
Bara saat ini sedang menemani Gabriel menggambar dan mewarnai. Sheina datang dengan dua cangkir teh dan segelas suussu, menghampiri dua lelaki yang sedang serius itu.
"Minum dulu Gab," kata Sheina sembari menyodorkan segelas susu pada putranya.
"Makasih Mommy." Gabriel mencium pipi Sheina. Bocah itu selalu melakukan itu setiap kali sang ibu memberinya suussu atau makanan apa pun yang disukainya. Tinggal hanya berdua dengan sang ibu, membuat Gabriel lebih menyayangi Sheina, meski sering kali Sheina bersikap galak dan memarahinya.
"Sama-sama, Sayang." Sheina menyentuh pipi Gabriel sayang. Ia melihat Bara yang tersenyum melihat interaksinya dengan Gabriel. Sheina salah tingkah, ia menyodorkan cangkir berisi teh hangat itu pada Bara. "Minum dulu tehnya, aku kasih gula sesendok aja karena aku nggak tau kamu suka manis atau nggak."
"Makasih, Shein. Nggak apa-apa, aku suka apa pun yang kamu buat, lagi pula lihat kamu aja apa pun pasti terasa manis," jawab Bara yang seolah lupa ada anak kecil yang mendengarkan obrolan mereka.
Sheina menundukkan kepala, ada sedikit senyum yang terukir di wajahnya.
"Daddy, kenapa nggak cium Mommy kayak Biel?" tanya Gabriel yang sedari tadi menunggu daddynya mencium mommynya, seperti yang ia lakukan tadi.
"Kenapa harus cium?" tanya Sheina yang sedikit kaget dengan pertanyaan Gabriel.
"Mommy, kalau Biel bilang makasih, Biel pasti cium Mommy, bial Mommy seneng. Belalti Daddy juga halus cium Mommy bial Mommy seneng," jawab Gabriel dengan kepolosannya. Anak itu memang belum paham bagaimana hubungan kedua orang tuanya.
"Oke, daddy akan cium Mommy buat kamu, Boy." Bara seperti mendapat durian runtuh. Bagaimana tidak, anaknya sendiri yang membuka jalan untuk Bara dan Sheina bersatu. Anak yang perlahan-lahan membuat Sheina mau membuka hati untuk Bara.
"Nggak usah nggak usah, Bar. Gabriel, Mommy seneng kok, nggak perlu dicium daddy," kata Sheina malu-malu.
"Nggak apa-apa Shein, aku ikhlas kok kasih cium ke kamu. Ya, kan, Gabriel Sayang?" Bara tidak mau melepaskan kesempatan ini, bagaimana pun juga ia sangat ingin memiliki Sheina.
"Mommy, Biel pengen lihat Daddy cium Mommy." Gabriel mulai menunjukkan tanda-tanda akan ngambek.
"Gabriel." Sheina ingin protes pada putranya, tapi Bara langsung menyentuh tangannya.
"Shein, sekali aja. Demi Gabriel. Biarin dia seneng, kali ini aja," mohonnya pada Sheina.
"Terserah kalian aja." Sheina pasrah. Anaknya yang pintar dan sangat cerewet membuatnya terkadang malas berdebat, apalagi sekarang ada Bara yang hampir sama seperti Gabriel.
"Gabriel, kenapa nunjuknya kening, sih. Coba kalau nunjuk bibir, kan, lebih enak Gab," batin Bara yang mulai mengambil napas dalam, bersiap mencium Sheina.
Bara mendekatkan wajahnya pada Sheina, lalu bibirnya menempel cukup lama di kening wanita itu. Bara melepaskan bibirnya saat Gabriel bertepuk tangan dengan heboh membuatnya ingin sekali protes karena ciuman itu berlalu dengan cepat.
"I love you Shein," ucap Bara yang wajahnya masih sangat dekat dengan wajah Sheina.
Sheina melihat mata Bara dengan sangat jelas. Dua mata itu saling bertatapan, mengabaikan Gabriel yang sudah berjingkrak-jingkrak kegirangan. Bara mendekatkan wajahnya semakin dekat. Sebagai wanita dewasa, Sheina tahu, Bara akan mencium bibirnya kali ini. Ia memejamkan mata, tapi ternyata Bara hanya mencium pipinya.
Karena kejadian itu, Bara dan Sheina menjadi salah tingkah. Sampai akhirnya, Gabriel meminta Bara untuk menemaninya tidur.
*
*
*
Sheina bangun sangat pagi. Semalaman ia tidak bisa tidur karena memikirkan kejadiaan tadi malam. Saat ia memejamkan mata karena Bara hendak mencium bibirnya, Sheina pikir apakah ia berharap dicium Bara saat itu?
"Nggak. Papa belum memberi restu, nggak mungkin aku akan menerima Bara tanpa restu Papa."
Sheina mulai sibuk memasak, ia belum memakai pakain kerja seperti biasanya, karena ia pikir Bara bahkan belum menerimanya sebagai pegawai, untuk apa ia memakai pakaian kerja.
Setelah selesai memasak, Sheina membangunkan Bara dan Gabriel yang sama-sama masih tertidur. Lalu, ia melanjutkan aktifitasnya dengan mandi.
Setelah semua sudah siap dan mereka berkumpul untuk sarapan. Tiba-tiba Bara berkata, "Habis ini kita ke rumah Papa. Mama sama Nenek pengen main bareng Gabriel, sekalian aku akan kenalin kalian ke Papa."
🥀🥀🥀