Terjerat Gairah Musuh

Terjerat Gairah Musuh
TGM Bab 48


Sheina menolak saat Keyla memintanya ke rumah sakit. Bagi Sheina, apa pun keadaan papanya saat ini, itu tidak akan mengurangi rasa sakit hatinya pada sang papa. Ia sudah terlanjur kecewa, dan kecewanya itu sudah sangat mendalam.


Sheina baru selesai memandikan Gabriel. Ia sebenarnya ingin pulang, tapi Bara melarang dengan alasan pekerjaan. Sebagai asisten pribadi Bara, Sheina harus menemani Bara di jam kerja, apalagi saat ini Bara sedang sakit.


"Jadi aku nggak usah pulang? Nggak usah mandi? Nggak usah ganti baju?" tanya Sheina yang mengomel saat menggantikan pakain Gabriel. Tentu saja Gabriel memiliki baju, karena oma opanya kemarin berbelanja banyak pakaian dan mainan untuknya.


"Gampang itu, Shein. Nanti aku tinggal minta Gery urus semuanya. Dia akan ke sini nganter kerjaan aku," jawab Bara.


Sheina selesai memakaikan baju untuk Gabriel. Ia mengambil piring makanan yang ada di nakas, lalu menyuapi Gabriel yang sibuk dengan mobil-mobilannya.


Bara meraih makanan di nakas, lalu berpura-pura kesakitan. "Au, sakit banget."


Sheina menatap Bara yang memasang ekspresi kesakitan.


"Daddy, daddy kenapa? Sakit?" tanya Gabriel khawatir. Bocah itu memeriksa tangan daddynya.


"Sakit banget, Biel. Daddy nggak bisa makan deh, padahal daddy laper banget," jawab Bara yang berusaha memprovokasi putranya, padahal ia hanya berpura-pura saja supaya Sheina mau menyuapinya.


"Kenapa? Aku pikir kamu nggak kenapa-napa?" tanya Sheina.


"Sakit, Shein. Aduh."


"Mommy, Daddy lapel, mau makan tapi tangannya sakit. Kayaknya Mommy halus suapin Daddy, bial Daddy bisa makan telus cepet sembih," ucap Gabriel yang membuat hati Bara bersorak bahagia.


"Mas sih, padahal tadi malam Daddy bisa gendong ...." Sheina tidak melanjutkan kalimatnya, karena ia tahu Gabriel akan terus bertanya, dan Bara bisa saja membuatnya malu di depan Gabriel.


"Gendong siapa, Mommy?" tanya Gabriel bingung.


"Nggak apa-apa, Sayang. Nggak jadi."


Bara kembali mengaduh, tujuannya supaya Gabriel semakin iba, dan Sheina terpojok yang pada akhirnya akan mau menyuapinya.


"Mommy, kasihan Daddy. Mommy suapin ya, please!" Gabriel memohon pada ibunya.


"Makasih, Mommy." Bara tersenyum puas karena rencananya berhasil. Selama ada Gabriel, Sheina akan mudah ditaklukan olehnya.


...****************...


Gery mengunjungi Bara dengan membawa pekerjaan seperti yang diperintahkan Bara. Gery tahu, isi otak Bara yang pasti akan menyuruh Sheina mengambil alih pekerjaannya.


"Nih, berkas-berkasnya. Sheina mana?" tanya Gery.


"Masih mandi, baru aja dibawain baju ganti sama Mama," jawab Bara sembari mengecek berkas-berkas pekerjaannya.


"Si Gabriel lucu banget ya, bisa nempel banget gitu sama Om," ucap Gery yang sempat bertemu Gabriel di bawah.


"Iyalah, daddynya aja ganteng dan gemesin gini, wajar aja anaknya lucu," balas Bara.


"Narsis banget sih, Tuan Muda." Gery membalas dengan nada mengejek. "Oh ya, Bar. Tau nggak, perusahaannya Atmaja sahamnya anjlok parah."


"Apa? Kok bisa?" tanya Bara kaget. Ia belum mendengar apa pun dari papanya atau pun dari Sheina.


"Kayaknya Om sakit hati banget sih, makanya Om langsung bertindak sampai perusahaannya hampir kolaps, dan masuk rumah sakit."


"Kalau masuk rumah sakit aku tau sih, kalau perusahaannya bangkrut, aku belum tau."


Sheina tiba-tiba masuk dengan penampilan yang sudah rapi dan wangi. Ia siap bekerja dengan Bara yang saat ini pura-pura sibuk dengan berkas di tangannya.


"Udah nggak usah pura-pura sibuk. Aku denger kok, kalau perusahaan Papa kolaps, dan Papa masuk rumah sakit." Sheina mengambil berkas di tangan Bara.


"Kamu nggak mau jenguk papa kamu, Shein?" tanya Bara.


"Nggak. Aku mau kerja. Papa udah ada istrinya yang ngurusin."


🥀🥀🥀