
Bara harus ke kantor, sedangkan Gabriel dan Sheina menunggu Papa Yudha. Keyla dan mamanya pulang ubtuk istirahat dan bergantian dengan Sheina.
"Ma-af." Suara Papa Yudha terdengar lemah, tapi Sheina masih bisa mendengarnya dengan jelas.
"Udah, Pa. Papa istirahat aja, jangan banyak bicara," kata Sheina.
"Opa, jangan belisik, ini lumah sakit. Kata Mommy kalau belisik, nanti yang sakit nggak sembuh-sembuh," sahut Gabriel yang membawa serta mainan robot miliknya.
Sheina melihat papanya tersenyum. Ia yakin, ini akan menjadi awal yang baik untuk hubungannya dengan sang ayah.
*
*
*
Sepulang dari kantor, Bara menjemput Sheina yang masih menunggu papanya di rumah sakit. Gabriel sudah pulang sejak siang karena mertuanya menjemput bocah itu.
Sheina berpamitan pada papa dan mamanya, sementara Keyla masih dalam perjalanan ke rumah sakit.
Saat ini, Sheina dan Bara sudah berada di mobil, menuju rumah mereka yang baru ditempati, dan beberapa hari terkahir harus ditinggalkan.
"Kita langsung pulang ya," kata Bara saat mereka sampai di lampu merah.
"Kenapa? Gabriel gimana?" tanya Sheina. Ia sudah berpisah cukup lama dengan putranya itu, Sheina khawatir jika nanti Gabriel akan rewel dan merepotkan semua orang.
"Nanti dianter Mama. Gabriel minta ikan."
"Ikan lagi? Ya ampun, akuarium di rumah pasti penuh. Aku yakin ikan-ikannya akan mati karena rebutan air." Sheina sewot.
Bara tertawa gemas, ingin sekali ia mencubit pipi istrinya itu.
Setelah perjalanan yang cukup jauh dari rumah sakit, akhirnya mereka sampai di rumah pemberian Bara.
Sheina membuka pintu, sementara Bara memarkirkan mobil mewahnya.
Baru saja Sheina masuk rumah, Bara berlari dan langsung memeluknya dari belakang.
"Bara, apa sih peluk-peluk. Mandi dulu dong!" protes Sheina yang kesulitan saat berusaha melepaskan pelukan suaminya.
"Ya ampun, Bar. Aku tuh nggak nyangka kalau kamu sesuka ini sama aku." Sheina tertawa geli saat membayangkan betapa culunnya Bara ketika SMA.
"Ya ya ya. Aku emang tergila-gila sama kamu, makanya aku seneng banget waktu tau ada Gabriel di antara kita, dan sekarang aku sudah memilikimu seutuhnya." Bara mencium leher Sheina, memberikan sensasi geli yang menggoda untuk melakukan yang lebih dari ini.
"Bar, mandi dulu yuk! Aku gerah banget, lengket." Sheina terus berusaha melepas tangan Bara yang memeluk dadanya.
"Yaudah, yuk! Kita mandi bareng, mumpung nggak ada si Kancil."
"Ih, jahat banget deh. Gabriel itu cerdas."
"Iya, Gabriel cerdas kayak kancil."
"Dan kamu emang buaya kan?"
Sheina dan Bara berjalan beriringan sampai ke tangga, menuju kamar Sheina di lantai dua.
"Buaya itu hewan paling setia loh, Shein. Makanya aku fine-fine aja dibilang buaya." Bara memegang pundak Sheina saat mereka sampai di lantai dua.
"Tapi, kamu buaya darat, Bar. Buktinya kamu tega perko*sa aku sampai punya Gabriel. Jangan-jangan di luar sana juga banyak anak kamu yang senasib sama Gabriel." Sheina membuka pintu kamarnya. Ia ingin segera membersihkan diri dengan mandi.
"Ya Tuhan. Nggaklah Shein. Aku cuma sekali sama kamu aja. Nggak ada yang lain."
Sheina mengabaikan Bara, ia berjalan cepat ke kamar mandi saat merasakan sesuatu yang tidak nyaman.
Bara menyusul dengan langkah yang tak kalah cepat. Saat tiba di depan pintu kamar mandi, Sheina melarangnya masuk.
"Kenapa Shein? Kita kan udah sah suami istri. Mandi bareng nggak masalah dong?" protes Bara.
"Aku mau pastiin dulu, kayaknya aku datang bulan."
"Apa?"
Jangan lupa jempolnya, votenya diamanin siniπ
βββ