Terjerat Gairah Musuh

Terjerat Gairah Musuh
TGM Bab 60


"Mommy puasa itu apa?"


Gabriel selalu penasaran dengan apa yang didengarnya. Apalagi, kalau kata-kata baru itu cukup menarik baginya.


"Em, puasa itu, menahan diri, Sayang. Nahan diri untuk nggak makan, nggak minum, nggak marah-marah. Pokoknya, puasa itu menahan diri. Gabriel ngerti?"


"Iya, Mommy. Biel ngelti kok. Belalti, Daddy nggak akan makan Mommy, 'kan?" tanya Gabriel yang belum puas dengan jawaban mommynya.


"Buayanya puasa, Gab. Kamu beneran kayak Kancil deh," sahut Bara.


"Bialin, Kancil kan pintel. Dalipada Daddy, Buaya. Seling dikeljain Kancil." Gabriel tidak mau kalah dari Bara. Sepertinya bocah itu tidak lagi berpihak pada ayahnya karena insiden 'dimakan buaya' yang membuat leher Sheina merah. Gabriel masih waspada, takut kejadian itu terulang lagi.


"Lihat aja ya nanti. Pasti buaya bisa ngalahin kancil. Buaya kan binatang buas, kancil kan kecil, pasti kalah." Bara juga tak mau kalah. Bisa turun harga dirinya jika kalah dari anaknya sendiri.


Kedua orang tua Bara menertawakan perdebatan antara Bara dan Gabriel. Sementara itu, Sheina takut anaknya semakin 'tersesat' jika terus membahas Buaya dan Kancil dalam versi Bara, bukan versi dongeng seperti yang sering ia bacakan. Sheina akhirnya berpamitan pasa mertuanya dan mengajak Gabriel untuk ke atas. Lebih baik mereka bersiap untuk tidur.


*


*


Ibu dan anak itu kini ada di kamar Gabriel. Sheina membacakan dongeng Si Kancil yang sangat disukai Gabriel. Semua barang termasuk mainan dan buku dari kontrakan lama memang sudah dipindahkan oleh orang suruhan Bara saat mereka menginap di rumah keluarga Bara.


Gabriel sudah mulai mengantuk saat Bara memasuki kamar putranya itu, sehingga Sheina meminta Bara untuk tidak berisik. Bara memandangi Sheina yang masih membacakan cerita meskipun Gabriel sudah terpejam. Laki-laki itu sangat mengagumi istrinya.


Setelah yakin anaknya tertidur pulas, Sheina menyelimuti tubuh Gabriel. Ternyata, Bara ikut tertidur sambil memeluk Gabriel. Sheina pun tersenyum melihat dua lelaki dengan wajah yang sangat mirip itu tertidur pulas. Akhirnya, Sheina keluar dari kamar Gabriel dan kembali ke kamarnya sendiri.


"Kamu ninggalin aku sama Gabriel sih, mentang-mentang nggak bisa dipakai, kamu tega sama aku," kata Bara saat melihat Sheina terbangun karena ulahnya.


"Kalau aku bangunin, nanti Gabriel ikutan bangun juga. Udah ah, aku mau tidur," jawab Sheina malas, matanya masih mengantuk tapi Bara sudah mengganggunya.


"Tapi aku pengen nyentuh kamu, Shein. Hari kedua nikah itu biasanya lagi romantis-romantisnya." Tangan Bara menyusup ke dalam baju tidur yang dipakai Sheina. Ia mencari gundukan kenyal yang ternyata tidak terbungkus cup seperti kemarin. Tentu saja, Bara sangat bahagia dan semakin bersemangat. "Kamu sengaja godain aku ya, nggak pakai br.a," bisiknya yang membuat telinga Sheina merasa geli.


"Ngapain godain kamu, aku nggak sega.telan itu, Bar." Sheina menyingkirkan tangan Bara dari dadanya, tapi Bara memeluknya dan menggenggam daging kenyal itu semakin kuat.


"Nanti aku buat ga.tel deh. Aku sebenarnya pengen dilayanin kamu, tapi kayaknya kamu ngantuk dan capek banget. Jadi, aku mainin ini aja ya," kata Bara yang tangannya masih mere..mas apa yang kini digenggamnya.


Sheina merasa tersentuh dengan apa yang diucapkan Bara. Meski dia belum mencintai Bara, tapi kewajibannya memang melayani suaminya, dan Bara berhak untuk itu.


"Shein, kok kamu diem aja. Nggak boleh ya?" tanya Bara yang kini menatap mata Sheina karena Sheina juga menatapnya.


Bara terkejut saat tiba-tiba Sheina mencium pipinya.


"Maaf," kata Sheina yang merasa menyesal belum bisa memasukkan Bara ke dalam hatinya.


"Nggak apa-apa, Sayang. Namanya perempuan, kan, pasti datang bulan." Bara tertawa kecil, ia pikir Sheina meminta maaf karena tidak bisa melakukan kewajibannya.


Maaf Bar, ini semua terlalu aneh dan mendadak buatku. Aku butuh waktu untuk mencintai kamu sepenuhnya.


☕☕☕