamu sakit?" Tanya Raihan.
"Karena saya rasa, saya.. cuman kecapean aja kok Bang. Biasa kok seperti ini." Jawab Arsyila.
"Jangan menganggap biasa lagi hal seperti ini, Arsyila. Bisa fatal nantiknya kalau dibiarkan terus menerus. Aku gak mau kamu itu kenapa-napa, aku khawatir sekali dengan keadaan kamu, Arsyila. Aku panik melihat kamu yang tiba-tiba pingsan ditambah lagi seluruh badan kamu panas." Jelas Raihan dengan wajah sendunya.
"Maaf, memang sebelum saya kerumah bang Raihan.. Saya sudah merasa tidak enak badan, tapi tadi itu.. Saya pikir cuman kecapean saja." Kata Arsyila.
"Lain kali kalau kamu sudah merasa gak enak badan, kamu langsung kasih tau aku. Aku ini suami kamu, Arsyila." Tutur Raihan lagi. Arsyila hanya menganggukkan kepalanya.
Beberapa saat kemudian, Bik Ani datang dengan membawa mapan yang berisi makanan.
"Tuan Raihan, Non Arsyila. Ini Bibik bawakan sarapan. Non Arsyila bagaimana keadaannya??" Tanya Bik Ani.
"Sudah agak mendingan Bik, cuman sedikit pusing saja." Jawab Arsyila.
"Oya, terimakasih ya Bik sudah repot - repot bawa makanan keatas." Sambung Arsyila lagi.
"Sama-sama, Non. Non Arsyila gak perlu bilang terimakasih. Sudah kewajiban bibik itu mah." Kata Bik Ani yang diselingi dengan tawa kecilnya.
"Ya sudah, sambil menunggu Dokter Aldi datang. Ada baiknya kamu sarapan dulu ya? Biar aku suapin." Kata Raihan lalu mengambil mapan tersebut.
"Ee.. Biar saya makan sendiri aja, Bang." Tolak Arsyila dengan halus.
"Bagaimana kamu bisa makan sendiri sedangkan tangan kamu diinfus, Arsyila. Sudah ya, biar aku suapin aja. Yuk buka mulutnya." Kata Raihan dengan tersenyum manis. Arsyila menurutinya.
Arsyila bisa merasakan bagaimana kekhawatiran Raihan terhadap dirinya dan juga bentuj rasa perhatian yang ditunjukkan lelaki itu, sehingga membuat Arsyila yakin bahwa suaminya itu memang sudah benar-benar berubah dan juga telah menyayangi dirinya dengan sepenuh hati.
#
#
#
#
BERSAMBUNG...
.