
Keyla masih berada di rumah Mondy, menemani laki-laki yang tengah sakit itu. Gery yang mendengar Keyla di rumah Mondy, langsung bergegas ke rumah Pak RT yang sedang terkena musibah itu.
Dengan langkah seribu, Gery mendatangi rumah Mondy yang tidak terkunci. Bara dan Sheina menyusul Gery di belakangnya, sedangkan Gabriel lebih memilih di rumah bersama Bi Surti daripada melihat Bara dan Mondy adu mulut lagi. Kebetulan saat Gery masuk, Keyla dan Gery ada di ruang tamu yang menyatu dengan ruang keluarga.
"Keyla."
Posisi Keyla sedang merangkul Mondy karena ia akan membantu Mondy yang ingin ke kamar mandi.
"Eh Gery. Hai Bro." Mondy justru mengeratkan tangannya yang memeluk pundak Keyla.
"Hem, mulai nyari kesempatan." Keyla menoleh dan melotot pada Mondy. "Aku jatuhin nih, mau?"
"Nggak, nggak, jangan marah cantik." Mondy malah tersenyum gemas karena berhasil membuat Gery kesal.
"Wah si Kukis cari gara-gara nih Ger." Bara yang baru masuk juga melihat adegan yang sangat menguntungkan Mondy itu.
"Kalian ngapain sih pakai peluk-pelukan gitu?" tanya Gery.
Mondy semakin kegirangan. Sementara itu, Keyla memutar bola matanya, menghela napas berat sebelum menjawab, "Dia mau ke kamar mandi. Kalian yang cowok, bantuin Mondy deh."
Mondy langsung menoleh pada Keyla. "Kok gitu sih, aku kan pengennya sama kamu," protes Mondy. Ia akan kehilangan kesempatan memeluk Keyla kalau Gery dan Bara yang mengantarnya ke kamar mandi.
Gery bergerak cepat menggantikan posisi Keyla, sedangkan Bara terlihat malas membantu Mondy.
"Sama Gery ajalah, yang akur kalian berdua!" kata Bara. Ia duduk di sofa, bukannya membantu Mondy.
"Bara Bere, gitu-gitu dia yang bantuin istri kamu loh, jatuh dari pohon juga demi anak kamu. Tolongin gih!" Keyla memarahi kakak iparnya yang tidak mau membantu Mondy.
"Iya, Sayang. Bantuin dong. Jas mahalnya aja jadi korban, tapi ada maunya sih, satu mangga satu minggu kencan sama Keyla," sahut Sheina.
"Jahat banget sih. Makin sakit nih." Mondy memegangi kakinya yang kemarin keseleo.
"Sorry, terlalu kaget. Enak banget satu mangga aja hadiahnya kencan satu minggu," protes Gery.
Bara yang merasa harus berterima kasih dengan Mondy, datang mendekat dan membantunya berdiri.
"Jiwa liciknya dia itu nggak akan pernah hilang." Bara meletakkan tangan Mondy di pundaknya.
"Tau tuh, mencuri kesempatan dalam kesempitan." Gery turut membenarkan ucapan Bara.
"Itu namanya memanfaatkan peluang. Kalian pengusaha baru mana paham," ejek Mondy.
"Huh, dasar pengusaha sombong, songong, kalau nggak inget kamu udah bantuin Sheina, udah kuinjak kaki kamu." Bara menggertakkan giginya, gemas.
Mondy hanya membalas dengan ekspresi menyebalkan.
🌸
Bara berusaha menahan tawa saat melihat jas mahal milik Mondy menjadi korban ngidam istrinya. Sementara itu, Gery yang masih menjadi rival Mondy pun tertawa sampai perutnya sakit dan terjungkal di sofa. Mereka membayangkan bagaimana tingkah Mondy saat bergelantungan di pohon, apalagi digigit semut dan jas mahalnya menjadi korban. Keyla yang bercerita juga terus tertawa mengingat tingkah Mondy kemarin.
"Kalian jahat banget sih sama Mondy. Coba kalian berdua yang manjat, bisa nggak?" Sheina yang sedari tadi menatap kasihan pada Mondy merasa tidak tega saat suami dan sepupunya itu menertawakan Mondy.
"Nah, bener tuh Shein. Coba kamu ngidam lagi pengen mangga, mumpung bapaknya bayi ada di sini! Dia yang menikmati prosesnya, tapi aku yang ngerasain susahnya."
☕☕☕ Hem, mana bisa ngidam dipaksa gitu Mon. Ngidam Sheina itu cuma kopi, kembang sama vote kok. sajen lengkap 🙃🌹🌹🌹