
Bara mengajak Sheina pergi kencan. Kali ini Bara menuruti semua keinginan Sheina. Mereka pergi ke sebuah mal dan berjalan bergandengan tangan. Sebenarnya Bara tipikal laki-laki yang enggan keluar masuk pusat perbelanjaan, tapi demi Sheina, ia rela melakukannya.
"Mau es krim nggak?" tanya Bara saat melihat stand penjual es krim.
"Kayak Gabriel aja," jawab Sheina yang malah tersenyum dengan ide suaminya.
"Aku kan daddynya, Sayang." Bara menjawil dagu Sheina, lalu ia memesan dua buah es krim.
Bara dan Sheina bergandengan tangan sambil makan es krim, layaknya pasangan muda-mudi. Padahal, di rumah ada Gabriel yang entah sudah bangun atau belum.
Sheina melihat cara makan Bara yang sangat mirip Gabriel, tidak membiarkan sedikit pun es krim yang menetes sia-sia. Pelan tapi sangat menikmati.
Setelah makan es krim, Bara mengajak Sheina untuk nonton. Layaknya pasangan kasmaran, Bara memperlakukan Sheina dengan romantis. Seperti, mengantri minuman dan pop cor**n, tiba-tiba mencium tangan Sheina, dan banyak lagi hal kecil yang membuat Sheina berbunga-bunga.
Kebetulan, mereka memilih film yang banyak menampilkan adegan-adegan romantis. Tangan Bara menggenggam erat tangan Sheina. Kemudian, Bara mengelus tangan Sheina yang lembut.
"Shein." Bara terus mengusap tangan Sheina. Rasanya tiba-tiba ia ingin melakukan hal yang enak-enak dengan Sheina.
"Hem." Sheina menoleh pada suaminya yang terlihat gelisah. Lalu, secara mendadak, ia mendapat serangan bibir dari Bara. Walau tidak lama setelah itu ciuman mereka terlepas, tapi Sheina cukup berdebar menghadapi serangan tiba-tiba itu.
"Maaf," ucap Bara setelah mencium bibir Sheina, sekilas.
"Bara." Sheina ingin mengatakan sesuatu, tapi Bara menempelkan telunjuknya ke bibir Sheina.
"Sheina, bisakah kita lebih mesra?" tanya laki-laki itu.
"Maksudnya?" Sheina menautkan alisnya, bingung dengan apa yang sedang diinginkan oleh suaminya itu.
"Panggil aku dengan mesra!" pinta Bara sembari menelusuri wajah Sheina dengan jari telunjuknya.
"Bukan itu. Aku suamimu, Shein, panggil aku dengan sebutan khusus, Sayangku." Bara mengecup pipi Sheina dengan sayang.
"Daddy Buaya aja ya," tawar Sheina lalu meraih tangan Bara yang ada di wajahnya, sebelum akhirnya mencium lembut tangan suaminya itu.
"Daddy aja, Mommy. Biar mesra."
Sheina akhirnya setuju memanggil Bara dengan panggilan Daddy seperti permintaan Bara.
Usai menonton, Sheina menghubungi Keyla untuk menanyakan keadaan Gabriel. Ternyata, putranya itu baik-baik saja dan tidak rewel. Bara ingin memanfaatkan momen, mumpung terbebas dari gangguan anaknya sendiri. Ia mengajak Sheina jalan-jalan tanpa memberitahu tujuannya.
Saat mobil Bara berbelok ke sebuah hotel, Sheina langsung protes dan mengajak Bara pulang. Namun, Bara terus meyakinkan Sheina bahwa mereka hanya sebentar.
"Bener ya, awas kalau Gabriel nyariin," kata Sheina saat mereka sampai di depan pintu kamar yang Bara sewa.
"Iya, sayang. Janji, bentar aja." Bara merangkul tubuh istrinya itu setelah menutup pintu.
"Apartemen kamu, ke mana?" tanya Sheina. Yang ia maksud adalah tempat pertama kali tubuh mereka menyatu, yaitu tempat yang menjadi saksi bisu saat Bara menodai Sheina.
"Oh, itu udah dijual, sayang. Kamu nggak perlu inget-inget kenangan pahit, inget-inget aja yang manis-manis kayak aku."
Sheina tertawa geli, tapi tiba-tiba Bara mencium tepat di lehernya. Ia menyesap rasa manis leher Sheina yang wangi. Sheina berhenti tertawa, ia justru mulai menikmati sentuhan-sentuhan Bara.
***
Yok, vote nya jangan lupa. Kembang kopinya banyakin ya.🥰🥰
☕☕☕