Terjerat Gairah Musuh

Terjerat Gairah Musuh
TGM2 Bab 7


Keyla sudah bersiap untuk berangkat shooting. Saat ia turun dan keluar dari kamar Gabriel, Mondy sudah terbangun sambil duduk di sofa. Laki-laki itu masih mengumpulkan nyawanya yang belum sepenuhnya sadar.


"Wah, selamat pagi. Kalian berbagi kehangatan ya," ucap Keyla saat yang ikut duduk di sofa ruang tengah.


Mondy tersenyum dan mengusap wajahnya yang pasti sedang tidak ganteng saat bangun begini.


"Harusnya sih berbagi kehangatan sama kamu, eh tapi belum halal. Kapan kamu mau aku halalin?" tanya Mondy yang tetap berusaha meski Keyla menanggapinya biasa saja.


"Coba tanya MUI deh, sertifikat halal biasanya dari sana," jawab Keyla yang kini mengeluarkan ponselnya.


"Jangankan ke MUI, ke presiden aja aku siap kok," balas Mondy.


"Kalau ke neraka mau juga nggak?" sahut Gery yang merasa terganggu tidurnya. Mata sipitnya mengerjap lalu duduk di karpet dan menggerakkan kepalanya. ke kanan dan kiri.


"Kalau ke neraka, kamu aja. Aku ikhlas, kok," balas Mondy.


Keyla tertawa mendengar perdebatan Gery dan Mondy. Mondy selalu saja gampang terpancing emosi, sedangkan Gery tidak jauh berbeda dengan iparnya yaitu Bara.


Pintu kamar tamu terbuka, Bara keluar dari kamar dengan memakai bokser dan kaus singlet warna hitam. Rambutnya yang acak-acakan membuat kadar ketampanannya semakin naik.


"Kalian berdua belum pulang?" tanya Bara saat berjalan ke dapur yang melewati ruang tengah.


"Hari sabtu gini mau ke mana sih." Gery menggulung selimut yang tadi malam dipakai bersama Mondy.


"Tau tuh, baru juga bangun udah diusir," jawab Mondy.


"Kalian tadi malam denger suara heboh nggak?" tanya Keyla setengah berbisik yang bisa didengar jelas oleh Mondy dan Gery.


"Oh, yang suara mende.sah itu?" Gery langsung menyahut, membuat Bara yang sedang minum jadi tersedak.


"Tuh, pelakunya lagi minum." Mondy menunjuk Bara yang berada di dapur.


"Kalian nguping?" tanya Bara yang kini berjalan menghampiri ketiga jomblo itu. Ia duduk tak jauh dari Keyla yang asik bermain ponsel dan senyum-senyum sendiri.


"Bukan nguping, Bar. Kamu nggak pasang peredam suara apa gimana sih? Bisa kedengeran gitu?" Gery dan Mondy sampai beradu tos sambil menertawakan Bara.


"Hei, siapa yang nguping. Kita sampai berbagi headset biar nggak dengerin suara Sheina yang bikin merinding." Gery memegang tengkuknya sambil tertawa.


Bara yang kesal karena diejek pun tieak mau kalah. "Berarti permainanku hebat banget, kan, sampai bikin Sheina menjerit kenikmatan," jawab Bara.


Gery dan Mondy menahan tawa. Tak lama terdengar suara langkah kaki yang sedang menuruni tangga. Suara Gabriel yang tengah bernyanyi sudah menjelaskan siapa yang sedang menuruni tangga itu.


"Jangan dibahas! Kalau Sheina dan Gabriel tahu, aku usir kalian berdua," ancam Bara dengan mata melotot.


Gery dan Mondy kompak menutup mulut dengan tangan, keduanya sama-sama menahan tawa.


"Daddy, ayo kita ke lumah Opa!" teriak Gabriel yang sudah berpakaian rapi, bocah itu baru saja selesai mandi. Sheina kembali ke atas setelah mengantar Gabriel pada Bara.


"Daddy belum mandi, Gab." Bara menarik putranya untuk duduk di pangkuannya. Aroma bedak dan minyak kayu putih tercium jelas di hidung Bara.


"Aku pergi dulu ya, udah dijemput." Keyla seperti terburu-buru setelah mendapat telepon singkat dari seseorang.


"Wah, kayaknya saingan kalian nambah," ucap Bara setelah Keyla berjalan keluar rumahnya.


Mondy dan Gery langsung bangkit dan mengintip dari jendela. Mereka melihat dengan mata kepala mereka sendiri Keyla masuk ke mobil mewah berwarna putih.


"Siapa ya yang jemput dia?" tanya Mondy.


"Padahal ada kita, kenapa repot-repot nyuruh orang?"


β˜•β˜•β˜•


Sopir taksi onlineπŸ˜…πŸ˜…


kembang kopinya banyakin 😍


β˜•β˜•β˜•