Terjerat Gairah Musuh

Terjerat Gairah Musuh
TGM Bab 73


Bara dan Sheina turun dari lantai dua. Bara sudah memakai pakaian rapi lengkap dengan jas layaknya akan pergi kerja. Papa dan mama sampai geleng-geleng kepala saat melihat putranya yang totalitas dengan kebohongannya.


"Daddy mau kelja benelan⁴?" tanya Gabriel.


"Iya dong. Daddy kerja buat Gabriel sama Mommy." Bara menggendong putranya yang menatapnya aneh.


"Om Gely mana?"


"Om Gery belum sampai. Daddy ganteng nggak?" Bara mencium pipi putranya dengan gemas.


"Ganteng, tapi nomel selibu."


Bara merengut, sedangkan Sheina dan kedua orang tua Bara menertawakan eskpresi Bara dan Gabriel.


Tidak lama terdengar suara klakson mobil. Bara tersenyum, pasti itu Gery.


"Om Gery udah datang, daddy pergi dulu ya. Jangan nakal sama Oma Opa. Puas-puasin main ikannya. Oke." Bara mencium kening Gabriel dan menurunkannya dari gendongan. Lalu, ia berpamitan pada istri dan orang tuanya, layaknya akan pergi kerja. Setelah itu ia keluar rumah menemui Gery.


"Tu, Daddy udah pergi. Jadi nggak lihat ikannya?" tanya Mama Viona.


"Jadi dong, Oma." Gabriel tersenyum pada omanya, lalu ia menghampiri Sheina. "Mommy nggak apa-apa Biel tinggalin?"


Sheina tersenyum dan mengecup kedua pipi Gabriel gemas. "Nggak apa-apa, Sayang. Gabriel di sana baik-baik ya. Kalau Mommy belum jemput, jangan ngerengek minta pulang."


"Iya Mommy." Gabriel akhirnya pergi bersama oma dan opanya.


Sementara itu, Bara menunggu mobil papanya lewat dengan gelisah. Gery menggerutu karena Bara yang sudah heboh mengganggu liburnya. Dengan iming-iming bonus, laki-laki yang baru dibelikan mobil sport oleh Bara itu akhirnya menurut.


Beberapa lama menunggu, mobil hitam milik Hendry Kusuma akhirnya lewat, Bara bersorak kegirangan saat melihat Gabriel yang duduk di samping papanya yang mengemudikan sendiri mobilnya.


"Itu Gabriel udah lewat! Cepet kita pulang!" perintah Bara pada Gery. Sebelumnya ia sudah menerima pesan dari istrinya bahwa putra mereka telah berangkat.


"Kalian mau anu-anu aja kucing-kucingan, bikin repot orang lain aja!" Gery menyalakan mesin mobil dan mengemudikannya ke rumah Bara.


"Nggak usah bawel, aku transfer langsung nih!" Bara menunjukkan bukti transfer pada Gery yang membuat laki-laki itu tersenyum puas.


"Ngapain lagi? Mau minta iuran apa lagi?" tanya Bara yang langsung mendekati istrinya.


"Aku ke sini bukan sebagai ketua RT, tapi aku butuh penjelasan dari Sheina. Aku berhak tahu dong." Mondy memasang wajah serius.


"Perlu tau apa? Dia ninggalin kamu karena nggak suka sama kamu, 'kan?" tanya Bara. "Lagian, kenapa waktu itu kamu nggak cari dia sampai ketemu." Bara merangkul pinggang Sheina.


"Aku udah cari dia. Terakhir dia bilang mau ke luar kota, setelah itu hilang nggak bisa dihubungi lagi. Shein, kamu bohongin aku buat nikah sama dia? Apa kamu nggak pernah pikirin perasaan aku?"


"Mondy. Aku minta maaf. Waktu itu aku udah kasih tau kamu buat nggak cari aku lagi, aku minta kamu buat lupain aku." Suara Sheina mulai bergetar. Ia mulai menangis.


"Tapi aku masih cinta sama kamu, Shein. Kamu bikin aku bingung. Malam sebelum kamu pergi sama temen-temen kamu itu, kamu bilang akan terima lamaran aku. Setelah itu kamu berubah Shein. Kamu yang nggak mau jujur sama aku, kenapa? Tiba-tiba sekarang kamu udah nikah sama dia, bahkan kamu udah punya anak seumur itu. Empat tahun aku nunggu kepastian kamu dan sia-sia."


"Maaf Mon."


Bara langsung memeluk Sheina. Ia tentu tidak terima istrinya menangis karena laki-laki lain.


"Sayang, jangan nangis," kata Bara sambil mendekap istrinya.


"Kalian bener-bener gila," kata Mondy kesal.


Bara menghela napas dan mengembuskannyabdengan kasar. "Oke. Aku yang salah! Aku yang perkosa dia sampai ada Gabriel. Sekarang kamu tahu kan, semua udah terlambat, dia istriku." Bara menahan gemuruh di dadanya. Melihat istrinya menangisi pria lain benar-benar membuatnya cemburu.


"Kamu nggak perlu ikut campur lagi. Jangan dekati istriku." Bara langsung mengajak Sheina masuk.


"Dasar cowok breng*sek. Baji*ngan lo Bar," teriak Mondy kesal.


Bara tidak peduli. Ia mengunci pintu rumahnya setelah berhasil membawa Sheina masuk.


Bara membawa Sheina sampai ke dapur, lalu ia mengambilkan minum untuk Sheina yang masih sesenggukan.


Napas Bara kian memburu, ia sangat kesal melihat air mata Sheina. Tiba-tiba ia langsung menyerbu bibir Sheina dengan bibirnya. Ia ingin membuktikan bahwa Sheina adalah milik Bara seutuhnya.


☕☕☕