
Sheina menangis tersedu-sedu karena Bara tidak bisa pulang malam ini. Masalahnya, besok pagi dia ada acara sarapan pagi bersama klien, sekaligus penandatanganan kontrak kerja. Tidak mungkin dia pulang malam ini, lalu pagi-pagi buta kembali ke Surabaya. Padahal, papa sudah mewanti-wantinya untuk mendapatkan proyek itu.
"Aku janji deh, besok selesai tanda tangan, aku langsung pulang. Janji, Sayang." Bara juga bingung karena istrinya bisa-bisa membuatnya gagal mendapat kontrak yang sangat penting itu.
"Jadi kamu nggak bisa pulang sekarang?" tanya Sheina. Bibirnya sudah maju beberapa milimeter sampai membuat Bara gemas sendiri dengan istrinya itu.
Bara yang suka melihat tingkah manja Sheina, sebenarnya merasakan rindu dan ingin cepat pulang. Akan tetapi, proyek ini juga sangat penting, hingga membuatnya kelabakan.
"Sayang, jangan ngambek dong. Cantiknya aku, tidur ya. Udah malem. Aku peluk dari sini deh, mau nggak?" Bara mencoba membujuk Sheina supaya bisa istirahat. Ia sendiri sudah sangat lelah dan butuh istirahat, dan esok pagi ia harus mendapatkan tanda tangan kliennya.
"Ya udah, tapi kamu nyanyiin ya, biar aku tidur. Sebagai gantinya elus-elus."
Bara menghela napas panjang, seumur-umur baru ini ada yang meminta dia nyanyi.
*
*
*
Karena nasib sial yang menimpanya, Mondy harus istirat di rumah selama beberapa hari untuk memulihkan kakinya yang keseleo. Keyla yang melihat Mondy menderita pun akhirnya merasa bersalah dan memutuskan untuk merawat Mondy.
"Kamu di rumah sendiri, Mon?" tanya Keyla yang tidak melihat siapa pun di rumah Mondy.
"Iya, aku sendirian. Aku bisa kerjain semua Key. Masak, nyuci baju, setrika, nyapu ngepel, belanja pun aku bisa sendiri. Aku urus rumah ini sendiri," jawab mondy.
"Kalau tadi malam kamu sama siapa?"
"Ada asistenku di kantor. Aku suruh dia ke sini buat bantuin aku. kita jadi kencan, kan, dua minggu ke depan?" Mondy sangat antusias karena memiliki kesempatan untuk mendapatkan perhatian Keyla, meskipun ia harus terluka dan kesakitan.
"Iya, jadi. Tapi tunggu kamu sembuh, aku nggak mau ya. Jalan-jalan sama orang pincang. Malu-maluin tau." Keyla mengejek Mondy yang saat ini kakinya masih sakit karena terjatuh dari pohon.
"Hem, iya deh terserah kamu aja!"
Sementara itu, Bara yang sudah kembali dari Surabaya langsung bergegas menemui istrinya.
"Sayang, aku pulang." Bara memeluk istri dan anaknya.
"Daddy udah pulang?" Gabriel menaruh mainannya dan langsung memeluk Bara.
"Udah dong, kan daddy cuma sebentar. Biel nakal nggak?" Bara duduk di sofa dan memangku putranya.
Sementara Sheina langsung bergelayut manja di lengan Bara. Bara pun mencium pipi Sheina sekilas sebelum kembali fokus pada Gabriel.
"Nggak Daddy, tapi dedek bayi yang nakal," adu Gabriel dengan ekspresinya yang menggemaskan. Sejak Sheina hamil, Gabriel berubah menjadi sosok manis yang pengertian. Apalagi ia memang sudah mandiri sejak kecil.
"Nakal kenapa, Biel?" Bara mencium pipi Gabriel yang lucu.
"Bikin Mommy muntah-muntah telus, malah Mommy sampai nangis. Untung Om Mondy mau ambilin mangga buat dedek bayi."
"Om Mondy?"
"Keyla mana sih?" Gery yang juga baru pulang bersama Bara pun mencari-cari Keyla karena Bara mengatakan bahwa Keyla menemani Sheina.
"Keyla di rumah Mondy. Dia lagi rawat Mondy yang jatuh dari pohon karena aku minta mangfa muda," sahut Sheina yang membuat Bara dan Gery kompak berteriak.
"Apa?!"
āāā Kembang kopi, votenya banyakin kš¹š¹š¹